Become A Protagonist

Become A Protagonist
Chapter. 66 - Menenangkan Arwah Pendendam


__ADS_3

”Mayat ini adalah mayat milik Luo Xuan Ying.”


Xiao Qing Xuan tampak terkejut setelah ia tahu bahwa wajah dari arwah Luo Xuan Ying yang sering ditemuinya sangat mirip dengan mayat yang berada di dalam peti mati. Ia bahkan tidak bisa menebak bagaimana perasaan Liu Zhang Chen setelah ia bertemu kembali dengan Luo Xuan Ying yang sudah mati.


”Akhirnya aku tahu mengapa dia melarangku untuk ikut dengannya. Sebaiknya pergi daripada harus menjadi nyamuk.” batin Xiao Qing Xuan sambil mengendap-endap pergi. Namun, sebelum langkah keduanya, Liu Zhang Chen langsung menarik pundaknya sehingga hal itu membuatnya langsung menghadap ke arahnya. Saat itu juga, Liu Zhang Chen meletakkan kepalanya di atas pundak Xiao Qing Xuan dan berkata, ”... Jangan pergi, Xuan Ying.”


...⊰᯽⊱┈──╌❊╌──┈⊰᯽⊱...


”Mereka sudah sampai di sana?” ucap seorang pemuda berjubah hitam yang sedang duduk di kursi singgasana yang ada di dalam sebuah ruangan gelap yang dipenuhi dengan tirai merah dan tiang bangunan yang sangat besar.


”Benar Tuan He. Seseorang telah membantu mereka melewati Mubei dengan mudahnya menggunakan mantra teleportasi.” jawab seorang pelayan yang berlutut di hadapan pemuda tersebut.


Pemuda itu menghela nafasnya dan menatap dingin ke arah pelayan di hadapannya. ”... Siapa yang membantu mereka?”


Pelayan tersebut menjawab dengan suara gemetar, ”... Di~ dia adalah seorang petinggi sekte Pedang Beracun. Namanya, Jin Qin Ran dan anak pertamanya, Jin Quanyao.”


Pemuda terdiam dengan wajah yang terlihat sangat kecewa. Bola matanya yang berwarna hitam legam tampak bersinar ketika seseorang datang dan memasuki ruangannya. Tampak seorang laki-laki tinggi dengan rambutnya yang berwarna putih dan sebuah jubah panjang yang senada, tengah memasuki ruangan tersebut. Laki-laki ini mempunyai bola mata berwarna merah darah serta kulitnya terlihat sangat pucat. Dia datang dengan tujuan untuk mengambil seseorang yang telah hilang darinya selama bertahun-tahun.


”Kau datang di waktu yang tepat.” ucap pemuda setelah ia melihat seorang laki-laki yang sedang berdiri di depan pintu.


Laki-laki itu mendengus kesal sambil menunjukkan ekspresi marahnya. ”Jangan membuang-buang waktu ku. Aku akan mengambilnya sekarang.”


Pemuda itu beranjak dari singgasananya dan menunjukkan sedikit tertawaannya pada laki-laki yang tampak kaku dan tidak bersahabat dengannya. ”Jangan selalu terburu-buru. Kau pasti akan mendapatkan muridmu kembali atau haruskah aku menyebutnya pedangmu yang telah lama hilang?”


Laki-laki itu terdiam sambil menatap jengkel padanya. ”Aku tidak memiliki banyak waktu untuk berbicara denganmu. Bawa aku ke tempat mereka, sekarang!”

__ADS_1


Pemuda tersenyum seringai dan berkata dengan pelan, ”Kau memang tidak sabaran, Shangzhu Shi."


...⊰᯽⊱┈──╌❊╌──┈⊰᯽⊱...


Mayat pemuda yang menjaga mayat Luo Xuan Ying hingga akhir hayatnya, dia adalah Yun Xie. Seorang anak laki-laki yang dulu pernah meminjamkan guqin milik kedua orang tuanya pada Luo Xuan Ying. Dia satu-satunya yang menjadi saksi bagaimana kematian Luo Xuan Ying. Akan tetapi, kesaksiannya tidak bisa dipertanyakan karena dia sudah mati tujuh tahun lalu. Pada akhirnya, mereka hanya bisa mengkremasikan mayat keduanya secara bersamaan dan menguburkan abunya di tempat yang sama. Terdapat sebuah papan nama yang bertuliskan nama mereka masing-masing sebagai pertanda bahwa ini adalah makam mereka.


Saat berada di depan makam, Xiao Qing Xuan menatap ke arah arwah Luo Xuan Ying yang sudah berada di belakang Liu Zhang Chen sejak mereka menemukan mayatnya. Meskipun saat ini ia bisa melihatnya, keduanya tidak pernah memulai pembicaraan sejak berada di lembah pemakaman hantu. Melihat ekspresi Luo Xuan Ying yang tampak kecewa, hal ini membuat Xiao Qing Xuan tahu bahwa bukan saatnya untuk memulai pembicaraan.


”Guru besar Chen! Apakah Guru ingin mengatakan sesuatu pada kakak Ying? Dia ada di belakangmu.” ucap Xiao Qing Xuan pada Liu Zhang Chen yang sedang berlutut di sebelahnya.


Karena keinginannya sudah terwujud, dia tidak lagi menjadi arwah pendendam. Jiwanya sudah kembali tenang dan karena itu ia tidak akan bisa merasuki tubuh yang masih hidup.


Liu Zhang Chen menghela nafasnya dan mengangkat kepalanya ke atas. ”Katakan padanya, maaf karena saat itu aku tidak berdiri di sebelahnya dan maaf karena aku membuatnya kecewa dan selalu datang terlambat. Aku sangat menyesal atas kematiannya yang begitu cepat. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku saat itu sampai-sampai membiarkannya begitu saja. Saat aku bertemu dengannya di desa Qun, aku sangat takut kalau dia akan marah. Padahal itu adalah kesempatan bagiku untuk meminta maaf langsung padanya. Aku ingin dia tahu kalau aku sangat menyesal.”


”Aku bisa merasakan perasaan Xiao Qing Xuan yang asli meskipun sebenarnya aku adalah orang dewasa. Perasaan seorang anak kecil saat melihat orang dewasa menangis benar-benar terasa. Tidak aku sangka, dulunya dia adalah orang yang sangat baik. Tapi, mengapa orang baik seperti dia harus berakhir menjadi penjahat?” batin Xiao Qing Xuan sambil mengusap kedua matanya yang terasa sembab.


”Xiao Qing Xuan.” seru Luo Xuan Ying yang membuat perhatian Xiao Qing Xuan seketika mengarah padanya. ”... Katakan pada Zhang Chen, dia terlalu banyak meminta maaf dan juga, ini semua bukan salahnya.”


Xiao Qing Xuan langsung mengerti apa yang dikatakan oleh Luo Xuan Ying. Ia pun meraih tangan Liu Zhang Chen dan berkata, ”Kakak Ying tidak ingin melihat Guru besar Chen menyesali kematiannya. Ini semua bukan bukan salah guru dan guru tidak perlu banyak meminta maaf.”


Liu Zhang Chen yang mendengar hal itu hanya tersenyum kecil padanya sambil mengelus kepalanya. ”... Terima kasih sudah mengatakannya padaku.”


Luo Xuan Ying terdiam tidak berekspresi ketika melihatnya. Ia pun menoleh ke belakang dan melihat seorang wanita yang sedang menunggunya di sana. Wanita itu adalah Yu Zhaoyi. Pada akhirnya, Luo Xuan Ying menerima uluran tangan Yu Zhaoyi dan pergi tanpa mengatakan sepatah kata apapun. Dengan begitu, masalah Luo Xuan Ying sudah terselesaikan. Mereka mungkin tidak akan melihat arwahnya berkeliaran di sekitar mereka. Orang itu sudah pergi. Jangan mengganggu ketenangannya jika tidak ingin dia kembali.


”Guru! Setelah ini, kita akan pergi kemana?” tanya Xiao Qing Xuan begitu ia tidak lagi merasakan hawa kebencian milik Luo Xuan Ying.

__ADS_1


”Kita akan keluar dari Mubei secepatnya.” jawab Liu Zhang Chen sambil berdiri kembali. Ia pun memanggil seekor burung Hwamei dan mengirimkan surat kecil untuk Patriark Luo dan beberapa orang di luar sana. ”... Ayo pergi.” ucapnya kembali sambil berjalan keluar rumah kayu.


Namun, saat keduanya sudah berada di luar. Mereka disambut dengan datangnya serangan yang dilakukan oleh seorang pemuda berjubah hitam dan seorang anak muda yang muncul di belakang mereka. Dengan cepat, Liu Zhang Chen langsung menarik Xiao Qing Xuan menjauh ke jarak yang lebih aman.


Setelah itu, ratusan petir muncul dari bawah tanah dan hampir menyambar tubuh mereka jika saja mereka tidak mendarat di atas sebuah batu besar.


”Ruixi? Orang itu lagi?!”


Bayangan seorang laki-laki dan seorang anak muda muncul di tengah-tengah kepulan debu yang perlahan-lahan menghilang. Salah satu dari mereka memegang pedang Ruixi yang masih terbungkus dengan sarungnya. Laki-laki itu adalah orang yang telah memindahkan keduanya ke lembah pemakaman hantu menggunakan mantra teleportasi miliknya.


”Maaf, aku tidak menyambut kedatangan Tuan Liu dan tuan muda Xiao.” ucap laki-laki sambil menunjukkan salam hormat padanya.


Liu Zhang Chen menatapnya dengan serius dan bertanya, ”Jadi, kau benar-benar Jin Qin Ran?”


Setelah ia mengakhiri kalimatnya, laki-laki itu membuka tudung kepalanya bersama dengan seorang anak muda yang ada di sebelahnya. Mereka pun sangat terkejut setelah tahu bahwa kedua orang ini adalah Jin Qin Ran dan Jin Quanyao!


”Jadi begitu? Kau yang telah mengambil pedang Ruixi dan kau juga yang telah melempar kami kemari? Apakah aku harus berterima kasih padamu karena sudah membawaku kemari dan menemukan mayat Xuan Ying?” tanya Liu Zhang Chen pada Jin Qin Ran yang sudah berdiri tidak jauh di depannya.


Jin Qin Ran tersenyum simpul. Ia pun menjawab, ”Aku rasa Tuan Liu tidak perlu berterima kasih padaku. Aku hanya tahu kalau tuan Liu merasa cemas pada Xuan'er. Kau takut jika Tuan He, akan mengambil Xuan'er darimu. Wajar saja jika kau merasa cemas karena, Tuan He adalah Pamannya dan kau hanyalah Gurunya.”


Mendengar jawaban ini membuat Xiao Qing Xuan langsung menoleh ke arah Liu Zhang Chen yang sedang membuang wajahnya karena malu. Setelah itu, ia pun berusaha untuk tenang kembali dan bertanya, ”Lalu, mengapa Ruixi bisa ada di tanganmu? Mengapa tidak mengembalikannya pada Patriark Luo?” 


Jin Qin Ran menghela nafasnya seolah-olah ia sangat tidak ingin mengatakan kebenarannya pada Liu Zhang Chen. Wajahnya terlihat cemas. Perhatiannya tidak juga terpaku pada Liu Zhang Chen yang sedang menunggu jawabannya. 


Pada akhirnya, dengan perasaan cemas ia pun menjawab, ”Zhang Chen. Mengenai kematian Xuan Ying,... Akulah yang telah membunuhnya dan melemparnya ke dalam lembah pemakaman. Dan juga, akulah yang telah membunuh He Mu'an Qing, Ibu dari Xuan'er.”

__ADS_1


__ADS_2