
Xiao Qing Xuan mendadak terbangun dan dirinya pun tersadar bahwa saat ini ia berada di dalam sebuah gua yang cukup gelap dan besar. Di dalam sana, hanya ada sebuah api unggun yang masih bertahan walau kecil dan beberapa barang bawaannya saja. Ia pun akhirnya ingat kalau ia baru saja keluar dari desa Qun. Lalu, tidak lama setelahnya Liu Zhang Chen memintanya untuk beristirahat di dalam sebuah gua saat mereka masih berada di hutan.
Ia sudah mengatakan kalau ia sama sekali tidak lelah ataupun mengantuk. Akan tetapi, setelah Liu Zhang Chen menjentikkan jarinya pada dahi Xiao Qing Xuan, tiba-tiba saja ia merasa mengantuk dan tertidur saat itu juga.
Beberapa jam setelah ia tertidur dan akhirnya terbangun juga, Xiao Qing Xuan sama sekali tidak melihat keberadaan Liu Zhang Chen di dalam gua. Ia hanya ditemani sebuah api unggun yang mulai padam dan suara-suara jangkrik yang menyebar di sekitar semak-semak belukar.
Saat dirinya terduduk di tempat yang sama, perhatian Xiao Qing Xuan seketika terpaku pada seorang pemuda yang sedang bertekuk lutut di depan gua dengan wajah yang terus menatap langit. Tanpa memikirkannya lagi, Xiao Qing Xuan segera menghampiri pemuda dan menyentuh bahunya saat ia sudah berada di belakangnya.
”Guru besar Chen menyuruhku untuk tidur tapi, guru sendiri tidak tidur. Apa yang sedang Guru pikirkan saat ini?” tanya Xiao Qing Xuan sambil menatap Liu Zhang Chen yang berada di sebelahnya. Tidak lama setelahnya, ia pun terduduk untuk mendengarkan kisah yang akan diceritakan oleh Liu Zhang Chen.
”Setelah ini, kita akan pergi menuju lembah pemakaman hantu. Kita hanya perlu melewati wilayah Lin Zhong dan Mubei.” singkat Liu Zhang Chen.
Xiao Qing Xuan menatapnya dengan heran dan bertanya kembali, ”Mengapa Guru ingin pergi ke sana? Guru tidak ingin menjatuhkan ku ke dalam lembah mengerikan itu 'kan?”
”Tidak mungkin aku melakukannya!” jawab keras Liu Zhang Chen. ”... Aku pergi ke sana bukan tanpa tujuan tapi, untuk mengambil mayat seseorang. Dia telah menunggu selama 16 tahun dan aku sama sekali tidak menyadarinya.”
Xiao Qing Xuan tertegun dan ia pun terdiam selama beberapa saat. ”... Mungkinkah yang ia maksudkan adalah Luo Xuan Ying?” batin Xiao Qing Xuan yang kemudian bertanya kembali, ”... Apakah karena Guru telah bertemu dengannya lagi? Lalu, Guru besar berpikir untuk mencari mayatnya kembali?”
__ADS_1
Liu Zhang Chen terdiam dengan ekspresi sedih dan hanya mengangguk iya.
Melihat ekspresi Liu Zhang Chen saat ini, membuat Xiao Qing Xuan merasa keberatan karena telah menerima Giok Fenghuang yang seharusnya milik Liu Zhang Chen yang diberikan langsung oleh Luo Xuan Ying. Ia pun segera melepasnya dari sabuk pakaiannya dan memberikannya kembali di tangan Liu Zhang Chen.
”Sebaiknya aku kembalikan saja. Xuan'er merasa tidak pantas menerimanya seolah-olah Xuan'er telah mencuri semua masa lalu Guru besar Chen dengan kakak Ying. Lagipula, kakak Ying sendiri yang telah memberikan giok ini pada Guru besar. Jadi, seharusnya guru menjaganya dengan baik sehingga hal itu membuatnya jauh lebih senang daripada memberikannya padaku.” ucap Xiao Qing Xuan sambil memberikan giok itu pada Liu Zhang Chen.
Liu Zhang Chen tidak berekspresi saat giok Fenghuang kembali di tangannya. Tidak lama setelahnya dan tanpa mengatakan apapun, ia mengaitkannya kembali pada sabuk pakaian Xiao Qing Xuan sehingga hal itu membuat Xiao Qing Xuan sendiri merasa bingung.
”Aku sudah hidup cukup lama dan aku selalu mengerti ucapan yang dikatakan orang banyak. Meskipun hanya delapan tahun aku terus bersamanya, aku sangat mengerti apa yang diinginkannya dan apa yang ingin dilakukannya. Dia selalu mengunjungi rumah hiburan tanpa menghiraukan pelatihannya sendiri. Dia juga selalu memanggil orang lain dengan sebutan yang buruk. Namun, dia berhasil menjadi satu-satunya jenius berbakat saat konferensi Sekte Setengah Bulan dimulai. Akan tetapi, orang-orang jahat malah menariknya ke dalam liang kubur. Karena mayat yang belum ditemukan, dia menjadi arwah pendendam dan beberapa tahun setelahnya, aku menemukan seseorang dengan wajah yang sama dengannya. Aku pikir, itu adalah sebuah harapan namun, ternyata itu hanyalah sebuah keputusasaan.”
Jika diingat kembali, Xiao Qing Xuan mengalami penghinaan sejak ia baru saja menginjakkan kakinya di Sekte Pedang Beracun. Liu Zhang Chen begitu membencinya dan bahkan selalu mencoba untuk mendorongnya ke dalam liang kubur. Akan tetapi, hal itu tidak pernah terwujud karena Xiao Ruo masih berpihak pada Xiao Qing Xuan. Saat itu, Liu Zhang Chen tidak pernah berbicara dengannya bahkan berpapasan dengannya saja tidak pernah. Itulah yang membuat Xiao Qing Xuan merasa terbuang sehingga ia pun ditakdirkan sebagai seorang praktisi Iblis.
”Gawat sekali! Apa yang harus aku katakan sekarang?!” batin Xiao Qing Xuan yang menatap bingung.
Sadar dengan apa yang dikatakan olehnya barusan. Wajah Liu Zhang Chen tampak terkejut dan memerah begitu ia tahu bahwa saat ini ia sedang berbicara dengan seorang anak kecil. Ia pun segera mengalihkan perhatiannya dengan kedua tangan yang mengepal kuat di atas lututnya.
”Hah? Cepat sekali berubah. Apakah dia sudah salah makan?” batin Xiao Qing Xuan yang bertanya-tanya.
__ADS_1
”Lupakan!” celetuk Liu Zhang Chen sambil berdiri dari duduknya. ”... Rapikan kembali barang-barang mu. Kita akan pergi sekarang. Dan jangan lupa untuk selalu memakai topi bambu yang aku berikan padamu.” ucapnya sambil berjalan kembali ke dalam hutan.
Xiao Qing Xuan menatapnya dengan bingung dan hanya bisa berkata-kata dalam benaknya. ”.... Mungkinkah efek samping kristal hewan sihir masih berlangsung?”
Sementara ini, di dalam sebuah ruangan gelap dengan pencahayaan yang sangat minim. Seorang anak muda yang diperkirakan berumur 10 tahun, sedang berlutut di hadapan seorang laki-laki yang sedang duduk di sebuah singgasana bercahaya.
”Ayah benar. Arwah yang muncul di desa Qun adalah arwah Xuan Ying. Dia membantu para Kultivator untuk menyelesaikan masalah yang ada di sana.” ucap anak muda dengan kepala merendah.
Seorang laki-laki yang sedang menyeruput minumannya di dalam cangkir, menatapnya dengan sinis dan tatapan tajam yang terkesan bercahaya. Tidak lama setelahnya, ia pun menaruh kembali cangkirnya dan menatap anak muda dengan ekspresi yang sama.
”Jadi, dia masih ada di sini?” tanya laki-laki dengan lesu. ”... Haah, merepotkan sekali. Seharusnya, orang yang sudah mati tidak akan pernah kembali. Tapi, sepertinya dia memilih menjadi arwah pendendam agar ia bisa keluar masuk alam fana. Jika aku membakar mayatnya saat itu, mungkin hal ini tidak akan terjadi.”
”Lalu, apa yang akan Ayah lakukan sekarang?” tanya anak muda.
”Ikuti Tuan muda Xiao. Gunakan kedua matamu dengan baik.”
”Baik, Ayah.”
__ADS_1