
Suara teriakan terdengar memenuhi sebuah ruangan. Darah menyebar ke seluruh tempat dan mayat-mayat penduduk desa bergelimpangan dimana-mana. Kebanyakan dari mayat ini mati dengan cara terpenggal lehernya sedangkan kepalanya bertumpuk di sudut ruangan.
Liu Zhang Chen tampak mengerikan dengan darah yang memenuhi kepala dan wajahnya. Bahkan pakaian putihnya saat ini sudah tidak terlihat lagi karena darah yang memenuhinya. Beberapa saat lalu, Shangzhu Shi memenggal kepala salah seorang anak desa dan meletakkan kepala tersebut di atas kepala Liu Zhang Chen hingga membuatnya berlumuran darah. Liu Zhang Chen tampak mengalami tekanan berat setelah ia melihat setumpuk kepala manusia yang berada tepat di depannya. Bau anyir darah seolah tidak lepas dari tubuhnya. Ia merasa sangat ingin berteriak keras dan pergi dari tempat mengerikan ini. Namun, tampaknya Shangzhu Shi tidak akan membiarkannya lepas begitu saja meskipun ia sudah berusaha lari berkali-kali.
”Darah segar ini akan memurnikan pikiranmu. Kau sudah ternodai oleh ucapan omong kosong yang mereka katakan. Mulai sekarang, kau akan menjadi pedang ku dan akan terus seperti itu sampai kau mati.” ucap Shangzhu Shi saat ia mengalirkan darah dari kepala seorang pemuda di atas kepala Liu Zhang Chen.
”Hentikan semua ini. Aku sudah tidak tahan lagi.” ucap Liu Zhang Chen dengan suara pelan karena ia ingin segera pergi dari tempat ini.
”Kenapa begitu? Kau sudah terbiasa membunuh orang-orang. Seharusnya hal sekecil ini tidak masalah bagimu.” ucap Shangzhu Shi sambil melemparkan kepala pemuda yang baru saja digunakannya.
”Aku bilang hentikan!” teriak Liu Zhang Chen yang membuat Shangzhu Shi sempat terkejut ketika mendengarnya.
Mendengar hal itu, Shangzhu Shi langsung berjalan dan berhenti di hadapannya. Ia langsung menarik dagu Liu Zhang Chen secara paksa dan bertanya, ”Apakah kau baru saja berteriak padaku?” ucapnya dengan mata yang terbuka lebar dan ekspresi yang terlihat sangat marah.
Liu Zhang Chen menggigit bibirnya dan berkata kembali, ”Aku bilang hentikan.”
Shangzhu Shi menatapnya dengan marah dan berkata dengan dingin, ”Tidak ada seorangpun yang berani berteriak padaku. Kau yang sekarang, bukanlah apa-apa bagiku melainkan debu yang mudah disingkirkan.”
Liu Zhang Chen menarik senyuman kecil dan berkata, ”Apakah sekarang ini kau menginginkan nyawaku? Silahkan lakukan sebisamu. Siksa aku jika kau menginginkannya.”
Shangzhu Shi tersenyum seringai sambil mengeluarkan sebuah pisau belati dari balik pakaiannya. ”Sia-sia saja apa yang sudah aku lakukan sekarang. Kau berpikir kalau mereka masih memihak mu? Baiklah kalau begitu. Aku tidak akan segan lagi.”
__ADS_1
Setelah ia mengakhiri kalimatnya, belati yang dipegang olehnya langsung menebas leher Liu Zhang Chen namun tidak sampai membuat kepalanya terpenggal. Liu Zhang Chen tampak terengah-engah setelah ia mendapatkan luka yang cukup parah di lehernya. Darah terus mengalir keluar dan ia tidak tahu bagaimana cara untuk menghentikan pendarahannya.
”Nikmati rasa sakit yang kau alami saat ini. Aku akan kembali saat mayatmu sudah membusuk.” ucap Shangzhu Shi sambil berjalan keluar dari ruangan tersebut.
...⊰᯽⊱┈──╌❊╌──┈⊰᯽⊱...
”Bagaimana manisannya? Enak 'kan?” tanya He Nan Ming saat dirinya dan Xiao Qing Xuan berada di sebuah rumah makan yang ada di wilayah Mubei.
”Rasanya berbeda sekali dengan yang lain. Apakah manisan ini menggunakan manisan buatan yang berbahaya?” tanya balik Xiao Qing Xuan sambil memperhatikan manisan buah yang ada di tangannya.
”Tentu saja tidak. Di Mubei, mereka menanam banyak tanaman tebu. Dan tekstur tanah yang ada di sini sangat berbeda dengan tanah yang lain.” singkat He Nan Ming sambil mengunyah manisan.
Xiao Qing Xuan memperhatikan sekitar yang tampak ramai karena dipenuhi dengan lautan manusia. Ia merasa heran dengan orang-orang yang ada di sini. Mereka bilang kalau Mubei adalah tanah yang mengerikan. Tapi, yang dilihatnya saat ini benar-benar jauh berbeda. Mereka semua tampak bahagia dengan pekerjaan mereka yang rata-rata adalah seorang petani dan penjual kayu bakar.
”Paman! Mereka bilang kalau Mubei adalah tanah yang cukup mengerikan. Tapi, apa yang aku lihat ini sangat berbeda dengan apa yang pernah mereka katakan.” ucap Xiao Qing Xuan yang berhasil membuat He Nan Ming memperhatikannya.
”Haah,... Mereka itu selalu saja melebih-lebihkannya! Mereka semua sengaja menakut-nakuti keturunan mereka agar mereka tidak menjadi Kultivator aliran hitam. Mereka pikir kami semua adalah Iblis yang tidak manusiawi. Padahal sebenarnya, kami ini tetaplah manusia biasa yang tidak bisa hidup lebih dari dua ratus tahun. Jika kau ingin bukti, kau bisa melihat Kakekmu yang sudah tua dan penuh keriput.” jawab He Nan Ming dengan wajah yang tampak kesal sambil terus mengunyah makanannya saat berbicara.
”Apakah dia kesal karena dia mendapatkan murid yang paling sedikit?” batin Xiao Qing Xuan yang memperhatikan.
”Tuan muda!” teriak seorang anak muda yang sedang berlari ke arahnya dan langsung menyambar Xiao Qing Xuan hingga ia terjatuh dari kursinya.
__ADS_1
Semua orang yang melihat hal itu hanya bisa terdiam sambil memperhatikan keduanya. Lalu, tidak lama setelahnya, seorang laki-laki mendatangi mereka dan langsung berkata, ”Chang Ye! Jangan terlalu berlebihan menyambutnya!” ucapnya dengan tegas dan berhasil membuat perhatian anak itu tertuju padanya.
”Tapi, Tuan muda sudah ada di sini. Apakah Ayah tidak ingin menyambutnya?” ucap anak itu sambil menoleh ke arah seorang laki-laki yang ternyata adalah Ayahnya.
”Litao! Bisakah kau melepaskan anakmu dari keponakanku? Dia akan mati jika terus dibiarkan.” ucap He Nan Ming saat melihat ke arah mereka berdua.
Setelah mendengar percakapan ini, Xiao Qing Xuan tertegun dan langsung menatap ke arah seorang anak muda yang masih menindih tubuhnya.
Tidak salah lagi, anak ini adalah Chang Ye dan Ayahnya He Litao!
”Chang Ye? Kenapa kau bisa ada di sini?” tanya Xiao Qing Xuan yang merasa heran setelah ia melihat Chang Ye yang ada di depan wajahnya.
Chang Ye tertawa dan menjawab, ”Kenapa begitu heran, Tuan muda? Rumahku ada di sini dan aku tinggal tepat di sebelah kediamanmu, Tuan muda.”
Xiao Qing Xuan berkedip selama beberapa kali karena heran. Lalu, tidak lama setelahnya. Muncul sekelompok pasukan yang mendatangi mereka. Pasukan ini berjumlah lima orang yang berasal dari Sekte Teratai Emas dan salah satu dari mereka adalah pemimpinnya, Luo Guanshu.
”Xuan'er? Apakah pamanmu tidak memberikanmu tempat tidur sehingga kau harus tidur di tanah?” tanya Luo Guanshu saat ia melihat Xiao Qing Xuan yang masih terbaring di tanah setelah mendapatkan hantaman keras dari Chang Ye yang sudah menyambut kedatangannya.
Mendengar hal itu, ia pun segera berdiri menghadap Luo Guanshu dan bertanya, ”Apakah Patriark Luo datang untuk berkunjung?”
Luo Guanshu menjawab, ”Aku kemari untuk mengunjungi makam Ying'er dan mengambil Ruixi kembali.”
__ADS_1
”Wah,... Patriark Luo! Kebetulan sekali kau datang. Sebelum aku memberikan Ruixi padamu, bisakah kau menenangkan dua orang wanita yang ada di aula utama? Sepertinya tempat itu sudah menjadi Medan tempur.” ucap He Nan Ming sambil menunjuk ke arah sebuah gedung besar yang sedang dihujani oleh ratusan petir.
”......”