
Malam harinya, sebuah penginapan berdiri di wilayah Longyuan yang berdekatan dengan wilayah Mubei. Penginapan tersebut cukup ramai dan berada di tengah-tengah perayaan yang sedang berlangsung. Ada banyak gadis-gadis cantik yang menari di tengah-tengah lapangan luas. Beberapa lentera diterbangkan ke langit seolah ratusan bintang telah bertebaran. Alunan musiknya terdengar jernih. Tidak ada satupun masalah yang terjadi saat perayaan sedang berlangsung. Karena suasana inilah, orang-orang menyebut mereka sebagai wilayah paling berbahagia.
”Guru! Kau tidak ikut menerbangkan lentera?” tanya Xiao Qing Xuan saat keduanya belum memasuki penginapan yang mereka sewa.
Liu Zhang Chen membuang wajah dan menjawab, ”Tidak perlu. Jangan membuang-buang tenaga hanya untuk terlibat dengan mereka.”
Xiao Qing Xuan menarik tangan Liu Zhang Chen dan berkata, ”Tapi, aku ingin mengirimkan lentera untuk ibuku. Apakah Guru tidak ingin mengirimkannya juga untuk kakak Ying?”
”Itu tidak penting. Jangan percaya dengan tipuan mereka.” celetuk Liu Zhang Chen yang langsung menarik tangan Xiao Qing Xuan memasuki penginapan tersebut.
Namun, sebelum memasukinya, seorang pedagang lentera menghampiri mereka dan menawarkan beberapa lentera yang memiliki warna dan gambar bermacam-macam.
”Tuan. Apakah Anda tidak ingin membelinya untuk anak Anda? Dia sangat merindukan Ibunya. Apakah Anda tidak merasa kasihan padanya.” pedagang itu merayu dengan nada meyakinkan.
Liu Zhang Chen tidak berekspresi saat menatap pedagang itu. ”... Dia bukan putraku dan aku belum menikah. Lagipula anak ini tidak pantas dikasihani.”
”Kekerasan mental!” teriak Xiao Qing Xuan dalam benaknya.
”Tapi, tuan anak ini meminta dengan sepenuh hati. Apakah Anda masih tetap tidak menginginkannya? Aku akan memberikannya satu jika Tuan membelinya.” rayu pedagang.
”Pedagang ini benar-benar sudah memfitnahku!” batin Xiao Qing Xuan dengan heran.
__ADS_1
”Kami tidak memerlukannya.” celetuk Liu Zhang Chen yang langsung menarik Xiao Qing Xuan memasuki penginapan.
Saat memasuki penginapan, Liu Zhang Chen terus menarik Xiao Qing Xuan menuju suatu tempat dan bahkan ia seolah tidak akan melepaskan tangannya begitu saja. Xiao Qing Xuan menghela nafas dan memandangi ruangan sekitar. Jelas-jelas kalau penginapan itu terlihat sangat sepi karena semua orang sedang berkumpul di lantai bawah dan mengikuti perayaan yang sedang berlangsung. Pemilik penginapan ini bahkan juga mengikuti perayaan itu dan meninggalkan pekerjaannya.
”Liu Zhang Chen sangat membenci tempat-tempat ramai. Untuk itulah dia berusaha menghindari keramaian.” batin Xiao Qing Xuan yang memikirkannya.
Tidak lama setelahnya, mereka pun sampai di depan sebuah kamar yang sudah dipesan. Liu Zhang Chen sengaja memesan dua kamar agar ia tidak merasa terganggu dengan keberadaan Xiao Qing Xuan di sekitarnya.
Setelah sampai, Liu Zhang Chen langsung mendorong Xiao Qing Xuan masuk ke dalam kamarnya. ”Tetaplah di sini. Jangan pergi kemana-mana.” ucap Liu Zhang Chen dengan mudahnya.
”Tapi guru! Aku ingin melihat perayaan di bawah sana! Lagipula ini belum terlalu malam! Aku ingin keluar!” celetuk Xiao Qing Xuan dengan kesal.
Saat melihatnya, Liu Zhang Chen tampak tertegun. Namun, ekspresinya perlahan menghilang dan berkata, ”Tetap di sini. Jangan membantah perkataanku jika kau tidak ingin dihukum.” ucapnya sambil menutup pintunya dengan keras.
Ia pun berjalan menuju jendela kamarnya dan melihat perayaan tersebut dari lantai dua penginapan. Tanah Longyuan seketika berubah menjadi tanah bercahaya dengan adanya lentera lentera yang akan di terbangkan. Tawa anak-anak itu terdengar sampai ke telinganya. Ia tampak murung karena ia merasa telah terpenjara di tempatnya saat ini.
Di saat ia sedang memandangi mereka dari atas sana, sebuah lentera yang sedang diterbangkan tampak sedang menghampirinya. Xiao Qing Xuan merasa sangat terkejut dengan kedatangan lentera yang berhasil ditangkap olehnya.
”Kenapa lentera ini mengarah padaku?” gumam Xiao Qing Xuan yang memikirkannya. Ia kemudian melihat ke arah seorang pemuda berjubah hitam yang sedang menatap ke arahnya. Pemuda itu tersenyum lebar padanya sambil melambaikan tangan kanannya. Melihat hal itu, Xiao Qing Xuan langsung membalasnya dengan melambaikan tangan pada pemuda itu. Lalu kemudian, pemuda itupun pergi berlalu. Ia tampaknya sengaja memberikan lentera itu pada Xiao Qing Xuan agar ia bisa menyampaikan pesannya pada He Mu'an Qing, Ibunya sendiri.
”Apakah aku pernah mengenalnya? Kenapa dia memberikannya padaku?” batin Xiao Qing Xuan dengan heran. ”Tidak masalah! Selama itu adalah barang gratis aku akan melakukannya.” ucapnya yang langsung bersemangat begitu ia melihat lentera miliknya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, ia pun kembali menerbangkan lentera tersebut ke udara setelah ia mengatakan kalimatnya. Lentera itu menyatu dengan lentera lainnya seolah terdapat sebuah awan yang seluruhnya terbuat dari emas.
Setelah ia menerbangkannya ke langit. Tiba-tiba saja ia merasa mengantuk padahal sebelumnya ia tidak memiliki keinginan untuk tidur. Beberapa saat kemudian, ia pun langsung terjatuh dan tertidur di atas lantai karena tidak kuat menahannya. Lalu, muncul seorang pemuda berjubah hitam yang sebelumnya telah memberikan lentera untuknya. Pemuda ini memasuki kamar Xiao Qing Xuan dan berdiri tepat di hadapannya.
Pemuda itu berlutut dengan tangan kanan yang memegang wajah Xiao Qing Xuan dan menyingkirkan rambut yang menutupinya. ”Kau sudah cukup besar. Kakekmu sangat merindukanmu sejak delapan tahun lalu. Tenang saja, aku akan membawamu pergi darinya.”
Saat pemuda itu selesai mengatakan kalimatnya, terdengar suara langkah kaki yang sedang menghampiri kamar tersebut. Saat itu juga, ia langsung menghilang dari tempatnya berada dan sedetik kemudian, Liu Zhang Chen memasuki kamar tersebut dengan terburu-buru.
Saat membuka pintunya, Liu Zhang Chen merasa cukup terkejut setelah ia melihat Xiao Qing Xuan yang tertidur di depan jendela kamarnya yang masih terbuka. Ia pun segera berjalan menghampirinya dan melihat keadaannya saat ini.
”Dia tidur cepat sekali. Apakah dia baik-baik saja?” pikir Liu Zhang Chen setelah memeriksanya. Seketika perhatiannya tertuju pada sebuah debu yang ada pada bagian bawah jendela. ”... Rupanya ada penyusup kecil. Apa yang dia diinginkan sekarang?” batinnya dengan penuh curiga.
Sementara ini, di wilayah Mubei pada sebuah kediaman yang minim cahaya dan tidak ada seorangpun yang berlalu-lalang. Tepat di dalam sebuah ruangan besar, seorang pemuda berjubah hitam, sedang duduk berhadapan dengan seorang kakek tua dengan dibatasi oleh sebuah meja duduk.
”Ming'er! Aku sangat merindukan cucuku. Apakah dia baik-baik saja?” tanya kakek tua berjanggut putih dan memakai pakaian berwarna putih.
Pemuda yang duduk di hadapannya tersenyum seringai dan menuangkan air ke dalam gelas yang terpasang di depan kakek tua tadi. ”Tenang saja Ayah. Dia baik-baik saja. Untuk saat ini, dia akan melakukan perjalanan ke lembah pemakaman hantu. Zhang Chen berencana untuk mencari mayat Xuan Ying yang hilang 16 tahun lalu. Siapa sangka dia akan melibatkan anak sepuluh tahun untuk mencarinya apalagi, lembah pemakaman hantu bukanlah tempat biasa.”
Mendengar hal tersebut, kakek ini langsung membanting gelasnya hingga pecah dan berteriak dengan marah. ”Keterlaluan sekali! Dia ingin membuat cucuku dalam bahaya!”
”Tenang saja Ayah. Aku sudah menyuruh seseorang untuk membunuhnya.” ucapnya dengan tenang.
__ADS_1
”Siapa dia?”
Pemuda itu tersenyum seringai dan menjawab, ”Jin Qin Ran, kau akan melakukannya untukku 'kan?”