Become A Protagonist

Become A Protagonist
Chapter. 104 - Arti Kehilangan


__ADS_3

Dentingan pedang yang datang berkali-kali, seolah telah menjadi alunan musik bagi mereka. Yang terlihat saat ini hanyalah bayangan hitam dan putih yang saling bertubrukan. Sesekali, keduanya muncul ketika mereka berada di atas dahan pohon.


Untuk saat ini, Xiao Qing Xuan harus menyelam ke dalam alam bawah sadar Liu Zhang Chen dan membangunkan jiwanya yang asli. Shangzhu Shi benar-benar sudah membuat sisi tergelapnya kembali terbangun dan mengendalikan tubuhnya. Jiwanya yang asli tidak mungkin mati karena keduanya saling bergantung.


”Huh! Kau lumayan juga, Anak muda! Tak ku sangka orang sepertimu sudah berada di tingkat alam matahari.” ucap Liu Zhang Chen dengan senyum seringainya sambil menyeka debu yang melekat di pipinya.


Sambil mengatur nafasnya kembali, Xiao Qing Xuan berdiri di atas salah satu dahan pohon yang kuat. Mencoba untuk membalas perkataannya, Xiao Qing Xuan tersenyum sinis dan menjawab, ”... Semua orang bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Tapi, menurutku, orang sepertimu itu tidak pantas mendapatkannya!” ucapnya sambil mengalirkan hawa kekuatannya pada pedang Ruixi yang mulai retak.


”Aku hanya perlu menyatukan hawa kekuatan milikku dengan miliknya agar aku bisa masuk ke alam bawah sadarnya. Tapi, melakukan hal seperti ini saja rasanya sangat sulit untuk dilakukan.” batin Xiao Qing Xuan yang mencari cara lain agar ia bisa melakukannya dengan cepat. ”Kalau begitu,....”


Xiao Qing Xuan langsung menancapkan pedangnya di atas dahan pohon dan setelah itu, ia pun segera bergerak cepat menghampiri Liu Zhang Chen yang masih berdiri di depannya.


”Bodoh! Melawanku dengan senjata saja kau masih kalah apalagi jika tidak membawa senjata apapun!” cibir Liu Zhang Chen yang langsung berlari menghampirinya dengan pedang yang dihunuskan ke depan.


Saat keduanya berada di jarak yang sangat dekat, Xiao Qing Xuan sama sekali tidak melakukan gerakan yang mencurigakan. Hal itu membuat Liu Zhang Chen semakin waspada dan berhati-hati terhadapnya. Namun, karena ia tidak ingin membuang-buang waktunya, Liu Zhang Chen langsung menyerang dan menusuk dada Xiao Qing Xuan.


”Huh! Sepertinya kita tahu siapa pemenangnya.” ucap Liu Zhang Chen sambil terus menekan pedangnya semakin dalam.


Ketika darah terus keluar dari dalam tubuhnya, Xiao Qing Xuan tersenyum seringai dan berkata, ”Ya. Kau benar! Kita tahu siapa pemenangnya.”


Melihat hal itu, Liu Zhang Chen tampak sangat terkejut. Perlahan-lahan, ia merasa kesadarannya semakin berkurang dan tubuhnya tidak bisa digerakkan. Ia pun menatap Xiao Qing Xuan dengan jengkel dan berkata, ”Kau,... Benar-benar melakukannya?”


Xiao Qing Xuan tersenyum tipis. Ia mengeluarkan sebuah jarum yang sebelumnya telah menancap di tengkuk leher Liu Zhang Chen dan menunjukkan benda itu padanya. ”... Selama berada di Mubei, aku mempelajari banyak tanaman obat dan aku baru mengetahui bahwa ada tanaman yang membuat kesadaran seseorang memudar dan anggota tubuh yang tidak bisa digerakkan. Dan sepertinya, obatnya mulai bekerja.”


Liu Zhang Chen terdiam dan menatapnya dengan penuh kekesalan. Namun, karena obat yang mulai bekerja sangat keras sedangkan Xiao Qing Xuan mendapatkan luka yang cukup parah pada bagian dadanya, mereka pun terjatuh secara bersamaan dari atas pohon yang cukup tinggi.


Sejurus kemudian, Xiao Qing Xuan terbangun di dalam sebuah ruang gelap dan sepi. Ia hanya ditemani oleh sebuah lentera kecil yang menyala di sebelahnya. Ia pun terduduk dan memperhatikan sekitar.


”Dia sepertinya sangat kesepian. Mengapa di sini begitu gelap?” batin Xiao Qing Xuan. Ia pun melihat ke bawah dan sadar bahwa ia berada di tengah-tengah genangan darah yang membanjirinya. Pakaiannya kini menjadi basah dan berwarna merah. Ia tidak tahu bagaimana darah ini bisa membanjiri seluruh ruangan. Tapi, ia sangat yakin bahwa ini adalah alam bawah sadar milik Liu Zhang Chen.


”Hanya ada satu cahaya di sini dan sepertinya, cahaya ini akan segera padam. Apakah itu artinya, aku akan segera mati?” gumam Xiao Qing Xuan saat ia mengambil lentera miliknya.

__ADS_1


Saat ia sedang berdiri di tempat yang sama, tiba-tiba saja seseorang mencoba untuk menendangnya dari belakang. Menyadari akan hal itu, Xiao Qing Xuan segera menghindar dan melompat menjauh dari tempatnya.


”Ck! Tempat ini terlalu gelap! Aku tidak bisa melihat apapun!” batin Xiao Qing Xuan yang merasa kesal. ”... Sepertinya, sisi tergelapnya sedang berada di sini. Jika saja dia menghancurkan lentera ini, mungkin saja aku akan mati.”


”Memang benar kau pemenangnya. Tapi, apakah kau akan menang jika kau berada di sini?” tanya seorang laki-laki yang bersembunyi di dalam gelap dan wujudnya sama sekali tidak terlihat olehnya.


”Apakah kau tidak mempelajari etika ketika ada seorang tamu yang berkunjung? Setidaknya tunjukkan wujudmu agar aku bisa menyerangmu secara leluasa.” celetuk Xiao Qing Xuan.


”Aku yakin kau tidak ingin melihat wujudku. Kau pasti tidak akan tahan ketika melihatnya.” ucap bayangan tersebut. ”... Sebenarnya, orang yang kau cari sedang berada di belakangmu.”


Xiao Qing Xuan merasa cukup terkejut dan langsung menoleh ke belakang. Sebuah bayangan besar tak berbentuk namun, memiliki mata dan mulut berwarna merah, sedang mengikat seseorang di dalam dirinya. Bayangan itu mengikat kedua tangan dan kakinya sehingga ia tidak bisa melakukan apapun.


”B~ bunuh nyawa tak berharga.” ucap bayangan tersebut dengan suara yang terdengar mengerikan.


Xiao Qing Xuan tersenyum tipis dan berkata, ”Jadi, ini wujud aslimu? Tidak ku sangka sudah sebesar ini. Pantas saja Guru besar Chen menjadi sangat keras kepala.”


”Zhang Chen,... Kita harus membunuhnya.” ucap bayangan tersebut.


”Berhati-hatilah anak muda. Aku akan melenyapkanmu.” bayangan itu kembali berkata dan kali ini, ia memunculkan ratusan tombak hitam yang tajam dan sedang mengarah padanya.


Sedetik kemudian, ratusan tombak tersebut melesat dan menyerangnya secara bersamaan. Xiao Qing Xuan yang tidak membawa senjata apapun hanya bisa menghindar dan terus menghindar namun, serangan ini tidak pernah ada habis-habisnya.


Saat ia menghindar dari semua serangan tersebut, lentera yang dibawa oleh Xiao Qing Xuan semakin meredup dan bahkan sepertinya tidak akan bertahan lama. Ia mencoba untuk mengalirkan energi spiritual miliknya ke dalam lentera tersebut namun, lentera itu tetap saja meredup.


”Apakah itu artinya aku sedang sekarat karena kehabisan darah?” batin Xiao Qing Xuan yang memperhatikan lentera miliknya. ”... Aku harus segera menyelesaikannya!”


Xiao Qing Xuan langsung bergerak maju menghampiri bayangan tersebut. Ia mengabaikan ratusan tombak hitam yang sedang mengarah padanya. Karena ia memiliki keyakinan yang sangat besar, ia pun menembus bayangan tersebut dan berhasil mengambil jiwa Liu Zhang Chen darinya.


”K~ kau,...


Bayangan tersebut menggeram kesal dan mencoba untuk menyerang Xiao Qing Xuan. Namun, sebuah tali roh berwarna emas, bergerak cepat dan langsung mengikat bayangan tersebut. Xiao Qing Xuan sangat terkejut setelah melihatnya. Ia merasa tidak melakukan apapun untuk melawan bayangan yang ada di belakangnya. ”... Lalu, siapa yang melakukannya?”

__ADS_1


Tak lama setelahnya, bayangan itu pun lenyap dan tali roh yang mengikatnya pun juga ikut menghilang bersamanya. ”Aroma yang sangat ku kenal. Mungkinkah ini adalah hawa kekuatan milik Luo Xuan Ying? Jadi, dia datang untuk menyelamatkannya juga?” batin Xiao Qing Xuan yang langsung mengetahuinya.


Karena cahaya lentera yang semakin meredup, Xiao Qing Xuan langsung mengguncangkan kedua pundak Liu Zhang Chen dan mencoba untuk membangunkannya. Namun, setelah beberapa saat, ia tidak juga terbangun dan tetap memejamkan matanya. Hal ini semakin membuat Xiao Qing Xuan merasa putus asa. Nyawanya telah berada diujung tanduk sedangkan Liu Zhang Chen tampaknya tidak ingin terbangun dari tidurnya.


”Guru besar Chen! Aku mohon bangunlah. Kau sudah membunuh kak Ruo dan mengancamku berulang kali. Kau pikir, mengapa aku harus menyelamatkanmu? Apakah kau tidak tahu penyesalan apa yang sudah kualami selama ini?! Aku benar-benar membencimu! Sejak dulu aku benar-benar membencimu dan berniat untuk membunuhmu! Mengapa kau menyia-nyiakan kesempatan yang aku berikan padamu?!” teriak Xiao Qing Xuan yang kemudian menaruh kepalanya di atas dada Liu Zhang Chen yang terbaring di depannya.


Saat ia sedang bersedih dan menyembunyikan ekspresinya. Seseorang tiba-tiba saja meletakkan tangannya di atas kepalanya. Ia pun merasa sangat terkejut dan langsung mengangkat kepalanya kembali sambil memperhatikan wajah Liu Zhang Chen saat ini.


Tak lama setelahnya, Liu Zhang Chen akhirnya terbangun dengan kelopak mata yang tampaknya sulit dibuka. Xiao Qing Xuan merasa tidak percaya karena Liu Zhang Chen akhirnya sadar begitu ia mengakhiri kalimatnya.


”Guru besar Chen,... Apakah ini benar-benar kau?” tanya Xiao Qing Xuan yang tampak tidak percaya.


”Ya.” singkat Liu Zhang Chen. ”... Aku tidak tahu kalau kau begitu membenciku. Tenang saja, aku tidak akan marah. Aku ini memang pantas dibenci dan tidak layak hidup. Maaf, karena aku sudah mengancammu berulang kali. Setelah ini aku pasti akan mengakhirinya.” lanjutnya dengan suara lemah.


Ketika ia membuka matanya kembali dan mencoba untuk melihat ke arah Xiao Qing Xuan, ekspresinya menjadi sangat terkejut ketika ia melihat wujud Xiao Qing Xuan yang semakin memudar dan menghilang dari pandangannya. Saat itu juga, ia pun langsung terduduk dan menatapnya dengan sedih.


”Ada apa denganmu? M~ mengapa menjadi seperti ini?” Liu Zhang Chen tampak tidak percaya setelah ia melihat lentera kecil milik Xiao Qing Xuan semakin meredup.


Liu Zhang Chen menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, ”Jangan bilang kalau akulah yang telah membunuhmu? Qing Xuan! Kumohon, jangan pergi!”


Ia tampak ketakutan saat melihat Xiao Qing Xuan yang akan menghilang dari pandangannya. Lalu, tak lama setelahnya, Xiao Qing Xuan akhirnya berkata, ”... Aku kira, usiaku tidak akan bertambah tua lagi dan aku akan mengakhirinya di usia remaja.”


Liu Zhang Chen tampak panik dan segera berkata, ”Tidak! Jangan seperti itu! K~ kau harus tetap hidup! Akulah yang seharusnya mati di titik ini!”


Xiao Qing Xuan menatapnya dengan lemas dan berkata, ”Berbicara hanya akan membuang-buang tenagaku. Tolong jangan menyiksaku lebih dari ini.”


Setelah Xiao Qing Xuan mengakhiri kalimatnya, ia pun hancur menjadi butiran-butiran cahaya yang ditarik ke atas. Liu Zhang Chen yang sangat terkejut, mencoba untuk meraih satu persatu cahaya yang melintasinya begitu saja. Namun, ia sama sekali tidak mendapatkannya. Xiao Qing Xuan sudah berakhir begitu saja di tangannya.


Sedetik kemudian, Liu Zhang Chen akhirnya terbangun kembali. Ia berhasil mendapatkan tubuh aslinya namun, ia tidak berhasil menyelamatkan satu nyawa yang begitu mempedulikannya.


Saat ia telah sadar kembali, ia sangat terkejut setelah ia melihat pedangnya menembus kulit dan daging Xiao Qing Xuan. Keduanya saling menindih dengan Xiao Qing Xuan yang berada di atasnya. Pakaian putih Liu Zhang Chen kini hancur berubah menjadi merah darah begitupun dengan wajahnya.

__ADS_1


Dalam keadaan yang sama, ia memeluk tubuh Xiao Qing Xuan dan ia pun sadar bahwa tubuh ini telah dingin. Ia pun menangis keras karena satu-satunya orang yang berada dalam hidupnya telah mati.


__ADS_2