Become A Protagonist

Become A Protagonist
Chapter. 63 - Pertemuan


__ADS_3

Seminggu setelahnya, di dalam sebuah ruangan megah terdapat singgasana besar yang sedang diduduki oleh seorang pemuda. Luo Guanshu tampak memikirkan keadaan Luo Xuan Ying saat ini setelah ia mengusirnya dari rumah. Jika saja apa yang tidak diharapkannya terjadi, mungkinkah saat ini Luo Xuan Ying berada dalam bahaya.


”Haah,... Aku tidak percaya dia akan mempelajarinya. Apakah yang aku lakukan saat ini adalah sebuah kesalahan?” gumam Luo Guanshu sambil memikirkannya.


Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Luo Guanshu secara tiba-tiba. Ketika melihatnya, ia sangat terkejut melihat keberadaan arwah Yu Zhaoyi yang muncul kembali di hadapannya. Ekspresinya terlihat sangat sedih dan kecewa. Di sekelilingnya terdapat hawa kemarahan yang sangat kuat.


”Apakah kau tidak menyayanginya?! Mengapa kau mengusirnya?! Kau berjanji padaku kalau kau akan menjaganya dengan baik! Apakah semua yang kau katakan hanyalah sebuah kebohongan?!” teriak Yu Zhaoyi dengan ekspresi marah dan hawa kemarahan yang semakin kuat dan membuat seluruh ruangan menjadi dingin.


”Yu Zhaoyi! Kau tidak mengerti. Dia sudah mempelajari kitab Iblis terlarang yang tidak boleh terjamah oleh seorang Kultivator aliran putih maupun netral. Kenapa kau selalu menyalahkanku? Apakah yang aku lakukan selama ini, semuanya salah termasuk kematianmu?” ucap Luo Guanshu sambil menundukkan kepalanya karena ia tidak ingin melihat ekspresi Yu Zhaoyi saat ini.


”Mengapa kau bisa menuduhnya seperti itu? Kau sangat kejam terhadap anakmu sendiri. Mengapa kau lebih percaya perkataan orang banyak dibandingkan perkataan anakmu sendiri? Ying'er sudah melakukan semuanya untukmu. Kau pikir untuk apa dia berusaha menjadi lebih kuat dan mendapatkan julukan sebagai jenius berbakat di usia muda?” tanya Yu Zhaoyi dengan sedih bahkan sampai membuatnya menangis.


Luo Guanshu tidak berekspresi dan ia tidak juga mengangkat kepalanya. Hal ini tentunya membuat Yu Zhaoyi semakin bertambah marah padanya. Ia pun kembali menampar wajah Luo Guanshu dan membentaknya, ”... Jangan diam saja! Katakan sesuatu! Apakah kau sudah tuli atau kau tidak bisa bicara?!”


Luo Guanshu terdiam tanpa ekspresi. Namun, kedua matanya terlihat sembab karena sedih. ”Tinggalkan aku sendiri. Aku sedang tidak ingin berbicara denganmu.” ucapnya sambil berjalan meninggalkan tempatnya saat ini.


Yu Zhaoyi hanya bisa terdiam gelisah. Ia jatuh bertekuk lutut sambil menutupi wajahnya karena sedih. ”Ying'er anakku. Kemana kau pergi?”


Sementara ini, keadaan di Sekte Pedang Beracun setelah konferensi selesai. Liu Zhang Chen yang sedang duduk di bawah pohon bunga Meihua tampak cemas karena memikirkan sesuatu. Lalu, Liu Chang Mo berjalan menghampirinya dan bertanya, ”Ada apa Zhang Chen? Apakah kau sedang memikirkan sesuatu?”


Liu Zhang Chen berdiri dan memberi salam pada Liu Chang Mo yang sudah berdiri di hadapannya. ”... Mengenai tuduhan itu, Apakah paman percaya dengan semua ucapan yang dikatakan oleh para Patriark dan murid-murid sekte kemarin?”


Liu Chang Mo menghela nafasnya dan menjawab, ”Bagaimanapun juga, jika seorang Kultivator aliran putih beralih menjadi praktisi Iblis, orang itu harus menebus dosanya seumur hidup. Sudah jelas kalau kitab Iblis itu berada di dalam kantong spiritual milik Xuan Ying. Meskipun semua orang menuduhnya telah berbuat curang, aku tetap percaya kalau dia tidak mungkin mempelajarinya.”


”Lalu, kenapa paman tidak angkat suara untuk membelanya?”


Sambil menatapnya dengan serius, Liu Chang Mo menjawab, ”Tidak perlu mencampuri urusan mereka. Seorang pemimpin jalan perdamaian pasti tahu harus melakukan apa.” ucapnya sambil berjalan pergi meninggalkan Liu Zhang Chen di tempat yang sama.

__ADS_1


Liu Zhang Chen menunduk sedih. Lalu kemudian, Lei Yun menarik lengannya dan berkata, ”... Ayah~ apa yang terjadi pada Ibu?”


Liu Zhang Chen menatapnya dengan sedih dan menjawab, ”Tidak sekarang Lei Yun. Untuk sementara, kau tinggallah di sini sampai aku menemukan Xuan Ying.” ucapnya sambil mengelus kepala Lei Yun. Setelah itu ia pun pergi meninggalkannya.


Dua bulan kemudian. Arena perburuan Longyuan. Ketika seorang pemuda berdiri di depan sebuah toko mainan, ia mendengar suara alat musik guqin yang seluruh nadanya terdengar salah. Perhatiannya seketika terpaku pada arah datangnya suara yang berada di dalam sebuah desa kecil di ujung sana.


Ia langsung saja mengikuti arah datangnya suara tersebut. Tanpa sadar, ia sudah berada di dalam sebuah desa kecil yang dipenuhi dengan wanita dan anak-anak. Suara ini masih terdengar dan ia pun tetap mengikuti kemana arah suara ini berasal. Tak lama setelahnya, ia pun melihat seorang pemuda berjubah hitam dengan rambut yang dikuncir kuda. Pemuda itu tampak sedang bersama beberapa anak desa dengan memangku sebuah alat musik guqin yang bukan miliknya.


Pemuda yang mengikuti arah datangnya suara merasa sangat familiar dengan wujud pemuda berjubah hitam yang sedang membelakanginya. ”... Pita berwarna biru menyala? Apakah aku pernah mengenalnya?” batin Liu Zhang Chen yang sebelumnya telah mendengar suara ini.


”Sumbang! Kakak memainkannya dengan cara salah!” ucap seorang anak laki-laki yang duduk di depan pemuda berjubah hitam.


”Hmm, benarkah? Apakah semua nadanya salah?” jawab pemuda.


”Lihatlah! Bunga Azalea yang ada di sana semuanya mati!” ucap anak laki-laki sambil menunjuk pada bunga-bunga Azalea yang tumbuh di bawah pohon.


Begitu ia mendengar ucapan anak perempuan ini, Liu Zhang Chen tampak terkejut dan langsung berjalan menghampiri pemuda di depannya. ”Xuan Ying, apakah itu kau?” tanyanya dengan ekspresi terkejut karena tidak percaya.


Tidak lama setelahnya, pemuda itu menoleh ke belakang dan menatap langsung ke arah Liu Zhang Chen yang tengah berdiri di belakangnya. Dan alangkah terkejutnya ketika ia tahu bahwa pemuda ini adalah Luo Xuan Ying yang telah hilang selama dua bulan ini.


Saat menatapnya, Luo Xuan Ying tersenyum tipis seolah ia sedang menyambut kedatangan Liu Zhang Chen yang tiba-tiba. Ia pun memberikan guqin pada salah satu anak di depannya dan berkata, ”... Pergilah. Aku ada sedikit urusan di sini.”


”Hah? Kenapa begitu cepat? Kakak Ying tidak ingin mengenalkannya pada kami?” tanya seorang anak laki-laki.


”Huss,... Pergilah! Kalian masih terlalu muda untuk mendengarnya.” pinta Luo Xuan Ying.


”Kakak Ying pelit!” ucap kedua anak laki-laki yang hendak akan pergi. Tidak lama setelahnya, mereka pun pergi dan hanya menyisakan Luo Xuan Ying dan Liu Zhang Chen di tempat yang sama.

__ADS_1


”Kau sedang mencariku atau sengaja berkunjung kemari?” tanya Luo Xuan Ying tanpa menatap wajah Liu Zhang Chen.


”Apakah kau tidak pernah kembali ke Lin Zhong sejak saat itu?” tanya Liu Zhang Chen.


Luo Xuan Ying berpikir sebelum menjawab, ”Kenapa menanyakan hal itu? Sudah jelas kalau dia menolak keberadaan ku.”


”Apakah kau tidak berharap Patriark Luo akan berubah pikiran?”


”Sama sekali tidak. Aku hanya berharap hidupku berakhir sampai di sini. Itu saja.”


Liu Zhang Chen tampak terkejut setelah mendengarnya. Ia pun segera berdiri di hadapannya dan berkata dengan keras, ”Apakah kau sudah kehilangan akalmu sendiri? Mengapa kau berharap hidupmu berakhir sekarang?”


Luo Xuan Ying menatapnya dengan dingin dan lanjut berkata, ”Kau pikir kenapa aku bisa berharap seperti itu?”


Liu Zhang Chen menatapnya dengan serius sekaligus cemas. Ia berpikir, mungkin saja Luo Xuan Ying berharap seperti itu karena ia tidak memiliki siapapun yang mau percaya padanya. Siapapun pasti tidak akan bisa bertahan jika terus sendirian seperti itu.


”Xuan Ying! Aku—


”Tenang saja. Aku hanya bercanda.” celetuk Luo Xuan Ying setelah ia melihat Liu Zhang Chen yang tampak mencemaskan dirinya. ”... Aku hanya mengujimu saja. Jika kau berharap aku mati, seharusnya kau sudah membunuhku sejak aku selesai mengatakan kalimatku. Haah,... Seharusnya aku tidak berpikir kalau kau adalah salah satu dari 'mereka'.”


Liu Zhang Chen tampak bingung dan bertanya kembali, ”Siapa yang kau maksud 'mereka'?”


Baru saja ia selesai bertanya, tiba-tiba saja Luo Xuan Ying terbatuk selama beberapa saat dengan suara yang semakin bertambah keras. Karena tidak juga selesai, Liu Zhang Chen segera berlutut di hadapannya dan memegang pundak kirinya.


”Ada apa denganmu?” tanya Liu Zhang Chen setelah ia melihat Luo Xuan Ying yang terus terbatuk di hadapannya.


Tidak lama setelahnya, Luo Xuan Ying akhirnya berhenti dan menatap ke arah Liu Zhang Chen dengan sudut bibir yang mengeluarkan darah. ”Karena tuduhan itu, mereka semua datang beramai-ramai untuk melawanku hingga pada akhirnya, aku menjadi seperti ini.”

__ADS_1


”Xuan Ying, kau sakit?”


__ADS_2