Become A Protagonist

Become A Protagonist
Chapter. 17 - Saudara Tiri Yang Baik


__ADS_3

Jiwa Xiao Qing Xuan terlempar dan akhirnya kembali ke tubuh aslinya. Di saat jendela-jendela kamar miliknya terbuka lebar, garis-garis cahaya matahari muncul dan menusuk penglihatannya. Perlahan, ia pun membuka matanya dan sangat terkejutnya ia kalau saat ini ia sedang berada di sebuah ruangan asing yang belum pernah dijamah olehnya.


Xiao Qing Xuan mencoba untuk duduk namun, rasa sakit ini kembali menjalar ke seluruh tubuhnya karena luka yang ada di punggungnya belum sembuh keseluruhan. Karena tidak sanggup menopang tubuhnya sendiri, ia pun kembali membaringkan tubuhnya dengan ekspresi yang sangat kesal begitu ia mengingat hal yang terjadi sebelumnya.


”Haah,... Apa yang bisa aku lakukan sekarang?” gumam Xiao Qing Xuan sambil menaruh lengannya di atas wajahnya sendiri.


Tidak lama setelah ia berpikir, kepalanya berusaha untuk menoleh ke luar dan tidak sampai di sana, ia melihat Liu Zhang Chen yang sedang menempati sebuah meja duduk di kamarnya.


Ia sangat terkejut bahkan sampai mendorong tubuhnya sendiri ke belakang. Akan tetapi, karena lukanya sendiri, ia tiba-tiba terhenti dengan wajah yang tampak kesakitan.


”Ukh! Sakit sekali!”


Liu Zhang Chen tiba-tiba terbangun saat ia mendengar suara Xiao Qing Xuan yang mengeluh kesakitan. Seketika, perhatiannya tertuju pada Xiao Qing Xuan yang sedang terduduk di atas dipannya sambil memeluk dirinya sendiri.


”Qing Xuan! Apakah masih sakit?” tanya Liu Zhang Chen sambil berjalan terburu-buru menghampiri Xiao Qing Xuan.


Mendengar pertanyaan itu membuat Xiao Qing Xuan menjadi sangat aneh sekaligus terkejut dengan sifat yang dimiliki oleh Liu Zhang Chen saat ini.


Seharusnya dalam cerita, ia adalah seorang Guru yang tidak mempedulikan muridnya akan tetapi, kali ini saja Liu Zhang Chen tampak lebih berbeda dari sebelumnya.


Cerita ini benar-benar sudah dirusak!


Liu Zhang Chen menyodorkan sebuah segelas air pada Xiao Qing Xuan yang akhirnya bisa terduduk. Melihatnya tampak kesakitan membuat Liu Zhang Chen semakin mencemaskannya dan semua itu terlihat dari ekspresi yang saat ini ia tunjukkan.


”S~ sebenarnya aku baik-baik saja.” jawab Xiao Qing Xuan dengan bingung sambil menerima segelas air yang diberikan oleh Liu Zhang Chen.

__ADS_1


Liu Zhang Chen tidak berekspresi saat mendengar jawaban tersebut. Ia membuka sedikit pakaian Xiao Qing Xuan dan memeriksa kain perban yang sudah melekat di tubuhnya selama beberapa hari yang lalu.


Darah yang keluar sudah tidak banyak dibandingkan dengan beberapa hari yang lalu. Tampaknya keadaannya saat ini memang bisa dibilang baik-baik saja dan ia akan bisa berjalan selama beberapa hari lagi.


Liu Zhang Chen menghela nafasnya dan berdiri dari atas dipan tersebut. ”Beristirahatlah selama beberapa hari. Aku sudah melarang siapapun datang kemari termasuk Ayahmu sendiri.” ucap Liu Zhang Chen dengan tegas sebelum akhirnya ia berjalan pergi meninggalkan kamar tersebut.


Xiao Qing Xuan terkejut dan langsung berkata, ”Mengapa Guru besar tidak mengizinkan semua orang masuk kemari? Bisa-bisa aku mati jika terus dipenjara di sini!” celetuknya yang berhasil menghentikan langkah Liu Zhang Chen saat sampai di depan pintu.


Liu Zhang Chen hanya terdiam tanpa menoleh sedikitpun ke belakang. Ia kemudian berjalan kembali dan menutup pintunya tanpa menghiraukan apa yang dikatakan oleh Xiao Qing Xuan padanya.


”......”


Xiao Qing Xuan menggeram kesal setelah diabaikan olehnya. Wajahnya kembali menatap ke arah jendela terbuka yang berada tepat di sebelah dipannya. Tirai-tirai bambu yang diturunkan benar-benar membuat pandangannya menjadi sempit dan penuh sesak.


”Yang benar saja! Dia pikir aku ini adalah hewan peliharaan?” batin Xiao Qing Xuan saat menatap sekitar. ”Haah,... Apakah aku akan terus sendirian di tempat ini?”


Iris matanya yang berwarna ungu tampak sedang menatapnya dengan terkejut. Hal ini bahkan sampai membuat Xiao Qing Xuan merasa bingung dengan kedatangan saudara tirinya ini.


”Kak Ruo? Kenapa hanya mematung di sana? Bukankah Guru besar bilang kalau tidak ada seorangpun yang diizinkan masuk kemari?” tanya Xiao Qing Xuan begitu ia melihat Xiao Ruo yang tampak terkejut setelah melihatnya baik-baik saja.


Sebaskom air bersama dengan kain putih yang dipegangnya, seketika terjatuh saat Xiao Qing Xuan baru saja menyelesaikan kalimatnya. Hal itu membuat Xiao Qing Xuan semakin bingung dan mencoba untuk mengalihkan perhatiannya dari pandangan Xiao Ruo yang terus menatapnya.


Setelah ia merasa cukup yakin bahwa apa yang dilihatnya ini adalah sebuah kenyataan, Xiao Ruo langsung berjalan cepat ke arah Xiao Qing Xuan tanpa mengalihkan perhatiannya.


Saat ia sudah berada di hadapannya, Xiao Ruo menghela nafas panjang dan langsung memeluk erat Xiao Qing Xuan yang ada di hadapannya.

__ADS_1


”Akh! Kuat sekali! Dia ingin membunuhku!” batin Xiao Qing Xuan saat ia berada dalam lingkaran tangan Xiao Ruo yang begitu kuat.


”Apakah yang aku lihat ini bukan mimpi?! Apakah di depan mataku adalah adik Xuan yang sebenarnya?” gumam Xiao Ruo yang tampak tidak percaya setelah ia memeluk Xiao Qing Xuan dengan sangat kuat.


”Kak Ruo! Ini sakit!” ucap Xiao Qing Xuan dengan pelan.


Xiao Ruo tertegun dan ia pun segera melepaskan kedua tangannya. Ia kembali menatap ke arah Xiao Qing Xuan untuk memastikan bahwa ia baik-baik saja.


”A~ apakah ada yang sakit? Bagian mana yang terasa sakit?” tanya Xiao Ruo dengan canggung setelah ia membuat Xiao Qing Xuan tampak kesakitan.


”Baik sekali. Tidak aku sangka efeknya akan seperti ini.” batin Xiao Qing Xuan yang mengalihkan perhatiannya.


”Guru besar bilang kalau ia telah melarang siapapun untuk menemuiku. Lalu, kenapa kak Ruo bisa memasuki kediaman Guru besar dengan mudahnya?” tanya Xiao Qing Xuan yang merasa penasaran.


Xiao Ruo tertegun dan tidak lama, ia pun tertawa kecil di depannya. ”Guru besar tidak mengatakannya. Mungkin dia hanya ingin adik Xuan beristirahat.” ucapnya sambil menunjukkan ekspresi hangat miliknya.


”Sudah berapa lama aku beristirahat?” tanya Xiao Qing Xuan kembali.


Xiao Ruo berpikir sebelum menjawab, ”Sekitar sepuluh hari. Ayah begitu mengkhawatirkanmu jadi, dia terus berada di sini selama adik Xuan tidak sadarkan diri.”


”Hah? Sepuluh hari? Rasanya aku tidak tidur selama itu!” batin Xiao Qing Xuan yang merasa terkejut setelah mendengarnya.


”Kak Ruo bilang, Ayah masih menungguku di sini?” tanya Xiao Qing Xuan dengan penasaran mengingat semenjak ia berpindah kemari, ia sama sekali belum menatap wajah Xiao Lian Lei yang terkenal dengan sifat baiknya bahkan sebelas dua belas dengan Xiao Ruo.


”Ya, dia masih menunggumu. Sebenarnya, Ayah ingin membawamu pulang akan tetapi, Guru besar selalu melarangnya. Aku yakin, Ayah sebentar lagi akan datang.”

__ADS_1


Tepat setelah Xiao Ruo mengakhiri kalimatnya, muncul suara decitan pintu yang terbuka yang membuat perhatian keduanya seketika mengarah pada sebuah pintu yang berada tidak jauh di sebelah mereka.


Di belakang pintu tersebut, terdapat beberapa orang yang sedang berbaris di sana dengan dipimpin oleh seorang pemuda dewasa yang usianya berkisar 30 tahun. Dia adalah Xiao Lian Lei.


__ADS_2