Become A Protagonist

Become A Protagonist
Chapter. 34 - Pembelajaran Pertama


__ADS_3

Keesokan harinya ketika matahari telah berada 40 derajat lebih tinggi dari arah timur. Semua penduduk kota tampak membicarakan sesuatu yang menarik yang terjadi kemarin malam.


Mayat-mayat berjalan yang dikendalikan oleh hawa kebencian telah berhasil dibantai habis oleh seorang Kultivator dengan pedangnya. Tidak ada lagi suara-suara mengerikan bahkan suara percikan air yang mengganggu telinga mereka. Semua terasa tenang dan damai karena kekhawatiran mereka telah berakhir.


”Huh! Sebenarnya siapa yang mereka bicarakan? Apakah seperti ini kelakuan penduduk kota? Hanya bisa membicarakannya diam-diam dan tidak bisa berani berterima kasih pada orang yang telah membantu mereka.” gumam Xiao Qing Xuan yang kesal saat dirinya sedang duduk di sebuah kursi di depan penginapan sambil mendengarkan mereka berbicara.


Dari dalam penginapan, setelah ia merapikan barang-barangnya kembali. Liu Zhang Chen keluar dengan membawa sebuah topi bambu dengan kain hitam yang akan menutupi wajah seseorang yang memakainya.


Setelah ia keluar, ia melihat ke arah Xiao Qing Xuan yang terlihat sedang menendang-nendang pasir. Ia pun langsung memakaikan topi tersebut di atas kepala Xiao Qing Xuan tanpa izin dan sepengetahuan darinya.


”Benda apa ini? Mengapa Guru memakainya padaku?” tanya Xiao Qing Xuan ketika ia melihat kain hitam pada topi bambu yang telah menutupi seluruh wajahnya sampai ke bahu.


”Jangan dilepas sampai kita berhenti berjalan.” celetuk Liu Zhang Chen sambil berjalan menuju suatu tempat tanpa mengajak Xiao Qing Xuan lebih dulu.


”Kemana tujuan Guru selanjutnya?” tanya Xiao Qing Xuan setelah ia berlari menyusul Liu Zhang Chen yang sudah berjalan di depannya.


Liu Zhang Chen tetap berfokus dengan apa yang ada di depannya. ”Di balik hutan itu, ada sebuah desa mati dan malam nanti kita akan sampai di sana. Tapi, sebelum itu kita akan berhenti sebentar di hutan. Aku memiliki pembelajaran penting untukmu.”


”Pembelajaran penting? Firasatku sangat buruk tentang ini.” batin Xiao Qing Xuan disertai dengan ekspresi ketakutannya jika firasatnya memang benar.


Sesampainya di hutan, Xiao Qing Xuan melepaskan topi bambu miliknya dan mengikuti kemana arah Liu Zhang Chen pergi. Dan tidak lama setelahnya, keduanya pun berhenti di depan sebuah gua besar yang gelap dan sepi. Lalu, di sebelahnya terdapat sebuah danau besar yang terlihat tenang namun, menyimpan hewan-hewan sihir yang sangat berbahaya.

__ADS_1


”Mengapa Guru membawaku kemari? Apakah Guru akan menyuruhku untuk mengambil sebuah benda berharga yang ada di dalam gua ini?” tanya Xiao Qing Xuan sambil memperhatikan bebatuan keras yang menjadi tempat gua tersebut berada.


”Pembelajaran pertamamu adalah berburu hewan sihir tanpa memakai senjata.” jawab Liu Zhang Chen setelah ia memastikan bahwa di dalam gua ini terdapat seekor hewan sihir yang sedang tertidur.


Xiao Qing Xuan terkejut dan langsung menatap ke arah Liu Zhang Chen. ”... Apa maksudnya Guru! Jika tidak memakai senjata, bagaimana bisa aku melawannya dengan tangan kosong?” ucapnya dengan sedikit keras.


Liu Zhang Chen menunjukkan kedua jarinya dan menjawab, ”Aku hanya akan memberikanmu dua pilihan saja. Kau pergi dan melawan hewan sihir yang ada di dalam gua atau pergi melawan hewan sihir yang ada di dalam danau? Jika tidak memilih keduanya, silahkan pergi karena aku sama sekali tidak membutuhkanmu.”


Xiao Qing Xuan tertegun dan ia hanya bisa terdiam selama beberapa saat. Tidak lama setelah berpikir, ia pun menjawab, ”Aku akan memilih yang ada di dalam gua.”


Setelah mendengar jawabannya, Liu Zhang Chen tidak berekspresi dan mengulurkan tangannya pada Xiao Qing Xuan. ”... Berikan tanganmu.”


”Akh! Apa yang Guru lakukan?!” teriak Xiao Qing Xuan yang memaksa menarik tangannya kembali.


Setelah melukainya, Liu Zhang Chen menatap ke arahnya dan menjawab, ”Semoga pilihanmu itu benar.” ucapnya yang langsung menghilang dari tempatnya berdiri.


”Aduh,... Duh,... Dia itu kenapa? Seenaknya saja melukai tangan orang lain!” gumam Xiao Qing Xuan sambil meniup tiup luka yang ada di pergelangan tangannya.


Tidak lama setelah itu, muncul suara langkah raksasa yang datang dari dalam gua. Suara yang semakin dekat dan semakin dekat, membuat Xiao Qing Xuan menjadi waspada terhadap apa yang ada di dalam gua tersebut. Kemudian, dengan berlangsungnya suara tersebut, dua bola mata merah raksasa muncul di dari dalam gua.


”Seekor beruang raksasa!”

__ADS_1


Xiao Qing Xuan langsung berlari pergi dari tempat tersebut dan tepat setelah itu, datanglah seekor beruang hitam raksasa yang langsung menghantam gua tersebut hingga hancur menjadi potongan-potongan batu.


Salah satu serpihan batu telah mengenai sedikit dari wajah Xiao Qing Xuan hingga membuat sebuah luka goresan yang ada di pipi kanannya. Kedua alisnya mengerut dan menatap serius ke arah seekor beruang hitam yang baru saja terbangun setelah ia mencium aroma darah yang berasal dari luar.


”Beruang ini berada di alam bintang level tujuh. Apakah Zhang Chen sudah tahu kalau saat ini aku sudah berada di alam bintang level lima? Jika, aku menyuruh Xuan Ying untuk membantuku, dia pasti akan tahu semuanya.” batin Xiao Qing Xuan yang memikirkan cara agar ia bisa membunuh seekor beruang hitam raksasa yang memiliki tinggi sekitar 4 meter.


Beruang tersebut meraung keras karena lapar. Tubuhnya dipenuhi dengan anak panah yang masih menancap dan salah satu kuku kakinya hilang.


Setelah beruang itu melihat ke arah Xiao Qing Xuan yang berdiri tidak jauh di depannya, ia mengayunkan satu kaki depannya dengan keras sehingga membuat angin kencang yang menumbangkan banyak pohon di sekitarnya.


Melihat hal itu terjadi, Xiao Qing Xuan kembali berlari dan ia pun berlindung di balik sebuah batu besar yang berada tidak jauh di sebelahnya.


”Cih! Jika aku tahu kalau akan seperti ini, aku tidak akan pernah berkata iya.” batin Xiao Qing Xuan sambil memperhatikan beberapa pohon yang berterbangan akibat ayunan kaki depan beruang hitam yang ada di belakangnya.


Di saat ia mencoba untuk melihat ke belakang, kedua tangannya meraba sebuah tulisan yang terukir pada batu besar tersebut. Tulisan tersebut diukir menggunakan sebuah pedang yang tumpul sehingga tulisannya menjadi sedikit berantakan.


”Cahaya kembar datang di musim semi dan musim gugur datang begitu cepat. Terdapat dua pedang yang selalu bersama. Dimana ada satu darah, darah itu akan berubah menjadi dua. Tempatkan lah mereka di tempat yang terbaik sehingga mereka bisa menjadi tenang. Kremasikan mereka dengan baik sehingga tidak ada dendam di dunia ini.”


”Ini adalah sebuah prasasti batu?! Tapi, ini milik siapa?”


Tepat setelah ia mengakhiri keterkejutannya, beruang hitam itu muncul di atas kepalanya dengan kaki depannya yang akan diayunkan ke arahnya!

__ADS_1


__ADS_2