Become A Protagonist

Become A Protagonist
Chapter. 30 - Lei Yun


__ADS_3

17 Tahun yang lalu, di kota Lunsheng, Sekte Setengah Bulan adalah tempat diadakannya sebuah konferensi perburuan malam. Para hantu hanya akan muncul saat matahari terbenam hingga fajar tiba.


SRATT!!!


Sebilah pedang telah mengoyak sebuah daging dan tulang milik tubuh mayat yang dibangkitkan kembali. Hutan yang semula bersih tanpa darah, berubah menjadi arena perburuan yang di dalamnya menyimpan tumpukan mayat yang telah mati.


Saat itu, Luo Xuan Ying yang masih berumur 19 tahun, datang bersama Kultivator lain yang berasal dari lima Sekte dengan aliran berbeda. Sampai sekarang, ia telah memburu delapan puluh hantu dan ia juga telah berhasil mencapai peringkat pertama dalam rangking sementara.


”Haah,... Hantu Sekte Setengah Bulan tidak sekuat hantu yang ada di Lin Zhong. Benar 'kan, Yun'er?” ucap Luo Xuan Ying sambil menyeka bekas darah mayat yang ada di pipi kanannya dan menoleh ke arah Lei Yun yang saat itu masih berumur tujuh tahun.


Lei Yun dengan wajah polosnya hanya mengangguk setuju. Sejak berumur lima tahun, Lei Yun menjadi sangat jarang berbicara dan matanya selalu tampak dingin dan tidak berekspresi. Hal ini jelas sangat berkebalikan dengan sifat yang dimiliki oleh Luo Xuan Ying meskipun sebenarnya Lei Yun telah meniru bentuk dirinya. Dilihat dari sifatnya saat ini, ia lebih mirip seperti Liu Zhang Chen yang masih remaja.


”Kenapa kau hanya diam saja? Apakah kau lapar?” tanya Luo Xuan Ying sambil memasukkan pedangnya kembali.


Lei Yun menggelengkan kepalanya. ”... Kemana Ayah pergi? Kenapa Ibu tidak bersamanya?”


Mendengar pertanyaan ini, wajah Luo Xuan Ying seketika memerah karena Lei Yun masih saja menganggap dirinya dengan Liu Zhang Chen adalah orang tua baginya.


Hingga saat ini ia hanya tertawa bingung dan berjalan menghampiri Lei Yun yang berada tidak jauh di depannya. ”... Jika kau terus memanggilnya Ayah, dia akan marah. Panggil saja aku ini kakak Ying dan kakak Chen.”


”Tidak mau.” celetuk Lei Yun yang berhasil membuat Luo Xuan Ying kehabisan kata-kata.


Tidak lama setelah pembicaraan mereka berhenti. Sekelompok orang keluar dari balik puluhan pohon dan semak-semak yang ada di sekitarnya. Mereka berjumlah tujuh orang dan saat ini mereka sedang mengepung pergerakan Luo Xuan Ying.


Dari seragam yang mereka kenakan, orang-orang ini berasal dari Sekte Awan Putih yang ada di Baiwu.


”Kenapa mengepungku seperti ini? Kalian bisa menyerangku secara baik-baik 'kan?” ucap Luo Xuan Ying dengan tenang setelah tujuh orang ini telah mengepungnya bersama dengan Lei Yun yang ia sembunyikan di belakang punggungnya.


Salah satu dari mereka menatapnya dengan jijik dan mencibir, ”Huh! Pantas saja dia selalu berada di peringkat pertama. Ternyata ada orang lain yang membantunya!” ucapnya sambil melipat tangannya.

__ADS_1


”Ya! Kau pasti mengandalkan anak itu untuk membunuh para hantu yang ada di sini 'kan?! Orang ini sungguh sangat curang!” ketus salah satu orang yang ada di sebelah kirinya.


”Apakah kalian mendatangiku hanya untuk melempar cibiran padaku?” ucap Luo Xuan Ying dengan ekspresi yang terlihat serius.


”Tentu saja!” celetuk orang yang ada di hadapannya. ”... Kau pasti menggunakan cara curang agar kau bisa mendapatkan peringkat pertama 'kan?! Jangan berbohong! Kami sudah tahu kalau kau mengandalkan anak itu untuk membunuh para hantu!”


”Ya itu benar! Apanya yang berasal dari Sekte terkemuka yang memimpin jalan perdamaian jika keturunannya saja bisa bertindak menjijikkan seperti ini?!”


”Aku dengar Ibunya berasal dari Mubei yang terkutuk! Pantas saja kelakuannya mirip seperti Kultivator bajiingan!”


”Pantas saja tindakannya seperti itu. Ibunya bahkan telah meninggalkannya sejak berumur lima tahun. Dasar tidak berpendidikan.”


Saat cibiran itu selalu mengarah padanya, Luo Xuan Ying tidak berekspresi sama sekali dan memilih untuk menundukkan kepalanya dan tidak menunjukkan ekspresinya sama sekali. Hingga sampai saat ini Yu Zhaoyi, Ibunya sendiri tidak pernah mengunjunginya sama sekali. Itu karena, Luo Xuan Ying masih percaya kalau hingga saat Yu Zhaoyi masih hidup.


Ketika Luo Xuan Ying memilih untuk diam dan menunggu mereka selesai berbicara, tiba-tiba saja sekelebat bayangan biru melintasinya begitu saja. Lalu setelah itu, salah satu dari sekelompok orang ini mati dengan mulut robek dan lidah yang terpotong.


”Ah! Yun'er! Jangan membunuh mereka!” teriak Luo Xuan Ying begitu ia sadar kalau serangan ini berasal dari Lei Yun yang memiliki gerakan cepat seperti kilat menyambar.


Melihat hal itu terjadi, enam orang sisanya sangat terkejut setelah mereka melihat mayat saudara mereka yang telah terbaring dengan wajah yang penuh dengan darah.


”Kau keterlaluan! Beraninya membunuh saudara seperguruan kami!” teriak salah satu dari mereka.


”Yun'er! Aku sudah mengatakan padamu berulang kali kalau kau tidak boleh membunuh orang yang masih hidup.” ucap Luo Xuan Ying dengan wajah penuh kecemasan saat menyentuh pundak Lei Yun.


Lei Yun tidak berekspresi dan menjawab, ”Mereka telah menghina Ibu. Aku tidak bisa tinggal diam dan membiarkan mereka keluar hidup-hidup. Orang yang telah menghina Ibu, sama saja mereka juga telah menghina ku. Jadi, tidak salah jika aku menghabisi mereka semua.”


”Sifatnya sangat mirip dengan Zhang Chen. Apa mungkin sebelum menetas, dia sempat melihat ke arah Zhang Chen dan meniru sifatnya?” batin Luo Xuan Ying yang memikirkannya.


Salah satu dari mereka tampak pucat dan berteriak, ”Xuan Ying! Kau telah keterlaluan! Kami akan membunuhmu sekarang juga?”

__ADS_1


...⊰᯽⊱┈──╌❊╌──┈⊰᯽⊱...


”Setelah itu, Zhang Chen muncul dan memisahkan kami semua. Beruntung saja saat itu Lei Yun tidak melepas petir miliknya. Jika iya, mungkin saja enam orang yang tersisa sudah berubah menjadi abu.” batin Luo Xuan Ying begitu ia kembali mengingat masa lalunya ketika dirinya masih hidup.


Lei Yun pasti tidak akan membiarkanku menjadi arwah pendendam. Tidak lama setelah ini, dia pasti akan berusaha untuk menenangkan jiwaku.


”Hei! Tadi itu apa? Mengapa petir itu muncul di segala arah?” tanya Xiao Qing Xuan begitu ia melihat puluhan petir yang mendarat di berbagai tempat.


Luo Xuan Ying tertegun dan pandangannya seketika teralihkan pada Xiao Qing Xuan yang saat ini masih duduk di sebelahnya. ”... Mungkin dia itu adalah utusan dari Istana langit.” singkat Luo Xuan Ying yang tidak ingin Xiao Qing Xuan tahu kalau dirinya memiliki hubungan sangat dekat dengan leluhur petir, Lei Yun.


Xiao Qing Xuan menatapnya dengan bingung dan bertanya, ”... Istana langit? Apakah yang kau maksud itu adalah Istana para Kultivator ditingkat matahari? Mengapa dia datang kemari dan apa tujuannya?”


Luo Xuan Ying mengalihkan perhatiannya karena tidak peduli. ”... Mana kutahu. Kau pikir aku akan repot-repot datang ke sana hanya untuk memata-matai mereka?”


Xiao Qing Xuan menatapnya dengan heran dan bertanya, ”... Mungkinkah kau memiliki hubungan dengan leluhur petir?”


Luo Xuan Ying terdiam dengan wajahnya yang tampak terkejut. ”... Ehh, waktuku sudah habis. Sebaiknya aku pergi saja!” ucapnya yang langsung menghilang dari tempatnya berdiri sehingga membuat Xiao Qing Xuan tampak kebingungan saat melihatnya.


”Hoho! Dia pikir aku tidak mengingat kisahnya dalam seri pertamanya? Sudah kuduga dia pasti—


Xiao Qing Xuan terhenti berbicara karena hal yang baru saja dialami olehnya. ”... Kenapa aku bisa melupakan naskahnya?!” batinnya yang merasa terkejut setelah ingatannya yang dulu perlahan memudar.


Sementara ini, di dalam sebuah ruangan yang dipenuhi benda benda pusaka. Jin Quanyao tampak sedang berlutut di hadapannya Ayahnya, Jin Qin Ran.


Sambil menaruh cambuk ekor kuda di depan lututnya, ia berkata dengan penuh penyesalan. ”... Ayah, maaf aku telah gagal melakukannya. Aku tidak bisa melihat Arwah yang sudah merasuki tubuh Tuan muda Xiao.”


Sambil memegang sebuah pedang yang tergeletak di atas tanah, Jin Qin Ran tidak berekspresi dan menoleh ke arah Jin Quanyao yang ada di belakangnya.


”Kau telah berusaha semampu mu. Tidak masalah selama arwah itu bukanlah arwah leluhur Ying.” ucapnya sambil berjalan kembali melewati Jin Quanyao.

__ADS_1


Namun, sebelum ia melewatinya. Jin Qin Ran menaruh telapak tangannya di atas kepala Jin Quanyao dan berkata, ”Kemasi barangmu. Kita akan pergi.” ucapnya sambil berjalan meninggalkannya.


Dalam diamnya, Jin Quanyao menggigit bibirnya dan menjawab, ”Baik Ayah.”


__ADS_2