
15 tahun lalu, seorang jenius berbakat pernah muncul di tanah mereka. Ia mengalahkan semua talenta yang dimiliki oleh murid-murid sekte.
Dalam konferensi yang diadakan oleh Sekte Setengah Bulan. Kemampuannya dalam berpedang dan memanah memang tidak bisa diragukan lagi. Keempat Sekte akhirnya mengakui keterampilan berpedangnya terkecuali Sekte Puncak Donqiong yang selalu dirasuki oleh keserakahan dan dendam terhadap siapapun yang telah merebut impian mereka.
Dan baru saja beberapa tahun ia mendapat pengakuan dari keempat Sekte, tiba-tiba saja muncul sebuah isu yang beredar bahwa dia sebenarnya adalah praktisi Iblis yang sangat mengerikan bahkan melebihi para petinggi yang ada di Sekte Puncak Donqiong. Ia dituduh karena telah mempelajari kitab Iblis yang terlarang dan tidak boleh dijamah oleh siapapun.
Namun, pada suatu hari. Seorang Tuan muda yang berasal dari keluarga Liu mematahkan tuduhan itu. Jika dia adalah seorang praktisi Iblis, seharusnya ia bisa membangkitkan para hantu yang terkubur di tanah dan. memiliki emosi yang tidak terkontrol.
Lalu, setelah isu tersebut perlahan memudar. Orang-orang dari Sekte Puncak Donqiong datang secara beramai-ramai memancingnya untuk datang sendiri di suatu tempat yang gelap dan dipenuhi dengan aura hantu.
Setelah dijebak, pemimpin sekte mereka menghancurkan seluruh pelatihannya dan mereka juga telah menghancurkan jantungnya dan melemparkannya ke dalam lembah pemakaman hantu yang ada di wilayah Langye.
Sejak saat itu, seluruh orang menjadi ketakutan terhadap Sekte Puncak Donqiong yang telah membunuh satu-satunya jenius berbakat yang mereka miliki. Mereka merasa kasihan karena pemuda tersebut harus mati di usianya yang baru saja berumur 20 tahun hingga datanglah seorang cenayang yang meramalkan bahwa pemuda itu akan lahir kembali dan membalaskan seluruh dendamnya.
16 tahun kemudian, saat seorang anak laki-laki bernama Xiao Qing Xuan sedang tertidur di perpustakaan dan bermimpi tentang hal tersebut. Dengan perlahan ia membuka matanya yang terlihat lelah dengan tangan yang telah terlipat selama berjam-jam.
”AARRGGHH! KERAM!”
Xiao Qing Xuan berteriak setelah ia sadar kalau tangan kanannya tidak bisa digerakkan setelah ia tertidur selama lima jam. Ia terus berada di posisi yang sama bahkan tidak ada yang memiliki ide untuk membawanya kembali ke kamarnya.
”Mereka jahat sekali. Apakah tidak ada yang berniat untuk membawaku kembali ke kediaman para murid?” gumam Xiao Qing Xuan sambil menangisi tangannya yang tidak bisa bergerak kemudian ia menatap ke arah luar jendela. ”... Ternyata masih malam. Sepertinya aku tidur terlalu cepat dan kemana perginya Zhang Chen? Bukankah dia bilang akan terus mengawasiku di sini.”
Setelah keramnya hilang, Xiao Qing Xuan berjalan keluar perpustakaan dan mengawasi sekitar. Ia berpikir, bisa saja Liu Zhang Chen masih bersembunyi di sekitar sini untuk mengawasinya apakah ia benar-benar belajar atau tidak. Namun, setelah belasan menit ia terus mencari, Xiao Qing Xuan tidak berhasil menemukan keberadaan Liu Zhang Chen di dalam perpustakaan tersebut.
”Dia tidak ada di sini. Mungkin sebaiknya aku kabur saja!”
Xiao Qing Xuan langsung mengambil langkah seribu untuk meninggalkan perpustakaan tersebut. Namun, ketika ia sedang berlari keluar dari dalam pintu, tiba-tiba saja seseorang menarik kerah pakaiannya dari belakang dan membuat langkahnya seketika terhenti saat itu juga.
”Mau kemana? Aku menyuruhmu untuk tetap di dalam 'kan?” tanya seorang laki-laki yang saat ini sedang menarik kerahnya.
Begitu ia merasa sangat mengenal suara ini, dengan perlahan ia menoleh ke belakang dan mencoba untuk tidak terkejut setelah ia menatap wajahnya.
__ADS_1
Benar saja apa yang terlintas di pikirannya, laki-laki ini adalah Liu Zhang Chen yang telah mengeluarkan sebagian kecil dari hawa kekuatannya dan berhasil membuatnya gemetar saat ia tahu kalau Liu Zhang Chen sedang dalam mode perang.
”Guru besar Chen! Apakah aku tidak boleh keluar? Di dalam perpustakaan yang aku temukan hanya buku membosankan! Tidak bisakah kita langsung memulai membentuk titik awal Kultivasi ku?” ucap Xiao Qing Xuan setelah ia berdiri tepat di depan Liu Zhang Chen.
”Jika ingin mempelajarinya, kau harus mengetahui peraturan-peraturannya.” celetuk Liu Zhang Chen.
”Hah? Yang benar saja! Ini sudah terlalu malam! Apakah Guru besar tidak akan mengizinkanku untuk kembali ke kediaman murid?” ketus Xiao Qing Xuan.
”Tidak! Lagipula kau sudah tidur seharian sampai tanganmu keram.” singkat Liu Zhang Chen.
”Huh!” Xiao Qing Xuan berdeham dan mengalihkan pandangannya ke sudut lain. ”... Apakah anak 10 tahun di sini tidak diizinkan untuk bermain-main sebentar? Bisa-bisa aku terkena serangan mental!” gumam Xiao Qing Xuan dengan suara bisa terdengar di telinga Liu Zhang Chen.
”Jika tidak ingin mendapatkan kemajuan, silahkan saja. Anak-anak sepertimu, seharusnya sudah memiliki pedang saat usianya tujuh tahun.” ucap Liu Zhang Chen yang langsung berjalan meninggalkan Xiao Qing Xuan di depan perpustakaan.
”Mendapatkan pedang? Mengapa aku tidak pernah mendapatkannya? Apa yang terjadi pada jalan ceritanya?” batin Xiao Qing Xuan yang tidak berekspresi.
Saat ia masih berada di kediaman keluarga Xiao, ia kerap kali disiksa oleh Ibu tirinya dan hal itulah yang membuat dantiannya menjadi cacat. Ia tidak akan bisa menggunakan pedang sebelum usianya 14 tahun. Jika ia tetap memaksa untuk mendapatkannya saat usianya belum genap 14 tahun, ia tidak akan kuat untuk mengendalikan pedangnya sendiri dan kekuatannya akan cepat habis jika ia tetap memaksanya.
”Penulis ini kejam sekali! Tidak bisakah dia memberikanku ujian yang lebih sulit dari ini?!” gumam Xiao Qing Xuan yang sangat kesal ketika mengingatnya.
Saat ia terdiam selama beberapa saat, seombak angin dingin muncul dari arah Utara dan awan-awan gelap tampak menumpuk di atas langit yang awalnya bersinar.
Xiao Qing Xuan menatap langit dan ia pun merasakan adanya hawa kekuatan gelap. ”Mereka pasti berasal dari aliran hitam!”
Beberapa saat setelah ia merasakan hawa kekuatan tersebut, beberapa anak panah melesat dan menyambar dirinya. Beruntung saja ia langsung menghindar dari serangan ketiga anak panah itu. Jika saja gerakannya tidak bisa cukup cepat, mungkin ia akan kehilangan satu matanya.
”Ada apa ini? Serangan mendadak?” batin Xiao Qing Xuan sambil memandangi anak panah yang menancap di atas tanah hingga membuat tanah tersebut kering tanpa air.
”Sudah berjam-jam kita berkeliling di tempat ini dan kita hanya bertemu dengan seorang anak berumur 10 tahun?!” ucap salah seorang pemuda dengan kesal sambil membanting busurnya ke tanah.
Mendengar suara tersebut, Xiao Qing Xuan langsung menoleh ke belakang dan melihat ada tiga orang pemuda yang sedang berdiri di belakangnya dengan memakai sebuah jubah hitam yang menutupi sampai bagian kepala.
__ADS_1
”Tenanglah! Wu Lan! Dia hanya anak kecil biasa. Bunuh saja dia.” ucap seorang pemuda tertua di antara ketiganya.
”Haah? Mengapa kalian seenaknya saja mau mengambil nyawaku? Kalian tidak tahu bagaimana perjuangan ku selama hidup di tempat kuno seperti ini?” celetuk Xiao Qing Xuan begitu ia mendengar jawaban tersebut.
Mereka bertiga adalah murid-murid dari Sekte Puncak Donqiong. Mereka adalah seorang pemuda dengan busur panahnya bernama Wu Lan, seseorang dengan pedang algojo yang mampu memenggal kepala tiga orang sekaligus bernama Ling Pei dan laki-laki tertua yang memegang sebuah kipas lipat bertuliskan ”Bersihkan Pengganggu.” bernama Feng Mu.
”Ling Pei? Dalam seri pertama aku tidak melihat seseorang memiliki marga Ling. Apakah mungkin dia adalah karakter baru dalam novelnya?” pikir Xiao Qing Xuan begitu ingatan ini tiba-tiba menunjukkan siapa sebenarnya ketiga orang ini.
”Bocah! Kau lengah!” ketus Ling Pei sambil mengayunkan pedang pemenggalnya.
Xiao Qing Xuan yang tidak mengetahui datangnya serangan tersebut, seketika terjatuh dan serangan tersebut berhasil dihindari olehnya dengan sangat mudah.
”Huh! Mencoba membunuhku?!” ketus Xiao Qing Xuan yang langsung melemparinya dengan segenggam pasir pada wajah Ling Pei.
Di saat Ling Pei sibuk mengurusi dirinya sendiri, Xiao Qing Xuan segera berlari menjauh dari tempat tersebut dengan tiga orang pemuda yang terus saja mengejarnya.
Keduanya berpikir, mungkin saja Xiao Qing Xuan akan membawa mereka menuju tempat ramai sehingga mereka bisa membantai seluruh murid yang ada di sana termasuk membunuh Guru besar mereka.
Akan tetapi, Xiao Qing Xuan sudah mengetahui kedok mereka sejak awal kalau kedatangan mereka sebenarnya adalah untuk membunuh Liu Zhang Chen dan mengacaukan Sekte mereka. Karena itulah, Xiao Qing Xuan berlari menuju jalan yang sepi yang hanya dipenuhi dengan penduduk biasa dan membawa ketiganya keluar dari Sekte.
Di dalam sebuah hutan yang sepi dan hanya dipenuhi dengan hewan-hewan buas, Xiao Qing Xuan tiba-tiba saja terhenti begitu jalan di depannya berubah menjadi sebuah jurang dan di bawahnya terdapat sungai yang sedang mengalir deras.
”Gawat,... Aku membuat diriku sendiri terbunuh.” batin Xiao Qing Xuan sambil melihat pemandangan mengerikan yang ada di bawah kakinya.
”Hahaha! Kau sudah terpojok bocah kecil! Sepertinya kau sudah tahu apa tujuan kami datang ke tempatmu.” ucap Ling Pei dengan senyum seringainya begitu ia melihat keadaan yang sudah berbalik.
”Aku sudah tahu kalau sifat mereka terlalu bodoh. Jadi, mereka terus mengejarku bahkan sampai ke sini.” batin Xiao Qing Xuan sambil tersenyum mengejek ke arah mereka. ”... Lalu, apakah kalian pikir aku akan membawa kalian ke tempat Guru besar berada?”
”Tidak perlu mencariku. Aku ada di sini.” ucap seorang pemuda yang tiba-tiba saja muncul di depan Xiao Qing Xuan dan membuat keempatnya terkejut dengan kedatangannya.
Pemuda ini adalah Liu Zhang Chen!
__ADS_1