
”Menjauh dariku!” teriak Liu Zhang Chen begitu ia melihat Shangzhu Shi sedang berjalan mendekatinya.
Shangzhu Shi sendiri merasa sangat terkejut setelah ia melihat ekspresi marah Liu Zhang Chen yang ditunjukkan padanya. Selama ini, belum ada seorangpun yang berani mengatakan hal itu padanya. Seluruh dunia takut padanya bahkan hanya untuk mengatakan satu huruf saja. Ia tidak mengerti mengapa Liu Zhang Chen menunjukkan perbedaan sikapnya. Sejak dulu, Liu Zhang Chen selalu pendiam dan canggung ketika berhadapan dengannya. Namun, kali ini saja ia tampak berbeda dari sebelumnya.
Shangzhu Shi tersenyum seringai dan berjalan mendekatinya. Ia pun menarik paksa dagu Liu Zhang Chen dan berkata, ”Apa yang membuatmu berubah seperti ini? Ini semua bukan karena anak itu 'kan?”
Liu Zhang Chen menarik dagunya kembali dan mengalihkan perhatiannya. Jika saja kedua tangannya tidak dirantai seperti ini, mungkin saja ia sudah menghajar wajah Shangzhu Shi menggunakan kedua tangannya sendiri. Namun, saat ini ia hanya berharap tidak akan ada hal buruk yang menimpanya.
Shangzhu Shi menghela nafasnya sambil mengalihkan perhatiannya sesaat. ”Haah,... Aku tidak mengira kau tidak akan menyambut kedatanganku. Bukankah kau itu adalah anak yang pemalu dan canggung? Mengapa saat ini, kau sudah berani memberontak padaku? Apakah aku harus membunuh anak itu agar kau bisa kembali padaku sepenuhnya?”
Liu Zhang Chen membuka matanya lebar-lebar. Ia sangat terkejut setelah mendengar hal itu. Ia mencoba untuk bergerak dan melepaskan diri dari rantai rantai yang sedang mengikatnya. ”Aku akan membunuhmu jika kau berani menyentuhnya!” teriak Liu Zhang Chen saat ia melihat Shangzhu Shi yang akan pergi.
Shangzhu Shi berhenti dan menoleh ke arah Liu Zhang Chen di belakangnya. ”Benarkah? Kau pikir kau bisa mengalahkanku? Apakah kau tidak pernah berpikir bahwa kau hanyalah segenggam debu yang mudah disingkirkan?” ucapnya dengan senyum seringai dan wajah dinginnya.
Liu Zhang Chen seketika terdiam dan merinding saat ditatap olehnya. Ia menundukkan kepalanya dan kedua tangannya berhenti memberontak. Bibirnya tampak gemetar dan wajahnya tampak mencemaskan sesuatu. ”Mengapa kau mempengaruhi ku dan membawaku kemari? Jika tujuanmu untuk menghancurkan semua orang, mengapa tidak menyiksaku saja sampai mati?”
Shangzhu Shi menghampirinya kembali. Ia mengeluarkan sebuah pisau belati dari balik pakaiannya dan meletakkannya pada leher Liu Zhang Chen hingga membuatnya terluka. ”Memangnya seberapa besar nyawamu itu? Apakah menghilangkan satu nyawa akan berpengaruh besar?”
Liu Zhang Chen menggigit bibirnya dan menatapnya dengan serius. ”Mengapa tidak? Jika kau menaruh semua kebencianmu padaku, setidaknya aku bisa mengurangi dendam yang selama ini ada dalam dirimu. Siksa aku dengan seluruh kemampuanmu. Semakin parah maka akan semakin baik. Jika aku mati nanti, aku akan berubah menjadi arwah pendendam dan akan terus menghantuimu.”
Shangzhu Shi tersenyum seringai dan mengatakan, ”Jadi, kau lebih memilih untuk menjadi arwah pendendam seperti bocah bernama Xuan Ying itu? Apakah kau sudah tahu siapa yang membunuhnya?”
”Jin Qin Ran yang sudah melakukan semua itu.” ucap Liu Zhang Chen dengan pelan.
__ADS_1
”Dan kau tidak mengetahui penyebab mengapa ia membunuh salah satu teman terdekatnya selain kau?” ucap Shangzhu Shi yang kemudian membisikkannya di telinga Liu Zhang Chen. ”... Penyebabnya adalah,... Kau sendiri.”
...⊰᯽⊱┈──╌❊╌──┈⊰᯽⊱...
”Xuan'er sayangku! Akhirnya kita bisa bertemu! Kau tidak tahu betapa rindunya aku padamu!” ucap seorang kakek tua dengan gembira sambil mendekap Xiao Qing Xuan yang terluka dengan sangat kuat.
Kakek tua berjanggut putih dengan pakaiannya yang serba abu bernama He Donyun, Ayah dari kakak beradik He Mu'an Qing dan He Nan Ming sekaligus kakek dari Xiao Qing Xuan.
”Dia ini menyebalkan sekali! Lukaku masih belum sembuh dan aku sudah disiksa seperti ini?!” batin Xiao Qing Xuan yang merasa kesal setelah ia menerima berbagai kecupan selamat datang yang dilakukan oleh He Donyun. Selama ini ia diperlakukan oleh Xiao Lian Lei dengan biasa seperti anak kebanyakan. Namun, He Donyun tampaknya terlalu berlebihan saat menyambutnya.
”Tapi, setelah aku memperhatikannya. Kediaman keluarga He tidak seseram yang kubayangkan. Kediaman ini sangat luas dan dipenuhi bunga tabebuya berwarna merah muda. Mereka juga memelihara banyak burung merpati dan lentera yang menggantung di sekitar. Apakah hanya orang-orangnya saja yang begitu menakutkan?” batin Xiao Qing Xuan yang memikirkannya.
Saat ia terdiam sambil memikirkannya, He Nan Ming menariknya tiba-tiba dan menyingkirkannya dari hadapan He Donyun. ”... Pikirkan tentang tekananmu. Anak ini akan mati jika terus bersamamu. Lagipula dia sedang terluka. Setidaknya berikan dia waktu istirahat.”
”Haah,... Akhirnya aku bisa terbebas darinya.” batin Xiao Qing Xuan sambil menghela nafasnya.
”Berikan tanganmu.” ucap He Nan Ming setelah ia mengambil sebuah benda kecil yang tersimpan di kantongnya.
Xiao Qing Xuan mengikuti apa yang dikatakannya. Ia pun menunjukkan telapak tangannya dan membiarkan He Nan Ming menaruh sesuatu di atasnya. Setelah itu, ia pun merasa cukup heran dengan adanya sebuah benda bulat mirip sekali dengan sebuah pil penyembuh namun, warnanya hitam gelap dan hampir sama dengan pil mematikan.
”Paman! Ini bukan pil beracun yang biasa digunakan untuk mengeksekusi penjahat 'kan?” tanya Xiao Qing Xuan sambil menatapnya dengan heran.
”Bukan. Itu adalah pil penyembuh buatan ibumu yang setara dengan harga seratus juta keping emas.” jawab He Nan Ming yang berhasil membuat Xiao Qing Xuan terdiam heran setelah melihat harga aslinya.
__ADS_1
”B~ bagaimana bisa semahal itu? Darimana Paman mendapatkan pil ini?” tanya Xiao Qing Xuan dengan canggung.
Sambil melepas dan mengikat kembali rambut panjang Xiao Qing Xuan, He Nan Ming menjawab, ”Bukan hanya seorang jenderal termuda, Ibumu juga seorang peramu yang sangat berharga. Dia pandai membuat obat dari berbagai tanaman langka namun, dia menjualnya dengan harga yang jauh lebih murah dengan harga yang aku katakan. Dia menyimpan seluruh obat buatannya di dalam gudang miliknya.”
Xiao Qing Xuan menoleh ke arah He Nan Ming yang ada di belakangnya dan bertanya, ”Lalu, setelah Ibuku tidak ada, Paman menjual seluruh obat buatan Ibuku dengan harga yang sangat mahal?”
He Nan Ming tersenyum bangga dan menjawab, ”Tentu saja. Sekte ini tidak akan berdiri jika pemimpinnya tidak memiliki uang.”
”Bukankah sama saja dengan memeras uang rakyat?” batin Xiao Qing Xuan yang memperhatikan wajah bahagia He Nan Ming.
”Mengapa kau tidak segera menelan pil pahit yang aku berikan padamu? Apakah kau takut itu adalah racun mematikan?” tanya He Nan Ming kembali.
Xiao Qing Xuan tertegun dan langsung menatap ke arah pil pahit yang ada di atas telapak tangannya. ”Apakah ini adalah trik baru untuk membunuhku?” batinnya sambil memperhatikan.
Tidak lama setelahnya, ia pun menelan pil tersebut dan sempat kesulitan saat pil itu masuk ke dalam tenggorokannya. Ia pun terbatuk selama beberapa saat sebelum akhirnya, ia menyadari adanya perbedaan dalam tubuhnya.
”Aku merasa lebih baik dari sebelumnya. Pil jenis apa ini?” tanya Xiao Qing Xuan setelah ia merasa seluruh lukanya telah sembuh keseluruhan. Ia pun bisa menggerakkan kedua tangannya dengan baik dan lancar. Ia tidak lagi merasakan sakit di seluruh tubuhnya.
”Aku sudah bilang kalau pil yang kau makan itu adalah pil buatan ibumu. Karena itu, aku menjualnya sangat mahal karena pil itu sangat manjur untuk mengobati luka dalam sekejap.” jawab He Nan Ming setelah ia selesai mengikat kembali rambut Xiao Qing Xuan yang tampak berantakan.
”Mengenai kejadian di lembah pemakaman hantu, apakah paman sudah mengkremasikan mayat Paman Jin dan saudara Quanyao? Lalu, bagaimana dengan pedang Ruixi?” tanya Xiao Qing Xuan yang langsung mengalihkan pembicaraan.
He Nan Ming meletakkan telapak tangannya di atas kepala Xiao Qing Xuan dan menjawab, ”Semua sudah ada di bawah kendaliku. Sebentar lagi, Luo Guanshu akan sampai kemari. Aku baru saja mengirimkan surat untuknya.”
__ADS_1
”Aku benar-benar menyesal karena telah menuduhnya sebagai orang jahat!” batin Xiao Qing Xuan yang terlihat bersalah karena telah menuduhnya.
Tidak lama setelah pembicaraan keduanya selesai, seorang gadis menghampiri keduanya secara tiba-tiba dan mengatakan, ”Tuan He! Dua orang dari Istana langit datang mengunjungi kediaman Anda.”