Become A Protagonist

Become A Protagonist
Chapter. 43 - Gadis Penyuka Manisan


__ADS_3

Ketika Rong Wei telah sepenuhnya menghilang sedangkan Rong Yan tidak mampu melihat bagaimana ekspresi Rong Wei ketika ia mengetahui hal itu. Rong Yan menjadi sangat marah dan ia pun menggenggam pedangnya dengan sangat kuat. Ia menjadi sangat marah karena Luo Xuan Ying telah berhasil mengatakannya tanpa ada satupun kata yang tertinggal.


”Rong Wei adalah satu-satunya orang yang aku miliki. Bagaimanapun juga, anak itu yang memulainya lebih dulu.” gumam Rong Yan saat ia merasa sedih setelah kehilangan Rong Wei begitu saja.


Luo Xuan Ying tersenyum kecil dan ia pun berjalan menghampiri Rong Yan yang masih berdiri tidak jauh di depannya. ”... Katakan padaku, apa yang kau inginkan?”


Mendengar suara ini, Rong Yan menghilangkan pedangnya dan menatap ke arah Luo Xuan Ying yang telah berdiri di hadapannya. ”... Jiwa penduduk desa Qun masih tidak tenang. Anak perempuan berambut putih, bernama Bai Wen masih berada di sini. Luo Guanshu membunuhnya 13 tahun lalu. Akan tetapi, hukuman gantung tidak cukup untuk membunuhnya. Dia masih berada di desa ini dan tidak pernah pergi saat itu juga.”


”Jadi,... Anak perempuan penyebar wabah penyakit itu bernama Bai Wen. Aku tidak menyangka kalau Ayahku akan terlibat dalam urusan mereka.” batin Luo Xuan Ying setelah ia mengambil cukup informasi dari Rong Yan yang tampak gelisah.


”Haah,...” Luo Xuan Ying menghela nafasnya sambil melipat kedua tangannya. ”... Aku ini bukan manusia lagi. Hanya orang yang masih hidup saja yang bisa menenangkan mu. Dan kebetulan sekali, Yun'er ada di sini.” ucapnya sambil menoleh ke belakang.


Saat ia menoleh ke belakang, tampak terlihat seorang wanita berambut perak dan bermata biru, sedang berdiri di atas sebuah awan saat keduanya sedang melakukan pertarungan di atas langit. Wanita ini telah datang sejak tadi dan menonton ketiganya saat pertarungan masih berlangsung.


”Aku tidak menyangka bisa bertemu kembali dengan Ibu.” ucap Lei Yun saat dirinya sedang menatap ke arah Luo Xuan Ying sebelum akhirnya ia menatap ke arah Rong Yan. ”... Istana langit yang akan melanjutkan masalah yang ada di desa Qun dan menghukum Bai Wen sesuai dengan kejahatan yang telah dilakukannya. Rong Yan bisa menyerahkan semua ini padaku.” ucapnya dengan sopan.

__ADS_1


”Yun'er telah mengatakan kalau ia yang akan menyelesaikannya. Kau pergilah dan temui Rong Wei di sana. Aku yakin kau memiliki sesuatu yang harus kau katakan padanya.” ucap Luo Xuan Ying dengan senyum kecilnya.


”Aku tahu, seharusnya aku tidak membunuhnya saat itu. Kalau begitu, aku menyerahkan semua ini pada nona Lei. Aku akan segera pergi.” ucap Rong Yan yang kemudian ia pun langsung berubah menjadi setitik cahaya yang berterbangan ke langit.


Setelah Rong Yan pergi dari hadapannya, Luo Xuan Ying menghadap langsung ke arah Lei Yun yang masih di belakangnya. Ia mencoba untuk menyapanya dengan berkata, ”... Yun'er! Lama tidak bertemu. Terakhir aku bertemu, kau masih berumur delapan tahun. Bagaimana kabarmu selama 16 tahun itu? Apakah kau memiliki rencana untuk menikah?”


Seolah ia tidak mengerti apa yang dirasakan oleh Lei Yun saat ini, beberapa kilatan petir menyambar di segala arah dan membuat Luo Xuan Ying merasa cukup terkejut setelah mendengarnya.


”A-ha-ha,... Sepertinya kau menggunakan kekuatanmu untuk mengekspresikan bagaimana suasana hatimu, ya?” ucap Luo Xuan Ying dibarengi dengan tertawaannya.


Lei Yun yang tidak juga menunjukkan ekspresinya dan terus menurunkan hujan petir dimana-mana, semakin membuat Luo Xuan Ying bergidik ngeri karena ia menduga kalau Lei Yun adalah orang kedua yang ingin mengusir jiwanya dari alam fana.


Luo Xuan Ying menatap sekeliling. Ia mencoba untuk mencari keberadaan Liu Zhang Chen akan tetapi, ia tidak juga menemukannya karena kabut putih yang semakin tebal dan menutupi pandangannya.


Luo Xuan Ying tersenyum canggung dan berkata, ”... Ahh, jangan salah paham dulu. Bukannya aku ingin tetap tinggal di sini tapi aku hanya—

__ADS_1


Setetes air mata itu pun jatuh dan berhasil membuat Luo Xuan Ying menghentikan ucapannya. Ia merasa sangat terkejut setelah Lei Yun mengangkat kepalanya kembali akan tetapi, ekspresinya tidak menunjukkan wajah senang atupun marah melainkan ia sedang menangis saat sedang menatapnya.


”Apa yang terjadi? Apakah wajahku ini semakin tua atau semakin jelek sehingga itu membuatmu sedih atau kau sangat ingin memakan manisan? A~ aku bisa memberikannya padamu.” ucap Luo Xuan Ying dengan ekspresi yang terlihat canggung karena ia tidak mengerti mengapa Lei Yun harus menangis setelah menatapnya.


Lei Yun menurunkan pandangannya kembali dan berkata dengan dingin, ”... Ibu tidak mungkin bisa membelikan manisan untukku. Sejak dulu, Ibu selalu kejam padaku dan bahkan meninggalkanku sendiri. Kau berjanji akan memberikanku setumpuk manisan jika berhasil melampaui mu. Akan tetapi, di hari yang sama saat aku berhasil melakukannya dan kau akan kembali ke rumah untuk menemuiku. Aku terus menunggu di depan pintu selama berhari-hari. Akan tetapi, yang aku dapatkan hanyalah sekumpulan orang yang memakai pakaian putih dengan membawa papan nama dan beberapa batang dupa saja. Papan nama itu, terukir nama Luo Xuan Ying. Lalu, dupa yang mereka bawa, telah dikhususkan untuk mu. Sejak saat itulah, kakak Chen yang mengurus ku di kediaman Liu.”


Luo Xuan Ying menatap sedih setelah Lei Yun mengatakan hal itu dan ia pun berhasil mendapatkan ingatannya kembali.


Seluruh ucapan yang dikatakan oleh Lei Yun memang benar jika saat itu, ia berjanji akan memberikannya setumpuk manisan untuknya saat ia telah kembali ke kediamannya. Akan tetapi, setumpuk manisan itu telah berubah menjadi sebuah papan nama dan setumpuk batang dupa yang terus menyala.


”Yun'er. Aku~ tidak bermaksud meninggalkanmu, maaf. Aku tidak bisa memenuhi janjiku.”


Saat ia mengakhiri kalimatnya, suara tepukan tangan itu terjadi, beberapa langkah dari pandangan mereka. Keduanya pun langsung menoleh ke sisi kanan dan mereka langsung disuguhkan dengan pemandangan seorang gadis kecil berumur 14 tahun yang sedang berdiri di sebelah mereka dengan jubah yang sampai menutupi seluruh wajahnya.


”Aku benar-benar tertarik dengan cerita yang kakak cantik ceritakan. Bukankah itu adalah sebuah cerita sedih? Kakak cantik ini telah menunggu manisan yang akan diberikan oleh Ibunya akan tetapi, Ibunya malah memberikan papan kayu yang bertuliskan namanya sendiri dan setumpuk dupa.” ucap anak perempuan itu dengan senyum kekanak-kanakannya.

__ADS_1


Saat sedang memperhatikannya, Luo Xuan Ying memasang ekspresi terkejut setelah ia melihat sehelai rambut putih yang sedang berkibas mengikuti arah angin. ”... Jadi benar. Bai Wen ternyata masih hidup hingga sekarang. Tapi, sepertinya dia tidak mengalami pertumbuhan. Apakah karena terlalu banyak menggunakan sihir, dia menjadi seperti ini?” pikir Luo Xuan Ying.


__ADS_2