Become A Protagonist

Become A Protagonist
Chapter. 103 - Rencana


__ADS_3

”Aku akan pergi melihat makam Kak Ruo. Memangnya tidak boleh?” tanya Xiao Qing Xuan sambil menatap dingin ke arah He Nan Ming.


He Nan Ming tidak berekspresi saat menatapnya. Tak lama, ia pun menjawab, ”Bukan aku yang akan melarangmu. Tapi, Ayahmu ada di sini.” ucapnya yang berhasil membuat Xiao Qing Xuan merasa cukup terkejut dan langsung mengalihkan perhatiannya pada seorang laki-laki yang tengah berdiri tidak jauh di sebelahnya.


”Kenapa dia tahu kalau aku bisa ada di sini?” batin Xiao Qing Xuan sambil terus menatapnya.


Xiao Lian Lei akhirnya berjalan menghampirinya. Setelah sampai di sebelahnya, ia langsung menampar wajah Xiao Qing Xuan hingga membuat semua orang terkejut dan hanya bisa terdiam melihatnya.


”Anak nakal! Sudah kubilang tetap di ruanganmu! Keberadaanmu benar-benar membawa sial bagi semua orang! Kau sendiri yang sudah membuatku bercerai dan kau juga yang membuat Xiao Ruo mati karena melindungimu! Apakah kau sadar bahwa kau ini sudah keterlaluan?!” bentak Xiao Lian Lei yang membuat Xiao Qing Xuan membungkam suaranya selama beberapa saat.


Xiao Qing Xuan menundukkan kepalanya saat ia tidak berekspresi ketika mendengarnya. ”... Lalu, apa yang kau inginkan? Membunuhku agar kesialanmu hilang? Begitu?”


Xiao Lian Lei terdiam dengan ekspresi yang terlihat sangat terkejut sedangkan He Nan Ming tampaknya tidak ingin terlibat dalam permasalahan mereka.


Karena Xiao Lian Lei tidak juga menjawabnya, Xiao Qing Xuan mulai merasa bahwa Xiao Lian Lei memang ingin kehilangan putranya. Karena itu, ia pun langsung menjawab, ”Jika itu yang Ayah inginkan maka, aku akan melakukannya!” teriaknya yang langsung menghilang dari pandangan semua orang di sana. Xiao Qing Xuan menggunakan mantra teleportasi agar ia bisa sampai di wilayah perbatasan dan pergi dari tempat tersebut meskipun hal ini membuatnya kehilangan tenaga.


Ketika melihatnya pergi, Xiao Lian Lei menghela nafasnya. Ia tidak menyangka bahwa Xiao Qing Xuan tidak akan memberinya waktu untuk menjawab pertanyaannya. Ia berencana untuk pergi mencarinya namun, He Nan Ming tampaknya telah mencurigai sesuatu.

__ADS_1


”Aku sudah tahu jika akhirnya akan seperti ini. Kau mengatakan hal yang tidak seharusnya kau katakan pada putramu. Dia itu adalah Putra dari Mu'an Qing dan Mu'an Qing masih menjadi adik perempuan ku. Kau sendiri tahu mengapa Mu'an Qing bisa mati secepat itu dan bahkan saat Putranya masih bayi. Seharusnya aku tidak pernah berdamai dengan Ayahku sendiri dan membatalkan pernikahan kalian berdua. Terima kasih karena sudah mengecewakan seluruh keluarga He.” ucap He Nan Ming sambil membelakangi Xiao Lian Lei dan berkata pada seluruh pasukannya, ”... Cari kemana perginya Xiao Qing Xuan dan bawa dia kemari.”


Sementara ini, tepat di depan sebuah makam yang berada di bawah pohon bunga tabebuya yang masih tertutup. Xiao Qing Xuan berdiri dengan penuh penyesalan sambil memegang sebatang kecil pohon bunga tabebuya. Ia kemudian berlutut di depan makam tersebut dan meletakkan sebatang bunga tabebuya di sebelah makam tersebut.


”Maaf karena aku telah bertindak tidak sopan dan maaf karena aku tidak datang dalam upacara pemakamanmu. Aku telah membuatmu kecewa padahal kau selalu datang disaat aku membutuhkanmu. Aku memang pantas menerima hukuman apapun meskipun harus mati. Dan sekarang, aku mengerti mengapa sejak dulu kau selalu saja bersikap dewasa. Bukan usia yang membuat kita dewasa. Tapi, keadaan lah yang memaksa kita untuk dewasa. Aku mempelajari banyak hal darimu dan menyadari betapa kekanak-kanakannya diriku. Sekali lagi, aku minta maaf karena aku selalu marah padamu. Mulai sekarang, aku akan mengakhirinya.”


Setelah mengatakannya dengan penuh penyesalan, Xiao Qing Xuan berbalik dan berjalan menuju suatu tempat. Namun, tiba-tiba saja muncul sebuah angin besar yang membuatnya berjalan mundur beberapa langkah dari tempatnya berdiri.


Ia pun sangat terkejut dan langsung menoleh ke arah makam Xiao Ruo yang berada di sebelahnya. Seolah tahu bahwa saat ini Xiao Ruo mencoba untuk menahannya, Xiao Qing Xuan menyentuh bagian atas kayu pusara miliknya dan berkata, ”Aku akan baik-baik saja, kak Ruo. Aku akan pergi sebentar.” ucapnya yang kemudian berlari meninggalkan tempat tersebut.


”Huh! Sudah kuduga! Dia pasti akan datang kemari! Qing Xuan! Tunggu saja! Aku pasti akan membunuhmu!"


...\=\=\=\=\=\=\=\= • ✠ • \=\=\=\=\=\=\=\=...


”Ming'er! Kau menangis lagi? Kau itu benar-benar cengeng! Kau ingin aku menggendongmu pulang?” ucap He Mu'an Qing saat usianya menginjak lima tahun dan saat ini ia sedang berhadapan dengan He Nan Ming yang usianya tujuh tahun.


He Nan Ming yang dulu adalah anak yang pemalu dan cengeng. Ia selalu diejek oleh teman-temannya karena ia selalu berlindung di belakang adik perempuannya sendiri. Hal ini tentunya sangat berkebalikan dengan apa yang seharusnya terjadi. Pada akhirnya, He Nan Ming berhenti menangis dan meraih tangan He Mu'an Qing yang berdiri di depannya.

__ADS_1


Beberapa Minggu setelahnya, Mubei diserang oleh ratusan Kultivator dari ketiga Sekte berbeda. Saat itu, He Nan Ming berhasil diselamatkan oleh para petinggi keluarga. Namun, mereka tidak menemukan keberadaan He Mu'an Qing saat penyerangan itu terjadi. Lalu, beberapa bulan setelah penyerangan itu berakhir, mereka menemukan He Mu'an Qing yang tampak bingung di dalam sebuah lubang mayat.


Semenjak ia ditemukan oleh para petinggi Sekte, ia berubah menjadi seorang yang tegas dan dingin. Seseorang seperti telah mencuci otaknya sehingga sifatnya jauh berbeda dengan yang sebelumnya.


Saat itu, He Nan Ming sengaja mendatangi He Mu'an Qing di hadapannya. Ia merasa sangat penasaran dengan sifatnya belakangan ini. Karena itu, ia berpikir mungkin saja He Mu'an Qing akan menceritakan hal itu padanya. Namun, hal yang dikatakannya sangat berbeda dengan apa yang diharapkannya.


”Ming'er! Ada satu hal yang harus kau ketahui. Aku tidak dilahirkan untuk dicintai oleh semua orang bahkan keturunanku yang akan datang.”


”....!”


He Nan Ming yang asli langsung terbangun dari tidurnya ketika ia mulai bermimpi aneh tentang masa lalunya. Saat itu, ia tidak sengaja tertidur di atas mejanya setelah ia memberikan perintah pada beberapa pasukannya. Lalu, tiba-tiba saja ia mendapati sebuah firasat buruk yang mengatakan bahwa ia harus segera pergi ke gunung Meiyou. ”Sudah saatnya untuk menghabisi nyawa yang tidak berharga.”


Sementara ini, di kaki gunung Meiyou. Xiao Qing Xuan tengah berhadapan langsung dengan Liu Zhang Chen yang belum mendapatkan kesadaran jiwanya kembali. Ingatannya yang lalu telah kembali. Kini ia tahu siapa Ibunya dan siapa yang pernah menjadi Gurunya. Ia berencana untuk mengakhirinya dalam satu hari saja dan tanpa membunuh siapapun.


”Sudah kuduga, kau pasti akan datang kemari.” ucap Liu Zhang Chen sambil menatapnya dengan sinis.


Sambil mengeluarkan pedang Ruixi kembali, Xiao Qing Xuan berkata dengan sangat yakin, ”... Kembalikan Guru besar Chen yang asli!”

__ADS_1


__ADS_2