Become A Protagonist

Become A Protagonist
Chapter. 85 - Kursi Kosong


__ADS_3

”Bagaimana keadaannya sekarang? Apakah dia sudah baik-baik saja?” tanya He Nan Ming yang tampak mencemaskan Xiao Qing Xuan saat mereka telah berada di kediamannya.


Seorang tabib laki-laki yang baru saja memeriksa keadaan Xiao Qing Xuan saat ini menjawab, ”Tuan muda baik-baik saja. Dia hanya kelelahan. Mungkin disebabkan karena kejadian kemarin. Tidak lama lagi dia pasti akan sadar.” jawabnya dengan tenang.


Chang Ye yang berada di sana juga terlihat sedang mencemaskannya saat ini. Ia duduk di atas dipan yang sedang dipakai oleh Xiao Qing Xuan. Matanya selalu menatap ke arahnya dan tidak pernah teralihkan sedikitpun.


Merasa kalau saat ini He Litao sedang berdiri di sebelahnya, Chang Ye segera bertanya, ”... Ayah! Apakah Tuan muda akan baik-baik saja?”


He Litao terdiam dan menjawab sesaat kemudian, ”Dia,... Pasti akan baik-baik saja. Sebaiknya kau mendengarkan apa yang tabib itu katakan.”


Chang Ye mengangguk sedikit dan kembali menatap Xiao Qing Xuan dengan cemas.


Mendengar apa yang dikatakan oleh tabib tadi, Xiao Lian Lei segera bertanya pada He Nan Ming yang berdiri di sebelahnya, ”Memangnya apa yang terjadi kemarin?”


He Nan Ming mendengus sambil melipat tangannya. Ia mengalihkan bola matanya ke atas dan menjawab, ”Qing'er merasukinya dan membuatnya mendapatkan kutukan.”


Xiao Lian Lei tampak terkejut dan bertanya kembali, ”Apa yang terjadi setelah itu?”


He Nan Ming menjawab, ”Aku memberikan darahku sebagai penawarnya sehingga, kutukan itu menghilang dengan cepat.”


Xiao Lian Lei tampak merendah setelah ia menyadari bahwa ia tidak bisa melakukan apapun ketika putranya dalam bahaya. Ia pun membungkukkan badannya dan berkata, ”Aku sangat berhutang budi pada kakak ipar. Aku akan segera membalasnya nanti.”


He Nan Ming tampak tak acuh dan berjalan menjauhinya.


”Ming'er! Apa yang kau lakukan pada cucuku?!” teriak seorang kakek tua yang langsung menendang pintu yang sedang tertutup dan memukul wajah He Nan Ming hingga membuatnya terhempas berkali-kali.


He Donyun tampak sangat marah ketika ia mendengar bahwa cucunya sedang sakit. Ia pun segera menghajar wajah He Nan Ming karena tidak bisa menjaganya dengan baik. Ia juga sempat menatap Xiao Lian Lei dengan marah. Namun, hal yang terjadi berikutnya benar-benar tidak bisa diduga olehnya.


”A-Lei! Maafkan putraku. Dia memang anak yang kurang ajar. Bahkan, dia tidak bisa menjaga putramu di saat kau tidak ada.” ucap He Donyun dengan sangat ramah sambil mengelus-elus punggung tangan Xiao Lian Lei. Hal yang dilakukannya ini, sangat berbeda dengan apa yang ia lakukan pada He Nan Ming, putranya sendiri.

__ADS_1


Xiao Lian Lei tampak canggung dan menjawab, ”Tidak masalah, Tuan He. Asalkan putraku baik-baik saja, aku merasa tidak keberatan.” ucapnya sambil tersenyum paksa melihat sikap aneh yang ditunjukkan He Donyun.


”Hah! Benar-benar tidak adil! Mengapa kau hanya bersikap lembut pada menantu mu saja?!” teriak He Nan Ming sambil menunjuk ke arah He Donyun.


Xiao Lian Lei hanya bisa tertawa kecil saat melihatnya sedangkan, He Donyun menatap He Nan Ming dengan sangat marah.


”Berani meneriaki Ayahmu sendiri?! Aku akan menghukum mu berlutut di aula leluhur!” teriak balik He Donyun yang membuat He Nan Ming terdiam seketika.


Chang Ye dan He Litao hanya diam sambil menatap mereka dengan heran. Kedua orang ini memang memiliki hubungan Ayah dan anak. Namun, mereka tidak pernah akrab satu sama lain dan selalu bertengkar seperti ini. Bahkan, saat Xiao Lian Lei melamar He Mu'an Qing di kediaman mereka, He Nan Ming tampak tidak setuju dan bertengkar dengan He Donyun selama berhari-hari hingga pada akhirnya, He Donyun memenangkan pertengkaran dan dengan berat hati, He Nan Ming menerima pernikahan mereka berdua.


”Ayah! Lihat! Tuan muda akan segera bangun!” seru Chang Ye saat ia melihat kelopak mata Xiao Qing Xuan sedikit bergerak.


Beberapa orang mendekat termasuk Xiao Lian Lei yang tampak mencemaskannya. Tak lama, ia pun membuka mata dan langsung menatap ke arah Xiao Lian Lei yang sedang berdiri di sebelahnya. Ia tampak bingung karena saat ini, semua orang sedang mendekatinya. Ia pun segera duduk kembali dan bertanya, ”Ada apa? Mengapa sikap kalian aneh sekali?”


Xiao Lian Lei langsung memegang tangan Xiao Qing Xuan dan berkata, ”Syukurlah Xuan'er baik-baik saja. Ayahmu sangat mencemaskan keadaanmu sekarang.” ucapnya dengan nada terburu-buru.


Xiao Lian Lei tampak terkejut setelah mendengar Xiao Qing Xuan yang berbicara seolah ia sudah melupakan semua hal yang sudah terjadi. ”Kakak ipar yang membawamu kemari saat kau dan Guru besar Chen dalam masalah.” jawabnya dengan singkat dan semakin membuat Xiao Qing Xuan bingung.


”Siapa yang Ayah sebut Guru besar Chen? Dia itu siapa? Apakah dia itu teman Ayah?” tanya Xiao Qing Xuan.


Xiao Lian Lei tampak terkejut setelah apa yang terjadi pada putranya. Xiao Qing Xuan berkata seolah ia telah melupakan Liu Zhang Chen yang telah menjadi Guru besarnya. Ia tampak bingung dan sulit untuk menjelaskan apa yang sudah terjadi selama ini.


”Xuan'er. Kau sungguh tidak mengenalnya?” tanya Xiao Lian Lei dengan pelan.


Xiao Qing Xuan menggelengkan kepala dan menjawab, ”Aku tidak tahu. Memangnya siapa orang itu? Dan mengapa Ayah mengatakan kalau aku pernah bersamanya?”


Tatapan Xiao Lian Lei semakin mencemaskannya. Ia tidak bisa menjelaskannya secara rinci karena saat itu ia tidak sedang bersamanya. Namun, saat ia akan menjelaskannya kembali, He Nan Ming menepuk pundaknya dan membuat dirinya langsung menoleh ke arah He Nan Ming di sebelahnya.


”Jangan paksa dia untuk mengingatnya. Kau hanya akan membuatnya sakit kepala.” ucap He Nan Ming yang berbisik pada Xiao Lian Lei.

__ADS_1


Xiao Qing Xuan tampak memandangi sekitar dan ia pun menyadari bahwa ada sesuatu yang kurang di sini. ”Ayah tidak membawa Kak Ruo kemari? Sudah lama aku tidak berbicara dengannya. Lagipula, dia tidak pernah berkunjung ke Mubei.”


Ketika Xiao Lian Lei ingin menjawabnya, He Nan Ming berkata lebih dulu, ”Kakak tiri mu masih berada di Huan Xu. Jika kau ingin bertemu dengannya, kau harus menyelesaikan pembelajaranmu di Sekte Puncak Donqiong.” He Nan Ming berkata seolah ia mencoba berdalih dari pembicaraan yang sebelumnya.


Xiao Qing Xuan tampak bingung dan menoleh ke arah Xiao Lian Lei sambil bertanya, ”Bukankah Ayah sudah mendaftarkan ku di Sekte Pedang Beracun? Mengapa aku malah di bawa kemari?”


Xiao Lian Lei mencoba untuk menjawab, ”Ayah sudah mendaftarkan mu di sana jadi, kau bisa kembali—


”Sekte itu sudah kacau. Kau tidak akan bisa mendaftar di sana.” celetuk He Nan Ming yang menghentikan ucapan Xiao Lian Lei.


Xiao Qing Xuan bertambah bingung dan bertanya, ”Bukankah Sekte Pedang Beracun adalah Sekte yang terkemuka? Mengapa bisa kacau seperti itu— akh!” Xiao Qing Xuan berhenti setelah ia merasa sakit kepala.


”Ming'er! Pergi kau dari cucuku!” teriak He Donyun yang langsung menendang He Nan Ming keluar dari kamar tersebut.


Setelah melihatnya, Xiao Lian Lei tampak khawatir. Ia pun mendekati Xiao Qing Xuan dan bertanya, ”Ada apa? Bagian mana yang sakit?”


Xiao Qing Xuan melepaskan tangannya saat ia merasa sakit kepala ini semakin menghilang. Ia pun segera menatap ke arah Xiao Lian Lei dan menjawab, ”Aku sudah baik-baik saja. Entah kenapa, aku merasa ada sesuatu yang kosong dalam pikiranku.”


”Kau mungkin sangat lelah. Beristirahatlah sejenak.” ucap He Litao setelah ia melihat Chang Ye memohon untuk mengatakan sesuatu pada Xiao Qing Xuan.


”Ya. Tuan muda! Sebaiknya kau beristirahat dan besok kau akan pulih dengan cepat.” ucap Chang Ye dengan bersemangat setelah Ayahnya mengatakan sesuatu untuk Xiao Qing Xuan.


”Itu benar. Kau harus beristirahat. Kami akan pergi setelah ini.” ucap He Donyun sambil mengambilkan selimut untuknya.


Tidak lama setelah mereka semua pergi dan membiarkannya beristirahat di sana, Xiao Qing Xuan tampak tidak bisa tidur dan memandangi langit yang tampak gelap dan terlihat dari balik jendelanya yang terbuka. Ia duduk sambil memandangi giok Fenghuang yang masih berada di tangannya. Ia tampak bingung karena ia sama sekali tidak tahu siapa yang pernah memberikan giok ini padanya.


”Kenapa aku memiliki benda ini? Rasanya tidak mungkin Ayah atau paman yang memberikannya padaku. Mereka itu terlalu pelit untuk memberikan benda mahal seperti ini. Tapi, kenapa rasanya sangat familiar? Rasanya seperti ada kursi kosong. Lalu, siapa yang Ayah sebut Guru besar Chen itu? Haah,... Semakin dipikirkan semakin membuat kepalaku sakit. Sebaiknya simpan saja sampai ada seseorang yang mencurinya.” batin Xiao Qing Xuan sambil menyimpan giok Fenghuang ke dalam laci mejanya.


”Aku tidak ingin pergi kemana-mana. Mulai besok, aku akan belajar di sini saja.”

__ADS_1


__ADS_2