
Sebilah pedang penghancur yang terbuat dari hawa kebencian, menebas beberapa potong kayu sehingga menciptakan sebuah angin spiritual yang penuh tekanan. Desa Qun saat ini telah menjadi sebuah arena pertarungan bagi jiwa yang sudah mati.
Pertarungan itu berlangsung dengan gerakan yang sangat cepat sehingga tidak ada seorangpun yang bisa melihat gerakan yang mereka lakukan. Dua bayangan putih itu menyerang satu-satunya bayangan hitam saat mereka berada di atas langit.
Di saat itulah, Liu Zhang Chen mencoba untuk bangkit kembali di tengah-tengah kabut yang beracun. Ia berpegangan pada sebuah dinding kayu dan memperhatikan pertarungan antara Luo Xuan Ying dengan Rong Yan dan Rong Wei yang telah dibangkitkan kembali.
”Mereka berdua telah berubah menjadi arwah tidak suci. Seseorang harus memenangkan jiwa mereka berdua.” gumam Liu Zhang Chen sambil mengangkat pedangnya kembali.
Namun, saat ia mencoba untuk bergerak secara perlahan. Langkah pertamanya di sambut oleh kedatangan tangan-tangan manusia yang muncul dari dalam tanah sehingga langkahnya pun terhenti di tempat itu juga. Tangan-tangan itu menyentuh kakinya dan terus memanjat pakaiannya. Ia tidak punya pilihan lain untuk diam dan terus memperhatikan tangan-tangan manusia yang bermunculan dari dalam tanah.
Lalu, tidak lama setelahnya. Sebuah mantra dilemparkan ke arah tangan-tangan tersebut hingga membuat mereka kembali ke dalam tanah dan menghilang dari pandangan Liu Zhang Chen.
Terkejut dengan datangnya bantuan tersebut, ia pun segera melihat ke belakang dan pandangannya langsung tertuju pada dua orang yang saat ini sedang berlari menghampirinya dan salah satu dari keduanya, adalah seseorang yang telah melemparkan sebuah mantra pengusir.
”Guru besar Chen. Kau baik-baik saja?” tanya Xiao Qing Xuan setelah dirinya datang lebih cepat bersama dengan Chang Ye yang mulai merasakan adanya hal buruk yang akan terjadi.
Liu Zhang Chen tampak terkejut setelah ia melihat kedatangan Xiao Qing Xuan dan Chang Ye yang masih belum dikenal olehnya. Lalu setelahnya, Chang Ye mengeluarkan sebuah pil kecil yang berwarna hitam dari balik pakaiannya dan kemudian pil itu diberikan pada Liu Zhang Chen yang telah menghirup racun kabut mayat.
”Tuan besar, kau telah menghirup kabut mayat sangat banyak. Tuan besar harus menelan pil ini.” ucap Chang Ye sambil memberikan pil tersebut pada Liu Zhang Chen.
Saat Chang Ye memberikan pil miliknya pada Liu Zhang Chen, Xiao Qing Xuan terpaku pada pemandangan sebuah pertarungan yang terjadi di udara. Pertarungan itu hanya memunculkan bayangan putih dan hitam. Tidak ada satupun gerakan yang mampu terlihat oleh mata manusia akan tetapi, suara pedang seolah-olah terdengar dari segala arah.
”Dua arwah tidak suci, Rong Yan dan Rong Wei. Bagaimana cara menenangkan mereka berdua?” batin Xiao Qing Xuan yang memperhatikan.
__ADS_1
”Tuan besar!” teriak Chang Ye setelah sesuatu hal buruk telah terjadi pada Liu Zhang Chen saat dirinya sedang memberikan pil tersebut padanya.
”Ada apa dengan Guru besar Chen? Kenapa kondisinya semakin memburuk?” tanya Xiao Qing Xuan setelah ia terduduk kembali di hadapan Liu Zhang Chen yang sedang bersandar pada dinding rumah kayu di belakangnya.
Keringatnya mengucur deras dari atas kepalanya dan wajahnya terlihat sangat pucat. Xiao Qing Xuan tidak pernah tahu kalau di dalam tubuh Liu Zhang Chen saat ini menyimpan sebuah racun ular ikan karena ia selalu memakai pakaian tertutup. Dan hanya untuk memastikannya saja, Xiao Qing Xuan membuka satu persatu kancing pakaian Liu Zhang Chen. Setelah ia membukanya sedikit, ekspresinya pun berubah menjadi terkejut setelah melihat noda hitam yang telah menjalar ke seluruh tubuh bahkan nyaris menyentuh lehernya.
”Ini adalah racun ular ikan! Dia pasti mendapatkannya saat mencoba untuk mengeluarkanku dari dalam mulut ular ikan.” batin Xiao Qing Xuan setelah ia memperhatikannya.
”Tuan muda. Aku tidak memiliki obat khusus untuk menyembuhkan racun ular. Mungkin kristal hewan sihir yang tuan muda dapatkan bisa menetralisir racunnya.” ucap Chang Ye setelah ia meraba denyut nadi Liu Zhang Chen yang berdenyut sangat cepat dan tidak beraturan.
Xiao Qing Xuan mengambil kristal tersebut dari balik pakaiannya. ”Bagaimana aku bisa memberikannya?” tanya Xiao Qing Xuan setelah ia menunjukkan kristal tersebut.
Chang Ye mengeluarkan sebuah gelas bambu berisikan air dari dalam telapak tangannya. ”... Hancurkan kristal itu dan campurkan dengan air ini.” ucapnya sambil memberikan gelas tersebut pada Xiao Qing Xuan.
Setelahnya, Xiao Qing Xuan mencoba memasukkan air tersebut ke dalam mulut Liu Zhang Chen akan tetapi, setelah air tersebut masuk ke dalam tenggorokannya, Liu Zhang Chen tiba-tiba saja terbatuk dan air yang diminum olehnya keluar kembali.
”Haah,... Percuma saja. Dia tidak bisa menelannya sendiri. Sebaiknya tunggu sampai dia sadar kembali. Tapi, itu sama saja dengan menunggu racunnya menyebar ke seluruh tubuhnya.” ucap Xiao Qing Xuan setelah ia melepaskan gelasnya dari bibir Liu Zhang Chen.
Chang Ye berpikir sebelum menjawab, ”... Ibuku adalah seorang tabib. Dia pernah menemukan seseorang yang sulit menelan apapun seperti tuan besar ini.”
”Lalu, apa yang dilakukannya?”
”Dia melakukannya dari mulut ke mulut.”
__ADS_1
”.......”
Sementara ini, pada arena pertarungan langit. Luo Xuan Ying dengan pedang kebenciannya sedang bertarung dengan kedua arwah tidak suci yang tidak terima dengan kematiannya. Hanya jika yang membunuh keduanya telah mati, mereka pasti akan tenang dan masalah di desa Qun akan selesai dengan cepat. Namun, mereka masih tidak bisa menemukan keberadaan anak perempuan penyebar wabah mematikan.
”Kenapa kalian harus sampai seperti ini hanya karena anak perempuan itu?!” tanya Luo Xuan Ying setelah beberapa saat ia melakukan pertarungan dengan Rong Yan dan Rong Wei.
Rong Yan yang berdiri di hadapannya tersenyum seringai dan berkata, ”... Kau sama seperti kami. Kau bahkan tidak tahu siapa yang telah membunuhmu dan siapa yang telah mengambil pedangmu. Kau adalah arwah yang tidak suci. Mengapa kau masih mempertahankan sifat aslimu?”
Luo Xuan Ying terdiam dan menatap keduanya dengan serius. Rong Wei tampaknya tidak berekspresi dan tidak berpendapat karena mulutnya ditutup sehelai kain putih. Namun, dari lirikkan matanya, ia tampak sedang memperhatikan Luo Xuan Ying.
”Ya. Penilaianmu cukup benar. Aku memang menahannya selama ini. Tapi, yang kau katakan itu adalah arwah yang tidak terpelihara dan dilepas liarkan begitu saja. Aku terbunuh di lembah pemakaman hantu dan kalian berdua terbunuh karena ulah sendiri. Seseorang yang tidak menghargai nyawanya, akan terpenjara di alam fana dan jiwanya tidak akan pernah tenang. Aku sudah mati cukup lama dan kalian pikir, aku tidak tahu bagaimana kalian bisa berakhir seperti ini?” ucap Luo Xuan Ying saat menatap keduanya dengan dingin.
Mereka hanya terdiam dan menunggu Luo Xuan Ying untuk melanjutkan. ”... Rong Yan, kaulah yang telah membunuh adikmu sendiri, Rong Wei. Karena kebutaan mu, kau tidak bisa melacak apakah yang ada di depanmu itu adalah ancaman atau bukan. Kau mengira Rong Wei adalah anak perempuan itu dan membunuhnya. Lalu, setelah kau tahu bahwa yang kau bunuh itu bukanlah ancaman melainkan dia adalah Rong Wei yang bisu, kau merasa bersalah dan akhirnya melakukan bunuh diri. Sebuah kisah yang memalukan akan tetapi, penduduk desa mengubah seluruh ceritanya seolah-olah kalian adalah pahlawannya. Kalian pikir, bagaimana ekspresi mereka setelah tahu bahwa Rong Yan dan Rong Wei yang asli tidak seperti di kisahnya?”
Rong Yan tampak kesal dengan semua cerita tersebut. Ia Menghunuskan pedangnya ke arah Luo Xuan Ying dan berkata, ”... Saat penyerangan terjadi, kau tidak ada di sana saat itu. Bagaimana kami bisa percaya kalau kau ada di sana?!”
Luo Xuan Ying sedikit tertawa dan ia pun menjawab dengan dingin, ”Sudah kubilang, aku ini sudah mati lebih lama dari kalian. Saat itu, apakah kalian pikir kalian bisa melihat arwah tanpa tubuh sepertiku?”
Tidak lama setelahnya, Rong Yan yang merasa jengkel dengan semua ucapan Luo Xuan Ying, langsung bergerak cepat ke arahnya dengan sebilah pedang yang telah menghitam. Lalu, saat ia melakukannya. Tiba-tiba saja setitik cahaya muncul di hadapannya dan ia pun langsung melihat ke arah Rong Wei yang tampaknya akan menghilang.
Jiwa Rong Wei yang akhirnya tenang, dengan perlahan menghilang dan berubah menjadi titik-titik cahaya yang berterbangan ke langit.
”Jiwanya telah suci dengan sendirinya?!”
__ADS_1