BERBAGI RANJANG DENGAN ADIKKU

BERBAGI RANJANG DENGAN ADIKKU
Bab. 101.KESAL


__ADS_3

Eva yang merasa senang terus bermonolog sendiri sambil menyunginkan sebuah senyuman hatinya begitu bahagia dan senang karena hari ini sikap Rendra begitu berbeda dari hari-hari sebelumnya Yang mana hari ini Rendra begitu sangat perhatian kepadanya.


sementara Rendra yang minta izin keluar untuk melanjutkan kerja di ruangannya diam-diam membawa alat tes kehamilan yang digunakan Eva untuk memberikan bukti kepadanya.


Dengan sangat tergesa-gesa dan terburu-buru bahkan dengan langkah yang sangat cepat Rendra memasuki ruang kerjanya, akan tetapi belum sampai di depan pintu kamar ruang kerja Rendra bertemu dengan Robi yang ternyata belum tidur.


"Ren, kamu kenapa masuk ke ruang kerja? "


Rendra hanya menoleh sekilas ke arah Robi kemudian tanpa bicara apapun Rendra segera masuk dan menutup pintu ruang kerja yang ada di dalam rumah itu.


Robi mengeryitkan dahinya ketika melihat sikap Rendra yang begitu dingin seolah-olah sedang menahan marah di dalam dirinya.


"Ada Apalagi itu Pak Dokter kenapa aneh begitu, " lirih Robi yang mana kedua bola matanya mengikuti Rendra yang masuk ke dalam kamar kerjanya kemudian menutup pintu tanpa bicara apapun.


di dalam kamar Rendra yang sedari awal menahan amarah dan luapan emosinya segera melampiaskan kemarahannya di dalam kamar di mana ruang kerja Rendra kedap dengan suara sehingga kegaduhan yang Rendra lakukan di dalam kamar itu tidak terdengar dari luar.


Rendra membanting semua yang ada di tempat itu bahkan karena geram dan kesal yang amat sangat membuat Rendra meninjukkan tangannya yang sudah mengepal ke dinding hingga tangan itu mengeluarkan darah, suatu kebiasaan yang seringkali Rendra lakukan ketika Rendra sedang marah.


"Sial, kurang ajar sekali dia berani-beraninya menipuku dan berbohong di belakangku Aku benar-benar tidak percaya dan tidak menyangka semua ini, Aku begitu mempercayai dirinya, Aku begitu bodoh menganggap bahwa dia benar-benar hamil bahkan aku selalu menuruti keinginannya untuk bisa tidur bersamanya karena permintaan dari janin yang ada di perutnya, tapi ternyata semua itu adalah Bohong, semua itu hanya akal-akalan dia agar dia bisa memisahkan Aku dengan Nesa, Licik sekali kau Eva, ingat Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja, akan Aku buat perhitungan dan akan Aku buat lebih menderita lagi daripada ini. "


Rendra menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan perlahan dengan wajah kesal Rendra mendudukkan bokongnya di atas kursi kedua bola matanya menatap tajam pada benda yang ada di tangannya alat tes kehamilan yang diberikan Eva sebagai bukti jika dia benar-benar hamil.

__ADS_1


"Dari mana Eva mendapatkan benda ini apakah dia keluar rumah dan meminta sama orang dan orang itu memberikan benda ini padanya itu tidak mungkin, Eva jarang keluar rumah dan jika Eva tidak keluar rumah itu artinya pemilik dari alat tes kehamilan adalah penghuni Rumah ini, dan di rumah ini yang ada hanya Eva, Nesa dan Mbok Yem. mana mungkin Mbok Yem hamil itu artinya alat tes kehamilan ini milik Nesa tapi bagaimana alat tes kehamilan milik Nesa berada di tangan Eva Apakah Nesa dan Eva bekerja sama untuk membohongiku mana mungkin itu terjadi Apakah mungkin Eva mencuri milik Nesa, ini sangat membingungkan dan Aku akan mencari Siapa pemilik alat tes kehamilan ini. " Gumam Rendra dalam hati.


Rendra yang lelah akhirnya memilih tidur di ruang kerjanya yang mana di tempat kerjanya juga memiliki satu Ranjang Meskipun tidak berukuran besar hal itu sengaja Rendra buat untuk beristirahat kala dia sedang mengerjakan tugas lembur kemudian kelelahan dan terkadang di situlah Vanessa menemani dirinya yang sedang sibuk bekerja.


Malam semakin larut udara dingin mulai menusuk tulang sumsum dan dedaunan melambai-lambai karena tertiup angin serta kicauan burung malam serta bunyi jangkrik yang bersahut-sahutan serta langit hitam berkelap-kelip dengan bertaburan jutaan bintang di atasnya kini mulai merangkak semakin Naik kemudian berganti menggeser malam menjadi pagi dengan munculnya suara kokok ayam yang menandakan hari sudah mulai pagi di mana sinar mentari mulai muncul dari ufuk Timur.


Robi yang sudah bangun dari pagi menunggu kehadiran Rendra di ruang makan di mana Mbok Yem sudah mempersiapkan makan pagi.


" Mbok kenapa Rendra belum bangun juga tolong Mbok Yem, pergi ke kamar kerjanya dan tanya Aku sudah sangat lapar kalau harus menunggunya. "


" Baik Den, tunggu sebentar Mbok akan Panggil kan dan Rendra, "


roti yang melihat kedatangan Eva mengerikan dahinya kemudian menyunggingkan sebuah senyuman yang mana menurut Eva itu adalah suatu senyuman yang sangat menjengkelkan dirinya.


"Apa Ada yang lucu kenapa kamu senyum senyum begitu, " sinis Eva pada Robi.


" tentu saja ada yang lucu Kamu pikir Aku tersenyum tidak ada sesuatu yang lucu kamu itu sangat lucu, kamu pikir semua bisa kamu bohongi, tidal bisa Nona, kamu salah bahkan Aku ingatkan Panama, jangan bermain Api akhiri sebelum semua meledak Dan pastinnya kamu yang akan terbakar, "


"Ciih, Aku tidak mengerti maksdmu bagiku kamu hanya seorang laki laki yang punya penyakit iri dengki dimana kamu tidak bisa melihat orang lain bagagia, kamu ingin membuat hubungan keluargaku hancur kan, kamu menghasut Dan mengonpori Mas Rendra untuk meninggalkanku tapi sayangnya kamu gagal karena Mas Rendra tidak mau mendengarkanmu. "sungut Eva dengan wajah kesal Dan geram.


Robi semakin tertawa lebar mendengar perkataan dari Eva yang mana Robi menganggap Eva hanyalah seorang gadis yang bodoh di mana dia tidak mengetahui dan memahami jika dirinya kini sedang dalam masalah besar yang kapan saja masalah itu bisa meledak Dan membakarnya.

__ADS_1


"Hahaha, kamu itu aneh Dan lucu tapi susahlah, lupakan saja semua dan Kita lihat nanti apa yang akan terjadi pada kehidupan keluargamu. "


"Aku akan buktikan Aku dengan mas Rendra hubunganku baik-baik saja dan kamu tidak Alan bisa menghancurkan kami, "


"Ada apa ini? "


Rendra yang baru saja masuk ke dalam ruang makan sedikit terkejut mendengar perkataan dari Eva yang mana sedang bersih tegang dengan Robi.


mendengar suara Rendra keduanya terdiam tidak ada satupun diantara mereka yang mengucapkan suara,


karena tiba-tiba suara Hening dan keduanya diam akhirnya Rendra yang untuk segera meminta Mbok Yem untuk menyiapkan sarapan pagi.


Dengan cepat Mbok Yem segera melakukan tugasnya menyiapkan makanan, Hening itu yang terjadi di meja makan Di mana keduanya kini tidak ada yang bersuara Rendra yang tidak memiliki selera makan segera mengakhiri acara makan pagi Kemudian dengan cepat bangkit dari tempat duduknya.


" Aku pergi dulu Va, ada urusan yang harus Aku kerjakan," ucap Rendra pada Eva yang kala itu membuat Eva sedikit terkejut karena dengan tiba-tiba Rendra minta izin pergi sepagi ini.


" Tapi ini masih pagi Mas, "Seru Eva mau ingin menghalangi kepergian.


" tidak masalah lebih cepat lebih baik, " Rendra yang kemudian langsung meninggalkan ruang makan dan berjalan menuju ke pintu setelah mengambil tasnya.


Eva mencebik kesal melihat tingkah dari Rendra yang egois.Sementara Robi tidak mampu menahan ketawanya yang mana Langsung membuat Eva mendelik ke arahnya.

__ADS_1


__ADS_2