
Vanesa menerima benda pipih yang diulurkan oleh Bara kepadanya, dengan sedikit ragu-ragu dan dengan tangan bergetar Vanesa menerima akan tetapi pandangan matanya menatap tajam pada Bara yang kala itu memilih untuk membuang muka tidak menatapnya pandangan Bara datar lurus kedepan tanpa mau melihat ke arah Vanesa yang seolah olah masih meminta penjelasan darinya.
" kenapa masih diam saja cepat buka dan lihat,"ucap Bara dengan nada yang sinis tanpa menatap wanita yang ada didepan nya, membuat Vanesa merasa kesal akan tetapi mau tidak mau Vanesa membuka nya.
Dua detik hingga lima menit Vanesa mengamati video dan beberapa foto yang ada di layar pipih milik Bara bagaikan petir yang menyambar di siang hari bagaikan hujan yang turun dengan sangat deras, kerongkongan Vanesa terasa tercekat kemudian bibinya menyunggingkan sebuah senyuman.
Vanesa berjalan mendekati Bara, melihat Vanesa berjalan mendekati dirinya sambil menyunggingkan sebuah senyuman membuat Bara merasa Heran dan tidak mengerti.
"Mengapa Vanesa justru tersenyum, apakah Aku salah memberikan Vidio dan foto perselingkuhan Suami brengsek nya. " gumam Bara dalam hati yang mana kini hatinya ikut merasa bingung.
"Apa kamu mau mempermainkan perasaan ku, jangan kamu pikir Aku akan percaya begitu saja padamu dengan memberikan Video dan foto murahan ini padaku, Aku tau kamu tidak menyukai Suamiku untuk itu kamu memberikan Video murahan ini padaku agar Aku bisa percaya padamu, tapi tidak. Aku tidak akan percaya pada orang seperti mu jadi percuma saja kamu memberikan Video ini padaku," Ketus Vanesa dingin.
"Nesa..!buka mata hatimu kenapa kamu masih membela orang yang sudah jelas jelas menghianatimu, dia lebih memilih gadis murahan itu untuk menjadi selingkuhan nya, bahkan gadis itu sendiri yang bilang padaku jika Rendra itu Suaminya, gadis itu pelakor didalam Rumah tangga mu dan mungkin juga dia seorang pelaaacuur, "teriak Bara kesal karena Vanesa tidak mempercayai apa yang dia katakan.
"Plaaak...! " Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Bara saking kerasnya membuat Wajah Bara ikut tergerak akibat tamparan itu.
"Apa kamu bilang dia gadis pelaaacuur, coba ulangi jika kau berani, " geram Vanesa tak kalah kerasnya.
"Iya, dia Gadis Pelaaacuuurr...!
" plaaak...!
"Plaaak...!
" Plaaak..!
"Besar..!"cukup, kenapa kau justru menamparku, bukankah seharusnya kamu bersyukur dan berterima kasih padaku karena Aku sudah menunjukkan kebusuukan dari suami tersayangmu itu, "seru Bara yang kini tersulut emosi.
Vanesa yang wajahnya juga merah padam akibat tersulut emosi mendekati Bara dan mencengkram erah Krah bajunya.
" Asal kamu tau Bara, gadis yang kamu hina dan kamu tuduh dengan sebegitu rendah dia adalah Adikku, apa kau dengar Dia itu Adikku, " geram Vanesa dengan suara berteriak seraya melepaskan cengkraman nya, Vanesa mundur dengan mata berkaca-kaca." Aku tidak menyangka kau tega menilai buruk Adikku, Aku benci kamu, Aku benci kamu Bara dan mulai hari ini jangan pernah lagi kamu temui Aku, Aku benci kamuuu....! " teriak Vanesa seraya berlari keluar ruangan.
Bara yang mendengar perkataan dari Vanesa diam tertegun bibirnya bergetar tubuh nya terhuyung ke belakang.
"A-apa, gadis itu Adiknya dan apa Vanesa bilang dia tidak mau lagi bertemu dengan ku, tidak. Aku tidak mau ini terjadi, Nesa... tunggu! teriak Bara yang kini mulai ikut berlari keluar dari ruangannya mengejar langkah kaki Vanesa.
beberapa karyawan yang melihat Vanesa berlari kemudian di belakangnya disusul Bara yang ikut berlari mengejar membuat para pegawai dan para staf yang ada di tempat itu menjadi bertanya-tanya bahkan di antara mereka mulai bergosip.
Sementara Vanesa tidak menghiraukan teriakan Bara bahkan semakin cepat kakinya berlari hingga sampai di luar gedung dan berdiri di pinggir jalan.
"Nesa tunggu..!
Vanesa yang berdiri di pinggir jalan segera menghentikan satu mobil taksi yang kala itu melintas di depan nya dan ketika Vanesa hendak masuk Bara yang berlari dengan cukup kencang telah berhasil dengan cepat mengenggam tangan Vanesa yang kala itu hendak masuk ke dalam mobil taksi.
"Tunggu Nes..!
" Lepas dan jangan sentuh Aku! " teriak Vanesa sambil mengibaskan tangannya, membuat Bara tertegun hatinya serasa sesak melihat sikap dingin dari orang yang dia cintai dalam diam.
"Nesa, A-aku mau..
__ADS_1
" Braak..!pintu mobil taksi segera Vanesa tutup sebelum Bara sempat bicara.
"Jalan Pak,"
"Baik, Non, "
Dengan cepat taksi mulai berjalan, Bara yang kala itu masih berusaha mengejar hanya bisa mendegus kesal hingga kakinya menendang satu Botol yang ada di depannya.
Lain halnya dengan Vanesa yang berada di dalam mobil hatinya yang sedih dan kecewa karena sahabat nya mengatakan hal buruk tentang sangat adik membuat Vanesa meneteskan airmata.
"Aku tidak menyangka kamu begitu tega menilai buruk Adikku, apa yang kamu bilang tadi, Mas Rendra berselingkuh dengan Adikku, ini benar-benar fitnah mana mungkin Mas Rendra akan berbuat serendah itu, telebih Mas Rendra itu kan tau jika Eva adalah adikku, Bara benar-benar keterlaluan dan brengsek Aku benci dia dan Aku tidak mau lagi bertemu dengan nya tega sekali dia merendahkan Adikku, " Sungut Vanesa kesal sambil menghapus butiran-butiran bening Air matanya.
Di tempat yang berbeda Rendra yang sedang menunggu Vanesa duduk dengan gelisah di sebuah Restoran terkenal yang ada di kota itu, berkali-kali Rendra memencet satu nomor yang seperti nya tidak ada jawaban.
"Kenapa ponsel hpnya Vsnesa tidak aktif, ada apa ini apakah dia sengaja mematikan telpon agar Aku tidak bisa menelpon nya atau jangan-jangan batrenya lowbet, tidak mungkin batre habis mungkin yang benar Vanesa sengaja mematikan telpon dariku, tapi kenapa dimatikan apakah Vanesa tau perselingkuhan ku, tidak itu tidak mungkin, Vanesa tidak akan tau, Aku sudah sangat berhati-hati dan seperti nya aman-aman saja tapi kenapa ponsel hpnya dimatikan. "
"Araa aaagh, " Rendra mengacak kasar Rambutnya hati dan pikiran nya begitu kalut dan bingung terlebih waktu sudah menunjukkan hampir pukul dua siang akan tetapi Vanesa yang ditunggu kedatangannya tidak bisa dihubungi dan tak kunjung datang.
Di kala Rendra begitu kalut dan binggung berbeda dengan Eva yang tersenyum bahagia setelah turun dari mobil taksi yang ditumpangi nya.
"Ternyata Google Map itu bener-bener hebat dia bisa melacak dengan sempurna keberadaan orang, dan Nah itu dia Mas Rendra, ini geogel map bisa dipercaya, pasti Mas Rendra akan senang dengan kejutan kedatanganku dan ini suprise untuk nya. " lirih Eva dengan hati senang.
"Selamat siang Mas. "sapa Eva dengan wajah ceria.
Rendra kala itu yang sibuk mengutak-atik ponsel hpnya mencoba dan mencoba menghubungi Vanesa sedikit terkejut terlebih dengan suara yang sudah sangat sering didengar telinganya.
Dengan cepat Rendra mendongak dan benar saja Eva sudah berdiri sambil tersenyum di depan nya.
"Emang Mbak Nesa mau kesini apa, Aku itu bisa sampai disini karena bantuan dari geogel Map, dan ternyata Geogel Map itu keren Mas, Aku bisa langsung mengetahui keberadaan mu, Mas Aku sudah lapar Aku pesan makan dulu ya, "ucap Eva meminta izin pada Rendra yang mana membuat Rendra tidak bisa berbuat apa-apa selain mengangguk.
Setelah mendapatkan izin dengan cepat Eva melambaikan tangan meminta pada pelayan restoran untuk datang sementara Rendra dibuat semakin resah dan bingung hatinya betul-betul tidak tenang, ada rasa was-was dan khawatir seandainya Vanesa tiba-tiba datang akan tetapi Rendra menyakinkan hatinya jika Vanesa tidak akan datang dan ternyata benar setelah lima belas menit berlalu Vanesa tak kunjung datang akhirnya Rendra bernafas lega.
"Mas coba ini enak sekali, " seru Eva menyuapkan makanan pada Rendra yang mau tidak mau Rendra Terima.
"Mas Aku mau itu kepiting pedasnya pasti enak, "
"Jangan, kamu kan lagi hamil, tidak baik untuk janin kamu,"
"sedikit saja Mas, " rengek Eva manja.
"Tunggu..! "Dengan cepat Rendra menyiram kepiting yang penuh dengan cabe dengan segelas air mineral.
" Lho Mas, kok di siram Air kan jadinya ngak enak itu, kan pedesnya jadi hilang. "
"Sudah diam dan makan jangan membantah kamu kan lagi hamil jadi harus bisa menjaga kesehatan tidak boleh makan yang pedas pedas. "
Dengan perasaan kesal akhirnya Eva menerima?
Disisi lain mobil taksi yang dii tumpangi Vanesa sudah berhenti di tempat yang di tujuh setelah memberikan uang pada bapak supir taksi Vanesa segera pergi masuk ke dalam Restoran.
__ADS_1
langkah kakinya yang memasukki Restoran terhenti seketika ketika melihat apa yang terpampang didepan matanya.
"Mas Rendra, Eva mereka juga disini, katanya hanya ingin mengajakku makan tapi mengapa Eva juga ada, " gumam Vanesa bingung dalam hati.
Mata tajam Eva tanpa sengaja melihat kehadiran kakaknya segera berseru,
"Mbak Nesa sini, " teriak Eva yang mana langsung membuat Rendra menoleh, jantung nya serasa berhenti berdetak gugup dan gelisah karena ternyata Vanesa datang disaat Eva juga berasal di samping nya.
"Vanesa, mampus gue, gimana ini, dasar Eva brengsek dia justru memanggil, laku apa yang harus aku lakukan? " keluh Rendra bingung.
Vanesa segera berjalan mendekati tempat mereka makan.
"Jadi ini Mas mau ajak kita makan bertiga, "
Eva yang cedas langsung memberi kan jawaban, sebelum Rendra menjawab.
"Iya, duduklah Mbak kau mau pesan makan apa?"
"Aku, _
Vanesa menatap kearah suaminya yang terlihat sangat gugup dan blingsatan terlebih tatapan Vanesa mengarah pada tangan Rendra yang tanpa sengaja memegang kepiting yang sudah disiram dengan Air dan sedang di ulurkan kepada Eva.
" Kepiting nya dicuci Air itu kenapa, Mas dan kenapa seperti di ulurkan ke Eva apa Mas Rendra mau kasih kan Eva. "
"Oh, ini bukan ini, untuk, _
" Iya mbak itu buat Aku kan kepiting nya pedas dan Aku tidak bisa makan pedas karena, _
'Sudah Va, jangan bicara saja kakakmu juga lapar cepat sana panggilkan pelayan agar kakakmu cepat makan. " sahut Rendra takut Eva keceplosan bilang kalau sedang hamil.
Eva yang mengerti hanya mengangguk, kemudian bangkit hendak memanggil pelayan restoran akan tetapi Vanesa mencegahnya.
"Tidak usah kalian lanjutkan saja makannya Aku pergi dulu, Aku tadi sudah makan kok, " ucap Vanesa seraya pergi dari Restoran dimana Rendra dan Eva berada.
"Tunggu Nes, kamu bohong kamu belum makan kan? tanya Rendra ingin tau ketika Vanesa melangkah pergi Rendra mengejarnya.
"Seingatku Mas Rendra bilang kita makan berdua lalu kenapa ada Eva, sudahlah Mas Makan saja lagipula Eva kan tidak suka pedas kenapa tidak memesan kepiting sendiri yang tidak banyak cabe kenapa minta sama Mas dan Mad Rendra sangat baik sabar dan telaten mencuci ini kepiting yang pedes dengan Air mineral agar pedasnya hilang seperti nya Mas Rendra dan Eva sangat dekat ya? "
"Nesa itu Aku cuma sekedar, _
" Sudahlah Mas lanjutkan makannya Aku juga lagi pusing malas untuk mendengarkan penjelasan Mas Rendra Aku pulang dulu, " ucap Vanesa yang kemudian kembali menghentikan taksi dan langsung masuk kemudian pergi meninggalkan tempat itu,
"Sial semua gara-gara Eva bikin kacau saja, seperti nya Vanesa curiga, dia terlihat marah, jangan sampai ini terjadi lebih baik Aku kejar dia daripada Nanti Vanesa mulai berpikir yang tidak tidak,
Rendra kembali ke dalam Restoran dan menaruh beberapa lembar uang kertas merah kemudian melangkah pergi.
"Mas mau kemana? seru Eva yang bingung tiba-tiba Rendra melangkah pergi.
" Aku mau kejar Vanesa Aku khawatir dia curiga kanu makan sendiri ingat jangan makan yang pedas jaga dirimu baik-baik. "
__ADS_1
"Tapi Mas tunggu...! "
Rendra tidak memperdulikan seruan Eva dia terus melajukan mobilnya mengejar kepergian Vanesa.