BERBAGI RANJANG DENGAN ADIKKU

BERBAGI RANJANG DENGAN ADIKKU
Bab.67.MENANGIS


__ADS_3

EVa yang marah dan emosi karena mengetahui jika Rendra pergi bersama dengan kakaknya Vanesa dan yang lebih menyakitkan lagi ketika Eva mengetahui jika telepon Rendra sengaja dimatikan agar dia tidak bisa menghubungi dan mengaggu dirinya, membuat Eva semakin geram.


Dengan langkah cepat Eva segera keluar dari gedung rumah sakit kemudian dengan menggunakan taksi online Eva pergi meninggalkan rumah sakit.


"Mau pergi ke mana Non," tanya sang supir taksi pada Eva.


"Sebentar Pak saya telepon dulu jalan saja pelan-pelan ucap Eva merintah kepada bapak sopir taksi.


Eva mulai menghubungi nomor telepon kakaknya karena Eva tahu kakaknya tidak akan mungkin menolak panggilan darinya.


Di sisi lain Rendra yang membiarkan Vanesa tidur dalam bahunya mulai menggeliat dan membuka kedua bola matanya, menyadari dirinya baru saja tertidur dalam dekapan dan bahu Suaminya Vanesa segera beringsut minggir.


"Maaf Mas Aku ketiduran,"


Rendra mengulum senyum sambil mengagguk.


"Tidak apa-apa,"


"Aku tidur nya lama ya, kenapa tidak Mas bangunkan, kan Mas Rendra bilang sangat lapar."


Lagi-lagi Rendra tersenyum.


"Selagi kamu berada di dekatku rasa laparku bisa hilang Nes,"


"Haiss, sejak kapan Mas Rendra jadi cowok yang suka ngegombal." lirih Vanesa dalam hati yang mana Vanesa memilih tersenyum dengan gombalan sang Suami yang makin hari makin terasa Aneh.


"Apakah kita akan makan di Restoran itu?"


Rendra mengangguk sambil menggandeng tangan sang istri, sebenarya Vanesa merasa risih dan tidak suka berjalan dengan tangan digandeng suami akan tetapi. Vanesa mencoba diam dan tidak menolak karena di tempat umum seperti ini jika menolak akan menjadi pusat perhatian orang.


"Kita duduk disini saja kelihatan nya disini tempatnya lebih Romantis, kamu mau makan apa Nes,"


"Kan Aku sudah bilang kenyang jadi tidak perlu memesankan makanan untuk ku karena Aku tidak lapar."


"Tidak masalah sedikit saja, biar bisa menemani Aku,"


"Terserah Mas Rendra sajalah,"


"Baiklah Tunggu sebentar ya," Rendra segera melambaikan tangan dan seorang pelayan Restoran datang menghampiri, Rendra memesan beberapa makanan siput kesuksesan nya.


Ketika Rendra lagi asyik menikmati hidangan makanan yang disajikan oleh pelayan restoran dan Vanesa lagi sibuk mengaduk-aduk minumannya tiba-tiba ponsel hp Vanesa berbunyi, dengan cepat Vanesa langsung merogoh tas dan mengeluarkan ponsel hpnya untuk bisa menerima panggilan telepon.


Sementara Rendra menatapnya dengan tatapan penuh curiga dan was-was Rendra khawatir jika yang menelpon Vanesa adalah Eva sementara hp-nya sengaja dia matikan agar Eva tidak mengganggu dirinya dan Vanesa, karena perasaan takut dan khawatir jika Apa yang dipikirkan itu benar dengan cepat Rendra mengajak Vanesa bicara sebelum Vanesa membuka dan menjawab telepon masuk yang sedang berdering.

__ADS_1


"Nes kamu coba ini enak sekali, sini ponselnya jangan diangkat dulu, kamu selesaikan makan dulu Nanti saja kamu telpon balik padanya."Rendra merayu dengan pintar ucapannya juga sangat manis bahkan tidak terlihat sama sekali jika semua adalah kesengajaan agar Vanesa tidak menggangkat telpon nya.


Vanesa yang tidak memahami kelicikan dari Suaminya hanya mengagguk pasrah menerima semua yang di ucapkan Suaminya.


Dalam hati Rendra menarik napas lega karena telah berhasil membuat Vanesa percaya padanya.


"Bagaimana enak kan?"


Vanesa menganggukkan kepala kemudian setelah merasa cukup Vanesa berniat meraih ponsel hp-nya, kembali dan lagi-lagi Rendra menghalangi.


"Nes,ngak usah mainan hp, Ayo kita pergi Aku mau ajak kamu keluar kita melihat lihat ke pasar malam atau masuk mall kamu bisa belanja sesuka mu, "


"Ah, Baiklah."


Kembali Rendra menyunggingkan sebuah senyuman kemenangan kali ini ketika Vanesa asik melihat beberapa baju Rendra menawarkan diri untuk membantu Vanesa membawakan tasnya.


"Nes, biar nyaman dan tidak mengaggu Aku bawain tas kamu sini,"


"Emang Mas Rendra ngak malu bawa tas perempuan,"


"Iiih, ngapain malu kan tas punya isteri,'


Vanesa menyungingkan sebuah senyuman, hatinya sedikit merasa sejuk karena Rendra mulai perhatian dan mulai bersikap bagaikan dulu.


Vanesa yang asik memilih dan melihat-lihat baju Rendra juga sibuk meraih ponsel hp Vanesa dan mematikan nya.


"Bagaimana suka yang mana nih?" tanya Rendra pada istrinya yang sedang sibuk melihat lihat baju yang terpajang dengan sangat rapi.


"Ngak Mas, tidak ada yang ingin Aku beli, Aku ngak mau ambil di rumah masih banyak baju jadi ngak usah aja, kita pulang saja yuk Mas capek Aku keliling terus."


"Hmmm, capek ya gimana kalau kita duduk di taman sana kamu bisa beristirahat, kita pulang Nanti malam saja lagian ini kesempatan untuk kita bisa bersama tanpa terganggu dengan pekerjaan."


Kalimat Rendra yang mengatakan terganggu membuat Vanesa ingat akan telpon HP-nya yang tadi berdering berkali kali.


"Mas kemarikan tasku, Aku lupa Aku harus telpon balik tadi kan ada yang telpon Aku takutnya penting."


"Deg..! Irama jantung Rendra seolah berhenti berdetak ketiika Vanesa meminta tasnya yang mana Vanesa bertujuan ingin menghubungi sang penelepon.


Rendra meneguk kasar ludahnya hatinya sedikit bingung, lain Rendra lain pula dengan Vanesa yang juga ikut bingung karena Rendra tak kunjung menggulurkan tas miliknya, Akhinya Vanesa berjalan mendekati dan meraih tas yang terslempang di bahu Rendra, tanpa mampu menolak Rendra akhinya membiarkan Vanesa menggambil tas nya.


Vanesa segera merogoh isi dalam tasnya dan menggeluarkan ponsel hpnya.


"Lho kok hp Aku mati perasaan tadi tidak Aku matikan,"cicit Vanesa.

__ADS_1


Rendra yang tidak mau ketahuan jika dirinya yang telah mematikan ponsel hpnya Vanesa berpura-pura terkejut.


"Kok bisa mati Nes apa batre kamu yang lagi low,"


"Ini Masih banyak Mas,"


"Ah, sudahlah cepat kamu telpon balik Aku khawatir penting." seru Rendra pura-pura memberikan dukungan.


"Bagaimana bisa menghubungi nya ponselnya saja mati dan anehnya ngak ada Nama panggilan telepon disini seperti terhapus."


"Uhuk..


"Uhuk..


Rendra langsung terbatuk-batuk Mendengar perkataan Vanesa yang mana jelas-jelas dirinya yang telah menghapus panggilan telepon dari Eva.


Melihat suaminya terbatuk Vanesa segera merogoh isi tas yang mana di dalam nya juga ada satu botol kecil Air mineral.


"Minum Mas!"


"Trimakasih," Rendra meraih uluran botol kecil yang diberikan Vanesa kepadanya.


Dengan sangat cepat Rendra langsung meneguknya.


"Sangat haus ya, kok bisa sampai segitunya."


Mendengar perkataan istrinya Rendra hanya tersenyum kecut.


"Sudah Mas ayo kita pulang capek jalan-jalan terus."


"Tapi ,Nes ini kan masih sore belum malam."


"Iya, ngak apa-apa Mas pulang aja Aku mau beristirahat di Rumah."


Rendra menarik napas berat kemudian menghembuskan nya dengan perlahan.


"Baiklah, ayo,"


Dengan berat hati Rendra akhinya menuruti keinginan dari sang Istri.


Hanya memakan waktu dua jam perjalanan mobil Rendra telah sampai di halaman Rumah yang mana langsung Rendra masukkan ke dalam garasi, sementara Vanesa turun dan masuk ke dalam Rumah terlebih dahulu.


Dengan menggunakan kunci cadangan Vanesa bisa masuk ke dalamnya, keadaan Rumah terlihat sangat sepi Vanesa langsung masuk kedalam kamar tapi langkah nya terhenti ketika mendengar suara tangis.

__ADS_1


"Siapa yang menangis apakah Eva" bergegas Vanesa segera pergi ke sumber suara dimana terdengar dengan jelas suara tangis, perlahan-lahan Vanesa membuka pintu kamar dan ternyata benar Eva sedang meringkuk di atas Ranjang sambil menanggis .


"Eva kamu kenapa Tanya Vanesa dengan panik, yang mana Langsung mendekati Eva dan berusaha untuk meraih Eva akan tetapi dengan cepat dan kasar Eva menepis tangan Vanesa..


__ADS_2