BERBAGI RANJANG DENGAN ADIKKU

BERBAGI RANJANG DENGAN ADIKKU
Bab.30.TERHARU


__ADS_3

Sampai di dalam Ruangan nya Dokter Rendra masih gusar dan wajahnya terlihat sangat tegang, apa yang di ucapkan Dokter Bambang kepada nya benar-benar membuat nya takut dan cemas, bagaimana pun juga sebenci bencinya Dokter Rendra pada tingkah laku istrinya di dasar hatinnya yang paling dalam dia sangat mencintai Istrinya amat sangat hingga kekecewaan yang dia rasakan tiga bulan yang lalu tidak mampu membuat dirinya untuk mengusir dan menceraikan sang istri, meskipun rasa sakit dan sesak yang dalam dia tetap mempertahankan sang istri walau terkadang rasa sakit itu muncul kembali di dalam perasaan nya Kembali hadir menghentak jiwa dan yang bisa dia lakukan hanya menyiksa batin sang istri dengan mempermainkan nya di ranjang hanya itu hukuman yang bisa dia berikan, menpaar memukuul, dia tidak bisa melakukan karena sejujurnya cintanya terhadap sang istri sungguh besar dan jika suatu saat Vanesa mengetahui penghianatan nya maka diapun akan menunjukkan penghianatan sang istri kepada nya yang sudah sejak lama dia simpan dan pendam.


Rendra sudah lelah menunggu, sudah memberikan kesempatan waktu pada sang istri agar bisa menjelaskan sendiri kepada nya tanpa harus ditanya, tapi rupanya sang istri tidak merasa bersalah bahkan seolah olah tidak ada keburukan yang sedang dia jalani.


Untuk sebab itulah kelelahan dari menunggu dirinya pun melakukan hal yang sama dengan diam-diam, berselingkuh dan menikah lagi secara siri tanpa sepengetahuan sang istri.


"Jadi untuk apa Aku takut akan di tinggalkan, Vanesa tidak akan pernah meninggalkan Aku karena dia juga berkhianat di belakang ku." hibur Rendra dalam hati.


Tumpukan buku laporan yang harus dia kerjakan seolah tak mampu dia selesaikan, pikiran nya begitu kacau dan kalut, sibuk bermonolog sendiri.


Vanesa yang kala itu melakukan tugasnya menatap heran pada sang Suami yang hanya mengacak acak rambut nya dan sesekali mengusap wajahnya dengan kasar tanpa bekerja.


"Mas Rendra kenapa sih, kayak orang yang lagi frustasi aja," gumam Vanesa dalam hati, sebenarnya dia ingin bertanya karena dia sangat bersimpati dengan keadaan Suaminya yang seperti nya lagi memiliki masalah akan tetapi ketika menggingat Suaminya sering sekali marah bahkan bisa di bilang suka marah-marah, Vanesa menggurungkan Niatnya dan memilih diam, dengan tetap melakukan pekerjaan nya.


Rendra bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekati tempat dimana Vanesa sedang melakukan tugasnya.


"Nes..!lirih Rendra dengan suara sedikit berat.


Vanesa yang mendengar dipanggil dengan sedikit Aneh, pasalnya tumben sang Suami memanggil tidak dengan teriak-teriak, dengan gerakan cepat Vanesa membalikkan badannya.

__ADS_1


"Iya, Dok ada apa?"jawab Vanesa dengan sopan.


Rendra sedikit terkesiap juga, mendengar sang istri memanggil nya dengan sebutan yang Aneh bagaikan orang Asing, jika kemarin kemarin Vanesa memanggil dengan sebutan itu terdengar biasa dan bahkan membuat dirinya senang dan bangga tapi kali ini serasa sakit rasanya, entah apa sebabnya mungkin karena faktor rasa takut dan was-was jika penghianatan dirinya diketahui sang istri.


"Hari ini kamu tidak usah kerja dan bukankah Aku sudah memberikan uang, pergi belilah baju atau apapun yang kamu suka jika sudah tunggu Aku di Rumah, tidak usah Kembali ke sini lagi dan hari ini biar Pak Mamat yang akan mengantarmu jadi tidak perlu Naik taksi." ucap Rendra kalem.


Mendengar perkataan suaminya kedua bola mata Vanesa membulat seketika, ada binar rasa senang dan haru sudah sekian lama Rendra tidak pernah bersikap manis dan lembut padanya, setiap ucapannya begitu kasar dan dingin tapi kali ini begitu berbeda sangat halus rasanya ingin menangis saja karena Vanesa benar-benar merasa terharu jika ternyata suaminya masih sangat memperdulikan nya.


"Apa Aku tidak salah dengar Dok?"tanya Vanesa menyakinkan.


"Tidak sayang pergilah."


Serasa jantung mau meloncat keluar saja baru kali ini setelah sekian lama Rendra kembali manggilnya dengan sebutan sayang benar-benar serasa melayang layang hati Vanesa karena haru dan bahagia, hingga tanpa sadar Vanesa memeluk tubuh suaminya dan sangat di luar dugaan ketika Vanesa menyadari kesalahannya dia berniat melepaskan pelukannya akan tetapi Rendra justru menyambutnya bahkan memberikan kecupan tipis di keningnya.


Setelah beberapa menit Rendra juga memeluk erat sang istri, perlahan-lahan Rendra melepaskan pelukannya.


"Pergilah, kamu boleh bersenang-senang dan ingat jangan lupa makan siang, tunggu Aku di Rumah dan siapkan makan malam untuk ku jangan mie rebus lagi ya, perutku bisa sakit kalau di kasih makan mie terus." ucap Rendra sambil tersenyum.


Astaga senyum itu bikin dirinya sedikit salting juga hingga tanpa sadar diam dengan bibir terbuka.

__ADS_1


"Tutup tuh bibirnya atau Aku yang tutup kan" goda Rendra yang gemas melihat bibir ranum itu terbuka.


"Ah, tidak Mas Aku pergi dulu," ucap Vanesa yang kemudian buru-buru keluar dari dalam Ruangan Dokter Rendra.


Rendra menarik napas panjang setelah sang istri pergi, dengan perasaan lega Rendra mulai melakukan pekerjaan nya melihat semua data data yang ada di atas meja untuk di periksa satu persatu.


Ketika sedang asik mengerjakan tugasnya ponsel Rendra berdering, tanpa melihat Layar siapa yang sedang menelpon Rendra langsung menggangkat telpon.


"Halo....!"


"Halo, Mas kenapa ponsel nya dari tadi ngak aktif dan baru aktif sekarang sih."seru seorang gadis dari sebrang.


"Eva, kau..?Mau apa kau menelpon ku, Aku sedang kerja dan Aku sedang sibuk apa uang kamu habis lagi, kalau habis Nanti Aku kirim sekarang Aku sangat sibuk."jawab Rendra dengan mata yang sedang celingukan ke depan pintu Rendra khawatir jika istrinya tiba-tiba balik lagi dan Mendengar kan dirinya sedang menerima telpon dari orang.


Terdengar suara gelak tawa dari sebrang yang cukup keras hingga membuat Rendra sdikit menjauhkan ponselnya dari jarak telinga agar tidak terlalu dekat, suara tawa Eva bagaikan halilintar yang menyambar jadi tidak enak untuk di dengar.


"Kenapa justru tertawa memangnya ada yang lucu apa?" tanya Rendra tidak suka.


"Idih, Mas Rendra kok nada nya sinis begitu sih, Aku tertawa karena senang dan sangat beruntung punya Suami seperti Mas Rendra, sudah Tampan baik hati lagi, Mas Nanti Aku akan berikan kejutan padamu dan pasti Mas Rendra akan sangat senang di tunggu saja sekarang Mas kerja aja dulu Nanti suprise dan kejutannya, selamat bekerja Suamiku, Emuuacch."Eva mengakhiri panggilan telepon dengan memberikan kecupan jarak jauh yang mana membuat Rendra mendelik seketika yang pastinya tidak bisa terlihat Eva karena mereka melakukan panggilan hanya melalui telpon.

__ADS_1


Setelah Eva mematikan telpon Rendra menarik napas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan.


"Eva mau memberikan kejutan apa ya, kenapa perasaan ku tidak enak Aku merasa akan terjadi sesuatu yang tidak baik tapi Aku tidak tau apa itu," Lagi-lagi Rendra menarik napas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan." Smoga tidak terjadi hal-hal yang tidak Aku inginkan Aku harus cepat menyelesaikan pekerjaan ini agar Aku bisa cepat pulang dan bisa bersama dengan Istri ku, dia itu menjengkelkan tapi juga mengemaskan Aku sangat mencintai dirimu Nes amat sangat maafkan sikapku yang tidak baik selama ini Aku berjanji mulai kini Aku akan lebih perhatian padamu."lirih Dokter Rendra bermonolog sendiri.


__ADS_2