
Vanessa yang merasa kesal karena ternyata yang berpura-pura menjadi salah satu keluarga Bapak Kepala Desa untuk melakukan pendataan ternyata suaminya sendiri, rasa kesal Benci dan marah semua tercampur menjadi satu akan tetapi Vanessa tidak bisa berbuat apa-apa karena statusnya memang masih belum berpisah itu artinya Rendra masih memiliki hak penuh atas dirinya.
dengan malas Vanessa menyiapkan makanan seadanya yang ada di dapur karena Vanessa bukanlah tipe cewek yang suka masak Vanessa hanya menyiapkan segala sesuatu yang sudah instan seperti roti yang sudah saji dan selai kacang susu hangat,
" semua sudah ada di meja makan cepatlah makan jika sudah selesai Pergilah, " seru Vanesa pada Suamianya.
"Hei, Nes. Aku ini suamimu kenapa mengusirku terus, "
"Suami macam apa suami yang tidur dengan wanita lain apa masih pantas di sebut suami. "
Rendra bangkit dari tidurnya kemudian mendekati Vanessa tangannya mencoba meraih tangan istrinya yang mana Langsung Vanessa tepis.
" tidak perlu pegang-pegang kalau mau bicara bicara saja," sinis Vanessa dengan sangat dingin.
" Aku minta maaf aku memang salah tapi tolonglah Jangan bersikap seperti ini kamu tahu di sini rasanya sangat sakit, Aku tidak mau kamu acuhkan begini dan lagi Aku tidak mau pergi jauh darimu Aku itu suamimu dan sudah selayaknya kita tinggal bersama. "
"Kamu benar kamu memang suamimu tapi, itu dulu karena sebentar lagi Aku Akan minta cerai darimu. "
Rendra tersenyum miring sebelum kemudian mencengkram dagu Vanesa.
"Aku tidak akan pernah menceraikanmu. "sinis Rendra yang kemudian menuju Ruang tamu untuk makan.
Kerena tidak terima dengan sikap Rendra yang begitu keras Kepala dan berbuat sesuka hatinnya, Vanesa dengan langkah yang lebar menggikuti langkah kaki dari suaminnya.
" Ini Rumahku Aku berhak mengusir siapa saja yang tidak Aku suka. "
Rendra tenggadah mendengarkan perkataan dari Vanesa.
"Kalau begitu ambil card ini Aku rasa ini cukup untuk menganti Rugi sewa Rumah ini, jadi tidak Ada alasan lagi kamu mengusirku, Aku bisa tinggal disini sesuka hatiku, '
" Rendraaaa...! sudah kubilang Aku tidak mau lagi bertemu maupun tinggal bersama dengan mu, Aku benci kamu, "
Rendra tidak perduli dengan teriakan Vanesa Rendra justru menikmati sarapan paginnya dengan santai.
__ADS_1
"Duduk dan makanlah pasti kamu belum makan, "ajak Rendra dengan suara lembut kali ini Rendra mencoba untuk bisa mengalah dari wanita yang Ada di depannya.
"Tidak Peru bersikap sok manis, setelah ini pulanglah istrimu di Rumah pasti sedang cemas menunggumu, "
"Aku disini juga sedang bersama istriku, '
" Rendra Admaja tolonglah jangan bersikap egois, kamu sudah memilih dengan istri barumu kan, jadi pergilah karena Aku tidak sudih berbagi suami, biarkan Aku sendiri dan hiduplah bahagia dengan Eva."
"Jangan menyulut emosi ku Nes..!"apa yang terjadi padaku itu semua juga karenamu, "
"Kenapa jadi Aku yang kamu salahkan. "
"Tentu saja semua salahmu, karena kamu tidak pernah jujur padaku, kamu membiarkan Aku berpikir negative tentangmu, Aku pikir kamu selingkuh dan Aku berniat membalas itu dan kebetulan Eva suka padaku jadi Aku manfaatkan dia. "
"Apa... kamu memanfaatkan Eva, Mas kamu itu seorang Dokter bisa bisanya kamu berpikir sepicik itu dengan memanfaatkan orang. "
"Mau bagaimana lagi Dokter pun juga manusia kan dan Aku tidak trima istriku di sentuh orang, Aku sangat marah tapi Aku tidak bisa kalau harus kehilangan kamu untuk itu Aku sering memberikan hukuman padamu di Ranjang hatiku sakit Nes, kamu menghianatiku dan kamu tidak pernah jujur apapun padaku. '
Vanesa meneguk ludahnya yang tiba tiba terasa kering.
"Tidak, Aku tidak akan melepaskanmu, dengar setelah Anak Eva lahir kita yang akan merawatnya Aku akan ceraikan dia, "
"Kamu gilaa, apa kamu pikir semudah itu, seorang anak butuh kasih sayang Ayah dan ibunya, Aku tidak mau bayi yang tidak berdosa itu harus menanggung pahitnya kehidupan Tampa kasih sayang kedua orang tuanya . "
"Kalau begitu kita akan rawat bersama, "
"Tidak, cukup kamu dan Eva yang akan menjadi orang tuanya, sekarang pulanglah kasian Eva dia dalam keadaan hamil dan kamu tidak Ada di sampingnya. "
"Tidak Nes, Aku tidak sanggup jika kita harus berpisah Aku tidak mau Ada Kata cerai diantara kita, bukankah kamu dulu Berjanji akan menemani ku sampai nafas terakhirmu, mana janjimu, " seru Rendra menggingatkan.
sementara Vanesa tersenyum sinis.
"Haruskah Aku menepati janji dan setia pada orang yang telah menghianatiku, tidak kan sudahlah Mas sekarang kamu pergi dan Aku akan segera mengirimkan surat cerai itu padamu, "
__ADS_1
"Sudah ku bilang Aku tidak mau, berpisah dengan mu, lihat saja kamu tidak akan bisa bercerai dariku Aku tidak perduli kamu suka atau tidak kamu tetap akan jadi istriku. " teriak Rendra yang kini juga mulai tersulut emosi.
"Pergilah...
" Tidak...
"Aku bilang pergiiiii.. ! "
Vanessa yang kesal tiba-tiba berteriak dengan sangat histeris kemudian tubuhnya menjadi Limbung dan hampir terjatuh akan tetapi dengan sikap Rendra menahan tubuh Vanessa yang Limbung.
"Lepaskan Aku, jangan sentuh Aku Aku benci kamu...
" Tapi Nes...
"Lepaskan Aku bisa sendiri. '
karena Vanessa pergi keras dan berteriak akhirnya mau tidak mau Rendra melepaskan pelukannya.
Vanessa segera berjalan menuju ke dalam kamar akan tetapi baru dua langkah Vanessa tiba-tiba merasa mual.
" Hoeeek.... hoeeek...! dengan cepat Vanesa membekap mulutnya kemudian berlari masuk keep dalam kamar mandi.
Rendra yang melihat hal itu menjadi panik dan ikut berlari tapi Vanesa dengan cepat menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
"Nes.... Nesa kamu kenapa....? "
"Tok.. tok... tok..! Rendra mengedor ngedor pintu kamar mandi berkali kali.
Wajah tampannya menjadi sangat panik dan tegang.
" Vanesa mual apa jangan jangan Nesa hamil Anakkku, "Rendra mengusap kasar wajahnya.
" Jika benar Vanessa hamil Aku, Akan sangat senang dan tidak Ada lagi alasan dia minta cerai padaku, ' Lirih Rendra dengan bibir yang mulai tersenyum bahagia.
__ADS_1
kembali Rendra menggedor gedor pintu kamar mandi berharap Vanessa segera membukakan pintu padanya.
"Nes, buka pintunya Ada apa dengan mu, coba Aku priksa, Nes jika kamu tidak mau membuka Aku Akan dobrak dengan paksa. " seru Rendra memberikan ancaman pada istrinya.