BERBAGI RANJANG DENGAN ADIKKU

BERBAGI RANJANG DENGAN ADIKKU
Bab 45.ISTRI MUDA


__ADS_3

Rendra menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan kasar berkali-kali Rendra mengusap kasar wajahnya, hatinya begitu bingung dan resah sementara Eva yang sudah mengetahui kakaknya sudah keluar dari dalam ruangan dokter Rendra Eva segera keluar menemui sang suami, tanpa merasa bersalah dan sedih Eva langsung menghambur dalam pelukan sang suami dengan duduk di pangkuannya.


"Mas, Mbak Nesa sudah pergi kan," seru Eva sambil duduk di pangkuan Rendra, sontak saja hal itu membuat Rendra seketika mendelik dan dengan gerakan refleks mendorong tubuh Eva hingga jatuh ke lantai.


"Bruugh, auwh.... !'ringis Eva karena bokongnya mencium lantai yang keras.


Rendra mengumpat kesal dengan sikap Eva hingga bibir nya tak henti-hentinya mengumpat, meskipun Eva sudah jatuh ke lantai.


"Eva, kau.... apa-apaan ini, cepat kamu pergi dan pulang Nanti kita bicara di Rumah, Aku sedang kerja kalau ada orang masuk ini sangat menjatuhkan reputasiku, apa kau tidak memikirkan itu,"geram Rendra yang mulai tersulut emosi.


Sambil mendengus kesal Eva bangkit dari terjatuhnya.


" Mas, kamu tuh laki-laki yang tidak punya perasaan ya? kamu pikir kau jatuhkan Aku seperti itu tidak sakit apa? sungut Eva yang tidak mau kalah.


Rendra semakin dibuat kesal dengan sikap Eva.


"Araaaaaagggghhhh...katakan sekarang apa maumu dan cepat pergi dari sini, kau tau Aku sedang bekerja jadi tolong jangan ganggu Aku." teriak Rendra yang mulai emosi.


"Mas, Aku istrimu dan Aku berhak berbuat apapun disini, di Rumah Aku kesepian karena tidak ada siapapun jadi biarkan aku disini ya?" rajuk Eva mencoba merayu Rendra.


Rendra yang emosi menjadi terdiam dia benar-benar bingung dan lelah bersikap dengan gadis yang ada di depannya, bersikap kasar tidak mempan bersikap halus tidak mempan akhirnya sudahlah terserah.


"Aku mohon pergilah kamu boleh berjalan-jalan di mall ataupun di manapun tapi jangan di sini, karena Aku mau bekerja jadi aku mohon mengertilah," ucap Rendra putus asa dia benar-benar tidak tau harus dengan cara apa agar gadis yang ada di depannya bisa segera pergi, terlebih Vanesa seperti nya sudah mulai curiga meskipun dia tidak mengatakan nya.


"Baiklah, tapi mana ongkos jalannya,"


Rendra menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan kemudian mengeluarkan dompet berwarna coklat dari dalam sakunya, kemudian menyerahkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah kepada Eva.


"Ambil dan bersenang-senanglah," ucap Rendra kemudian.

__ADS_1


Eva tersenyum sini melihat lembaran uang yang diberikan kepadanya dengan teliti dia menghitungnya.


"Ini cuma ada 10 lembar Mana Cukup, di luar sana kan semuanya serba mahal jadi mana kartu Atm-nya aku tidak mau dengan uang cash seperti ini, kalau kurang Aku bisa malu masa istrinya seorang Dokter nggak punya," uang cicit Eva ada Rendra.


Mendengar perkataan Eva Rendra benar-benar tidak pernah habis pikir, ternyata kelakuan Eva benar-benar sangat buruk dan boros, pantas saja setiap hari dia meminta uang pada Vanesa.


lagi-lagi Rendra meneguk ludahnya kelakuan Eva benar-benar menguji kesabarannya, dengan terpaksa Rendra mengeluarkan kartu card nya dan diberikan kepada Eva, semua dilakukan agar Eva cepat pergi dari ruangannya Rendra sangat khawatir dan takut jika ada orang yang tiba-tiba datang dan memergoki mereka sedang berdua, hal itu akan membuat orang-orang curiga terlebih jika yang mengetahui adalah Dokter Bambang yang mana Dia sangat mengetahui jika Rendra telah berselingkuh dengan gadis lain di belakang Vanesa.


Dengan mata berbinar dan senyum tersunging di bibir Eva meraih kartu Card yang diberikan Rendra di atas meja kepada nya dan dengan wajah ceria Eva memberikan ciuman di bibir Rendra sebelum melangkah keluar.


Sebuah ciuman dadakan yang membuat Rendra sedikit terkejut dan gelagapan terlebih pada saat yang bersamaan pintu yang lupa tidak dikunci lagi dari dalam, setelah kepergian Vanesa menbuat seorang yang ingin bertemu dengan Dokter Rendra bisa dengan mudah masuk tanpa mengetuk pintu, terlebih orang itu adalah orang orang penting dan dekat dengan Rendra yang mana jika masuk ke dalam Ruangannya bisa mengetuk pintu bisa juga tidak dan Naasnya kali ini orang itu tidak mengetuk pintu dan langsung nyolong masuk sehingga adegan ciuman yang dilakukan Eva bisa langsung terlihat.


"Maaf aku tidak sengaja," Ucap orang itu kemudian keluar dari ruangan Dokter Rendra dengan buru-buru, tidak bisa dibayangkan betapa malu nya Rendra kala itu, karena nyata-nyata telah ketahuan bermain api dengan Wanita lain di dalam Ruangan nya.


"Sial, semua gara-gara kecerobohan mu, pergi kau, bikin malu saja." teriak Rendra sinis dan dingin rasanya kesabaran nya sudah mulai habis.


"idih, santai aja kenapa sih Mas, lagipula ngapain mikirin mereka kita kan sudah Menikah jadi tidak ada yang salah kan?"


"Iya-iya,"ucap Eva kemudian yang mana langsung membuka pintu dan di depan pintu ternyata orang yang tadi mau masuk masih berdiri disana dengan wajah menunduk,Eva menatap laki-laki itu dengan pandangan sini.


"Jangan berpikiran macem-macem dia itu suamiku," ucap Eva sebelum pergi dan apa yang di ucapkan Eva menbuat laki-laki itu tengadah dan tersenyum miring.


"Aku juga sudah tau,"lirih laki-laki itu yang juga seorang Dokter, membuat Eva yang berjalan langsung menghentikan langkah kakinya kembali menoleh kebelakang dimana laki-laki itu sedang bicara, seolah memahami arti dari tatapan mata Eva, laki-laki yang juga seorang Dokter itu pun tersenyum miring dan langsung masuk ke dalam Ruangan Dokter Rendra tanpa memperdulikan tatapan mengerikan dari gadis yang ada di belakangnya yang pastinya itu adalah tatapan mata kemarahan.


Merasa kesal dan dipermainkan Eva menghentakkan kakinya di tas tanah, sebelum kemudian kembali melanjutkan perjalanan untuk pergi, Eva tidak perduli dengan beberapa pasang mata yang sedang menatap nya dengan raut wajah bingung.


Dari beberapa pasang mata yang menatap Eva ada salah satu diantara mereka yang ternyata adalah suster Yuni menatapnya dengan perasaan bingung.


"Siapakah gadis itu Kenapa dia keluar dari Ruangan Dokter Rendra dan sepertinya dia bukan pasien ataupun perawat Rumah Sakit ini, apakah Gadis itu kerabatnya Dokter Rendra, tapi kenapa dia keluar dengan marah-marah apa yang terjadi dengan nya, coba Aku potret dia dan Aku tanyakan pada Suster Vanesa siapa tau dia mengenali gadis itu."

__ADS_1


Suster Yuni mulai membidikkan kamera ke arah Eva, tidak tanggung-tanggung Dia memotret gambar Eva dengan 5 posisi belakang depan samping, kanan kiri sampai terlihat wajahnya sangat lengkap dan jelas.


Ketika suster Yuni sedang asyik melihat-lihat hasil kamera bidikannya tiba-tiba sebuah pesan masuk dalam ponselnya.


"Ting....!"dengan cepat suster Yuni membuka satu pesan yang baru masuk ke dalam ponsel nya.


"Suster Yuni, tolong kasihkan cepat berkas-berkas itu kepada Dokter Rendra, Aku butuh tandatangan nya sekarang juga.


"Astaga Aku lupa, Aku harus cepat pergi ke Ruangan Dokter Rendra untuk minta tanda tangan nya"bergegas suster Yuni berjalan menuju ke Ruangan dokter Rendra yang mana ketika itu pintu tidak terlalu tertutup rapat dan ketika tangan Suster Yuni hendak membuka pintu tiba-tiba terdengar sebuah percakapan yang membuat jantung Suster Yuni seakan-akan lepas dari raganya.


"Kamu benar-benar gila Dokter Rendra, kenapa kau biarkan istri mudamu itu datang ke sini, kau benar benar laki-laki brengsek."


"Deg.....!


mendengar percakapan itu suster Vanessa menutup mulutnya dengan sangat kuat hampir saja dia berteriak


"Apa aku tidak salah dengar, jadi gadis yang keluar dan marah-marah itu adalah istri mudanya Dokter Rendra, tidak mungkin tidak mungkin Dokter Rendra berbuat seperti itu pada suster Vanesa, coba Aku dengarkan lagi siapa tahu aku salah dengar,"dengan perlahan-lahan bagaikan seorang pencuri suster Yuni menempelkan daun telinganya ke dinding pintu yang memiliki celah, tak lupa Suster Yuni juga merekam semua pembicaraan dari Dokter Rendra dan Dokter Bambang yang ada di dalam Ruangan itu.


lemas dan shock itulah yang terjadi pada suster Yuni ketika dia mengetahui bahwa apa yang didengarnya adalah benar, dengan penuh hati-hati suster Yuni masukkan kembali ponsel hp-nya ke dalam saku, menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan mencoba untuk tenang meskipun harus jujur di dalam hatinya yang paling dalam suster Yuni ikut kecewa dengan apa yang dilakukan Dokter Rendra kepada suster Vanesa, Karena bagaimanapun juga suster Vanesa adalah teman dekat dari suster Yuni.


"Bagaimana aku bisa memberitahu suster Vanesa jika suaminya ternyata telah memiliki istri muda dan jika aku memberitahunya bagaimana dengan perasaannya."suster Yuni merasa Bingung hingga tanpa sengaja menjatuhkan pot bunga yang ada di sampingnya.


"Braaakkk....!suara pot yang jatuh.


Sontak saja suara benda keras yang jatuh membuat Dokter Rendra dan Dokter Bambang segera keluar untuk melihat.


"Suster Yuni ada apa?"tanya Dokter Bambang dan Dokter Rendra hampir bersamaan.


"Ti-tidak ada apa-apa Dok, ini kakiku tersandung pot dengan tidak sengaja," Dokter Bambang menatap intens pada suster Yuni sementara Suster Yuni dengan cepat tersenyum.

__ADS_1


"Maaf ini tadi saya buru-buru karena di minta untuk minta tanda tangan dari Dokter Rendra dengan cepat."


"Oh, ayo masuk," ajak Dokter Rendra ramah."sementara dokter Bambang masih menatapnya dengan penuh rasa curiga.


__ADS_2