
Suster Yuni sedikit terkejut dengan ajakan dari Suster Vanessa, hingga tanpa sadar suster Yuni menatap wajah dokter Rendra yang mana ketika itu dokter Hendra juga menatap pada suster Yuni dan Vanessa Dr Hendra menganggukkan kepala sebagai tanda mengizinkan suster Yuni untuk melakukan pemeriksaan kepada suster Vanessa.
Sampai di dalam kamar Vanessa segera menutup pintu kemudian menatap wajah suster Yuni dengan tatapan mata sayu.
Tatapan wajah suster Vanessa yang sedikit seperti memelas membuat hati suster Yuni sedikit sedih, akan tetapi suster Yuni tidak mengerti mengapa suster Vanessa menatapnya dengan sedemikian rupa.
"Lakukan lah Sus, "ucap Suster Vanessa dengan suara yang lirih.
Mendengar perkataan dari suster Vanessa suster Yuni bukannya langsung melakukan pemeriksaan akan tetapi justru merasa ragu dan bertanya.
" Apa suster Vanessa sudah siap, "
"Aku, siap Sus dan aku tahu suster Yuni pasti memahami apa yang aku inginkan, " ucap suster Vanessa sambil merebahkan tubuhnya di atas Ranjang yang mana kala itu diikuti suster Yuni yang duduk di tepi Ranjang.
"Maksud Suster Nesa apa? "
"Apakah perlu Aku menjelaskannya Sus. "
suster Yuni menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan perlahan ketika mendengar perkataan dari suster Vanessa suster Yuni bukanlah wanita bodoh yang kesulitan dalam memahami suatu perkataan ataupun peribahasa terlebih yang mengatakan adalah teman dekatnya.
serasa kering tenggorokan suster Yuni hingga membuat dirinya berkali-kali harus menekuk ludahnya.
"Jadi benar apa yang dituduhkan Dokter Rendra kepadamu Sus, jika kamu kini sedang hamil. "
Vanessa tersenyum kecut bibirnya menyungingikan sebuah senyuman akan tetapi terlihat senyuman itu sungguh Senyum keterpaksaan Dan terlihat sangat Getir.
" Tapi bagaimana caraku untuk menjelaskan pada dokter Rendra Apakah aku harus berpura-pura agar kamu terbebas dari tuduhan itu suster Nesa.
__ADS_1
"
" Aku tidak perlu menjelaskan apapun padamu, Aku percaya kepadamu dan Aku tahu cerita diriku dan Aku yakin kamu bisa mengerti dan memahami apa yang terbaik untukku Aku percayakan semuanya kepadamu, "ucap Vanessa sambil tersenyum.
"Baiklah, tapi kamu tetap harus diperiksa karena Aku yakin sekali kamu tidak pernah memeriksakan kandunganmu dan kamu juga tidak tahu bagaimana keadaan janin yang ada di dalam perutmu kan, "
"Lakukanlah, apa yang menurut kamu terbaik, Aku percayakan semua nya padamu, "
Suster Yuni mengulum senyum sambil menggelengkan kepalanya.ya, merasa gemas pada teman satu profesi yang juga sahabat karibnya.
"Berbaringlah, Aku akan mulai memeriksamu, "
Tanpa membantah Vanessa langsung membaringkan tubuhnya di ranjang sementara dengan sangat perlahan dan penuh dengan hati-hati suster Yuni mulai memeriksa suster Vanessa.
Sementara di luar kamar Rendra yang mengetahui istrinya sedang diperiksa oleh suster Yuni merasa sangat bahagia Rendra sangat yakin jika hari ini istrinya tidak akan bisa berkelit lagi dari kenyataan yang ada, istrinya tidak akan pernah lagi bisa mengelak dan berbohong jika dirinya tidak hamil wajah ceria dari Rendra terlihat jelas di wajahnya yang mana beberapa kali Rendra menoleh ke kamar Vanessa sambil mengulum senyum.
Menunggu beberapa saat dengan sedikit resah dan gusar akhirnya suster Yuni keluar dari dalam kamar yang mana langsung disambut oleh dokter Rendra kala itu dengan sebuah senyuman yang tersungging di bibirnya.
"Bagaimana Sus, apakah sudah selesai, "
suster Yuni tersenyum sambil menganggukkan kepala Hal itu membuat hati dokter Rendra semakin berbunga-bunga dan serasa tidak sabar mendengar jawaban dari suster Yuni.
"Katakan Sus, Vanesa benar benar positive hamil kan? "
Suster Yuni menggelengkan kepala dengan perlahan.
Wajah dokter Rendra yang tadinya berbinar dan terlihat ceria tiba-tiba menjadi Murung dan mendung manakala melihat Suster Yuni menggelengkan kepalanya, Wajahnya yang tampan berubah menjadi merah ada segurat kemarahan dan kekecewaan yang tersimpan di dalam hatinya.
__ADS_1
"Apa maksudnya Sus, katakan dengan benar. " tanya Rendra dengan Tatapan mata yang tajam membuat suster Yuni sedikit bergidik wajah kemarahan dari dokter Rendra mengingatkan suster Yuni beberapa bulan lalu perlakuan dan sikap dari dokter Rendra pada suster Vanessa yang sangat keras kasar dan dingin di mana seringkali dokter Hendra marah marah tidak jelas kepada Suster Vsnesa,.terlihat perubahan dari dokter Rendra terjadi ketika dokter Rendra membawa seorang gadis masuk ke dalam ruangan pribadinya yang mana gadis yang dilihat oleh suster Yuni sangatlah manja dan tidak tahu malu bermesraan dengan dokter Hendra di kala itu.
Mengingat semua itu suster Yuni merasa sedikit geram dan kesal kepada dokter Rendra yang ada di depannya sungguh suatu perlakuan yang sangat jauh berbeda dengan saat ini, kala itu Suster Vanessa seolah-olah tidak pernah dianggap sebagai seorang istri bahkan seringkali dokter Rendra marah dan menunjukkannya di depan umum.
suster Yuni menekuk ludahnya dengan kasar kemudian membalas tatapan dokter Rendra sambil menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan perlahan.
"Maaf, ini mungkin akan mengecewakan dokter Rendra akan tetapi lebih baik dokter Rendra tahu yang sebenarnya, setiap orang memang menginginkan di dalam keluarga seorang anak akan tetapi terkadang meskipun kita berusaha akan tetapi kita masih belum diberikan kesempatan ataupun izin darinya untuk bisa memiliki mutiara hati, Maaf Dok Suste Vanesa tidak hamil pemeriksaan sudah saya lakukan dan hasilnya Negative."
"Duuuaar....! bagaikan petir yang menyambar di siang hari tubuh Rendra yang tadinya ceria kini terlihat lemah dan lesu bahkan keseimbangan tubuhnya sedikit goyang di mana dokter Rendra menjadi limbung dan terhuyung ke belakang.
Di sisi lain tidak jauh berbeda dental apartment yang Rendra alami, tampak Vanessa yang juga berdebar-debar dengan jantung yang cukup berdetak dengan sangat cepat di mana suster Yuni akan mengatakan sesuatu yang mana bisa jadi kehamilannya akan diketahui oleh Rendra Dan untuk bercerai pasti akan sulit, mini mulai bernapas lega.
Tidak bisa Vanessa bayangkan Apa yang akan terjadi pada dirinya dan Eva apabila Rendra sampai tidak menceraikan dirinya, mungkin Eva akan sangat marah dan melakukan sesuatu hal yang sangat menyakitkan dirinya bahkan mungkin dirinya tidak akan lagi diizinkan untuk memanggil dan bertemu dengan Ayah dan Ibu yang selama ini twlah merawatnya dengan penuh kasih sayang, meskipun sesungguhnya mereka hanyalah orang tua angkat dari Vanessa dan hal itu pasti akan sangat menyakitkan dan membuat Vanessa hidup menjadi seorang yang tidak memiliki keluarga Dan siapa siapa lagi.
Rendra yang masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya berdiri tertegun dengan tatapan mata yang kosong Vanessa yang melihat hal itu segera keluar dari pintu kamarnya Yang dari tadi memang Vanessa mengintip dari balik pintu di mana Vanessa juga merasa sangat was-was dan khawatir apabila h suster Yuni mengatakan yang sebenarnya.
" Bagaimana, apa kamu sudah puas sekarang silakan pergi dan Jangan menggangguku lagi tunggu saja, Aku akan segera mengirimkan surat cerai kepadamu, "
Rendra tersenyum miring mendengar perkataan dari Vanessa, yang mana posisi keadaan Vanessa kali ini berada di atas angin, apa yang dituduhkan dirinya tidak terbukti akan tetapi Rendra yakin dengan perasaan hatinya yang mana jika sebenarnya wanita yang ada di depannya memang benar-benar sedang hamil, Tapi sayangnya Rendra tidak memiliki bukti apapun bahkan suster Yuni juga mengatakan jika Vanessa negative.
"Kau hebat dan apa kau pikir Aku akan percaya begitu saja, tidak, hari ini Aku memang gagal untuk membuatmu bisa jujur tapi tidak akan gagal untuk kedua kali dan Aku ingatkan Jangan pernah bermimpi bisa bercerai dariku, karena Aku tidak akan pernah membiarkan semua itu terjadi,"
kilatan wajah kemarahan dan kekecewaan yang Rendra hadapi membuat dirinya tanpa banyak bicara langsung mengajak suster Yuni untuk segera pergi.
"Mari sus, kita pulang. "
Dengan cepat suster Yuni menganggukkan kepala sementara dokter Rendra tanpa menoleh ke belakang langsung membuka pintu dengan sangat keras dan kasar kemudian berlalu pergi meninggalkan Rumah itu.
__ADS_1