BERBAGI RANJANG DENGAN ADIKKU

BERBAGI RANJANG DENGAN ADIKKU
Bab.61Bingung


__ADS_3

Eva yang merasakan bahagia karena sudah bisa membuat Rendra perhatian dengan dirinya dan sudah membuat kakaknya Vanesa sedikit demi sedikit menjauh dari suaminya, membuat Eva bernyanyi riang gembira di dalam kamarnya.


Dengan sangat lahap Eva yang baru mengupas buah apel dan memakannya di dalam kamar menikmati dengan di temani musik kesayangan nya, meskipun kamar Eva tidak sebesar kamar yang ditempati oleh Vanesa dan Rendra akan tetapi kamar Eva juga termasuk kamar yang sangat bagus dan memiliki fasilitas yang cukup lengkap di mana di dalamnya terdapat televisi tempat musik kamar mandi dan ruang untuk duduk bersantai semuanya lengkap di dalam kamar.


ketika Eva asik mendengarkan musik tiba-tiba Sebuah poselnya berdering hal itu membuat Eva sedikit bertanya tanya pestanya selama ini ponsel hp Eva tidak pernah ada yang mengganggu atau meneleponnya dengan sedikit malas efek meraih buat layar yang ada di ponsel hp-nya satu nama yang selama ini menjadi teman dekat apa ketika di perantauan


"Tumben ini anak telepon Ada apa ya, gangguin orang saja," dengan malas Eva mengangkat telepon yang berdering tidak lama kemudian terdengar suara dari seberang.


" Halo Va, bagaimana kabarmu, kenapa kamu tidak pernah menghubungiku kapan kamu akan balik lagi ke sini sudah hampir satu minggu kamu di sana," ucap salah seorang wanita dari seberang yang ternyata teman satu kampus Eva Ketika kuliah di luar negeri.


"kamu Win, tumben juga menghubungiku ada apa, apa jangan-jangan kamu lagi kehabisan uang jatah ya,"


"Enak saja kalau ngomong, disini Aku juga sudah bekerja Aku punya banyak uang kamu kapan balik kesini, jangan minta libur lama-lama Nanti bisa-bisa kamu dikeluarkan dari kampus cepat balik kesini,"


"Aku ngak akan balik, Aku memutuskan untuk menikah disini jadi Aku tidak akan melanjutkan studyku."


"Kamu bodoh apa Bagaimana bisa-bisanya kamu melepas masa depanmu, dengar Va crpat balik sebelum terlambat dan sebelum kamu benar-benar dikeluarkan dari kampus.


"Wina, bukankah tadi Aku sudah bilang Aku tidak mau melanjutkan studiku Aku mau menikah,"


"Dengan siapa?" apa itu akan membahagiakan dirimu dan karir serta cita-cita mu Bagaimana lagipula siapa calon suamimu apa dia orang yang bisa diandalkan."


"Tentu saja Bisa calon suamiku kan seorang Dokter jadi masa depanku terjamin bersamanya."


"Sungguhkah itu, wah kalau begitu kamu hebat, kenal dimana kalian,"


"Dia....kamu juga pasti taulah yang ngasih Aku uang banyak itu lho masa kamu lupa."


"Siapa sih, Va seingat ku yang ngasih uang ke kamu itu kan Suami dari kakakmu."


"Memang dia,"


"What, yang benar kamu mau Nikah dengan nya bukan kah dia itu kakak ipar kamu, suami dari kakakmu,"tanya Wina tak percaya.


"Emang iya,"sahut Eva enteng.


"Hah, kamu gilaa apa mau Rampas Suaminya kakak kamu,"


"Dia bukan kakakku, dia hanya anak pungut yang di rawat Ayah ku, jadi Vanesa bukan kakakku lagi pula dia sudah diberikan kehidupan yang layak oleh Ayah jadi tidak ada salahnya kan seandainya kini dia harus balas Budi kebaikan keluarga kami dengan mengikhlaskan suaminya untukku, Aku cinta sama Suaminya jadi Mbak Vanesa harus bisa melepaskan nya,"


"Kamu benar-benar kelewatan Va, memangnya tidak ada apa laki-laki lain kenapa harus Suami kakakmu,"


"iiih,brisik amat kamu itu, mana bisa dengan laki-laki lain jika Aku cinta nya sama Mas Rendra," Sungut Eva kesal karena sahabat karib nya seperti tidak mendukung langkah nya.


"Yaelaa VA, gitu aja ngambek Aku tuh cuma ngasih pendapat, Napa mesti Suami orang yang kamu ambil kenapa bukan laki-laki lain yang kamu jadikan Suami kamu kan kamu bisa bebas memilih,"


"Kamu ngomong begitu itu karena kamu ngak tau keadaan ku, apa ada laki-laki yang mau sama gadis yang sudah tidak suci lagi apa ada di zaman sekarang mau menerima cinta kita dengan tulus tanpa memperdulikan Bagaimana keadaan kita."


"Maksud kamu apa Va, jangan bilang kamu di itukan sama kakak Ipar kamu,"

__ADS_1


"Ya, emang sudah,"


"Hah, gilaa tuh kakak ipar mu pantas saja kamu ngak mau ngelepasin dia."


"Apa kamu tau Win, dengan mudahnya Mas Rendra mau menceraikan Aku dan dia cuma bilang maaf, apa ngak sakit hati ini, meskipun saat itu Mas Rendra melakukan nya dalam keadaan mabuk dan Aku saat itu tidak menolak, karena Aku,_ Aku mencintai nya, hatiku sakit Aku seperti tidak dihargai, bahkan Mau dibuat habis manis sepah di buang Aku tidak terima itu, apa Aku salah jika sekarang Aku mempertahankan nya." ucap Eva dengan nada emosi hatinya benar-benar sakit ketika mengetahui jika orang yang dicintai nya masih sangat mencintai istrinya.


"Tenang Va, kamu tidak salah Aku akan mendukung mu, rampas dan ambil suami kakakmu, toh dia bukan kakak kandungmu, meskipun rasanya tidak adil tapi apa boleh buat


diantara kalian harus ada yang tersisih, tapi sebenarnya kalian bisa jadi istri keduanya, begitu saja Va, jadi tidak ada yang tersakiti."


"Aku yang ngak mau pokoknya Mas Rendra hanya untuk ku, Aku tidak mau berbagi cinta dengan nya,"


"Baiklah, terserah kamu jadi gimana kamu beneran tidak mau melanjutkan studi mu,"


"Tidak, Aku mau disini berada dekat dengan Suamiku."


"Baiklah kalau begitu, pesanku cuma kalau kamu ada waktu datang kesini jenguk Aku disini Aku sangat merindukan bisa Tertawa dan bercanda denganmu,"


"Tenang saja Kalau Mas Rendra sudah ada di genggaman tanganku Aku akan bawa dia untuk menemuimu."


"Baiklah, selamat berjuang, smoga sukses."


"Terimakasih,"


Sambungan telpon akhinya dimatikan, Eva kembali tersenyum.


Sementara Rendra yang berada di ruang tamu merasa semakin gusar karena sudah hampir malam Vanesa belum juga pulang karena perasaan resah akhirnya Rendra mengambil jaket kulitnya yang berada di dinding kemudian dengan cepat membuka pintu dan hendak pergi akan tetapi Eva yang sudah keluar dari dalam kamarnya segera berteriak sambil menghampiri Rendra yang kala itu hendak membuka pintu.


"Tunggu, Mas Rendra mau kemana?"


"Aku mau mencari Nesa,"


"Kenapa mesti dicari si Mas, memangnya Mas tau kemana Mbak Nesa pergi, Aku rasa Mbak Nesa Nanti juga pulang mungkin saat ini dia lagi berada di Mall lagi seneng seneng dengan temannya jadi biarkan saja kita tunggu saja di Rumah pasti sebentar lagi Mbak Nesa juga pulang."


"Tidak bisa Va, hatiku tidak bisa tenang sudah kamu tutup pintunya Aku pergi dulu,"


"Tidak Mas tunggu, masak Aku di suruh menunggu sendiri di Rumah, Tidak. Aku tidak mau Aku mau ikut,"


"Ciiih, ini anak mau nganggu orang saja," Dengar Va, kamu kan lagi hamil kamu istirahat saja di Rumah sebentar lagi Aku juga pulang kamu kan harus menjaga bayi kita jadi jangan bandel dengarkan apa kataku lagipula di luar ada Pak mamad, sudah ya tutup pintunya."seru Rendra sambil melangkah ke luar, Eva hanya bisa mrndengus kesal karena hari ini tidak mampu membuat Rendra menuruti kemauannya.


Di tengah gelapnya malam di bawah bintang dan rembulan yang mulai menampakkan sinar setelah sore hari hujan mengguyur bumi dengan gemerlap lampu di jalan jalan yang mana menambah suasana malam yang mulai ramai dengan mobil berlalu-lalang, Rendra melajukan mobilnya menatap setiap sudut jalan berharap bisa bertemu dengan Istrinya.


Hampir dua jam Rendra berputar putar hingga waktu menunjukkan pukul 10 malam akan tetapi Vanesa tak kunjung terlihat hingga wajah tampannya tampak lelah dan kusut.


Rendra melajukan mobilnya menuju sebuah Rumah yang ada di salah tiga Jakarta A, setelah memarkirkan mobilnya di halaman Rumah Rendra mulai memencet bel.


"Ting tong


"Ting tong

__ADS_1


Tak lama kemudian pintu rumah dibuka dari dalam.


"Dokter Rendra, kau malam malam begini masuk,"


Rendra menggikuti langkah kaki dari teman nya yang tidak lain adalah Dokter Bambang.


"Tumben kesini malam-malam ada apa?"


"Vanesa belum pulang,"


"Memangnya kemana, kenapa belum pulang."


Rendra menarik napas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan.


"Sepertinya Vanesa mulai mencurigai Aku dan sekarang Aku bingung harus bagaimana?"


"Nah kan, apa Aku bilang dulu, sudah kamu tinggalkan saja gadis yang di Bali itu kamu mulai kehidupan baru dengan Vanesa."


"Itu tidak mungkin,"


"Tidak mungkin? jangan bilang loe sudah jatuh cinta juga sama dia,"


"Bukan begitu Dokter Bambang, masalahnya gadis itu sekarang lagi hamil,"


"Apa? hamil memang kamu tidak menggunakan pengaman Astaga Aku lupa bukankah kamu juga bilang waktu itu kamu lagi mabuk tentu saja kamu tidak menggunakan pengaman kan tapi apa kamu tidak memberikan obat atau apa untuk pencegahan hamil waktu itu "


"Aku sudah memberikan nya tapi entahlah kenapa bisa jadi juga padahal Aku cuma sekali menyentuh nya,"


"Kalau seperti itu cerita nya susah juga jalan satu satunya kamu harus jujur pada Vanesa dan meminta dia untuk menerima dan memaafkan kamu bilang saja waktu itu kamu khilaf dan mabuk smoga Vanesa mau mengerti dan memaafkan dirimu."


"Itu mustahil Vanesa tidak akan memaafkan Aku."


"Jangan pesimis begitu Vanesa orang nya baik pasti mau mengerti."


"mungkin Vanesa mau mengerti itu jika Aku berselingkuh dengan orang lain tapi jika dengan Adiknya sendiri apa dia mau memaafkan Aku."


"Apa? adiknya maksud kamu gadis itu adik Vanesa?'


Rendra mengagguk lemah.


"Busyet..kamu benar-benar Dokter Rendra kalau seperti itu aku tidak tau lagi semua yang terjadi adalah kecerobohan mu,"


"Aku tau dan kini Aku menyesal, coba berikan Aku solusi biar hatiku tenang."


"Bagaimana, Aku tidak bisa memberikan solusi apapun kalau kamu jujur pasti hancur kalau kamu simpan jadi beban kalau kamu biarkan juga lama lama ketahuan, sudahlah kamu pulang dulu jangan sampai Vanesa pulang kamu tidak ada di Rumah. besok aku kasih tau sekarang biar Aku pikirkan.


"Kau mengusir ku,"


"Iya, ini sudah malam pergilah besok Aku berikan solusi nya " dengan malas Rendra akhinya pergi dari Rumah dokter Bambang dan kembali melajukan mobil menuju ke Rumah nya dengan hati tak tenang.

__ADS_1


__ADS_2