
Rendra tertegun melihat sikap Vanesa yang sedang marah padanya hatinya begitu kalut dan bingung tidak bisa digambarkan perasaan yang kini sedang berkecamuk dalam hatinya hingga Rendra jatuh terduduk di sofa kemudian Rendra menundukkan kepala sambil memegangi kepalanya.
"Semua gara-gara gadis manja itu apa dia tidak bisa menahan diri untuk sejenak mengerti perasaanku sedikit Kek, Tidak hanya mementingkan perasaannya Sendiri Saja sekarang sudah jadi begini aku harus berbuat apa Aku tidak mungkin Jika aku meminta Vanesa agar memaafkanku Vanesa itu keras kepala meskipun dia sangat lembut dalam segala hal tapi kepribadiannya dan prinsipnya sangat tegas,
Araaagh...!
"Pyaar...!"Vas bunga yang berada di atas meja menjadi sasaran dari kemarahan Rendra.
Eva yang merasa sudah menang karena telah mampu membuat Vanesa jatuh dan terluka sangat dalam tersenyum puaas di dalam kamarnya hatinya merasa sangat senang dan bahagia sehingga tanpa sadar Eva menari dan berputar-putar di dalam kamarnya.
" Akhirnya mimpiku akan menjadi nyata, akhirnya aku akan bisa memiliki Mas Rendra seutuhnya dan Mbak Nesa akan pergi dari rumah ini secepatnya Kasihan sekali nasibmu tapi apa boleh buat aku tidak mau menjadi istri kedua, Aku mau yang pertama dan yang terakhir jadi mau tidak mau Mbak Nesa harus pergi, dia bisa mencari siapapun yang dia mau dan aku akan hidup bahagia dengan seorang dokter tampan dan kaya sangat beruntung sekali diriku ini, "lirik Eva dalam hati yang mana kini menikmati rasa kebahagiaan dan kemenangannya sambil menari-nari dan berputar-putar di dalam kamarnya.
ketika Eva sedang bersenang-senang dan merayakan kebahagiaan dirinya sendiri tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dengan kasar dan belum sempat Eva menyadari tiba-tiba sebuah tangan menariknya dengan sangat kasar keluar dari dalam kamar membuat Eva benar-benar terkejut dan mendelik seketika
"Mbak Nesa apaan kamu ini, apa kamu sudah gila jangan menarikku sakit tahu, "ucap Eva mengeluh atas perbuatan Vanesa yang datang dengan tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya kemudian langsung menarik tangannya dan membawanya keluar kamar dengan cara menarik paksa untuk kembali masuk ke dalam kamar Vanesa dan setelah sampai di dalam kamar nya dengan gerakan cepat didorongnya tubuh Eva jatuh ke atas Ranjang nya.
"Bruuugh...! Awh ringis Eva yang sebenarnya tidak sakit karena jatuh diatas kasur akan tetapi rasa terkejut yang bukan kepalang yang tidak bisa Eva pahami mengapa kakaknya Vanesa masih juga mengejarnya, sedangkan semuanya sudah sangat jelas, Eva bangkit dari terjatuh nya di atas Ranjang sambil tersenyum sinis.
Berdiri dengan tegak dan menantaang kakaknya yang berdiri tepat di hadapan nya.
" Mau apa lagi membawa ku kesini, bukan kah semua sudah jelas, atau Mbak Nesa ingin mengajukan perdamaian ingin memintaku menjadi Madu yang baik untukmu,"
"Eva...! begini caramu menghargai Aku sebagai kakakmu, Apa kamu tidak sadar kamu sudah menyakiti Aku kakakmu sendiri, mengapa kamu tega berbuat hina dan rendah seperti ini mengapa kamu tega menghancurkan Rumah tangga Mbak, Apa kamu tidak punya perasaan, apa tidak ada laki-laki lain yang bisa kau jadikan Suamimu mengapa harus Suamiku? "teriak Vanesa dengan suara yang lantang.
"Karena Aku mencintai Mas Rendra, "seru Eva dengan nada tinggi yang mana langsung membuat darah Vanesa Naik hingga mendaratkan tamparan yang keras pada pipi Eva.
"Plaaakk..! tega kamu sama kakakmu sendiri, kau benar-benar brengsek Va, "
"Plaaakkk..! Eva yang tidak Terima di tamparpun akhirnya membalas tamparan Kakaknya.
" Jangan berani berani menamparku lagi, Apa kau bilang tadi Kakak.. Hahaha Kakak dari mana Woi, anak pungut kamu itu hanya seorang anak pungut yang kebetulan di sauh oleh Ayahku, seharusnya kamu sadar diri sudah tidak bisa membalas Budi, belagu lagi, coba pikirkan jika Ayahku tidak menemukan mu saat itu sudah pasti kamu sudah mati saat ini, " teriak Eva yang tidak mau lagi mengalah ataupun diam emosinya benar-benar telah ikut terbakar.
Sementara Vanesa tertegun atas apa yang telah Eva ucapkan, tubuhnya bergetar hebat sungguh dia tidak pernah menyangka sejauh itu, dirinya hanyalah Anak pungut, dirinya hanyalah seorang Anak yang terbuang.
Melihat kakaknya diam karena Syok, Eva tersenyum miring, senyum penuh kemenangan dengan sangat sombong penuh dengan keangkuhan Eva berjalan mendekati Kakaknya Vanesa.
"Apa kamu tidak percaya, jika tidak percaya pergi bertanya lah pada Ayah dan Ibu tanyakan apakah apa yang Aku katakan itu benar atau salah, dan sebaiknya kamu mundur kakakku yang cantik kamu tidak pantas menjadi Istri dari Mas Rendra, lebih baik sekarang cepat kamu kemasi barangmu dan pergilah dari sini, Anak pungut tidak berhak tinggal di Rumah mewah seperti ini, lagi pula Mas Rendra itu sudah bosan dengan tubuh jelekmu, makanya dia meminta Aku untuk selalu melayaninya karena Aku lebih mampu memuuaskannya dari pada kamu, tapi jika kamu masih mau tinggal disini boleh saja Aku tidak keberatan,"ucap Eva yang kini posisinya benar-benar berada diatas angin sehingga dia dengan sangat lancaang dan tenang menepuk nepuk pundak Kakaknya.
Sementara Vanesa menahan emosi nya yang hendak meledak ledak dengan mengepalkan kedua tangan nya dengan kuat.
__ADS_1
EVa yang menyadari itu tersenyum miring.
"Aku tidak mau menjadi istri kedua disini Aku tidak sudih berbagi Suami dengan Anak punggut seperti mu, Aku akan minta suamiku untuk segera menceraikan mu, silakan berkemas Aku pergi dulu, " Ucap Eva sambil melenggang melangkah menuju pintu untuk keluar dari dalam kamar Vanesa.
Akan terapi ketika Eva hendak menyentuh Handel pintu suara Vanesa menghentikan langkah kakinya.
"Tunggu..! "
Hal itu membuat Eva menghentikan langkah kakinya kemudian menoleh kebelakang dengan senyum miring tersungging di bibinya.
"Ada apa lagi, Aku tidak mau bernegosiasi dengan keputusan ku apapun yang akan kamu minta dan katakan Aku tetap akan meminta Mas Rendra untuk menceraikan mu, paham, "
Kini Vanesa menanggapi ucapan Eva dengan senyuman dingin.
"Tenang saja, Aku tidak akan bernegosiasi dengan mu, Aku tidak akan meminta agar Mas Rendra tidak menceraikan Aku tapi dengan satu syarat jika kamu benar-benar hamil, Aku yakin gadis liciik seperti mu pasti memiliki bayak cara untuk mendapatkan semua yang di inginkan, untuk itu Aku butuh bukti jika kamu benar-benar hamil anak dari Mas Rendra."
"Deg..! sejenak Eva dibuat terkejut dengan perkataan kakaknya, dia bingung harus dapat bukti dari mana dan kemudian terlintas dalam pikiran nya, Eva akan menyuap seorang Dokter agar mau memberikan bukti kalau dia hamil pasti dengan uang semua akan beres. " gumam Eva dalam hati.
Dengan senyum tersungging di bibir Eva menatap tajam kakaknya.
"Tenang saja besok Aku akan berikan bukti itu kepada mu, sekarang Aku capek mau beristirahat, " seru Eva yang hendak kembali membuka pintu yang mana lagi-lagi tangannya ditahan Vanesa.
"Apalagi lepaskan Aku, besok Aku akan berikan bukti itu, "
Vanesa tersenyum miring.
"Deg..! serasa jantung Eva tiba-tiba berhenti mendadak, kerongkongan tiba-tiba terasa kering hingga Eva berkali-kali harus meneguk ludahnya, tubunya mulai bergetar dan di pelipis wajahnya mulai mengeluarkan buliran keringat.
" Jangan gila kamu Mbak, itu tidak mungkin besok saja pasti kuberikan bukti itu kepadamu, "seru Eva yang lagi-lagi berusaha pergi dari dalam kamar Vanesa, akan tetapi lagi-lagi tertahan dengan tangan Vanesa yang masih menggenggamnya dengan kuat.
" Kenapa? kamu takut ketahuan jika kamu sebenarnya berbohong, "
"Ciih, siapa yang takut, Aku tidak takut karena Aku benar cuma ngak bisa karena tidak ada dokter kandungan disini besok kita pergi bersama ke Dokter kandungan biar kamu tau jika Aku itu benar-benar hamil dan ingat saat bukti itu ada Mbak Nesa harus pergi dari Rumah ini bagaimana? "
"Setuju, Aku setuju Aku akan pergi dari sini jikt kamu benar-benar hamil anak dari Mas Rendra. "
"Ya sudah lepaskan Aku kita tunggu besok kita perlu bersama biar kamu tau Aku tidak bohong."
Vanesa tersenyum miring.
__ADS_1
"Ini..!cepat masuk ke dalam kamar mandi sana tes kehamilan kamu dengan alat ini, "
"Deg..! bagaikan makan ikan yang dirinya nyangkut di tenggorokan Eva mendelik tak percaya jika ternyata kakaknya menyimpan alat tes kehamilan juga, Wajah Eva semakin pias dan pucat.
" Ayo... ambil dan lakukan tes sekarang juga, tunggu apa lagi bukankah kamu ingin Aku segera pergi dari tempat ini, cepat besok Aku akan pergi jika alat ini menunjukkan jika kamu benar-benar hamil. "Dengan tangan bergetar Eva menerima alat tes kehamilan kemudian melangkah dengan lesu masuk kedalam kamar mandi.
Vanesa yang melihat langkah adiknya yang tidak bersemangat membuat dirinya yakin jika Eva cuma berbohong jika sedang hamil.
Di dalam kamar mandi EVa benar-benar merasa kalut dan bingung.
" Bagaimana ini, mana mungkin alat ini akan menunjukkan kalau Aku sedang hamil, kan Aku cuma berbohong dan mampuus lah Aku karena hari ini Aku akan ketahuan jika sedang berbohong. "
Eva mondar-mandir di dalam ksmar mandi dengan kebingungan yang hebat, sementara dari luar terdengar suara teriakan dari Vanesa kakaknya.
"Va, jangan lama-lama ya? "
"Iya-ya, sabar, " geram Eva kesal.
"Oh Tuhan bagaimana ini mana mungkin Aku hamil dan mana mungkin alat tes kehamilan ini bisa menunjukkan kalau Aku hamil, apa yang harus Aku lakukan, Oh Tuhan tolong Aku sekali ini berikan keajaiban mu, biar Aku bisa hamil, mungkin harus baca Bismillah dulu siapa tau alat tesnya error terus menunjukkan garis dia Aku coba Ah. "
Dengan sedikit was-was dan ragu-ragu Eva mulai melakukan tes kehamilan, karena Eva berharap ada keajaiban maka tak lupa Eva membaca Bismillah ketika melakukan alat tes kehamilan.
Setelah menunggu beberapa menit kini tiba saatnya Eva melihat hasil dari alat tes kehamilan nya, karena masih berharap mendapatkan keajaiban Eva yang kala itu memilih merem sebelum membuka kedua bola matanya untuk melihat hasil dari alat tes kehamilan yang dia gunakan, kembali Eva mengucapkan kalimat Bismillah kemudian dengan perlahan lahan Eva membuka kedua bola matanya.
Ketika Eva melihat hasil yang dia dapat Eva mengumpat kesal.
"Sial, sudah baca Bismillah hasilnya mana tetap saja Negatif, percuma saja pakai Bismillah Tuhan itu tidak akan bisa bantu huuuf, menyebalkan, " dengan kasar Eva membuang bukti alat tes kehamilan di tong sampah yang ada di dalam kamar mandi.
"Kluutik, " Eva mendengus dengan kesal pasalnya alat tes kehamilan tidak jatuh masuk ke dalam tong sampah padahal jarak lempar cuma setengah meter dan yang lebih menjengkelkan tangan Eva tanpa sengaja justru menjatuhkan satu botol shampo yang ada di dalam kamar mandi.
"Hiiiii, ada-ada saja pakai jatuh juga napa ini benda, apa dia tidak tau kalau aku lagi bingung, huufp, males amat, sudahlah ketahuan ngak masalah peduli, " lirih Eva bermonolog sendiri."
"Tok... Tok... Tok...!
" Vanesa, lama amat cepat keluar, "
"Haiisss, itu lagi Nenek sihir ngak sabaran amat sih, " keluh Eva dalam hati.
"Iya, sabar, Nanti juga keluar sabar dikit Napa? " jawab Eva dengan berteriak yang mana mulai memunggut botol sammpo yang terjatuh dan hendak dikembalikan ke tempat asal mula.
__ADS_1
Sungguh hsl aneh terjadi ketika Eva memunggut satu botol shampoo yang terjatuh kemudian mengambil alat tes kehamilan yang hasilnya Negatif di samping tong sampah yang terbuat dari alumunium, Tiba-tiba kedua bola mata Eva melihat ada alat tes kehamilan yang terjatuh dekat dengan alat tes kehamilan milik nya dan ketika Eva memunggut alat tes kehamilan itu kedua bola matanya mendelik seketika.
"Positif..! ini alat tes kehamilan milik siapa, kenapa Aku bodoh sudah pasti ini milik Mbak Nesa si anak punggut itu, pantas saja dia tidak mau melepas Mas Rendra ternyata dia hamil, ckckckck, kasian ternyata dewa keberuntungan ada padaku Aku bisa menggunakan alat tes ini sebagai bukti jika Aku hamil dan Mbak Nesa akan pergi dari Rumah ini yeees, Maafkan Aku kakakku sayang dalam cinta semua halal, kalu ini Aku yang menang dan kamu bersiaplah menjadi seorang Ibu tanpa Suami, " desis Eva bahagia.