BERBAGI RANJANG DENGAN ADIKKU

BERBAGI RANJANG DENGAN ADIKKU
Bab.21.KEKUATAN SOTO


__ADS_3

Rendra sengaja tidak menghandrik Istrinya di tempat umum, karena bagaimanapun juga profesi sebagai seorang Dokter membuat dirinya harus menyimpan dan menahan diri ketika marah di tempat umum, perutnya yang lapar sudah tidak di perdulikan nya lagi, Rendra mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi hingga telpon berdering di ponselnya dia diamkan.


"Dreeeettt..... Dreeeettt..... dreeeeeeettttt...!


"Tit....!"


Rendra langsung mematikan sambungan telponnya.


"Dreeeettt...... Dreeeeet..... Dreeeettt...!


"Brisik mengaggu saja." dengus Rendra yang lagi-lagi mematikan sambungan telpon nya meskipun dia tau Eva yang sedang menghubungi nya.


Sementara Eva semakin di buat gusar dan marah.


"ini suami tidak tanggung jawab banget sih, istri telpon bukannya diangkat justru di matikan, bener bener dah kalau begini terus ogah aku ngelanjutin studyku ngak ada semangat, aku tidak mau Mas Rendra terus terusan cuma berduaan dan sayang sayangan sama Mbak Nesa... lebih baik Minggu depan aku ambil libur dan pergi ke Rumah Suami biar jadi kejutan buat dia, enak saja mau mempermainkan aku."Sungut Eva kesal seraya membanting telpon nya di atas Ranjang.


Sementara Rendra sudah sampai di Rumah dengan wajah yang masih merah padam.


"Ternyata seperti ini kelakuan mu di belakang ku Nesa, kau benar-benar tidak bisa di baikkin,


Araaaaaagggghhhh...! Pyaaaaarrrr..!


gelas yang ada di atas meja akhirnya jadi sasaran kemarahan Rendra.


Bagaikan kapal pecah itulah yang terjadi di dalam Rumah Rendra yang mana semua benda benda yang ada di sana hancur berserakan di atas lantai.


Dengan nafas naik-turun bagaikan irama nada yang sudah tidak teratur Rendra menatap nanar ke arah pintu, menunggu kedatangan Vanesa dengan kemarahan yang membara.


Satu jam kemudian terdengar suara deru mobil berhenti di depan Rumah dengan cepat Rendra segera berlari ke arah jendela dan membuka tirai kelambu yang menjadi penghalang untuk melihat ke bawah.


Semakin mendidih darah Rendra ketika melihat sosok seorang laki-laki berlari kecil memutar untuk membuka kan pintu mobil buat Vanesa.


"Trimakasih," ucap Vanesa ketika pintu mobil sudah di buka untuk nya."


"Aku pamit pulang dulu ya, Nes,! selamat beristirahat."


Vanesa nengaggukan kepalanya sambil Tersenyum kecut kemudian pergi masuk ke dalam Rumah.


Melihat Vanesa sudah berjalan memasuki teras Rumah buru buru Rendra menutup kembali kelambu yang dia buka dan duduk manis di atas sofa.

__ADS_1


Perlahan-lahan terdengar suara pintu di buka, jantung Rendra yang sudah beberapa waktu lalu mendidih semakin menegang.


Vanesa yang tidak menyadari suaminya sudah berada di Rumah dengan santai nya melempar kan tas kecil di atas meja kemudian dengan perlahan lahan menyalakan lampu yang ada di Ruang tamu.


"Cetek...!Deg...!


Jantung Vanesa seolah berhenti berdetak seketika ketika lampu Ruang tamu telah di nyalakan dan melihat sosok Suaminya sudah duduk di sofa dengan bersilang tangan di depan dada.


"Ma-mas... Rendra..!"


"Apa ..? seperti orang yang melihat hantu saja, kamu dari mana?" tanya Rendra dengan suara berat tapi penuh penekanan sangat terlihat jelas jika orang yang ada di depannya berusaha menahan marah.


"A-aku..! aku....! A-aku..!


"Jawab yang benar , kamu dari mana?" bentak Rendra yang mulai tidak bisa mengontrol emosi nya, tubuhnya yang tinggi tegap, Wajahnya yang tampan kini berubah menjadi merah padam dan sangat menakutkan tiba-tiba berdiri dan menangkup rahang dagu Vanesa dengan kuat, Hingga membuat Vanesa meringis kesakitan.


"M-mas...! sakit, lepaskan!"


"Sakit, ya..! bentak Rendra dengan keras.


Dengan tubuh bergetar dan keringat dingin mulai menetes di dahinya Vanesa mengagguk.


Vanesa yang mendengar Suaminya mengatakan dirinya wanita jalaa..ng, dengan sekuat tenaga mendorong tubuh kekar suaminya yang masih menangkup dagunya dengan kuat dan kasar.


Cukup kuat dan bertenaga super mungkin hal itu terjadi karena Vanesa habis makan soto ayam satu porsi penuh sampai tandas makanya tenaganya cukup kuat hingga mampu membuat tangan Rendra terlepas dari dagunya.


Rendra mendelik seketika tak percaya jika istrinya yang biasanya diam saja jika di marahi kini mulai berani melawan.


"Kau..berani melawan ku hah..!"gertak Rendra seraya tangannya hendak menarik Tubuh Vanesa tapi dengan cepat Vsnesa menghidar dan berteriak.


"Stop...di situ Dokter Rendra!" jangan berani beraninya kau melakukan kekerasan padaku, kau pikir aku Wanita apa? sampai kau tuduh aku sebagai Wanita jalaa..ng, apa kau punya bukti nya jika aku wanita jalaa..ng, ada buktinya? mana?" tunjukkan padaku."tantang Vanesa dengan kesal sungguh sakit rasanya di tuduh seperti itu, meskipun di sudut hatinya yang paling dalam hatinya juga ketar ketir dan was-was jika seandainya Rendra Melihat dirinnya bersama dengan keluarga Sky di hotel, dengan terpaksa Vanesa bersikap pura-pura berani tapi sesungguhnya takut setengah mati.


Sangat manjur dan top cer buktinya Rendra yang tadinya marah-marah kini mulai diam tak berkutik.


"Mana buktinya, bukankah seorang Dokter jika mau menuduh orang itu harus memiliki bukti, bahkan untuk mendiagnosa pasien harus memiliki bukti yang akurat agar bisa di percaya, lalu bukti tuduhan mu padaku mana? ada apa tidak..?"Tanya Vanesa yang begitu yakin jika suaminya hanya asal bicara karena tidak mungkin suaminya tau karena suaminya baru juga pulang jadi sangat mustahil jika tau.


Rendra yang syok dan terkejut dengan perubahan sikap dari Vanesa hanya menelan ludahnya dengan kasar, amarahnya yang menggebu-gebu entah mengapa tiba-tiba raip entah kemana.


"Aku melihat nya sendiri." ucap Rendra pelan tapi pasti tidak lagi pakai emosi.

__ADS_1


"Deg...!


Bagaikan tersengat listrik jantung Vanesa seolah olah berhenti mendadak hingga tubuh Ramping nya sedikit terhuyung hingga jatuh terduduk di sofa


"Blek..! bunyi sofa yang malang Karena tubuh Vanesa menimpa nya dengan sangat keras, Rendra yang melihat hal itu mengeryitkan dahinya antara gemas dan kesal.


"Tapi aku tidak melihat mu, bisa jadi kau bohong dan hanya ingin menuduhku, bagaimana kau ada buktinya tidak?"


"Tidak ada."


"Tuh kan! ngak ada, jadi jangan lagi-lagi kau tuduh aku tanpa bukti ok, O, ya, siapa yang buat kacau Ruangan ini kamu kan cepat bersihkan."


"Apa? aku, tidak mau ngapain aku harus membersihkan tidak sudih."


"Itu pasti ulah mu , jadi kamu harus bertanggung jawab untuk membersihkan nya.


"Jangan asal Nuduh mana buktinya kalau kekacauan ini aku yang bikin."


"Buktinya kau ada disini dan aku melihat mu jadi bersihkan aku mau mandi.'


"Enak saja,"


Vanesa langsung melangkah menuju pintu kamarnya tak perduli dengan Rendra yang marah-marah.


"Baik, aku bersihkan semua nya tapi ingat, berapa lama aku membersihkan maka selama itu pula kau harus melayaniku di Ranjang."


"Deg...!


Vanesa langsung menghentikan langkah kakinya yang hendak masuk ke dalam kamar, tenggorokan nya terasa tercekat dia masih ingat betapa suaminya tak pernah puas menyetuh nya bahkan tak perduli sudah lelah yang lebih parah pernah pingsan masih di tungguin, tentu saja Vanesa tidak ingin kejadian buruk itu terulang kembali, dengan cepat Vanesa Kembali ke Ruang tamu.


"Ayo, kita bersihkan bersama-sama."


"Boleh, tapi tetap minta jatahku."


"Iya, tapi cuma satu kali tidak boleh lebih kan ini kita lagi kerja sama."


"Baik, tapi ingat kali ini aku tidak ada bukti dari penghianatan mu, tapi Nanti jika aku sudah mendapatkan buktinya aku akan memberikan hukuman yang pantas padamu camkan itu karena aku tidak main-main."


tegas Rendra dengan suara yang keras.

__ADS_1


__ADS_2