
Dengan ramah Dokter Rendra menyuruh suster Yuni untuk duduk dan menunggu, sementara Dokter Rendra segera menandatangani berkas-berkas yang diminta oleh suster Yuni. Tenang dan tidak curiga itulah yang dirasakan Dokter Rendra, berbeda dengan Dokter Bambang yang sedari tadi menatap suster Yuni dengan tatapan penuh selidik, membuat suster Yuni sedikit gugup hingga tak terasa wajah cantik suster Yuni berkeringat karena sesungguhnya suster Yuni memahami jika Dokter Bambang tatapan matanya sangat jelas menaruh curiga padanya.
Beberapa kali suster Yuni meneguk ludahnya yang tiba-tiba tenggorokan nya serasa kering. setelah beberapa saat menunggu akhirnya Dokter Rendra selesai melakukan tanda tangan yang diminta suster Yuni dan kembali menyerahkan berkas-berkas itu kepada suster Yuni.
"ini sus sudah selesai kau boleh membawanya."
suster Yuni menerima berkas-berkas yang diberikan kepadanya dan dengan cepat seolah-olah sedang terburu-buru, suster Yuni mulai bangkit dari tempat duduknya, kemudian berjalan dengan cepat keluar pintu.
suster Yuni akhirnya bernafas lega karena bisa keluar dari tempat itu tanpa harus mendengarkan pertanyaan yang akan mereka tanyakan.
sementara dokter Bambang setelah kepergian dari suster Yudi menatap tajam pada dokter Rendra
"Kenapa kak terlihat tenang sekali Apakah kamu tidak merasa curiga dengan suster Yuni Bambang kepada dokter Rendra yang mana pertanyaan itu tanggapinya dengan tersenyum.
"apa yang harus aku khawatirkan dan aku takutkan, suster Yuni itu orangnya sangat polos dan kurasa dia tidak mengerti apapun apalagi Mendengar pembicaraan kita," jawab Dokter Rendra dengan percaya diri.
Dokter Bambang menggelengkan kepalanya mendengar perkataan dari dokter Rendra yang begitu percaya diri jika pembicaraan mereka tidak didengar oleh suster Yuni.
"kau benar-benar croboh Dokter Rendra, Aku heran kenapa kamu sama sekali tidak merasa takut sementara Aku sudah sangat takut, Aku yakin sekali suster Yuni itu Mendengar pembicaraan kita dan kamu tahu suster Yuni adalah teman dekat dari suster Vanesa dan dia bisa mengatakannya pada suster Vanesa kamu benar-benar mau cari mati kecuali kamu memang sudah tidak mencintai suster Vanesa dan kamu sudah siap untuk berpisah dengannya,"ucap Dokter Bambang dengan nada tinggi suaranya sangat berat dan penuh penekanan seolah Dia sedang emosi, aneh dan terkesan sangat lucu juga dirinya yang merasa marah sedangkan yang memiliki masalah seperti Dokter Rendra dia tidak marah sama sekali.
Dokter Bambang menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan kemudian mendudukkan bokongnya di atas kursi.
sementara dokter Rendra yang mendapatkan omelan dari dokter Bambang hanya tersenyum kecut.
"Aku bukannya tidak percaya dengan ucapanmu tapi aku berusaha untuk tidak mempercayainya karena jika aku mempercayainya, Aku merasa sangat takut kamu tahu jika aku sangat mencintai Vanessa aku tidak mungkin menceraikannya apalagi berpisah dengannya dan aku pikir ini tidak akan lama karena sebentar lagi Eva juga akan pergi karena aku akan menyuruhnya untuk kembali lagi keluar negeri, Vanesa bilang Eva hanya satu minggu berada di sini," ucap Dokter Rendra menegaskan.
"Terserah kamu sajalah Aku hanya kasihan jika akhirnya kami akan menyesali semuanya, Karena Aku tahu sedalam apa kamu mencintai Vanesa dan aku sangat menyayangkan jika semua itu harus terjadi dan hal itu tidak lepas dari kebodohan mu,"
"kamu tenang saja Dokter Bambang, karena Aku sudah berencana akan segera menceraikan Eva, Aku hanya menunggu satu bulan ini, bagaimana pun juga Aku pernah menidurinya dan Aku khawatir jika dia hamil meskipun waktu itu Aku sudah meminta dia untuk minum obat agar dia tidak hamil.
Dokter Bambang menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan, dia mangut-mangut mendengar cerita dan penjelasan dari Dokter Rendra kemudian dengan perlahan-lahan Dokter Bambang bangkit dari duduknya.
"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu semoga masalahmu cepat selesai dan kamu tidak menyesalinya,"ucap Dokter Bambang yang kemudian melangkah keluar.
setelah kepergian dokter Bambang dokter Endra menjatuhkan tubuhnya di atas kursi sambil mengusap kasar wajahnya.
"Eva kau benar-benar keterlaluan Aku akan minta Vanesa untuk menyuruhmu pergi secepatnya, karena aku sudah sangat lelah dan sangat pusing dengan semua tingkah lakumu yang menjengkelkan,"Gumam Dokter Rendra dalam hati.
di tempat lain Vanesa yang pergi meninggalkan Rumah sakit karena dia mengatakan ada suatu keperluan di luar sudah sampai di tempat yang di tuju.
Setelah melakukan pembayaran kepada sopir taksi Vanesa segera turun dari dalam mobil untuk sesaat Vanesa memandang Rumah besar yang ada di depannya.
Vanesa mulai melangkah mendekati pintu gerbang yang terbuka dan ketika tangan halus Vanesa akan menyentuh bel tiba-tiba pintu Rumah sudah di buka dari dalam.
__ADS_1
"Masuklah Nes, Aku sudah menunggumu dari tadi," seru seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap kepada Vanesa.
"Ada perlu apa kamu kembali menghubungi Aku apa kamu tidak tau Aku masih dalam keadaan bekerja,"
Mendengar perkataan dari Vanesa laki-laki itu terkekeh sebelum kemudian menyerahkan satu gelas teh hangat kepada Vanesa.
"Minumlah biar kamu tidak marah-marah aja."
Vanesa merasa sangat kesal melihat sikap laki-laki di hadapannya yang seolah-olah tidak mau peduli dan hanya ingin menang sendiri.
"Sky..! kamu jangan keterlaluan deh sekarang katakan Apa tujuanmu menyuruhku datang ke sini, karena Aku harus bekerja jadi aku tidak bisa berlama-lama di Rumah ini."
"Santai saja kenapa sih Nes, takut amat lagian Rumah sakit itu juga milik suamimu bukan milik orang lain jadi untuk apa kamu begitu takut.'
Vanesa tersenyum sinis mendengar perkataan dari Sky.
"itu urusanku bukan urusanmu," jawab Vanesa kesal.
"Baiklah jangan marah-marah terus cepat tua kamu Nanti, Aku cuma mau mengatakan agar kamu bisa menemaniku ke bandara besok Karena Mama akan kembali ke luar negeri untuk melanjutkan pengobatan nya."
"Apa, besok, kamu jangan aneh-aneh deh Bagaimana aku bisa minta izin untuk pergi besok, tidak mungkin besok itu Suamiku ulangtahun ganti hari saja."pintar Vanesa pada sky
"Mana bisa Nes, jadwal tiketnya besok kamu bilang saja sama suamimu lagi ngantar teman begitu, penting dan mendadak begitu."
"Enak saja, mana bisa Aku mengabaikan Suamiku dan lebih memperhatikan kepentingan orang."
"Iya tapi sebatas Suami pura-pura"
"Deg....!ucapan Vanesa yang sangat keras tanpa sengaja terdengar seseorang yang kebetulan sedang berjalan hendak ke Ruang tamu, hatinya begitu syok dan tidak pernah menduga bahkan tidak pernah terlintas sedikitpun di dalam benaknya jika wanita yang sudah dianggap sebagai menantu terbaiknya ternyata cuma sekedar menantu pura-pura, tanpa berpikir panjang lagi, orang itu yang tak lain adalah Ayah dari SKy langsung keluar dan menemui Vanesa dan Sky yang sedang berdebat.
"Sky Apakah yang dikatakan Vanesa itu benar?"tanya sang Ayah tiba-tiba yang mana langsung membuat Sky dan Vanesa terkejut.
Sky dan Vanesa yang tidak menyadari kedatangan sang Ayah yang tiba-tiba membuat Sky dan Vanessa saling berpandangan dengan tatapan mata saling penuh tanda tanya.
"Ayah ini bicara apa, bagaimana apakah persiapan untuk terbang besok sudah siap semua."tanya Sky mencoba mengalihkan pembicaraan.
Apa yang dilakukan Sky ternyata dapat di ketahui dan terbaca sang Ayah sehingga Ayah Sky tersenyum sinis sebelum kemudian membentak kedua nya.
"Sky dan kau Vanesa pergi ke Ruangan ku sekarang juga, Aku mau kita selesaikan semuanya hari ini."ucap sang Ayah Sky dengan nada yang begitu berat dan keras.
Vanesa meneguk ludahnya wajah cantik nya terlihat bingung dan gusar begitu juga dengan Sky hatinya begitu hancur dan sedih Sky sudah bisa menduga jika hari ini pernikahan nya yang pura-pura akan berakhir, itu membuat Sky sedih dia tidak bisa lagi membuat alasan apapun agar Vanesa bisa datang menemuinya.
"Kita masuk ayo," ajak Sky dengan hati sedih.
__ADS_1
Tanpa bicara Vanesa menggikuti langkah kaki Sky, sampai di depan pintu kamar Sky dengan perlahan lahan membuka pintu kemudian masuk ke dalam di ikuti Vanesa dari belakang.
Ayah Sky terlihat tegang dan wajahnya terlihat merah padam karena menahan marah.
"Duduk kalian,"seru Ayah Sky memberikan perintah.
Dengan sedikit gugup Sky dan Vanesa duduk berdampingan.
"Sekarang katakan padaku mengapa kalian melakukan ini semua, bisa-bisa nya kalian mempermainkan pernikahan dan apa tadi Ayah dengar, pernikahan pura-pura apa maksud dari semua ini, Aku sebenarya sudah curiga sejak Aku datang ke Rumah ini dan Sky selalu bilang jika Istrinya sibuk dan jarang ada di Rumah, ternyata ini alasannya, kalian hanya melakukan pernikahan pura-pura, hebat kau Sky orang tuamu yang sangat menyayangimu kau bodohi dan kau juga Vanesa Aku heran dengan dirimu sudah bersuami tapi masih menerima diajak melakukan pernikahan pura-pura, apa kau tidak punya harga diri."
"Deg..! bagaikan di sambar petir disiang hari hati Vanesa serasa ditusuk duri, tak terasa Air mata nya mulai luruh, Sky yang melihat hal itu memejamkan kedua bola matanya seolah ikut merasakan betapa sedihnya hati wanita yang ada di sampingnya, kembali terdengar suara dari Ayah Sky.
"Atau jangan-jangan, kau kurang kehangatan sehingga menerima diajak menjadi istri pura-pura
"Ayah, cukup!' jangan lagi bicara apapun Vanesa bukan wanita seperti itu Ayah.
Sang Ayah tersenyum miring.
"Bukan bagaimana, setiap kau minta datang dia selalu datang apalagi yang jadi kemauannya untuk datang kalau tidak karena uang dan kehangatan darimu,"
"Ayah..... sudah cukup, Aku tidak seperti itu Ayah,"lirih Vanesa dengan derai Air mata.
"Stop dan berhenti memanggilku Ayah, kau tak lebih dari wanita jaaalaaanng."
"Ayaaah...! tega sekali Ayah bicara buruk pada Vanesa, Ayah benar-benar keterlaluan,"
"Diam kau Sky...! kau itu laki-laki bodoh, kamu sudah dibutakan perasaan mu sendiri, sehingga kamu tidak bisa melihat mana Wanita baik-baik dan mana yang bukan."
"Ayah yang buta tidak bisa menilai mana wanita yang tulus dan baik dan mana yang bukan."
"Sudah-sudah, Ayah Nesa minta maaf, Maaf kan Nesa Ayah , permisi." setelah mengucapkan itu Vanesa segera berlari keluar, melihat hal itu Sky menampakkan wajah geram kepada sang Ayahnya
"Ayah keterlaluan,"ucap Sky sambil berlari keluar mengejar Vanesa." Nes tunggu..!
Vanesa tidak perduli dengan Teriakan Sky dia terus berlari keluar Rumah, sementara Sky mempercepat larinya kemudian menarik tangan Vanesa hingga dengan satu tarikan tubuh Vanesa jatuh ke dalam pelukan Sky.
"Sky lepaskan Aku,"teriak Vanesa memberontak
"Nes dengar dulu penjelasan ku,"
"Aku tidak mau dengar apapun Aku mau pulang Ayahmu benar Aku bukan wanita baik-baik."
"Nesa dengarkan Aku"
__ADS_1
Vanesa yang sudah sangat kesal akhinya menginjak kaki Sky yang membuat pelukan Sky terlepas dan hal itu digunakan Vanesa untuk berlari dan dengan derai Air mata Vanesa menyetop sebuah taksi yang lewat , Vanesa pergi dengan mengunakan taksi sementara Sky berteriak keras karena amarah yang membuncah di dalam kalbunya.
"Araaaaaagggghhhh.....!dan dengan keras Sky memukul dinding Rumah nya hingga tangannya berdarah.