BERBAGI RANJANG DENGAN ADIKKU

BERBAGI RANJANG DENGAN ADIKKU
Bab.23.KESAL.


__ADS_3

Rendra hanya bisa tertegun menatap punggung istri nya yang berlalu kemudian menghilang di balik pintu.


Pikirannya semakin kalut dan tidak tenang, hatinya rindu ingin bisa berlama-lama dengan sang istri tapi mau mencurahkan rasanya malu, akhirnya binggung Sendiri. Berkali-kali Rendra mengusap wajahnya dengan kasar.


"Nesa, tidak boleh tidur begitu saja, masak jadi istri ngak peka, aku kan sudah satu minggu ngak di kasih masak iya, ngak ngerti juga," Sungut Rendra kesal sambil berlari masuk ke dalam kamar khawatir Vanesa benar-benar sudah tertidur.


Kembali Kedua bola mata Rendra membulat


"Apa-apaan sih. tidur dengan selimut sampai ujung kepala begitu, aku harus bangunin dia enak saja tidur duluan ngak tau aku lagi kangen apa jadi istri ngak peka sama sekali, huuffp...!"


Rendra mulai mengoyang-goyang kan tubuh istrinya.


"Nes, bagun...kamu tidak bisa tidur seenak perutmu tanpa memikirkan aku."crocos Rendra kesal , sedangkan Vanesa yang merasa di ganggu terus istirahat nya, mau tidur nyenyak dan pulas tidak bisa, karena Sang suami yang begitu reseh dan bikin ribut saja.


"Aduh, Mas ngantuk aku jangan ganggu, aku mau tidur." keluh Vanesa sambil menarik selimut nya makin ke atas menutupi tubuh dan telinga nya.


"Sial, ini istri ngak peka amat, Nes Aku lapar bikin makanan cepat."


"lho kan ada Bibik mas tinggal minta padanya, Aku capek mas mau istirahat."


"Nesa...!Bagun atau Aku seret kamu untuk bangun, cepat buatkan makanan untuk ku."


"Iya, dengan perasaan kesal Vanesa akhinya turun dari Ranjang dan berjalan menuju ke dapur, sementara Rendra tersenyum puas bisa membuat Vanesa mengerjakan apa yang disuruhnya.


"Mas, tidak ada Nasi mas mau kubikinkan mie rebus saja."

__ADS_1


"Boleh,"


"Satu apa dua Mas?" Vanesa tau jika suaminya memiliki porsi makan cukup banyak sehingga menawarkan satu atau dua bungkus mie instan yang tersimpan didapur penyimpanan.


"Dua lah biar kenyang dan jangan lupa kasih telor dan sayurnya, meskipun kita makan mie rebus setidaknya porsi gizi tetap ada."Nasehat Rendra pada sang istri, Vanesa hanya mangut mangut Mendengar ceramah dan Nasehat dari suaminya.


Sebenarnya hati Vanesa masih kesal dan malas rasa nya tidak adil jika dirinya yang selalu harus berbuat patuh dan perhatian dengan sang Suami sedangkan suaminya selama satu Minggu entah bagaimana kabarnya ketiika berada di Bali.


Masih terasa segar dalam agan ketika Vanesa menelpon dan menghubungi sang suami dirinya justru mendapat kan bentakan dan cacian, sungguh Vanesa tidak memahami apa yang sebenarnya terjadi dengan suaminya terkadang bersikap manis tapi terkadang juga bersikap sangat dingin dan mengerikan, ternyata tidak selamanya menjadi seorang istri dari seorang Dokter terkenal bahkan memiliki Rumah sakit sendiri itu bahagia, buktinya Vanesa sering sekali di kecewakan.


"Ini Mas, mie nya silahkan di makan." ucap Vanesa seraya meletakan piring di depan sang Suami, kemudian berjalan melangkah pergi.


"Tunggu, kami mau kemana?"


"Mas, mie nya sudah Aku buatkan dan sekarang Aku ngantuk jadi Aku mau tidur lebih dulu."


"Tapi mas."


"Aku bilang duduk kenapa kamu selalu membangkang perintah ku, jangan buat Aku emosi dan tidak berselera makan.


Dengan perasaan kesal akhinya Vanesa menurut apa yang suaminya katakan, meskipun rasanya sangat lelah dan mengantuk, Vanesa benar-benar di buat pusing oleh salah satu pasiennya yang ada di dalam rumah sakit.


"Tadi kamu makan dimana dan dengan siapa?"


"hais ini pertanyaan ataukah kecurigaan, Aku benar-benar tidak mengerti mengapa mas Rendra terlihat begitu membingungkan, terkadang seolah olah menjadi suami yang penuh perhatian tapi terkadang terlihat menjadi seorang monster yang sedang kelaparan dimana dirinya harus memusnahkan apapun dan siapapun yang ada di dekatnya, dua sisi yang yang membingungkan. Aman dan baik-baik saja jika mendapat kan sikap yang penuh perhatian akan tetapi sangat mengerikan apabila sikap seperti monster nya muncul.

__ADS_1


"Kamu makan di mana tadi dan bersama siapa kamu makan," Rendra bertanya dengan menatap tajam wajah istrinya.


"Bersama teman mas,"


Rendra manggut-manggut.


"Seneng ya, tidak ada Aku di Rumah kamu bisa bebas pergi dengan siapapun."sinis Rendra.


"Mas jangan mulai deh, bukannya mas Rendra yang sengaja tidak mengajakku ikut, jadi bukan Aku yang bersenang-senang tapi mas Rendra lah yang sedang bersenang-senang tanpa Aku." Sungut Vanesa kesal, baru juga bertemu beberapa jam sudah mulai ada keributan yang timbul akibat hal sepele entah mengapa Vanesa merasakan perubahan yang aneh pada diri suaminya, kerap marah dan curiga tanpa alasan bahkan terkadang mengaggap benar tuduhan nya, sehingga alasan apapun yang dia katakan tidak ada manfaatnya, semua salah di mata Rendra sang suami yang dulunya sangat baik dan penyayang akan tetapi kini berubah menjadi monster yang setiap saat bisa menerkam.


"Hebat...kau sudah mulai berani membantah ku, inikah pelajaran satu Minggu tanpa Aku dirumah."


"Bukan Aku yang membuat semua jadi begini, semua karena Mas yang selalu bicara...


"Diam kau, bukankah kau juga berani menolak panggilan telepon dariku pasti karena orang lain kan jadi sekarang kamu harus mendapatkan hukuman nya, ikut Aku," Rendra dengan kasar menarik tangan Vanesa masuk kedalam kamar.


"Mas lepaskan, apa yang akan kau lakukan, Aku tidak melakukan apapun."Rendra tersenyum miring.


"Kau tidak melakukan apapun tapi dengan menolak panggilan telepon dariku itu artinya kamu sudah membangkang dan membantah perintah ku, cepat layani Aku."


"Mas, Aku capek dan Aku belum siap."


"Diam kau, mau dengan cara kasar apa dengan halus."tanya Rendra sambil menciuumi tenguk Istrinya, Vanesa diam untuk beberapa saat dan sedetik kemudian timbullah ide.


"Mas, Aku lagi kedatangan tamu," lirih Vaness disela-sela rasa geli yang sedang menyerang nya. Mendengar perkataan Vanesa Rendra terkesiap dan menghentikan aksinya.

__ADS_1


"Sial, ternyata tidak dapat jahat juga padahal Aku sudah bersusah payah pakai Acara mengancam lagi," dengus Rendra kesal yang kemudian melepaskan cengkraman nya pada sang istri sementara Vanesa tersenyum bahagia.


Rendra keluar kamar dengan sedikit membanting pintu karena hasratnya tidak bisa tersalurkan.


__ADS_2