
Sky yang diam-diam memperhatikan wajah cantik yang ada di depannya yang mana terlihat sangat serius menikmati makan yang baru saja di pesannya, Sky menggulum senyum bahagia.
Ingin rasanya dirinya bisa menjadi Suami beneran untuk Vanesa bukan hanya Sekedar Suami pura-pura, tapi dia tidak tau bagaimana caranya sedangkan gadis yang dia sukai sudah bersuami.
"Seharusnya bisa bersama walaupun sesaat, itu saja Aku harus sudah bersyukur," keluh Sky dalam hati.
"Sudah cukup, ayo sekarang cepat antar Aku balik ke Rumah sakit, Aku khawatir Suamiku marah dan mencari ku."ajak Vanesa memecah keheningan yang ada diantara mereka.
"Sebentar,"
Sky melambaikan tangan pada salah satu pelayan Restoran yang mana dengan cepat pelayan itu datang.
Sky mengeluarkan uang dari dalam dompet nya dan. berniat membayar akan tetapi tangan Sky di tepis Vanesa.
"Tidak usah, kali ini biar Aku yang bayar kamu simpan saja uang kamu." ucap Vanesa seraya menyerahkan uang kepada sang pelayan setelah sang pelayan menyebutkan berapa yang harus dia bayar.
Sky melongo melihat tingkah gadis yang ada di depannya.
"Kamu punya uang?"Mendengar pertanyaan dari Sky Vanesa mengeryitkan dahinya.
"Pertanyaan kamu aneh tentu saja Aku punya, justru kamu itu yang ngak punya jadi simpan buat kamu sendiri, kan kamu pengangguran." jawab Vanesa santai, sementara Sky kali ini yang dibuat kaget hingga mulut nya terbuka dan melongo.
"Astaga, jadi selama ini gue dia angap cowok pengangguran yang miskin, pantas saja sama Aku begitu merendahkan." Gumam Sky dalam hati, yang mana kemudian bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman.
"Kamu baru dapat uang dari Suamimu ya?"
Bukannya menjawab Vanesa segera bangkit dari tempat duduknya dan melangkah pergi.
"Ayo cepat kita pergi, ini sudah siang dan Aku sudah telat, Aku tidak mau Suamiku marah karena menunggu lama."tegas Vanesa Kembali memberikan penjelasan.
"iya-iya sabar dong Nes," Sky segera bangkit dari duduknya kemudian berjalan menjajari langkah kaki dari Istrinya, meskipun Vanesa adalah istri pura-puranya.
Sepanjang perjalanan Sky sibuk berpikir bagaimana caranya bisa menghabiskan waktu bersama gadis yang ada di sampingnya sepanjang hari, agar dia bisa dekat dan lebih lama dengan gadis yang sudah sejak lama menjadi idaman hatinya, tapi sayangnya gadis itu tidak sekalipun memahami apa yang selama ini dia rasakan, dia hanya menganggap dirinya sebagai teman baik tidak lebih dari itu, hal itu terlihat dari sikap cuek tapi perhatian dan menyayangi keluarga nya seperti keluarga nya sendiri, buktinya Vanesa tidak bisa menolak permintaan Mamanya untuk menikah dengan nya karena sang Mama sedang sakit, demi bisa membantu kesembuhan sang Mama Vanesa mau menerima Sky sebagai Suaminya tapi dengan syarat Suami pura-pura yang mana hanya di depan sang Mama mereka menjadi sepasang Suami istri.
Masih segar dalam ingatan Sky, Sakit perih dan kecewa ketika orang yang sudah sejak lama dicintai tiba-tiba datang dengan memberikan sebuah surat undangan, hancur itulah yang terjadi kala itu, tidak memiliki semangat hidup bahkan malas untuk melakukan kegiatan apapun.
Rupanya perubahan sikap yang ada pada nya, di ketahui sang Mama yang selalu memanjakan nya, entah bermula dari apa tiba-tiba Mama jatuh sakit dan meminta pada Vanesa sendiri untuk mau menjadi istri nya, tidak tega menolak dan tidak mampu bicara jujur tentang posisi nya saat itu membuat Vanesa melakukan perjanjian dengan Sky agar melakukan pernikahan pura-pura.
__ADS_1
Tak terasa mobil yang membawa Sky dan Vanesa sudah berada di halaman depan Rumah sakit, tanpa bicara Vanesa segera turun dari dalam mobil tapi sebelum Vanesa membuka pintu mobil, tangan Sky sudah menahannya.
"Tunggu...!"Sky menahan tangan Vanesa yang ingin membuka pintu mobil, merasa terganggu dan tidak suka Sky selalu saja mencari kesempatan untuk memegang tangannya.
"Sky lepas, apaan sih, ini sudah siang tauk, Aku benar-benar sudah sangat terlambat nih, "
"Cuma sebentar kok Nes," dengan cepat sky menggeluarkan Card.
"Ini untukmu, kamu boleh gunakan sesukamu,"
"Astaga Sky, Aku ngak kurang uang lagi sudah simpan itu untuk calon isttimu kelak dan ingat jangan bikin lama-lama Aku terbelenggu dengan pernikahan pura-pura kita, secepatnya kita harus bisa Jujur pada Mama mu."
"Gilaa, apa kamu mau Mamaku mati mendadak ngak bisa seperti itu Nes,"
"Ngak mau tau, pokoknya Aku mau pernikahan pura-pura ini cepat kita akhiri ini sangat berbahaya bagikku kalau Suamiku tau bagaimana Nasibku, Aku bisa di ceraikan dan di depak langsung dari Rumah apa kamu ngak memikirkan itu."tanya Vanesa berapi-api hatinya benar-benar kesal menghadapi satu cowok yang sudah sejak lama menjadi temannya.
"Memang itu yang Aku tunggu dan Aku mau," Gumam Sky dalam hati dia tidak berani' bicara keras khawatir jika Vanesa akan semakin kesal bisa-bisa membenci dirinya itu yang tidak ingin Sky alami.
Untuk sesaat Sky meneguk ludahnya.
"Jangan khawatir dia tidak akan tau, ambillah Aku akan senang jika kamu mau menerima nya."ucap Sky penuh harap.
Sky menatap kepergian Vanesa dengan hati yang sangat sedih, bagaimana caranya agar kamu tau jika Aku sebenarnya sangat mencintai mu, ah sudahlah mungkin memang Aku harus bisa belajar menerima kenyataan, tapi apa salahnya jika Aku menunggu untuk beberapa bulan lagi siapa tau hati Vanesa bisa berubah mencintai Aku, Araaaaaagggghhhh..bisa gila Aku memikirkan semua ini."
Perlahan-lahan Sky mulai melajukan mobilnya, pergi meninggalkan tempat itu.
Sementara Vanesa yang sudah berada di dalam langsung menuju ke Ruang perawat tempat nya berkumpul dengan para perawat lain, hening dan sepi itulah yang terlihat dari luar sebelum Vanesa membuka pintu rupanya para perawat yang lain sudah mulai melakukan tugasnya, perlahan-lahan Vanesa membuka pintu dan langsung mendudukkan bokongnya di sebuah kursi ketika tidak mendapati siapapun di dalam ruangan itu.
"Dari mana saja kamu, kenapa jam segini baru datang?"
"Deg...! jantung Vanesa serasa berhenti mendadak dia benar-benar tidak menyangka jika di dalam ruangan kecil dimana ruangan itu khusus untuk membuat minuman baik itu kopi maupun sekedar membuat makanan instan bagi para perawat yang tidak mau menikmati makannya di luar, mereka bisa masak mie rebus atau sekedar membuat secangkir kopi hangat untuk menghilangkan kepenatan selagi beristirahat.
Bagaimana melihat monster Vanesa segera bangkit dari tempat duduknya.
"Mas Rendra," lirih Vanesa dengan gugup, merasa tidak di jawab dan ditatap dengan begitu tajam Vanesa meneguk ludahnya dia teringat akan larangan sang suami jika di dalam Rumah sakit harus bisa bersikap profesional, cepat-cepat Vanesa meralat ucapannya.
"Pak Dokter, maaf tadi jalanan macet." ucap Vanesa sambil menundukkan wajahnya.
__ADS_1
Terdengar suara tarikan napas keras, sepertinya Rendra sengaja melakukan itu agar Vanesa mengetahui jika dirinya sedang kesal.
"Aku tidak mau karyawan ku tidak bersikap disiplin pastikan kesalahan ini untuk yang terakhir kali, apa kau mengerti."
"Iya Dok, saya mengerti."jawab Vanesa dengan menundukkan kepalanya.
"Bagus Sekarang cepat kerjakan tugasmu agar kamu bisa cepat selesai dan pulang tidak terlambat."
"Baik Dok,"
"Bagus,"tanpa bicara lagi Dokter Rendra segera melangkah keluar menuju pintu, merasa Suami galaknya sudah pergi Vanesa menarik napas lega seolah olah dia baru terbebas dan bisa baru bernapas.
Belum ada dua menit perasaan lega yang Vanesa nikmat tiba-tiba kembali suara keras dan berat menggema di seluruh Ruangan itu. Ternyata Rendra menghentikan langkah kakinya dan berbalik berteriak kepadanya.
"Parfum siapa yang menempel di lengan kirimu?"
"Deg...! Vanesa segera memutar tubuhnya berbalik mengahadap ke arah Suaminya dan dengan gerakan cepat mencium lengannya sendiri." Sial ini kan bau parfum Sky ngapain sih dia tadi nempel nempel begitu dan bodohnya Aku tadi tidak menyadari."Gumam Vanesa dalam hati.
Karena tidak mendapat kan jawaban kembali Rendra bertanya dengan keras.
"Katakan, parfum siapa yang menempel di lenganmu?"
Dengan susah payah Vanesa tersenyum, apa yang terjadi pada Vanesa lebih menunjukkan senyum terpaksa.
"Itu tadi tidak sengaja Aku kesrempet orang, Aku yang salah sih, karena Aku tidak berhati-hati." jawab Vanesa berbohong.
Rendra menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar.
"Baik, kali ini Aku percaya tapi jika ketahuan kamu berbohong maka kamu akan tau akibatnya, apa kamu mengerti?"tanya Dokter Rendra yang kedua tangannya menangkup kasar wajah Vanesa, dengan suara berat dan penuh penekanan Rendra membisikkan sesuatu di telinga Vanesa.
"Aku akan buat kamu tidak bisa turun dari Ranjang jika sampai kamu berani macam-macam di belakang ku,"sinis Rendra seraya melepaskan tangannya yang menangkup wajah Vanesa.
Mendengar ancaman dari Suaminya Vanesa merasa bergidik dia tidak bisa membayangkan kebrutalan sang suami Ketika emosi di atas Ranjang, Rendra tidak akan memberikan ampun sedikit pun padanya, meskipun gerakan nya tidak lah kasar tapi tetap saja kalau berkali-kali bikin lemas tenaga.
Vanesa mengagguk lirih sebagai jawaban, yang mana membuat hati Rendra senang kemudian pergi setelah Vanesa memberikan jawaban.
Vanesa baru benar-benar bisa bernapas lega setelah suaminya pergi.
__ADS_1
"Semua gara-gara Sky kamu bikin Aku bermasalah saja, Aku harus cepat mengakhiri semuanya Aku harus bisa menjauh dari Sky perduli dengan Mamanya, mau sakit kek mau mati kek Aku tidak mau perduli lagi, Aku tidak mau jadi boneka mainan Rendra di Ranjang benar-benar dokter Aneh masak ngak ada puasanya sih, dia pikir Aku robot apa enak sih enak tapi kalau berkali-kali habis tenagaku."Vanesa mendengus kesal sambil mondar mandir berpikir bagaimana caranya menjauh dari Sky.