BERBAGI RANJANG DENGAN ADIKKU

BERBAGI RANJANG DENGAN ADIKKU
Bab.31 APES


__ADS_3

Dengan sangat cepat dan teliti Rendra segera mengerjakan semua tugas-tugas nya hari ini, Rendra berinisiatif juga akan memberikan kejutan yang istimewa untuk sang Istri.


"Aku akan mengajaknya makan di luar dan bermalam di hotel pasti dia suka sekarang tidak ada lagi alasan Aku untuk menyakitinya semua sudah impas dan kini saatnya Aku hidup tenang dan bahagia dengan nya."lirih Rendra dengan bibir tersenyum.


Di sisi lain Vanesa yang pergi berbelanja dengan diantar sopir pribadi Pak Mamat sudah sampai di tempat yang di tuju dimana suasana yang ada di mall kala itu sangat ramai.


Vanesa turun dari dalam mobil, memandang lurus ke depan dimana banyak muda-mudi bergandengan tangan ataupun beberapa keluarga kecil datang bersama untuk berbelanja, sejenak Vanesa meneguk ludahnya, di dalam hatinya yang paling dalam terdapat rasa iri yang tiba-tiba hadir dalam kalbunya.


Ada perasaan sedikit sedih dan kecewa pasalnya dirinnya hanya datang seorang diri tanpa ada seseorang yang menemani, serasa sepi dan canggung, karena tidak ada orang yang bisa diajak bicara.


Untuk sesaat Vanesa hanya diam termangu tanpa berniat melangkah tapi sedetik kemudian.


"Tidak masalah sendiri, setelah Aku membeli apa yang Aku butuhkan, Aku bisa cepat pergi." hibur Vanesa dalam hati yang mana kemudian memtuskan untuk masuk ke dalam mall.


Karena melamun dan berjalan dengan pikiran kosong Vanesa berjalan tanpa melihat depan sehingga tanpa sadar dirinya menabrak seorang anak kecil yang sedang mengendong mainan barunya.


"Bruuugh...!" suara benda jatuh yang mana langsung membuat sang pemilik menangis meraung raung, hal itu terjadi karena Vanesa tidak sengaja menabrak anak kecil laki-laki yang sedang memegang mainannya yang baru saja di ambil dan hendak di bawa ke tempat kasir untuk melakukan pembayaran.


Sontak saja hal itu membuat Orang tua sang Anak marah-marah bahkan memaki-maki Vanesa, karena memang telah melakukan salah Vanesa meminta maaf dan berjanji akan menganti mainan sang anak laki-laki kecil itu, akan tetapi dengan sangat kasar dan keras orang tua sang Anak tetap tidak mau terima bahkan tawaran untuk tiga kali lipat dari kerugian yang mereka Alami tidak sedikit pun membuat mereka mau memaafkan Vanesa begitu saja.

__ADS_1


Mereka mau melaporkan dan membawa urusan tabrak menabrak kantor polisi, sontak saja Vanesa terkejut dengan keinginan orang tua si anak yang mana hanya menjatuhkan mainkan putra mereka Vanesa harus berurusan dengan pihak keamanan, apalagi jika anak laki-laki itu sampai jatuh mungkin Vanesa akan dimasukkan ke dalam jeruji besi.


"Maaf, Bu. saya tidak sengaja dan kurasa saya hanya menjatuhkan mainannya apakah harus masalah sepele ini melibatkan polisi?" tata Vanesa dengan mimik wajah penuh penyesalan.


"Tentu saja agar wanita seperti dirimu tidak seenaknya saja Nabrak orang, Aku tau kamu bukan cuma nabrak putraku tapi kamu juga Nabrak suamiku,"


Mendengar perkataan wanita itu kedua bola mata Vanesa membulat seketika.


"Maaf saya tidak mengerti apa maksud ibu, saya tidak merasa menabrak Suami IBu bukankah Suami ibu juga masih berdiri tegak di samping Ibu," tanya Vanesa sedikit geli pasalnya Vanesa mulai berpikir jika ibu dari Anak yang dia tabrak sedang mengalami satu gangguan menntal sehingga ucapannya begitu ngelantur, Vanesa menjadi memaklumi jika dirinya yang cuma menjatuhkan mainan harus sampai dibawa ke kantor polisi hal itu di karena kan sang pelapor Ibu dari anak itu punya kelainaan sakit jiwaa.


Dengan berkacak pinggang wanita itu mulai berteriak sehingga suara kerasnya mengundang beberapa pengunjung Mall berhenti untuk melihat pertikaian mereka.


"Astaga, ibu ini ngomong apa ya? kok aku jadi Bingung mana pernah Aku mengoda menatap suaminya, duh kok jadi ribet begini, ini sih masalah nya yang paling Aku tidak suka ke Mall kalau sendiri begini nih, selalu dituduh trus Aku harus bagaimana?' keluh Vanesa dalam hati yang mana menjadi gusar dengan menggigit bibir bawahnya.


"Ayo cepat kita selesaikan di kantor polisi" seru wanita yang sedikit gemuk," karena Vanesa diam saja wanita yang tidak sabaran itu langsung menarik tangan Vanesa dan mengajaknya untuk keluar, Vanesa sdikit terkejut tapi tidak bisa berbuat apa-apa, sehingga berjalan menggikuti Wanita gemuk yang membawanya.


"Tunggu, mau anda bawa kemana calon istri saya?"


Tiba-tiba dari belakang terdengar sebuah suara teriakan yang mana langsung membuat langkah kaki Vanesa dan Wanita gemuk yang sedang membawanya menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke arah belakang.

__ADS_1


"Siapa kau?'teriak wanita gemuk yang masih memegang tangan Vanesa dengan erat, hingga Vanesa merasa sedikit sakit karena tangannya serasa dikunci wanita gemuk itu.


Vanesa yang kala itu juga menoleh kebelakang terkejut bukan kepalang ketika mengetahui siapa laki-laki yang ada di depannya, bahkan berani mengatakan jika dirinya itu adalah Calon istrinya.


"Bara..! ngapain dia disini dan mau apa dia ngaku ngaku Aku sebagai calon istri nya itu anak benar-benar sudah kurang sehat, padahal kemarin saat keluar dari Rumah sakit kelihatan nya sudah sehat ini kok jadi kayak sakit lagi, ada-ada saja ini anak." gumam Vanesa dalam hati.


Dengan tenang dan dengan senyum tersungging di bibir Bara mendekati wanita bertubuh gemuk dan dengan santai langsung melepas gengaman tangan wanita yang mencengkram erat tangan Vanesa yang kecil, sebenarya Vanesa tidak bertubuh kecil tapi jika dibandingkan dengan wanita yang ada di depannya sungguh bagaikan mobil truk sama sedan kan yang sedan jadi seperti triplek dan jika di cengkram dengan sangat erat pasti meninggalkan rasa sakit meskipun tidak terlalu.


Tidak menunggu lama cengkraman tangan wanita bertubuh gemuk pun lepas.


"Jangan pegang pegang tangan Calon istri saya dan jangan menyalahkan Suami anda yang terpanah melihat Calon istri saya yang Cantik, seharusnya anda introspeksi diri jangan terlalu banyak makan agar badan IBu tidak melar sebegini besar, jadi jangan salahkan laki-laki melihat wanita lain kalau mau Suami melihat Ibu terus percantik diri IBu jangan banyak makan dan ini, apa-apaan belanja serba makanan, anak juga masih kecil begitu, itu pasti porsi makan Ibu sendiri dan Suami IBu itu cukup baik tidak melarang, tapi sekali lagi buat Badan Ibu yang seperti bola berjalan berubah lah biar bisa disayang Suami dan untuk putra ibu yang mainannya dijatuhkan calon istri saya, ini, ambil uang ini kurasa sudah cukup untuk bisa Menganti mainan anak iBu yang rusak, bahkan bisa beli mainan yang lebih mahal, sekarang biarkan kami pergi, ayo sayang kita pergi," ajak Bara dengan menggandeng tangan Vanesa menjauh dari tempat itu


Vanesa yang tidak menyangka jika Bara pasien yang selama ini sangat menyebalkan dirinnya berani memegang tangannya membulatkan kedua bola matanya seketika.


"Bara..!lepas, apaan sih pegang-pegang tangan segala."geram Vanesa berusaha melepaskan genggaman tangannya dari tangan Bara.


"Diam dan ikuti," lirih Bara dengan suara tenang.


Tidak ada pilihan lain selain Vanesa menggikuti perkataan Bara dimana dia harus melewati beberapa orang yang menjadi penonton saat Vanesa dimarahi habis-habisan oleh wanita bertubuh gemuk tadi. Apes itulah yang ada dalam pemikiran Vanesa ketika dirinya tersandung masalah.

__ADS_1


__ADS_2