
Dengan diiringi hembusan angin yang dingin serta suara kicauan burung yang bersahut-sahutan serta matahari yang mulai menampakkan sinarnya dengan malu-malu, Dari ufuk timur, Vanesa bangun lebih awal Dia turun dari ranjangnya dan melihat Rendra masih tertidur dengan sangat pulas sambil memeluk guling, Ingin rasanya Vanesa memberikan kecupan ucapan selamat pagi kepada sang suami yang sangat dia cintai, akan tetapi ingatan kemesraan sang Adik dan sang suami membuat Vanesa merasa muak dan benci, meskipun apa yang dilihat dan di duganya belum tentu benar.
Dengan cepat Vanesa melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi, di bawah guyuran air shower Vanesa menumpahkan segala rasa kesal marah dan sakit hati yang bercampur menjadi satu di dalam hatinya hingga tak terasa luruh lah Air matanya, sungguh tak bisa Vanesa bayangkan seandainya apa yang menjadi perkataan Bara dan juga penglihatan matanya adalah Benar.
bermenit-menit Vanesa mengguyur tubuhnya di bawah guyuran air shower yang mana pikiran dan hatinya masih sangat kalut hingga tak terasa Vanesa hampir menghabiskan waktu 1 jam lebih di dalam kamar mandi yang mana tak kunjung keluar.
Rendra yang kala itu terbangun dari tidurnya sedikit terkejut ketika tidak mendapati istrinya Vanesa di sampingnya.
dengan perasaan panik dan takut Rendra segera turun dari tempat tidur dan berteriak.
"Nesa ! " kemana dia A-apa dia pergi meninggalkan Aku, tidak ini tidak boleh terjadi.
"Nesa...! Vanesa.. kamu dimana? " Rendra berlari kesana kemari langsung keluar kamar berteriak memanggil manggil Vanesa.
Eva yang kala itu tertidur dengan pulas merasa terganggu dan berisik dengan suara Rendra yang berteriak-teriak memanggil Vanesa hingga membuat Eva keluar dari dalam kamarnya, yang kemudian langsung menghampiri suaminya dan bertanya,
"Mas, Kamu itu kenapa pagi-pagi sudah berteriak seperti orang kesetanan,"
"Apa kamu melihat Vanesa. Apa kamu tahu di mana Vanesa, "tanya Rendra.
" Mas ini gimana sih, Mbak Nesa kan ngak pulang, Mas Rendra ngigau tuh, ah ngantuk Aku mau tidur dulu, "cicit Eva yang langsung masuk kedalam kamar nya sementara Rendra termangu dengan ucapan Eva.
" Mengigau, benarkah semalam Aku hanya menggigau, "gumam Rendra dalam hati yang mana dirinya kini langsung masuk kedalam kamar untuk meneriksa semuanya, apakah yang dikatakan Eva barusan adalah benar.
Dengan langkah cepat Rendra langsung masuk ke dalam kamar dan melihat keatas Ranjang.
Rapi tidak ada bekas selimut yang dipakai Vanesa, guling yang semalam dia pelukpun tidak ada itu artinya Apa yang dikatakan Eva adalah benar dirinya cuma nenggigau, Rendra terduduk dengan lemas dan lesu.
Hari ini rasanya malas mau pergi kerja, Rendra duduk sambil memegangi kepalanya, perasaan sedih kecewa semua bercampur menjadi satu.
"Ternyata semalam Aku cuma bermimpi, " lirih Rendra sambil tersenyum kecut, sangat terlihat jelas ada rasa kecewa disana. " Tapi mengapa mimpi itu seperti nyata, Aku belum ditinggalkan sudah seperti mau gilaa bagaimana Nanti jika Vanesa benar-benar mengetahui hubungan ku dengan Adiknya, apa Aku sanggup Aku tidak bisa membayangkan itu, Aku harus secepatnya membawa Eva pergi menjauh, Aku tidak mau mendapatkan resiko dari semua ini, " gumam Rendra yang terus bermonolog sendiri.
Ketika Rendra sibuk dengan pemikiran nya sendiri tiba-tiba dirinya dikejutkan dengan suara pintu kamar mandi yang terbuka, sontak saja dengan gerakan reflek Rendra menoleh ke arah pintu kamar mandi dan ketika melihat siapa yang muncul dari balik pintu kamar mandi Rendra tidak bisa menyembunyikan rasa suka citanya, dengan cepat dihampiri nya dan langsung dipeluk nya sosok yang baru muncul dari dalam kamar mandi yang tidak lain adalah Vanesa, hingga membuat Vanesa yang kala itu baru keluar sedikit terkejut dan gelagapan.
__ADS_1
"Mas lepas apa-apaan sih kamu, "
"Ternyata Aku ngak mimpi Nes, kamu semalam beneran ada dan tidur di samping ku, " crocos Rendra senang.
"Bau, mandi sana. "seru Vanesa menepis tangan Rendra yang memeluknya.
"Iya, kamu tunggu Aku. Nanti kita berangkat bareng ya, "
Vanesa tidak menjawab pertanyaan Suaminya dia langsung keluar dari dalam kamar menuju ke dapur sementara Rendra langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Vanesa melihat Ruangan begitu sepi mungkin Eva masih tidur, ingin membuat makanan terasa malas mau makan Roti untuk sarapan pagi pun juga malas entah mengapa rasanya tidak berselera, akhirnya vanesa memutuskan untuk pergi dari dapur tapi lagi-lagi Vanesa dikejutkan dengan suaminya yang tiba-tiba sudah berada di dapur.
"Nes, kamu mau kemana, kita kan belum makan, "
"Aku malas makan di rumah, "
"Oh mau makan diluar ya, Ayo. "
"Aku mau sendiri tidak perlu juga ditemani bukan kah dulu Mas juga malas menemani Aku, tumben hari ini mau menemani tidak usahlah mas. "
" Lagi mau sarapan ya, mau makan apa nih, " tanya Eva yang tiba-tiba muncul dan langsung nylonong ke dapur memotong pembicaraan Rendra dengan cepat.
Vanesa segera menoleh ke arah Eva yang baru saja datang dengan senyum mengembang dibibir, entah mengapa hati Vanesa sedikit sesak melihat semua itu.
"Aku permisi dulu kalian bikin saja sarapan pagi, "ucap Vanesa seraya pergi dari tempat itu.
"Nes, tunggu..!Rendra berlari mengejar sedangkan Vanesa mulai muak dengan semuanya dengan cepat menyambar tas dan baju dinas kerjanya kemudian pergi keluar Rumah.
Rendra yang belum rapi karena habis mandi langsung ke dapur tanpa memperdulikan dirinya yang masih acak-acakan langsung ikut berlari keluar Rumah mengejar istrinya.
" Nesa tunggu, "seru Rendra dengan langkah cepat nya berhasil menyambar tangan Vanesa.
" Kenapa buru-buru Aku kan belum siap, "
__ADS_1
"Lepas Mas, Aku berangkat dulu Mas bisa berangkat Nanti, Aku Naik taksi saja kok. "
"Tapi, Nes, "
"Sudah lah kita ketemu di Rumah sakit saja. "
Rendra terdiam dia bener-bener khawatir jika ternyata dugaan nya benar jika Vanesa sudah menciuun bau perselingkuhan nya.
Tanpa bisa memaksa akhirnya Rendra membiarkan istrinya berangkat lebih dulu, Rendra yang kalut langsung masuk ke dalam Rumah dan mencari keberadaan Eva.
"Eva...! teriak Rendra mencari dimana keberadaan Eva.
Sedangkan Eva yang mendengar teriakan dari Rendra sedikit terkejut karena Rendra memanggilnya dengan keras bahkan sudah berada di dalam kamar nya.
"Mas Rendra ada apa teriak-teriak begini, kalau Mbak Nesa dengar dia bisa curiga lho, "
"Sekarang saja Nesa sudah curiga, sekarang cepat kemasin barangmu kamu pindah, Aku akan berikan kamu satu Rumah cepat lah. "
"Tidak mau! Aku mau disini saja. "
"Kau jangan buat Aku bermasalah lebih parah Vanesa sudah curiga sekarang tdak ada alasan apapun cepat kemasin barangmu. "
"Mas apa kamu tega Aku sedang hamil anakmu juga ini, "
"Baiklah, sekalian kita priksa ke dokter tentang kesehatan bayimu, "
"Deg..! gimana ini kok jadinya Mas Rendra mau memeriksakan Aku kalau sampai diperikirakan pasti Mas Rendra tau kalau Aku sedang bohong dan dia akan mencampakkan Aku bagaimana ini, " keluh Eva bermonolog sendiri.
"Aduh Mas kepalaku tiba-tiba pusing kayanya bayi di dalam kandungan ku tidak mau di bawa kemana-mana Aku istirahat dulu Mas, pusing sekali. "
"Kalau begitu kita kedokter, "
"Ngak mau- ngak mau sejak kecil Aku takut dengan Dokter jadi biarkan Aku disini, Mas beri Aku waktu satu minggu lagi, biar janin di dalam perutku tumbuh di dekat papanya. "
__ADS_1
Rendra menarik napas kesal dan mengacak Rambut nya,
" Satu minggu berarti dalam satu minggu juga istrinya akan bersikap dingin padanya, Araaagh, menyebabkan tapi mau bagaimana lagi terpaksa Rendra memberikan kesempatan pada Eva untuk tinggal satu minggu lagi di Rumah dan dalam satu minggu Rendra akan memberikan ekstra perhatian pada Vanesa agar istrinya tidak terlalu curiga paling tidak untuk satu minggu kedepan.