
Tidak terasa buliran bening lolos dari sudut kelopak mata Vanessa yang kala itu menatap perutnya sambil membelai lembut dengan penuh kasih sayang.
"Anak pintar jangan marah sama Mama ya, bukan maksud Mama Mau memisahkan kalian berdua akan tetapi keadaan lah yang tidak bisa diajak bersahabat Percayalah Nak, Suatu Hari Nanti kamu pasti bisa bersama dan bertemu dengan Papa kandungmu, Karena Mama sangat yakin meskipun papamu tidak mencintai Mama lagi akan tetapi Mama yakin dia akan sangat menyayangimu. "liriih Vanessa sambil sengusap sudut matanya yang basah.
Di Kediaman Rendra di sebuah Ruangan kamar kerjanya yang sengaja Rendra matikan lampunya, Rendra terduduk di pojok dinding, tak henti hentinya buliran bening lolos dari sudut kelopak matanya yang basah.
Wajahnya yang tampan menjadi kusut dengan Rambut yang acak acakan, beberapa telpon masuk dia abaikan.
Hancur, Suram dan hambar inilah kehidupan yang sedang menyambut hari harinya, penyesalan yang dalam dan kesepian hati akan segera menghampiri, andai dirinya bukan seorang Dokter, bukan seseorang yang menjadi panutan dan dipandang banyak orang mungkin hari ini dirinya sudah berada di sebuah bar dengan berbotol-botol minuman yang akan menemani kesedihannya seperti yang dilakukan beberapa temannya yang lain.
Rendra tidak mampu melakukan hal itu karena image sebagai seorang dokter membuatnya harus bisa tetap berpikir waras meskipun hati dan perasaannya benar-benar hancur lebur tak bersisa.
Tidak ada rasa sakit yang paling menyakitkan selain rasa kehilangan orang yang kita cintai terlebih orang yang kita cintai sedang mengandung anak dari darah daging kita , tersenyum dan berusaha ikhlas mungkin itulah yang akan membuat dirinya tenang hari ini mungkin dia tidak akan bisa bertemu dan memeluk buah hatinya akan tetapi dia yakin suatu hari nanti dia pasti bisa memeluk dan memberikan kasih sayang kepada sang buah hati, penderiraan batin yang mulai datang, penyesalan yang kini tinggalah sebuah penyesalan yang entah sampai Japan luka ini akan bisa terobati.
Rendra bangkit berdiri meraih sebuah foto yang terpanjang di Ruang meja kerjanya yang mana iTu adalah Foto Vanessa, mendekap erat erat foto iTu, seolah olah dirinnya sedang memeluk istrinya.
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu Nesa, Aku tau Aku banyak salah dan menyakitimu, Aku tidak bisa membuatmu kembali padaku tapi Aku berjanji padamu sampai kapanpun Aku akan selalu menanti dan menunggu kepulanganmu pintu Rumah ini akan selalu terbuka untukmu. "lirih Rendra yang kemudian tertidur dalam keadaan terduduk di dinding Ruangan sambil mendekap foto istrinya.
Di luar ruangan tampak seorang pemuda baru masuk dengan tergesa-gesa sambil sesekali berteriak-teriak.
" Ren... Rendra kamu di mana? " suara teriakan yang tak lain dari Robi akan tetapi tidak mendapatkan jawaban dari siapapun rumah terlihat sangat legam di mana kelihatannya seluruh penghuni rumah sedang tertidur karena waktu itu sudah menjelang sore di mana Semua orang pasti akan tidur siang di dalam kamarnya masing-masing.
Robi yang berteriak-teriak sedikit terkejut ketika pintu rumah dibuka dari luar sontak saja Robby segera menoleh ke arah pintu.
"Oh, rupanya baru keluar rumah Pantas aja rumah terlihat sepi, " gumam Robi yang kemudian duduk menunggu Seseorang yang membuka pintu itu masuk.
Tidak lama kemudian pintupun terbuka dan tampaklah sosok Wanita paruh baya muncul dengan tergesa gesa sepertinya dia sedang kebingungan.
Robi yang mengetahui jika wanita paruh baya itu adalah Mbok Yem segera menghampiri karena wanita tua itu terlihat sedikit syok dan tergesa-gesa sekali terlebih tidak melihat Rendra di belakangnya.
"Mbok Ada apa? " kenapa Wajahmu terlihat begitu tegang. "
"Den Robi, Den Rendra mana...?" Mbok yem bertanya dengan wajah gugup, sangat terlihat jelas jika dia sedang cemascemas, Robi yang tidak mengerti apapun menggelengkan kepalannya.
"Aku juga baru datang mencari Rendra mbok, tapi dari tadi Aku panggil dia tidak keluar apa jangan jangan Rendra tidak Ada di Rumah! "
"Bisa jadi itu Den, padahal ini sangat penting, coba Den Robi telpon Den Rendra sekarang. "
"Ok, sebentar Mbok, "
Robi segera menekan nomor telepon Rendra tidak lama kemudian telepon pun berdering, sudah menunggu hampir Limabelas menit telpon masih belum diangkat.
"Tumben Rendra tidak segera mengangkat telponnya, "
"Tunggu Den, kenapa suara dering telpon di dalam kamar kerja Den Rendra berbunyi, apa jangan jangan Den Rendra Ada di dalam Ruang kerjanya, '
" Bisa jadi Mbok, ayo kita lihat. "
bergegas Robi dan Mbok yem pergi ke arah kamar ruang kerja Rendra yang mana terdengar sayup-sayup suara ponsel Rendra sedang berbunyi di sana.
"Benar Mbok suara ponselnya terdengar jelas di dalam Ayo, kita masuk, " Mbok yem yang berjalan mengikuti di belakangnya hanya mengangguk.
__ADS_1
"Pintunya di kunci Mbok, "
"Sebentar Den saya ambilkan kunci Cadangan nya, " bergegas Mbok Yem menuju ke sebuah tempat penyimpanan kunci cadangan dari semua kamar dan ruangan yang ada di rumah itu, Tak lama kemudian Mbak Yum sudah kembali dengan membawa Satu kunci di tangannya.
"Ini Den, "
"Trimakasih, Mbok, " Robi segera membuka pintu kamar kerja Rendra Tak lama kemudian pintu kamar pun terbuka terlihatlah ruangan yang begitu gelap Robi tidak melihat Apapun akan tetapi lebih bisa melihat dan mendengar kerlip dari cahaya ponsel hp yang berbunyi yang mana ponsel hp itu berada di atas meja ruang kerja Rendra.
"Ini ponselnya disini lalu Rendra kemana? "
"Tunggu Den, Mbok nyalain dulu lampu kamarnya, disini gelap, "
"Ok, Mbok hati hati. "
Mbok Yem, segera menyalakan lampu yang ada di dalam ruangan itu ketika lampu sudah menyala Robi dan Mbok Yem sangat terkejut ketika melihat Rendra tertidur dalam keadaan yang aneh di mana Rendra tidur di lantai kaki bersedeku sambil mendekap sebuah foto di tangannya.
"Rendra..! Ren bagun ngapain lo tidur disini, ketiduran begitukah, " Crocos Robi sambil mendekati Rendra dan menguncang tubuhnya, sementara Mbok yem menatap dengan tatapan iba dan bingung karena tidak biasanya Tuan nya begitu.
"Apa jangan jangan Den Rendra tau kalau Non Nesa hilang setelah pergi dari Rumah yang dia kontrak, Pasti pelakor itu sudah bicara dan mengatakan pada Den Rendra, " pikir Mbok yem dalam hati.
Rendra yang di guncang tubuhnya mulai membuka kedua bola matanya dan mulai menatap Robi dengan tatapan mata kosong.
"Ada apa?
" Ren, lo, Aneh kenapa tidur disini? "
Seolah baru tersadar dari lamunannya Rendra melihat dan menatap ke sekeliling kemudian menyunggingkan sebuah senyuman akan Tetapi terlihat sangat hambar dan tatapan matanya begitu kosong seakan tidak ada cahaya kehidupan di dalamnya.
Rendra menggelengkan kepalanya.
"Kamu Ada apa kesini, "
"Den, Apa Den Rendra sudah tau kalau Non Vanesa pergi dari kontrakannya? "
"Aku, tau Mbok, "
"Kalau Den Rendra tau kenapa tidak segera mencari Non Nesa? "
"Nesa berada di Rumah sakit tapi Aku tidak tau berada di Rumah sakit mana? "
"Oh, jadi pelakor itu sudah ngasih Den Rendra kabar, "
Robi dan Rendra saling berpandangan kemudian keduanya sama-sama bertanya dengan kalimat yang sama pada Mbok Yem.
"Pelakor..!
" Pelakor..! Maksud Mbok yem apa? "
Mbok Yem yang menyadari kesalahannya bicara karena telah lancang memanggil istri ke dua Rendra dengan pelakor segera menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
"Maaf Den, maksud saya Non Eva. "ucap Mbok yem meralat kesalahannya bicara.
__ADS_1
Rendra mengeryitkan dahinya tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Mbok Yem.
" Memangnya Eva tau apa jika Vanessa pergi dari kontrakan Rumah nya. "
"Ya, pasti tau Den, lha wong sebelum Non Eva datang Non Nesa masih di dalam Rumah kontrakan, "
"Tunggu... tunggu..tadi lo bilang Vanessa di Rumah sakit apakah kamu juga di kasih tau Eva? "
"Tidak lah, Rob. Aku di telpon orang lain yang menyelamatkan Nesa katanya Vanessa habis dikejar para penjahat yang hendak melecehkan dirinya."
"Astagfirullah, benarkah itu Den Rendra pantas saja Aku cari tidak ketemu, "
"Maksud Mbok yem, bagaimana? "
"Saya ngikutin Taksi yang membawa Non Nesa pergi karena saya tertidur akhirnya saya tidak mengetahui dengan pasti dan kehilangan jejak Ketika saya turun dari mobil dan mungkin karena Non Nesa sudah di bawa para penjahat itu yang membuat saya tidak menemukannya.
"Jadi perginya Nesa dari Rumah kontrakan Eva tau dan jangan jangan Eva.... Kalian tunggu disini, "
"Kamu mau kemana Ren? "
"Sudah jangan banyak tanya, kamu bersiap siap saja menerima perintah dariku jangan jauh jauh dari telponmu,
Setelah mengucapkan itu Rendra segera pergi meninggalkan ruangan kerja di mana yang tadinya Rendra sangat frustasi kesal dan sedih tiba-tiba bergerak dengan sangat cepat langsung berlari menuju kamar Eva, yang mana Di dalam pemikiran Rendra Eva pasti mengerti dan mengetahui tentang semua kejadian yang menimpa Vanessa.
"Eva...Jangan sampai apa yang Aku pikirkan benar karena jika kamu terbukti terlibat dalam hal ini kamu akan tau Akibatnya. " geram Rendra yang dengan kasar berteriak dan Membuka pintu kamar Eva.
Eva tidak mendengarkan teriakan dan seruan Rendra dikarenakan ternyata Eva sedang berada di dalam kamar mandi sedang mandi.
Rendra sangat kecewa karena tidak bisa langsung bertemu dengan Eva karena Eva berada di dalam kamar mandi akhirnya dengan perasaan kesal Rendra mendudukkan bokongnya di tepi ranjang tiba-tiba kedua bola mata Rendra melihat ponsel hp Eva yang berada di atas arkas dengan cepat Rendra mengambil ponsel hp Eva kemudian mulai membuka dan mencari tahu Adakah hal aneh di dalam ponsel hp-nya.
Rendra sedikit terkejut ketika mendapati satu pesan yang meminta Segera ditransfer uang dengan jumlah nominal yang cukup banyak dengan cepat.
Tidak menunggu lama Rendra segera menghubungi nomor telepon yang memberikan pesan tersebut tidak lama kemudian terdengar suara dari sebrang.
Karena tidak mau dan tidak ingin Eva mengetahui jika dirinya sedang menelpon seseorang yang ada di ponsel hp-nya dengan segera Rendra membawa ponsel hp Eva keluar kamar di tempat yang cukup sunyi Rendra mulai mendengarkan suara dari seseorang yang dia telepon.
"Boss, cepat Transfer uang nya sekarang juga, semua sudah beres wanita itu sudah kami lenyapkan."ucap suara dari sebrang yang mana langsung membuat darah Rendra mendidih.
Rendra adalah seorang dokter yang cukup cerdik dan pintar meskipun dalam kemarahan dia tidak akan melakukan sesuatu dengan sangat gegabah terlebih hal itu menyangkut sesuatu yang sangat penting untuk itu karena ponsel hp yang dipanggil bos adalah Eva dan Rendra tidak ingin sang penelpon Curiga dengan cepat Rendra mematikan sambungan telepon kemudian dengan cepat mengirimkan satu pesan pada si penelpon Dengan mengatakan.
"Maaf, tadi sinyalnya buruk, Aku akan transfer segera uangnya tapi hanya setengahnya saja karena yang setengah lagi Aku ingin memberikan secara cash secara langsung, tunggu kedatanganku di taman XX.. sekarang juga."
setelah Rendra mengirimkan pesan Tak lama kemudian Rendra mendapatkan balasan pesan dari sang penelpon.
"Siap Boss, beres..!
Rendra tersenyum miring setelah pesan dari sang penelpon dia baca kemudian dengan cepat Rendra mengirimkan pesan melalui ponsel hp-nya kepada Robi, Rendra meminta Robi untuk datang ke taman xx dengan membawa beberapa polisi yang mana Rendra memerintahkan kepada Robi jika menemui beberapa orang di situ maka Rendra meminta agar polisi menahannya.
Robi tidak paham dengan maksud Rendra mencoba untuk bertanya akan tetapi Rendra tidak mau menjawab hal itu Rendra hanya menegaskan lakukan tugasmu dengan baik jika kau ingin tahu nanti kau akan mengerti sendiri sekarang lakukan tugasmu akhirnya Robi tidak membantah lagi dan segera pergi meninggalkan rumah Rendra Atmaja pergi ke tempat di mana Rendra Sudah menentukan tempatnya bersama dengan beberapa polisi.
"Kau benar benar sudah kelewatan dan melewati batasanmu Va, kali ini Aku tidak akan lagi membiarkanmu lolos begitu saja, kamu harus bertanggung jawab atas perbuatanmu. "sinis Rendra dalam hati yang mana kini dia duduk di Ruang tamu sambil bersilng kaki.
__ADS_1