
Eva mengepalkan kedua tangannya dan menghentakkan di atas meja, hingga meja itu berbunyi sangat keras.
"Braaakkk...! bunyi yang sangat keras akan tetapi tidak membuat Rendra yang berada di dalam Ruang tamu terganggu, bahkan untuk peduli atau memperdulikan suara yang terdengar di dapur, Rendra tersenyum miring hatinya sangat senang hari ini, karena dia sudah bisa membuat Eva tidak bisa lagi memerintah dan bersikap sesuka hati kepada nya apalagi disertai ancaman dan mengancam.
sementara Eva yang merasa kesal dan marah di dapur mengumpat habis-habisan dengan suara lirih.
"kurang ajar sekali hari ini Mas Rendra padaku, rupanya dia sudah berani memerintah ku, kali ini kau bisa menang dariku karena Aku akan membalas semua yang kamu lakukan padaku, Aku tidak akan menerima kau perlakukan begini, Aku tidak akan terima semua ini, lihat saja sebentar lagi Mbak Nesa yang akan meninggalkan kamu Mas dan akhirnya pergi dari Rumah ini, Aku lebih mengenal dia daripada dirimu Mas dan bagiku sangat mudah membuat Mbak Nesa pergi darimu kamu jangan main-main padaku jangan bangga dan sombong, hanya karena sudah ada benih yang kau tanam kau berani menerintahku, kau tidak tau siapa diriku, kau tidak mengenal Aku, perlu kamu tau Aku bisa melakukan apa saja demi mencapai semua keinginanku, Aku mencintaimu dan tidak akan pernah Aku melepaskan mu, kamu hanya akan menj, milikku, kita lihat saja siapa yang akan keluar menjadi pemenang nya dalam permainan ini." desis Eva dengan wajah merah padam dan juga dengan kedua tangan yang masih mengepal, bibirnya terus berkomat kamit terus ngedumel dan marah-marah meskipun kini tangannya sibuk menyiapkan satu piring makanan berserta lauknya untuk dia berikan kepada Vanesa kakaknya yang mana jika hal itu tidak Eva lakukan Rendra bisa menggusirnya dari Rumah ini.
Setelah semua makanan yang diambil sudah dinilai cukup Eva segera melangkah pergi ke dalam kamar Rendra yang mana di dalam kamar itu Vanesa sedang tertidur seperti apa yang dikatakan Rendra.
Dengan perlahan-lahan Eva mulai membuka pintu kamar Rendra dan Vanesa kala itu kamar terlihat sepi dan rapi tidak terlihat berantakan seperti yang dibayangkan, tidak lama kemudian muncullah dari dalam kamar mandi kakaknya yang sudah selesai melakukan ritual mandi dengan rambut yang juga basah hal itu membuat Eva semakin kesal dan marah akan tetapi Eva sembunyikan di dalam hati, mencoba untuk tenang dan baik-baik saja meskipun di dalam hatinya terasa tercabik-cabik, meskipun Eva tau Vanesa adalah istri pertama dari Rendra suaminya akan tetapi Eva tidak ingin dan tidak bisa rela jika Rendra bersama dengan kakaknya.
"Eva..! sejak kapan kamu disini?"
Dengan senyum zang sangat terpaksa Eva mendekati kakaknya.
"Wah, Kak Nesa harum sekali dan terlihat sangat segar, ini lho Aku bawakan makan malam kan Mbak Nesa tidak makan di luar katanya Mas Rendra suami Mbak Nesa itu bilang Mbak itu kecapekan jadi makan di dalam kamar saja katanya.
"Ngak usah repot-repot lah Va, tapi trimakasih sudah membawanya kesini."
"Kalau begitu Eva pergi dulu mbak,"
Vanesa mengagguk sebagai tanda mengijinkan Eva pergi akan tetapi ketika Eva hendak meraih handle pintu Vanesa berseru kecil sehingga Eva menghentikan gerakan tangannya yang ingin membuka pintu.
"Va, tunggu!"
"Iya, Mbak ada apa?"tanya Eva yang mana dia langsung membalikkan badannya dan menunggu kakaknya bicara.
"Apakah hari Rabu besok kamu terbangnya?"
"Deg..! tidak pernah Eva duga jika ternyata kakaknya mempertanyakan tentang kepergiannya, Eva meneguk ludahnya beberapa kali yang entah mengapa kerongkongan nya terasa kering.
Eva berusaha tersenyum manis meskipun rasa di dalam hatinya sangat sakit dan kesal karena secara tidak langsung kakaknya sudah meminta dirinya untuk pergi.
"Kelihatan nya Aku tunda Mbak, Aku ambil cuti satu bulan."
Vanesa mengeryitkan dahinya kemudian melangkah mendekati sang Adik.
__ADS_1
"Lho, kok ambil cuti satu bulan sih kan kamu bisa tertinggal mata pelajaran Nanti."
"Kak, kepalaku pusing mikirin pelajaran terus Aku berniat untuk istirahat sejenak capek Mbak, apa Mbak ngak suka Aku disini atau Mbak Nesa merasa terganggu jika Aku berada disini, Aku memang sangat merepotkan mu mbak, Aku minta maaf jika Mbak Nesa keberatan Aku akan mencari tempat untuk kontrakan saja."ucap Eva berpura-pura mencari simpati.
"Satu bulan, istirahat dua Minggu kan itu juga sudah cukup Va, kenapa ambil satu bulan Nanti terbengkalai semua lho dan kamu bisa lupa semua mata pelajaran nya."
"Mbak, ngak usah deh bilang tentang lupa semua pelajaran, Mbak bilang saja terus terang kalau Mbak Nesa keberatan Aku disini bilang saja terus terang begitu jadi Aku bisa cari tempat lain dan ingat Mbak Nesa ambil semua perhiasan Aku itu jumlahnya lumayan banyak dan klo buat kontrak rumah itu sudah cukup." sinis Eva yang mulai kesal.
Vanesa meneguk ludahnya dengan kasar.
"Bukan begitu Va, pendidikan mu itu lebih penting dari pada yang lain."
"Halah Mbak, ngak usah sok perhatian deh, bilang saja tadinya mbak Nesa mau mengusirku tapi tidak bisa akhinya bertanya kapan Aku terbang."
"Bukan begitu Va..!"
"Sudah, sekarang Mbak Nesa bilang Aku boleh tinggal disini sesuka ku atau tidak karena kalau tidak, Aku akan pergi mencari kontrakan diluar sana,"seru Eva kesal." Kalau sampai Aku keluar dari Rumah ini akan Aku pasti kan Mas Rendra yang akan menemaniku dan kamu akan tinggal sendirian karena Aku tidak akan pernah melepaskan Mas Rendra untuk mu."gumam Eva dalam hati.
"Tentu saja boleh Va, masa tega Aku nyuruh kamu buat cari kontrakan."
"Apa itu benar Mbak?'
"Kita akan mulai peperangan ini Mbak, Aku akan buat kamu pergi jauh dari sini karena Aku tidak sudih berbagi cinta, Mas Rendra harus menjadi milikku seutuhnya." Gumam Eva bermonolog sendiri dalam hati.
Sementara Vanesa tersenyum bahagia dengan lembut dibelainya rambut sang Adik.
" Smoga yang menjadi selingkuhan Suamiku bukan dirimu Dek, Aku sangat menyayangi mu." Gumam Vanesa dalam hati.
Beberapa menit kemudian kedua nya mulai saling melepaskan pelukannya masing-masing dan tersenyum.
"Sekarang kamu kembalilah ke dalam kamarmu , Mbak makan dulu,"
"Baik, Mbak,"
"O,ya! Va. besok Mbak kembalikan perhiasan kamu, sekarang pergi lah tidur dan beristirahat yang nyenyak."
EVa hanya tersenyum kecut sebelum kemudian pergi keluar kamar, Vanesa meraih makanan yang ada di atas meja kemudian melahap nya tenaganya yang sempat terkuras menbuat Vanesa makan cukup lahap, meskipun tidak semua makanan yang ada diatas piringnya habis.
__ADS_1
Kurang lebih tiga puluh menit Vanesa melakukan ritual makannya kemudian dengan cepat Vanesa pergi kesebuah kotak kecil yang tersusun rapi tempat-tempat obat-obatan disimpan, cukup lama Vanesa berdiri dan mencari sesuatu di tempat itu.
"Dimana obat itu kenapa tidak ada, Aku harus lebih teliti lagi mungkin Aku tidak teliti mencari sehingga belum menemukan nya." gumam Vanesa dalam hati.
Karena sibuk dan konsentrasi mencari Vanesa tidak menyadari kehadiran suaminya yang sudah berdiri tepat dibelakang nya.
"Kamu tidak akan menemukan obat itu Nes, karena Aku sudah membuangnya."seru Rendra dari belakang yang mana membuat Vanesa terkejut dan langsung menoleh ke belakang.
Bibirnya terkatup rapat akan tetapi tatapan mata Vanesa yang tajam sedang bertanya dan mempertanyakan apa yang Rendra maksdkan.
Seolah memahami Rendra mengulum senyum dengan santai kemudian berjalan duduk di kursi yang mana di depannya ada bekas sisa makanan dari istrinya tanpa ragu dan jijiik Rendra memakan sisa makanan yang dimakan Vanesa, sontak saja hal itu membuat Vanesa terkejut dan segera berjalan menghampiri suaminya hendak meraih piring bekas makannya.
"Jangan dimakan itu bekasku,"
"Memangnya kenapa, bekas istri sendiri kan," ucap Rendra santai.
"Mas kamu kan bisa ambil sendiri jangan makan bekas sisa orang."
"Sisa orang bagaimana, ini kan sisa dari istri ku, kamu membuka kotak obat mau cari apa? cari obat KB atau obat-obatan yang bisa menggagalkan pertumbuhan janin, percuma saja kamu cari tidak akan ada Aku sudah membuangnya."
"Apa?"Kok begitu sih Mas, Aku kan tidak mau...
"Hamil, begitu kan yang kamu maksud." ucap Rendra memotong perkataan Vanesa.
"Aku tidak mau hamil, Aku belum siap."
"Aku tidak perduli bahkan jika perlu Aku mau tiap hari bikin bayi biar cepat jadi dan tidak Gagal, apa kamu mau kita bikin lagi,"
"Apaan sih, Aku ngak mau dan awas saja kalau macem-macem," sinis Vanesa yang langsung Naik ke atas Ranjang.
Vanesa buru-buru memejamkan mata nya karena jika sudah tertidur Rendra tidak akan macam-macam, karena Vanesa tau Rendra tidak suka menggaggu orang yang sedang tidur.
Rendra yang melihat tingkah istri nya menggulum senyum.
"Mana tega sih Nes, Aku macem-macem lagi, dengan begini kamu kan jadi cepat beristirahat"gumam Rendra dalam hati yang kemudian ikut Naik ke atas Ranjang untuk beristirahat.
Sedangkan di kamar yang berbeda kamar Eva bagaikan kapal pecah yang mana bantal guling parum dan segala yang ada di meja riasnya pindah kelantai, rupanya Eva sedang marah dan kecewa.
__ADS_1
"Hari ini kalian boleh menang tapi besok Aku yang akan pegang kartu AS nya tunggu saja karena Aku tidak akan Tinggal diam."geram Eva dalam hati