
Dengan cepat Rendra segera menandatangani berkas-berkas yang diminta oleh dokter Bambang salah satu pegawai di rumah sakit yang mana juga teman dari dokter Rendra sehingga keberadaan dari dokter Bambang selain sebagai seorang pegawai juga seorang teman dan partner kerja yang mana dokter Bambang sebenarnya tidak terlalu suka dan menyesalkan perbuatan dari dokter Rendra yang melakukan pernikahan Siri di Bali, akan tetapi sebagai seorang teman dokter Bambang juga tidak bisa seenaknya mencampuri urusan pribadi temannya meskipun di dasar hatinya yang paling dalam sangat kecewa sedih bahkan Andaikan Dia bisa dan mampu membongkar semua rahasia keburukan dari Rendra kepada istrinya.
Bagaimanapun juga Dokter Bambang juga teman baik dari suster Vanesa yang mana suster Vanesa dinilai sangat baik dan ramah bahkan tergolong menjadi istri yang penurut.
Entah apa yang merasuki hati dan pikiran Dokter Rendra kala itu sehingga dia tega menduakan sang istri padahal Jika dilihat istri dari dokter Rendra lebih cantik daripada istri siri yang di nikahnya di Bali.
Dokter Bambang diam dalam menanti berkas-berkas yang sedang di tandatangani oleh Dokter Rendra akan tetapi hatinya sibuk memaki dan mencela kebodohan temannya yang sudah berani main api, karena Dokter Bambang mengetahui cepat atau lambat semua akan segera terbongkar dan jika saat itu tiba , Dokter Bambang pasti kan Rendra akan menjadi gilla karena nya, karena dia tau sebesar cinta nya pada Suster Vanesa dan dia tidak akan sanggup menerima semua kenyataan pahit yang akan menimpanya.
"Dasar Bodoh, " gumam Dokter Bambang mengumpat dalam hati.
" Dokter ini sudah selesai semua, "ucap dokter Rendra pada Dokter Bambang.
" Terima kasih, "ucap dokter Bambang yang kemudian bangkit berdiri lalu melangkah ke arah pintu akan tetapi dokter Rendra segera menghentikan langkah dari dokter Bambang ketika melihat dokter Bambang pergi begitu saja
"Tunggu Dokter!
" Ya, Dokter ada apa? '
"Ck, kenapa sikap mu begini bukan kah kita berteman. "
Dokter Bambang tersenyum kepada Dokter Rendah.
"Aku tidak mengerti maksudmu, dokter ini membicarakan apa, Bukankah saya ke sini cuma mau tanda tangan dan tanda tangan sudah selesai otomatis saya pergi dan melanjutkan bekerja lagi, ini ada apa lagi kenapa dokter menghentikan saya apa ada yang penting, "tanya Dokter Bambang pada Dokter Rendra.
Rendra menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan tampak wajahnya sangat kusut dengan sedikit kasar, Dokter Rendra mengacak rambutnya, Maaf dokter aku merasa kenapa sikapmu berubah padaku bukankah kita berteman, "tanya Dokter Rendra yang akhirnya mengungkapkan isi hatinya bagaimanapun juga dia merasa seperti dikucilkan dan diasingkan teman terlebih sekarang tidak pernah lagi tertawa ataupun bercanda bahkan untuk sekedar ngopi berdua pun tidak pernah Dokter Bambang mengajak dokter Rendra.
dokter Bambang tersenyum kemudian menepuk pundak dari dokter Rendra.
" Itu hanya perasaan Dokter Rendra saja Jangan dipikirkan kita sama-sama sibuk dan Kita sama-sama memiliki tugas untuk itu waktu kita sangat terbatas Jadi aku harap dokter Rendra memaklumi jika akhir-akhir ini kita tidak lagi bisa bersama seperti dulu, "
dokter Hendra menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan perlahan lalu mengulum Senyum Dan mengangguk
" Semoga yang dokter Bambang katakan benar kita memang sama-sama sibuk dan kita memang sama-sama tidak memiliki waktu sehingga kita tidak bisa lagi tertawa dan bercanda seperti semula bukan karena sesuatu hal yang membuat dokter Bambang menghindari dan menjauhiku.
dokter Bambang tersenyum kecut kemudian mengangkat kepala.
" kalau begitu saya permisi dulu dokter, "pamit dokter Bambang kepada dokter Rendra yang kala itu sebenarnya dokter Rendra masih sangat kesal menghadapi sikap dokter Bambang yang seolah-olah menjauhinya Bahkan tidak lagi seperti dulu yang selalu bercanda meskipun di antara mereka ada jenjang Dr Rendra lebih tinggi jabatannya dibandingkan dengan dokter Bambang akan tetapi kali ini dokter Bambang benar-benar sangat jauh, meskipun tidak mengatakan akan tetapi Dokter Rendra dapat merasakan.
Dengan berat hati dokter Rendra
menganggukkan kepala mengizinkan dokter Bambang untuk pergi, setelah kepergian dokter Bambang dari dalam kantor pribadi nya, dokter Rendra mendudukkan bokongnya di kursi. angannya melayang pikirannya juga terlihat sedikit kacau, wajah tampan nya menatap kalender yang ada di depan nya.
Sebuah kalender yang selalu dia ingat dimana dirinya sedang menghitung hari menanti pertumbuhan dari benih yang dia tanam pada istrinya ingin rasanya segera tiga minggu agar cepat mengetahui apakah avanesa hamil atau tidak.
"Ting,"
Sebuah pesan masuk dari ponsel Rendra. Awalnya Rendra mengabaikan pesan itu karena dia berpikir pasti yang sedang mengirim pesan adalah Eva selalu saja Gadis itu yang mengganggunya, terkadang Rendra berharap dia mendapatkan pesan ataupun mendapatkan telepon dari Vanesa tapi kelihatan nya itu sangat tipis, sikap keras kepala dibalik diamnya Vanesa adalah ujian terberat baginya, Vanesa bisa mendiamkan berhari-hari bahkan mungkin berbulan bulan kekesalan dalam hatinya menjadi Raja dihati, tidak dia tunjukkan tapi dia pendam dan dia patri hingga tak kan mampu Rendra meluluhkan nya apabila bukan dari kehendak hati Vanesa sendiri.
__ADS_1
Dendam dalam diam mungkin itulah yang cocok dan pas di smartkan pada diri Vanesa di luar kelihatan baik-baik saja seolah tak pernah terjadi sesuatu apapun yang menyakitkan hatinya akan tetapi diam-diam memiliki dendam dan membalas dendam.
Lihat saja semenjak Rendra berkata kasar dan menolak untuk dihubungi ketika di Bali, Vanesa tidak lagi menghubunginya bahkan pernah menyebalkan telpon darinya tidak dia telpon balik, alasannya lupa dan sibuk, benar-benar menjengkelkan.
Dikala ingin mendapatkan perhatian dan kasih sayang lebih dari istri, Vanesa justru seakan acuh dan menganggap tidak penting.
Memang semua bukan salah Vanesa karena dirinyalah yang memulai, tapi setidaknya jangan lah balas dendam dan setidaknya cukup sekali dua kali tidak manis terhadap nya tapi yang terjadi Vanesa justru membiarkan semuanya bahkan tidak pernah lagi menanyakan sudah makan apa belum komunikasi dengan Vanesa lewat telpon sangat jarang terjadi dan untuk menelpon terlebih dahulu Rendra merasa gengsi, akhirnya memilih menunggu meskipun terkadang yang di tunggu tidak menyadari bahkan bisa satu hari tak ada satu pesan atau satu panggilan pun dari Vanesa, akhirnya beberapa kali Rendra mencari Alasan agar bisa bertemu dengan istrinya.
Berbeda dengan Eva belum ada 10 menit belum ada satu jam sudah telepon sudah kirim pesan semuanya bahkan panggilan telepon pesan dari Eva itu sangat banyak membuat Rendra menjadi bosan dan pusing lebih pusing lagi jika Eva tiba-tiba datang ke Rumah sakit tempat nya bekerja hanya untuk bertemu.
"Huuuuff, andai bukan karena satu tanggungjawab Rendra ingin menghindari semuanya, tapi apa daya ini adalah tanggung jawabnya.
" Ting..! "Lagi-lagi sebuah pesan masuk dan Lagi-lagi Rendra mengabaikan hingga akhirnya ponselnya berdering.
Dengan terpaksa Rendra mengangkat telpon.
" Ada apalagi sih ini Eva, uang sudah di kasih belanja sudah diantar apalagi maunya itu anak, apa dia tidak bisa membiarkan Aku untuk tenang barang sebentar." sungut Rendra kesal yang akhirnya mengangkat telpon dengan kasar tanpa melihat nama si penelpon.
"Hallo..! "
"Brengsek kamu, Aku kirim Pesan sejak tadi kenapa tidak kau buka, juga tidak kau jawab, sia-sia kerja kerasku, " Crocos seorang pemuda dari sebrang.
"Roni, kau? Sory Aku pikir tadi itu, _
Belum selesai Rendra mengucapkan perkataannya tiba-tiba seorang dari sebrang yang bernama Roni sudah memotong pembicaraan.
" Sudah-sudah jangan banyak bicara cepat buka Vidio yang Aku kirim itu dan tugasku sudah selesai ingat transfer uang nya jangan lupa. "
Hatinya begitu berdebar-debar dengan apa yang akan dia lihat. " Kenapa deg-degan begini mau buka Vidio kiriman dari Roni, Kira-kira Bangsa berbuat apa ya disana duh jadi seperti orang takut saja. " gumam Rendra dalam hati.
Roni adalah satu teman Rendra yang sengaja Rendra suruh untuk mendapatkan informasi tentang Bangsa yang Tanpa sengaja Rendra pergoki sedang berpelukan dengan seorang laki-laki yang Rendra tidak kenal dan hal itulah yang membuat Rendra begitu kasar dan dingin pada Vanesa hingga membuat dendam dalam hatinya dengan menghancurkan kehidupan adiknya agar Vanesa bisa merasakan luka yang dia derita.
Perlahan-lahan Rendra mulai membuka pesan dari Roni yang mengirimkan Video kepadanya.
Video berdurasi lima belas menit.
Untuk sesaat Rendra tersenyum dan bernafas lega ternyata dugaannya selama ini salah istrinya tidak pernah berkhianat ataupun berselingkuh, tapi wajah senang Rendra berubah menjadi pucat mana kalau menyadari dirinya lah kini yang sedang berselingkuh bahkan Eva sedang mengandung anaknya.
Berkali-kali Rendra mengusap kasar wajahnya.
"Vanesa tidak boleh tau jika Aku memiliki hubungan dengan Eva, Aku harus segera membawa Eva pergi dari Rumah, apapun yang terjadi Vanesa tidak boleh tau, Aku harus menghubunginya Aku harus memberikan perhatian lebih agar Vanesa tidak curiga, Aku akan menemui nya di ruang perawat pasti dia disana, " bergegas Rendra pergi ke Ruang perawat untuk menemui sang Istri.
Dengan sdikit tergesa-gesa Rendra membuka pintu Ruang perawat dimana di Ruang itu para perawat Rumah sakit menghabiskan waktu untuk bersantai apabila tidak ada tugas.
"Dokter Rendra, " sapa salah satu perawat yang ada di tempat itu.
Dengan tersenyum malu Rendra mengangguk.
__ADS_1
"Apa bisa dipanggil kan Suster Vanesa. "
"Suster Vanesa tidak ada di tempat Dokter, "
"Apa, tidak ada lalu kemana?
"Kata mau menjenguk temannya yang sakit, "
"Oh, begitu baiklah kalau begitu aku permisi dulu,"
"Baik, Dok!
Rendra segera membalikkan badan dan melangkah pergi ada rasa kecewa dan sedih, hatinya begitu sesak istrinya tidak memberi tau jika dia pergi menemui temannya yang sakit.
Sampai di dalam ruangannya Dokter Rendra memejamkan mata setelah mendudukkan bokongnya di kursi.
"Kenapa harus gengsi Aku akan telpon dan Aku akan ajak Vanesa untuk makan siang bersama. "gumam Rendra dalam hati.
Dengan cepat Rendra segera melakukan panggilan telpon. Tidak menunggu lama terdengar suara dari sebrang.
" Halo, Mas. ada apa? "
Bagaikan telpon dengan seorang pacar bibir Rendra sulit untuk bicara hati dan jantung Rendra serasa ingin lepas mendengar suara Vanesa dari sebrang saking senang dan bahagia nya dirinya karena ternyata istrinya setia padanya.
Karena Rendra tidak langsung menjawab Vanesa kembali bicara.
"Maaf Mas, tadi tidak minta izin untuk pergi, Aku tidak lama mungkin pukul tiga siang bisa balik lagi ke Rumah sakit, sampai ketemu Nanti Mas, " ucap Vanesa yang kemudian akan mematikan sambungan telpon darinya, Vanesa merasa Rendra tidak bicara karena marah.
"Tunggu Nes, Ja-jangan kau matikan telpon dulu, bagaimana kalau Nanti kita makan siang diluar bersama apa kamu mau? "
Mendengar Pertayaan sang suami Vanesa tertawa kecil.
"Mas Rendra serius mau menggajaku makan siang? "
"Ya, serius lah, " jawab Rendra sedikit kecewa karena istrinya sendiri menganggap dirinya cuma main main, ada rasa sesak di dalam relung hatinya yang paling dalam ternyata istrinya begitu jauh dan merasa terabaikan sedalam ini, hingga untuk sekedar makan bersama saja diragukan keseriusan nya." Aku berjanji mulai hari ini Aku akan lebih memberikan perhatian padamu Aku sangat mencintai mu Nesa, " lirih Rendra dalam hati.
"Baiklah, Mas kalau begitu sampai ketemu Nanti. "
"Tit.! suara panggilan telepon yang sudah terputus.
" Astaga, sama suami cuma bilang sampai ketemu Nanti ngak ada ciumannya ngak ada kata-kata kangen atau rengekan manja, Vanesa nyebelin banget sih tapi kalau dia hamil pasti akan manja seperti Eva, jadi ngak sabar lihat dia hamil. " gumam Rendra dalam hati sambil tersenyum membayangkan, baru juga Rendra hendak meletakkan ponsel hpnya diatas meja tiba-tiba ponsel Rendra berbunyi lagi, dengan bersemangat Rendra mengaggat panggilan telpon yang diyakini pasti Vanesa telpon lagi tanpa melihat layar ponsel nama si pemangggil.
"Halo sayang, ada yang lupa ya? "tanya Rendra antusias.
" Mas, Nanti temani makan siang ya, Aku tunggu di Restoran Aku kirim alamat nya, "
Seakan ada duri kedondong yang sedang nyangkut di kerongkongan Rendra meneguk kasar ludahnya.
__ADS_1
"Eva, ini kau? "tanya Rendra tak percaya, ada sebersit kekecewaan disana.
"Iya dong sayang siapa lagi, Aku tunggu ya emmuachh, "seru Eva seraya mengakhiri panggilan telpon nya, membuat Rendra mendelik seketika, sampai belum sempat bicara Eva sudah mematikan sambungan telpon, bedanya Eva memberikan ciiuuman jarak jauh sedang Vanesa asal tutup, Rendra tersenyum kecut, " Hari ini Aku ada janji dengan Vanesa jadi untuk hari ini lebih baik Aku tidak datang biarkan saja Eva makan sendiri toh dia tidak akan kekurangan uang untuk bayar menu makanannya. "tekad Rendra pada dirinya sendiri hari ini Rendra benar-benar ingin memulai kisah cinta nya yang beberapa waktu lalu tenggelam Akibat dari sebuah prasangka yang ternyata tidak ada kebenarannya.