BERBAGI RANJANG DENGAN ADIKKU

BERBAGI RANJANG DENGAN ADIKKU
Bab. 105.KHAWATIR


__ADS_3

Rendra yang merasa kesal dan kecewa karena suster Yuni mengatakan jika suster Vanessa negatif itu artinya Vanessa tidak hamil sedangkan dirinya yakin jika Vanessa benar benar sedang hamil, Melangkah dengan cepat keluar dari rumah dengan sedikit membanting pintu membuat Vanesa dan Suster Yuni sedikit terkejut yang mana keduanya langsung saling berpandangan.


"Suster Yuni, maafkan Aku Pasti Mas Rendra akan marah padamu, Aku sangat hafal dengannya dia pasti akan memarahimu dan kamu akan kena masalah karena telah membantuku, Aku minta maaf seharusnya suster Yuni mengatakan terus terang juga tidak apa-apa karena bagaimanapun juga kita tidak bisa berbohong untuk selamanya meskipun Sesungguhnya Aku sangat tidak ingin dia mengetahui tentang keadaanku. "


Bibir suster Yuni mengembangkan sebuah senyuman sambil menggelengkan kepala dengan tangan menepuk bahu suster Vanessa.


" Jangan terlalu formal tidak akan terjadi apa-apa sama diriku, Percayalah dokter Rendra tidak akan pernah berani memarahiku kalau dia memarahi untuk dia sendiri kita Biarkan saja itu urusan dia, karena bagaimanapun juga apa yang terjadi pada kalian saat ini itu adalah kesalahannya juga, jadi Sudah sewajarnya dokter Rendra menerima segala resiko dari apa yang dia perbuat selama ini."


Vanessa tertegun dengan ucapan suster Yuni yang mana seolah-olah suster Yuni sangat mengenal dan mengetahui sesuatu yang lain pada diri dokter Rendra, sedangkan Vanessa sendiri tidak sedikitpun menceritakan tentang keburukan ataupun kejelekan dokter Rendra kepada teman dekatnya, Hal itu membuat Vanessa sedikit berpikir dan bingung dari mana suster Yuni mengetahui tentang semua ini Adakah orang ketiga yang bercerita kepada suster Yuni ataukah. . .


Ketika Vanessa sibuk berpikir dan menerka-nerka segala sesuatu suster Yuni sudah lebih dulu berpamitan untuk pergi.


"Jaga kesehatan kamu dan bayimu Aku pergi dulu sepertinya dokter Hendra sedang emosi, "


Tanpa menunggu jawaban suster Yuni segera melangkah ke pintu Vanessa yang menyadari sahabatnya akan segera pergi segera berjalan sedikit berlari mengejar dan mengantarnya sampai di pintu,


"Trimakasih Sus, kalau ada waktu datanglah dan jengunk Aku, "


suster Juni tersenyum kemudian Melambaikan tangan sebelum kakinya melangkah keluar dari halaman rumah Vanessa.


Vanessa kembali masuk ke dalam rumah dan kembali menyelesaikan tugasnya yang tadinya terhenti karena kedatangan Rendra.


Sementara di luar suster Yuni yang sudah masuk ke dalam mobil dan menutup pintu dengan rapat Rendra segera melajukan kemudi mobilnya.


"Aku akan antar Suster Yuni ke Rumah sakit tapi hari ini tolong sampaikan pada Dokter Bambang jika saya tidak masuk dan minta pada Dokter Bambang untuk menylesaikan segalannya. "


" Apa dokter hari ini tidak akan masuk kantor, "

__ADS_1


Dokter Rendra tersenyum kecut,


"Saya Ada urusan Sus, jadi tidak bisa masuk. "


mendengar perkataan dari dokter Rendra suster Yuni mengulum senyum kemudian Mari nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan.


"Tentu saja kamu akan malas masuk karena hari ini apa yang kamu harapkan tidak bisa kamu raih, andai Aku tidak melihat sendiri perselingkuhanmu Dokter mungkin Aku tidak akan tega membohongimu semua terjadi karena ulah dan perbuatanmu sendiri sungguh aku tidak pernah menyangka jika kamu sungguh sangat-sangat tega dan keterlaluan bahkan waktu itu tanpa sepengetahuan suster Unesa kamu membawanya ke rumah sakit benar-benar licik dan egois dulu disia-siakan setelah mau pergi kebingungan Dasar dokter egois." sungut Suster Yuni yang terus bermonolog sendiri.


Andra yang menoleh sekilas ke arah suster Yuni mengerjakan dahinya.


"Apa suster sudah mengerti apa yang aku minta? "


pertanyaan dokter Rendra yang tiba-tiba membuat suster Yuni sedikit gugup karena suster Yuni sedang melamun dan tidak sedang fokus.


"Eng... iya Dok, saya mengerti. "


dengan cepat suster Yuni menganggukkan kepala kemudian perlahan-lahan tangannya membuka pintu mobil setelah pintu terbuka suster Yuni perlahan-lahan turun kemudian menutup kembali pintu mobil bicara dokter Hendra segera pergi meninggalkan suster Yuni yang mana kepergian dokter Rendra dengan menancap gas yang cukup kencang hingga membuat suster unik sedikit terkejut karena dokter Rendra tanpa bicara apapun segera melesat pergi.


"Dasar Dokter aneh, " sunggut Suster Yuni yang kemudian berjalan masuk me dalam gedung Rumah sakit.


Sementara itu Rendra yang melajukan mobilnya dengan sangat kencang bergegas menambah kecepatannya karena Rendra hari ini ingin segera sampai di dalam Rumah.


karena hari sudah mulai siang membuat jalan raya yang dilewati Rendra tidak begitu ramai sehingga memudahkan Rendra melaju mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga hanya dalam waktu 30 menit Rendra sudah sampai di halaman rumahnya yang megah dan besar.


Setelah menyerahkan kunci mobil kepada salah satu penjaga pintu Rendra bergegas melangkah menuju ke dalam rumah dan dengan menggunakan kunci cadangan Rendra sudah berhasil membuka pintu.


Wajahnya yang Tampan masih sangat mentiratkan kemarahan yang sangat dalam.

__ADS_1


Dengan langkah cepat dan terlihat buru buru Rendra segera masuk ke dalam kamarnya.


Mbok Yemen yang kebetulan melihat Rendra masuk mengeryitkan dahinnya.


"Ada apa dengan Dokter Rendra kenapa wajahnya terlihat sangat dingin dan sangat terlihat sekali jika Dokter Rendra sepertinnya sedang Marah.


" Apakah, hari ini Dokter Rendra sedang mengalami peristiwa buruk, mungkin sedang bertengkar dengan Istri keduannya, sukurin kalo hal itu terjadi dasar Wanita pelakor tidak berperasaan, lhaa bukankah dari dulu itu yang namanya pelakor tidak berperasaan karena yang berperasaan hanyalah wanita baik baik dan tidak mungkin Mau jadi pelakor, " cicit mbok Yem sambil tersenyum sendiri yang mana kemudian melanjutkan kerjanya.


Mbok Yem tidak ingin mengetahui ataupun bertanya pada Sang Donter yang jelas jelas sedang marah.


Mbok Yem hanya berdoa dalam hati smoga Dokter Rendra dan Suster Vanessa Rumah tangganya baik baik saja dan tidak hancur.


Sementara Rendra yang sudah berada di dalam kamar segera masuk kedalam kamar mandi dan menguncinya kemudian berdiri di depan cermin, Wajahnya menegang menatap tajam pada cermin yang Ada di dalam kamar mandi dengan gigi mengatup kuat hingga menimbulkan bunyi suara gemeretak.


"Kamu benar benar keras kepala Nesa, kamu benar benar membuatku marah, Apa kamu pikir Aku akan melepaskanmu begitu saja tidak, apa kau lupa bagaimana Aku menghukummu ketika kamu berani menyakiti hatiku dan sekarang rupanya kau ingin melihat sisi burukku lagi, baik, karena kamu tidak Ada disini maka Adik kesayanganmu yang akan menanggung semuanya dan Aku pastikan kamu ksu akan menyesal. "


"Braaaaakk.... Pyaaarr..! Rendra memukul kaca cermin yang Ada di dalam kamar mandi hingga jatuh dan pecah berkeping keping, darah segar mulai menetes di tangannya rasa sakit dan perih yang tercipta akibat tangannya berdarah tak sesakit dan seluka hati Rendra yang kini benar benar serasa patah, amarahnya benar benar memuncak.


"Aku sudah bersabar, Aku sudah bersikap baik dan tidak perduli dengan apapun yang Adikmu lakukan semua kulakukan demi menjaga hatimu Aku diam dan berpura pura bahagia dengan perkataannya yang mengatakan jika dia sedang hamil semua kulakukan demi kamu, demi menjaga hatimu karena Aku tau kamu sangat menyayangi Adikmu meskipun Aku sesungguhnya sangat muak, Aku muak..!andaikan Eva itu adalah kamu Aku akan menghajarmu di Ranjang seperti waktu waktu itu tapi dia bukan kamu dan Aku tidak memiliki rasa dan pastinya bukan di Ranjang penyiksaannya dan Aku pastikan hatimu akan terluka jika mengetahui Nasib Adikmu, lihat saja apa yang akan Aku lakukan padanya dan semua terjadi karena kamuu Aku begini juga karena kamu Aku selingkuh juga karena kamu, Kamu yang menyebabkan Aku seperti ini..


"Duuuuuzzzz,... duuuzz, " berkali kali Rendra menghantamkan tangannya meninnju dinding, tangan Rendra semakin lecet dan berdarah.


Di luar kamar Mbok Yem yang resah dan gusar karena Dokter Rendra tak kunjung keluar kamar karena merasa sangat Khawatir akhirnya memutuskan masuk ke dalam kamar Rendra yang kebetulan pintu kamar tidak di kunci.


Jantung serasa lepas ketika Mbok Yem Mendengar suara benda kaca jatuh di tambah dengan teriakan Donter Rendra dalam kamar mandi, karena Khawatir Mbok Yem berkali kali mencoba memanggil Rendra aka tetapi tidak Ada jawaban bahkan Mbok yem mendengar Dokter Rendra akan membalas kesedihannya pada Eva,


karena masih khawatir dan was-was terjadi sesuatu pada dokter Rendra di dalam kamar mandi bergegas mboim keluar kamar menuju kamar istri kedua dari dokter Rendra dengan langkah yang tergesa-gesa.

__ADS_1


__ADS_2