BERBAGI RANJANG DENGAN ADIKKU

BERBAGI RANJANG DENGAN ADIKKU
Bab. 84.TERKEJUT


__ADS_3

Berkali-kali Robi menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan perlahan terkadang Robi tidak bisa memahami apa yang menjadi pemikiran dari Wanita yang ada di depannya akan tetapi Robi meyakini jika wanita yang ada di depannya benar-benar sedang terluka dan Hal itu membuat Robi penasaran Apa yang membuat dirinya begitu marah bahkan bisa dengan mudah mengatakan akan berikan surat perceraian kepada Rendra.


di mana jelas-jelas hubungan keduanya terjalin atas dasar cinta bahkan mereka menjalin hubungan lebih dari 5 tahun dan pernikahan belum ada satu tahun harus kah hancur di tengah jalan.


dengan berat hati akhirnya Robi izin pulang.


" Baiklah Nes aku akan pulang tapi aku harap Setiap tindakan yang ingin kamu lakukan tolong pikirkan sekali lagi, jangan melakukan dengan gabah ataupun emosi aku yakin Diantara Kalian masih ada cinta aku yakin Diantara Kalian masih saling menyayangi cobalah sekali lagi untuk tidak bersikap egois agar tidak menjadikan penyesalanmu nanti."


Vanesa tersenyum miring mendengar perkataan dari Robi .


" Apa yang kamu katakan memang benar aku harus memikirkannya dengan sangat matang dan keputusanku sudah final, Aku akan Meminta cerai dari Mas Rendra, Aku ingin lepas darinya Semua demi kebaikan dia bukan kebaikanku agar Mas Rendra bahagia. "


" oke baiklah Nes kamu betul-betul sedang emosi ,Aku pergi dulu nanti aku akan datang ke tempat ini lagi, tolong jangan Matikan ponselmu bukankah kita berteman dan kalau ada apa-apa kamu bisa bicara ataupun menghubungiku ini ponselmu yang tertinggal di taksi aku kembalikan padamu. "


Vanesa tersenyum meraih benda pipih miliknya kemudian tanpa diduga oleh Robi Vanesa membuka benda pipih miliknya itu kemudian membuang kartu sim card yang ada di dalamnya.


Robi yang melihat kelakuan Vanesa sedikit terkejut karena Vanessa bersikap sangat di luar pemikirannya, kini Rabi benar-benar mengerti jika Vanesa benar-benar sangat marah.


" Mengapa kamu buang kartunya, "


" untuk apa ini disimpan kan sudah tidak penting, "ucap Vanesa dingin, "sekarang kamu pergilah aku pusing, Aku ingin tidur dan beristirahat ini sudah malam, "


" Baiklah aku pergi dulu, "ucap Robi yang mana kemudian langsung menuju pintu rumah dan setelah bertemu dengan Mira sang pemilik rumah Robi minta izin pulang dan minta maaf karena sudah lancang masuk ke dalam kamar tamu, Mira tidak bisa menyalakan Robi Dia hanya bisa mengangguk dan mengatakan tidak apa-apa.


Sampai di luar Robi masuk ke dalam mobil hitamnya yang mana kemudian Robi melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata di dalam mobil Robi berpikir keras Apa yang membuat Vanesa begitu marah, tapi Robi juga harus bisa bersiap-siaga karena Vanesa telah membuang sim card yang ada di ponsel hp-nya itu artinya Vanesa tidak akan pernah bisa dihubungi, untuk itu Robi harus bisa mengawasi Vanesa dan tidak boleh lengah agar di manapun atau kemanapun Vanesa pergi dia bisa mengetahui.


Dengan satu tangannya yang satu memegang setir mobil yang satu memegang benda pipih Robi memencet satu nomor telepon dan menghubungi salah satu orang yang dia percaya.


tidak lama kemudian sambungan telepon pun tersambung dan terdengarlah suara dari seberang.


" halo ada apa kamu telepon aku ini sudah malam aku lagi sibuk nih. "


" suruh anak buahmu berjaga di rumah berpagar bambu bercat kuning yang ada di jalan xx hari ini juga karena aku tidak mau kehilangan jejak awasi terus orang yang ada di dalam rumah itu kemanapun dia pergi Kalian harus selalu memberikan informasinya kepadaku.


" Wah tugas berat ini bayarannya bagaimanabagaimana? "


" jangan khawatirkan itu aku akan berikan bayaran yang sepadan dengan tugas yang kalian lakukan tapi ingat jika kalian kehilangan jejak maka aku tidak akan memberikan apapun pada kalian. "


" oke sekarang katakan kami harus mengawasi siapa apa seluruh orang yang ada di rumah itu harus kami awasi tanya suara dari seberang yang sedikit kesal mungkin karena kegiatannya sedang terganggu, "


" sebentar nanti aku kirimkan foto orangnya kamu gila apa Masa aku nyuruh kamu mengawasi orang satu keluarga di tempat itu cuma satu kemanapun dia pergi kamu harus tahu dan laporkan semua padaku. "

__ADS_1


" Oke siap asalkan jangan lupa bayarannya, "


" tenang saja aku bukan orang yang suka mempermainkan jadi suruh dengan cepat anak buahmu mengawasi tempat itu malam ini juga karena aku khawatir malam ini juga dia bisa pergi dari tempat itu kamu ngerti."


" siap . "


"Bagus, "


tapi segera mematikan ponsel hp-nya setelah mengucapkan dan mengatakan semua yang dia inginkan kepada salah satu temannya kini tujuan Robi adalah pergi ke rumah Rendra meskipun ini sudah malam dan meskipun mungkin Rendra akan sangat marah padanya karena dengan tiba-tiba dia datang menemui dirinya.


kali ini Robi melajukan mobilnya dengan sangat cepat karena Robi ingin segera sampai di rumah Rendra dan bertemu dengan Rendra terlebih Robi ingin sekali mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya karena melihat sikap Vanesa yang begitu dingin dan keras kepala Hal itu membuat Robi merasa yakin jika Rendra pasti melakukan kesalahan yang sangat besar.


tidak menunggu lama mobil yang dikendarai oleh Robi sudah sampai di depan halaman rumah Rendra yang cukup besar dan megah.


Robi segera memarkirkan mobilnya kemudian turun dari dalam mobil dibantu oleh penjaga rumah yang masih berjaga.


Meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam Robi tidak perduli dia masih terus bertamu mendatangi Rumah Rendra karena Robi ingin tau apa yang terjadi antara Vanesa Dan Rendra.


Sampai di depan pintu Rumah Robi segera memencet bel Tak lama kemudian setelah menunggu beberapa menit akhirnya pintu rumah dibuka dari dalam.


tampak seorang wanita paruh baya muncul dari balik pintu.


"Selamat malam Bik, "


"Rendra mana Bik, apa dia sudah tidurtidur? "


"Ita, Den, baru saja Den Rendra tidur. "


"Baiklah Aku Akan temui dia di kamar nya, "


tanpa menunggu jawaban Robi berjalan menuju kamar Rendra dan Vanesa.


"Den Robi tunggu...! "teriak Bik ijah dari belakang sambil Bernard kecil.


Robi yang mendengarkan semua itu segera menghentikan langkah kakinnya, kemudian menoleh ke belakang.


" Ada apa Bik? "


"Anu Den Rendra tidak Ada di kamar itu. "Japan Bik Ijah gugup.


" Lalu Rendra tidur di kamar mana? "

__ADS_1


"Den Rendra, _


" Ita, Rendra tidur dimana ini penting Bik, Aku harus segera bicara dengan Rendra. "


"Den Rendra tidur di kamar tamu di ujung sana. "


"Oh, ya sudah trimakasih, " ucap Robi yang langsung melangkah meninggalkan Bik ijah.


"Den, tunggu jangan kesana, "


"Sudahlah, Bik, ini penting Bibik tidur saja, "


"Jangan, Nanti Den Rendra marah Den Robi besok saja bertemu dengan Den Rendra, sekarang tolong jangan mengaggu Den Rendra. "


Raffi menghentikan langkah kakinya kemudian menatap di Ija yang wajahnya tegang dan seperti ketakutan.


tapi menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan perlahan.


" Sudah Bibi jangan takut dan khawatir kalau Rendra marah biar aku sendiri yang akan menghadapi sekarang Bibi tidur aja biar aku yang menemui Rendra karena ini sangat penting dan tidak bisa aku harus menunggu sampai besok. "


" tapi, Den. "


"Sudah Bibik jangan khawatir kalau Rendra marah biar aku yang menghadapinya.


setelah mengucapkan itu dengan langkah kaki yang lebar dan cepat Rabi segera melangkah menuju kamar di mana Rendra sedang tidur tidak menunggu lama dan tanpa mengetuk pintu Rendra segera membuka pintu kamar yang mana kebetulan pintu kamar tidak terkunci.


"Robi segera masuk sambil berteriak Memanggil nama Rendra.


" Ren, bangun kau..! "Rendra Admaja cepat kau bagun. " teriak Robi berkali-kali yang mana suara keras dan lantang dari Robi membuat Rendra yang kala itu sedang tertidur di ranjang bersama dengan Eva langsung terkejut mendengar teriakan dari Robi yang mana keduanya langsung bangkit duduk di ranjang.


Ketika langkah kaki Robi sudah berada di depan tempat Ranjang Rendra tidur Robi yang tadinya memanggil dengan berteriak tiba-tiba terdiam terpaku mana kala melihat Rendra sedang tidur satu Ranjang dengan Wanita lain.


Robi meneguk kasar ludahnya, kemudian tatapan matanya menyalang tajam bibirnya tersenyum miring.


"Rupanya kau lagi Bersenang senang dengan perempuan jalaang, turun kau Rendra! " teriak Robi emosi yang mana dengan tidak sabar langsung menyeret tubuh Rendra yang nasih berada di atas Ranjang dengan kasar Dan tanpa bass basi Robi langsung memberikan sebuah tamparan keras pada Wajah Rendra berkali kali hingga tubuh Rendra yang belum siap menerima Dan menangkis tamparan Dan pukulan dari Robi.


Eva yang melihat suaminnya di pukul di tampar hingga jatuh tersungkur ke atas lantai yang dingin, membuat darah Eva mendidih Dan tersulut Emosi.


"Hei Cowok, brengseek, jangan pukul Suamiku? " Tria Eva dengan nada kesal yang mana membuat Robi yang kala itu masih memukul Rendra menjadi sangat terkejut dan langsung menghentikan pukulannya.


"Apa, Suami. " lirik Robi tak percayapercaya bahkan tubuhnya tiba-tiba terhuyung ke belakang.

__ADS_1


"


__ADS_2