BERBAGI RANJANG DENGAN ADIKKU

BERBAGI RANJANG DENGAN ADIKKU
Bab. 115.AKHIR KISAH


__ADS_3

Sinar mentari pagi akhirnya membawa Rendra dan Robi sampai di halaman rumah sakit di mana Di tempat itulah Vanessa dirawat dengan tergesa-gesa dan terlihat sangat buru-buru Rendra segera turun dari mobil kemudian berlari masuk ke dalam ketika itu waktu menunjukkan pukul. 6 lebih 30 menit.


Robi yang melihat Rendra tergesa-gesa turun dan berlari meninggalkan dirinya tanpa menunggu membuat roti menggelengkan kepalanya kemudian Robi mengulum senyum.


"Dasar Buncin, main tinggal saja tapi tidak apa-apa lah semoga rumah tangga mereka kembali membaik dan bisa terselamatkan, "lirih Robi dalam hati yang mana Dia kemudian keluar dari dalam mobilnya melangkah menuju ke dalam rumah sakit mengikuti langkah Rendra yang sudah pergi lebih dulu.


Setelah sampai di dalam Banderas segera mencari sebuah ruangan tempat di mana para dokter dan perawat berada Rendra segera bertanya tentang pasien yang bernama Vanessa.


"Maaf Dok, saya ingin Bertemu dengan istri saya dia di Rawat di Ruang mana? "


dokter yang melihat kehadiran Rendra dan tiba-tiba bertanya tentang istrinya merasa bingung dan terkejut kemudian perlahan-lahan dokter itu meminta dokter Hendra untuk duduk.


"Maaf, Pak, silahkan duduk dulu, dan katakan dengan pelan pelan agar saya paham istri Bapak siapa namanya? "


Dengan terpaksa Rendra menuruti apa yang dikatakan dokter badannya Rendra mendudukkan bokongnya di tas kursi kemudian mulai mengatur ritme dari nada suaranya.


"Begini Dok, mama istri saya Vanessa dia pasien yang Baru masuk kemarin. "


"Vanessa, Vanessa yang mana ya Pak disini Ada dua nama pasien Vanessa, dia Ada di Ruang no 47 dan kalau Pasien yang satunya sudah pergi, silahkan Bapak pergi ke Ruang No 47, dia sudah baikkan operasi nya berjalan lancar, selamatw bayi anda tampan dan sehat, tapi saya binggung jika Bapak Suaminya lalu yang selalu menemani dan memberikan izin untuk Oprasi itu siapa ya? " tanya Dokter binggung. "


Tidak jauh berbeda dengan sang dokter Rendra pun juga merasa bingung karena Vanessa masih hamil yang mungkin usia kandungannya baru berjalan 2 bulan sementara pasien satunya yang bernama Vanessa anaknya sudah lahir dan hal itu sudah jelas bukan Vanessa yang Rendra cari karena Vanessa masih dalam keadaan tahap hamil muda.


"Maaf, Dok yang saya cari istri saya yang masih hamil muda Dok mungkin usia kehamilannya baruw dua bulan."


"Lho, ini saya juga bingung yang hamil muda sudah pergi bersama Suaminya baru saja, lga anda ini kenapa mengaku aku sebagai Suaminya. "


"Apa, pergi dengan Suaminya, jadi si Brengsek itu menggaku Suami dari istri saya? '


" Maaf, Pak saya tidak tau maksd bapak. "


ketika suasana sedikit tegang karena Rendra dan Pak Dokter Sedang membahas satu hal yang membingungkan tiba-tiba pintu diketuk dari luar yang mana setelah pintu dibuka muncullah Seorang perawat masuk dengan membawa beberapa berkas di tangannya.


"Ini, Dok berkas berkas dari Pasien No 170, hari ini dia sudah pergi dan semua biayanya sudah beres. "


"Sus, tolong lihat berkasnya apakah Ada biodata atau foto pasien soalnya saya mencari istri saya. "


"Oh, Ada pak ini,"


Suster itu segera menyerahkan berkas yang terdapat satu buah foto dan Rendra yang langsung tidak sabar meraih dengan cepat berkas itu dan melihatnya dan Alangkah terkejutnya ketika dia mengetahui jika berkas yang diberikan Suster itu benar-benar adalah identitas tentang Vanessa istrinya.


"Sus, ini istri saya dimana dia sekarang? "


sang perawat pun sedikit terkejut dengan sikap Rendra yang sedikit kasar dan terlihat sekali sedikit marah terlebih Suster itu mengetahui jika Vanessa pasiennya sudah pergi bersama suaminya.


"Bapak, siapa? "


"Saya ini Suaminya suami Sahnya, "


"Oh, apakah ini ceritanya istri Bapak selingkuh, yang sabar ya Pak, tapi selingkuhan Istri Bapak orangnya benar benar baik perhatian dan juga dermawan, "

__ADS_1


"Sus, saya tidak mau dengar pujian suster sekarang katakan pada saya dimana mereka, "


"Maaf, pak saya hanya dengar mereka akan pergi ke London penerbangan pukul 7.00."


"Apa, pikul 7.00,"


Wajah panik dan tegang terpancar dari Rendra yang mana tanpa bicara apapun Rendra langsung berlari keluar dengan sangat cepat dan tergesa gesa bahkan beberapa orang yang sedang berjalan di tabraknya, bagai orang kesetanan Rendra berlari, Robi yang kala itu hendak masuk dan berpapasan dengan Rendra yang berlari seperti orang kesetanan merasa Terkejut.


"Ren... kamu kenapa? "


"Kalau mau ikut, cepat Aku tidak punya waktu lagi. "


Robi yang bingung pun tidak punya pilihan lain selain balik arah kembali ikut berlari menggikuti Rendra yang berlari dengan terburu buru, sampai di dalam mobil Rendra segera mengemudikan mobil nya dengan kecepatan tinggi.


Robi yang berada first sampingnya sedikit Terkejut karena Rendra mengemudikan mobil dengan sangat kencang bahkan berkali kali klakson dari mobilnya di bunyikan.


"Ren, Aku masih ingin hidup Aku tidak ingin mati muda, pelan sedikit kenapa? "


"Diam dan pegangan saja, Aku tidak punya banyak waktu bajinggan itu membawa Nesa pergi ke luar negeri Aku tidak ingin terlambat penerbangan mereka pukul 07.00 Jadi diam dan jangan berisik."


Mendengar perkataan Rendra Robi pun akhirnya memahami dan mengerti keadaan dan posisi hati Rendra yang sangat kacau di mana dia harus berpacu dengan waktu di mana apabila sampai terlambat maka Rendra tidak akan bisa melihat istrinya untuk selamanya atau untuk jangka waktu yang sangat lama, dan sudah bisa dipastikan rasa sedihnya dan rasa sakitnya Pasti akan sangat dalam.


Rendra yang cukup Mahir dalam mengemudikan mobil Akhirnya bisa mencapai bandara pada menit ke-45 di mana kurang dari 15 menit lagi penerbangan akan dilakukan.


menaruh mobil sembarangan dan menyerahkan kepada Robi sementara Rendra berlari cepat menuju ke tempat para penumpang menunggu penerbangan pesawat.


Rendra berlari dengan sangat kencang hingga nafasnya seolah olah mau putus, rasa takut akan kehilangan sudah menari nari di pelupuk matanya.


Terus berlari hingga lutut terasa lemas dan kaku Akhirnya Rendra bisa mencapai tempat dimana para penumpang pesawat menunggu, Rendra segera mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.


Setelah beberapa detik mencari Akhirnya bibir Rendra bisa tersenyum dengan napas turun Naik, menatap penuh haru dan bahagia seolah sudah begitu lama tidak bertemu.


Kedua bola mata Rendra berbinar senang bahkan Rendra menitikkan Air mata bahagia.


"Vanessa sayang, dan anakku Papa datang untuk kalian, tunggu Papa Nak. "lirih Rendra dalam hati.


" Perhatian perhatian Para penumpang nomor 56 tujuan London Mohon melakukan Boarding C2 dan Mohon persiapkan barang bawaan anda penerbangan akan segera dilakukan. "


"Nes, Ayo..!


ajak Bara lembut pada Vanessa, mereka berjalan dengan bergandengan tangan.


Melihat Vanesa melangkah dan akan Naik pesawat Rendra berteriak dengan sangat kencang, hingga suaranya bisa di dengar oleh beberapa orang yang Ada disana.


"Vanessa tunggu.....!


" Vanessa... jangan pergi.....! Rendra berlari menyibak kerumunan orang orang yang Ada di depannya yang di rasa Rendra menghalangi langkah dan jalannya.


"Kurang ajar kalau jalan itu hati hati, "umpat salah satu penumpang yang terkena dorongan dari Rendra yang mana menbuat orang itu marah dan mendorong Rendra dengan keras sehingga Rendra jatuh tersungkur Rendra tidak peduli dengan orang yang mendorong nya Rendra kembali bangkit dan maju dengan terus berteriak memanggil Vanessa."

__ADS_1


"Vanessa.... tunggu... jangan pergi, "


"Nesaaa.....!


Bara yang berjalan disamping Vanessa samar samar mendengar teriakan orang memanggil Vanessa dan tak jauh berbeda dengan Bara, Vanessa pun mendengar teriakan orang yang memanggil nya.


Vanessa yang sudah familiar dengan suara yang memanggil dirinya langsung menoleh ke belakang kedua bola matanya menyapu sekeliling melihat dan mencari suara yang sudah sangat familiar di telinganya.


"Mas Rendra Ada disini, "langkah kaki Vanessa langsung terhenti ketika melihat sosok laki-laki yang sudah sangat dikenalnya.


Bibirnya mrnyungingkan sebuah senyuman sangat terlihat jelas disana Ada kabut kerinduan yang dalam, Rendra yang juga sudah bisa melihat Vanessa bahkan Sudan visa melangkah lebih dekat dimana jarak keduanya kini tinggal empat meter.


Rendra menangis Haru bisa melihat Dan bertemu dengan Vanessa istrinya, bagaikan film film india Rendra merentangkan kedua tangannya, berharap Vanessa akan berlari dan masuk kedalam pelukannya.


Vanessa yang masih sangat mencintai Suaminya seakan lupa dengan apa yang terjadi padanya, perlahan namun pasti Vanessa melepaskan gengaman tangan Bara Dan berniat melangkah mendekati Rendra.


Bara merasa sesak melihat adegan tatap mata yang begitu romantis diantara keduanya dimana tatapan mata keduanya memancarkan sebuah Cinta yang dalam.


Vanessa sudah melangkah kan kakinya satu langkah untuk maju dan mendekati Rendra dan pada langkah kaki yang kedua Suara Bara mengema membuat Langkah kaki Vanessa terhenti.


"Penerbangan sebentar lagi. "ucap Bara datar.


Vanessa langsung menghentikan langkah kakinya dan perlahan lahan Vanessa membalikkan Badan.


" Kita berangkat, " Vanessa langsung mengandeng tangan Bara, dan keduanya mulai melangkah meninggalkan Rendra.


Rendra Panik dan berteriak.


"Vanessa, jangan pergi, jangan tinggalkan Aku, Nesa...maafkan Aku..., " Seru Rendra dengan lantang.


Vanessa membalikkan badan kembali akan tetapi tidak melepaskan gengaman tangannya dari Bara.


"Lupakan, Aku Mas, Smoga kamu bahagia.... selamat tinggal, ayo Bara kita sudah terlambat. "


"Tidaaaakk..... jangan tinggalkan Aku Nesa.. Aku mohon... tolong minggirlah jangan halangi Aku ingin membawa istriku, " teriak Rendra yang mulai menyibak kan orang orang yang berlalu lalang di depannya dan ketika jalan sudah mulai legam taking lagi Ada yang berlalu lalang lewat di depannya, Vanessa sudah tidak Ada, Vanessa sudah masuk ke dalam kapal.


"Tidaaaaaaakkkkk........ Vanessa aaaaa.... jangan tinggalkan Akuuuuuuuu..... Tidaaaaakk...! bagaikan orang gillaa, Rendra Berteriak sambil menangis meraung raung... dan berlari mengejar kapal yang sudah lepas landas.


Sementara di dalam kapal Vanessa melihat keadaan Suaminya yang sangat memprihatinkan menitikan Air mata.


"Maafkan, Aku Mas, Aku harus pergi dan Aku pergi tidak sendiri karena Aku membawa buah Cinta kita, dia yang akan menjadi pengobat rinduku padamu, Smoga kamu bisa bahagia tanpa Aku. "lirih Vanessa sambil mengusap bulimia bening yang mulai jatuh di sudut kelopak matanya.


_______________TAMAT_____________


____________________________________


***Trimakasih buat semua Readers berbagi Ranjang dengan adikku..... trimakasih atas ke makluman yang sahabat readers berikan padaku


dimana saya sebagai Author.. banyak typo dalam menulis bhkan Ada yg ngaco dg bahasa inggris

__ADS_1


mohon maaf krn keyboard dan voice yang tidak sikron, sekali lagi trimakasih banyak...


banyak cinta untuk kk semua dan smoga sehat dan bahagia selalu, sampai jumpa... kita bertemu lagi di season ke dua. Dokter dingin iTunes Papaku. 😘😘😘🙏🙏🙏***


__ADS_2