BERBAGI RANJANG DENGAN ADIKKU

BERBAGI RANJANG DENGAN ADIKKU
Bab. 58.EMOSI


__ADS_3

Rendra memasukkan ponsel hp-nya ke dalam saku sambil menyunggingkan senyum terlihat pancaran cahaya kebahagiaan didalam raut wajahnya .


Cahaya Matahari yang bersinar dengan tiuppan angin yang berhembus membuat suasana pagi menjelang siang tidak terlalu trik dan panas.


taksi yang ditumpangi Vanessa sampai pada sebuah gedung yang sangat besar dengan halaman yang cukup luas di mana di beberapa pinggir jalan tampak beberapa orang sedang berjualan Vanesa turun dari taksi setelah menyerahkan selembar uang merah kepada Pak sopir kemudian dengan langkah pasti Vanessa turun dan memasuki gedung yang cukup besar dan luas.


"Apa benar ini kantornya Kenapa besar sekali, kalau Aku salah bagaimana? " keluh Vanesa dalam hati yang mana kembali dia membuka tas dan mengambil sebuah kartu nama yang ada di dalam dompetnya. "Alamatnya sudah benar Apakah Bara bekerja pada seorang pengusaha terkenal, ini kan perusahaan terkenal yang sering ada di tv-tv itu kalau Aku ke sana menemuinya nanti Bara dimarahi di bosnya, bagaimana apa Aku telepon dulu saja, daripada Nanti Bara kena marah nggak enak juga apalagi Bossnya galak trus main pecat Aduh jangan sampai begitu,"Gumam Vanesa dalam hati yang akhirnya dia menekan satu nomor telepon milik Bara.


Sedikit kesal karena panggilan telepon yang Vanesa lakukan tidak diangkat, Vanesa mencoba bersabar dengan mencoba Menelpon lagi dan lagi hingga sampai enam kali panggilan karena tidak ada jawaban Akhirnya Vanesa memutuskan untuk Masuk dan datang langsung ke Alamat kantor yang diberikan Bara kepada nya.


Sangat besar dan Bagus itulah awal dari kesan pertama yang Vanesa lihat, ketika sampai di depan pintu masuk, Vanesa tampak bingung hingga tanpa sadar Vanesa menggigit jarinya, kehadiran Vanesa terlihat beberapa kru pegawai yang kebetulan berlalu lalang di tempat itu.


Melihat kehadiran orang Asing yang seperti sedang bingung, seorang pemuda datang menghampiri Vanesa.


"Ada yang bisa saya bantu Mbak? "


"Mmm, apa ini sudah jam istirahat nya kantor ini?*


Sedikit bingung mendengar perkataan dari wanita yang ada di depan nya pemuda itu mengernyitkan dahinya.


" Kenapa menanyakan jam istirahat memangnya ada apa? *


"Maaf temanku bekerja disinindan Aku khawatir jika datang tidak tepat waktu nya bisa menganggu Aku takut kalau dia Nanti di pecat Bossnya jadi saya mau menemuinya disaat jam istirahat. "


"aOh, begitu, sebentar lagi hanya kami beristirahat, memangnya Mbak mau mencari pegawai bernama siapa? "


"Bara, "


"Apa! coba ulangi. "


"Aku ingin bertemu dengan Bara. "


Pemuda yang ada di depan Vanesa segera menelitik Vanesa dari atas ke bawah.


"Kenapa Boss bilang dirinya pegawai, mungkin ini sudah rencana nya Boss mungkin wanita ini adalah wanita yang tidak baik makanya Boss bilang dia adalah seorang pegawai." gumam pemuda itu dalam hati.


" Baiklah Ayo, ikut Aku, kamu akan Aku antar untuk menunggu di Ruang tunggu. "


Dengan wajah berbinar senang Vanesa mengikuti langkah kaki dari pemuda yang ada di depan nya, ruangan yang cukup luas membuat Vanessa sedikit kagum akan keadaan yang ada di dalam kantor setelah berjalan kurang lebih dari 10 menit pemuda itu berhenti.


" Kamu tunggu di sini nanti temanmu akan menemuimu di sini, Aku akan memanggilnya ucap pemuda itu kepada Vanessa yang mana Vanesa langsung menganggukkan kepala dan tersenyum ramah dan senang.


setelah mempersilahkan Vanessa untuk duduk pemuda itu langsung pergi meninggalkan Vanessa dan ketika tidak sampai di ujung pemuda itu bertemu dengan seorang pegawai wanita.


" Lis, Kamu mau ke mana Apakah kamu mau ke ruangan Pak Bara, "tanya pemuda itu pada wanita yang ada di depannya yang kebetulan sedang berjalan ke arahnya dengan membawa beberapa tumpukan Map.


" Iya, tapi Pak Bara masih ada di Ruang miting jadi Aku masih harus menunggu, memangnya ada apa? "


"Ada seorang Wanita sedang menunggu Pak Bara kelihatan nya dia wanita yang sangat tidak baik buktinya Pak Bara bilang ke wanita itu kalau dirinya seorang pegawai. "


"Oh, Baiklah Nanti Aku akan bilang kepada beliau jika ada seorang wanita yang sedang menunggu nya. "


"Ok, trimakasih ya? " ucapan muda itu yang mana langsung pergi meninggalkan tempat itu.


Vanesa yang menunggu kehadiran Bara mencoba menghilang kan kejenuhan nya dengan bermain Game yang ada di layar ponsel hpnya, karena terlalu seru dan asik Vanesa lupa waktu hingga.


"Astaga lagi seru-seruan begini kenapa batre jadi low, lebih baik Aku matikan dulu dari pada Nanti HP langsung mati kan bisa berakibat rusak dari Rusak dan beli lagi Aku matikan dulu dana sebentar.


Karena sudah tidak memiliki hiburan lagi Vanesa menjadi tukang setrika berjalan bagaimana tidak dia bangkit dari duduknya kemudian berjalan maju mundur maju mundur kemudian duduk lagi bangkit lagi berjalan maju mundur lagi.


" Lama amat sih Bara apa Bossnya galak sehingga susah untuk keluar, jam istirahat itu jam berapa sih, ini sudah mau pukul 12 siang mungkin sebentar lagi, " hibur hati Vanesa yang mulai bosan menunggu.


Beberapa menit kemudian Bibir Vanesa tersenyum dan kedua bola matanya berbinar ketika melihat beberapa pegawai mulai keluar dari Ruangan nya.


"Nah itu dia kelihatannya mereka baru mulai keluar untuk beristirahat, sebentar lagi pasti Bara datang. " gumam Vanesa dalam hati senang.


Di dalam Ruangan yang tidak jauh dari Vanesa tempat nya menunggu dimana jarak tempat nya sekitar tigapuluh meter.


"Untuk hari ini cukup, kalian boleh beristirahat. " ucap seorang pemuda tampan yang menjadi pimpinan Rapat mereka.


Dengan cepat pemuda itu keluar dari dalam Ruangan Rapat menuju ke Ruang kerja pribadi nya, kedatangan nya sudah disambut seorang gadis cantik dengan bibir dan body seksi dialah sang sekertaris.


"Rapatnya sudah selesai pak? "


Tanpa bicara Pemuda itu mengangguk sebelum mendudukkan bokongnya di Kursi kebesaran. sebenarnya sangat sakit mendapati sikap dingin dari seorang bos yang selama ini sudah menjadi Pujaan hatinya dengan perlahan gadis itu maju ke depan dengan mengulurkan beberapa map yang dia bawa.


"Ini ada berkas-berkas yang harus Bapak periksa ucap gadis itu dengan santun.


" Taruh saja di situ Kamu boleh pergi, "ucap Pemuda yang tidak blain adalah bosnya.


Menyakitkan belum apa-apa sudah disuruh pergi padahal dirinya sengaja datang dengan menggunakan pakaian yang menggoda bahkan tidak tanggung-tanggung memakai baju atas yang super rendah sehingga memperlihatkan kedua gunung kembar disana, akan tetapi semua sia-sia karena Pak Boss tidak sedikit pun tertarik apalagi memandang.


"Huuff, sombong sekali sih ini Boss, Aku harus pakai akal agar dia mau melihat ku, "


sang sekertaris sibuk berpikir sedangkan Nos yang ada didepan nya meraih tas yang ada di dalam nya.


Boss muda itu bermaksud untuk memesan makanan melalui online dan ketika hendak mengirim kan pesan kedua bola mata Pemuda yang tidak lain adalah Bara terkejut bukan kepalang hingga kedua bola matanya membulat seketika.


"Enam panggilan telpon tak terjawab dari satu Nama yang dia sematkan di ponsel hpnya, Enam panggilan telepon dari Tersayang.


" Dia menelpon ku, Aku harus menghubunginya, "lirih Bara dengan hati berbunga dan bersemangat.


Tapi wajah ceritanya memudar kalau menatap seorang gadis di depan nya yang mana justru pasang senyum.


" Hei, kenapa kamu masih disini pergi sana! "


"Tapi, Pak Aku, _


" Cepat pergi atau kamu mau Aku pecat hari ini juga, "


"Astaga galak sekali sih ini Boss, " gumam sang sekertaris dalam hati

__ADS_1


"Mau pergi tidak? "


"I-iya, sebentar, " dengan sedikit buru-buru sang sekertaris pun akhirnya keluar dari dalam ruangan Boss dengan perasaan kesal.


"Ck, galak Amat jadi Boss mana ada cewek yang doyan padanya semua pasti pada kabur, tapi kekayaan harta nya, bikin lemes jantung biarpun Boss kasar pasti lambat laun akan lumer juga Aku harus ekstra sabar, kalau perlu Aku akan pergi ke dukun untuk menaklukkan hati Boss jika Boss jadi milik ku Aku pasti akan kaya raya. " lirih Sang sekertaris lisa sambil berjalan menuju ke ruang kerja nya.


Lain halnya dengan Bara yang berada di dalam ruangan menjadi semakin gelisah, hatinya ketika melakukan panggilan telpon ternyata ponsel dari Vanesa tidak bisa dihubungi.


"Sial, kenapa Aku tadi bodoh tidak membawa ponsel hpnya ketempat Rapat, Aku jadi tidak tau jika Vanesa menghubungiku dasar Bodoh, Aku coba lagi siapa tau kali ini bisa. "kembali Bara memencet nomor vanesa.


"Maaf nomor yang Anda hubungi sedang berada diluar jangkauan.


" Sial, kenapa ponsel nya dimatikan apa Vanesa marah padaku jangan-jangan dia kesal karena panggilan telponnya tidak kujawab, tau begini Aku akan cancel Rapat nya, sial.. sial, bagaimana kalau Vanesa beneran marah terus tidak mau lagi ketemu dengan Aku, "


" Araaagh...!Braaak.. bruugh, " Bara melempar beberapa tumpukan kertas yang ada di depan nya. "


"Boss...! kenapa semua di jatuhkan ke lantai, " ucap salah satu pemuda yang baru masuk kedalam ruangan Bara.


"Bersihkan.! "


"Saya Boss! "


"Tentu saja siapa lagi cepat, setelah itu pergi dari sini, '


" Boss..!


"Apalagi, pergi sana, "bentak Bara kesal dengan wajah emosi.


" Ini Boss lagi kesambet setan apa ya tidak ada hujan tidak ada angin marah-marah. "gumam seorang pemuda yang juga salah satu pegawai yang ada di dalam kantor itu.


" Kenapa masih berdiri disitu, kalau sudah selesai pergi sana, "


"Astaga Boss galak amat entar jodoh nya jauh lho, "


"Diam, kau mau pergi tidak, apa perlu Aku lempar kamu dengan ini, "


"Aduh, jangan Boss, Aku kan cuma mau bertanya Boss mau makan siang dengan menu apa? "


"Tidak lapar, kamu pergi saja."


"Tapi Boss, "


"Aku bilang pergi..!


" Ba-baik Boss," dengan cepat pemuda itu pun pergi, Bara mengusap kasar wajahnya dia begitu kesal dan geram.


"Kenapa Kamu matikan ponsel mu, apa kamu ngak ngerti Aku bingung begini,, ayolah nyalain ponsel kamu apa lebih baik Aku samperin dia di Rumah sakit tempat kerja nya, tapi kalau ketahuan suaminya bagaimana, bisa gawat juga, lalu Aku harus bagaimana? " kekuh Bara resah.


Di sisi lain Lisa sang sekertaris yang baru juga di usir Bara berjalan dengan cepat dan dengan wajah cemberut karena kesal dengan sikap Bara yang tidak memperdulikan dan melihat dirinya.


Di luar sebuah ruangan yang amanah Vanesa disuruh menunggu pun mulai kesal dan bosan.


Disaat hatinya sedang kesal tiba-tiba kedua bola mata Vanesa melihat seorang gadis berpakaian seksi yang tadi di pesankan orang untuk memberitau Bara jika nada teman yang menunggu nya. Vanesa segera bangkit dan mendekati gadis yang berjalan hendak melewati nya.


"Mbak tunggu!


" Ada apa?


"Lho Mbak kan tadi yang dititipin pesan buat bilang pada Bara jika saya temannya menunggu. '


" Oh, itu, kamu datangi saja dia sendiri tuh disana kamu jalan saja lurus kemudian ada ruangan paling bagus paling megah masuk karena disitu tempat nya tapi aku sarankan persiapkan jantung mu, biar tidak mudah terkejut karena Aku khawatir kamu akan pingsan, di dalam Boss sangat galak. "


"Oh, iya trimakasih, Mbak! "


Vanesa segera berjalan menuju Ruangan yang di tunjukkan Sang sekertaris, sampai disana Vanesa berdiri didepan pintu.


"Aku langsung masuk apa ketuk pintu tapi pintunya tidak tertutup itu sudah terbuka lebih baik langsung masuk saja lagi pula ini kan jam istirahat jadi tidak mengagggu kerja nya.


Perlahan lahan Vanesa membuka pintu ruangan kemudian masuk. sementara Bara yang kesal dan gelisah duduk di kursi dengan memejamkan mata sehingga tidak tau dan tidak menyadari jika ada orang yang masuk ke dalam ruangan nya.


Vanessa yang melihat Bara duduk dengan memejamkan kedua bola matanya sambil tangannya berada di atas kepala membuat Vanessa menggelengkan kepalanya.


"Waktu istirahat kok di pakai tidur apa dia nggak ingin makan, dasar nyebelin ternyata ini Anak dimana-mana nyebelin lihatlah seenaknya saja dia duduk di situ, itu kan kursinya Boss, oh Mungkin dia lagi menghalu ingin ngerasain jadi Boss makanya dia duduk disitu, "


"Ssst, sst...! Hei Bara bagun, " seru Vanesa lirih mencoba membangunkan Bara yang sedang tertidur, iiih ini Anak di suruh bangun kok susah Nanti kalau Boss datang bisa kena pecat dia, Aku tau Aku pukul saja Pakai sapu ijuk itu pasti dia cepat bangun. "


Dengan cepat Vanesa mengambil sapu ijuk yang ada di pojok ruangan kemudian memukul kan dengan sedikit keras ke lengan Bara.


"Buuuugh....! bagun cepat. "


Bara yang tiba-tiba mendapatkan pukulan membuat dirinya langsung bangun dengan cepat dan berteriak.


"Hei siapa yang berani kurang ajar memukul ku? " teriak Bara lantang.


"Astaga ini anak justru berteriak," Gumam Vanesa kesal yang mana justru memukul kan kembali sapu ijuk nya.


"Buuuugh, bangun dari mimpi kau, jangan berteriak-teriak terus brisik tau. "


Bara tertegun mendengar suara yang sangat tidak Asing lagi baginya.


"Nesa, apa Aku tidak lagi salah dengar ini suara Vanesa, " lirih Bara yang kemudian menoleh kebelakang dimana Vanesa berdiri sambil membawa sapu ijuk di tangannya, sementara Bara yang tidak percaya dengan apa yang di lihat nya mengucek ucek kedua bola matanya.


"Apa bener ini kamu Nes? "


"Ah, diam siang siang bolong begini tidur cepat lepas, " teriak Vanesa menarik baju atas yang dikenakan Bara.


Bara yang terkejut dengan sikap dan tingkah Vanesa sedikit bingung.


"Vanesa kenapa, kok Aku disuruh lepas baju apa dia ingin melihat body tubuh sixpack ku, " Gumam Bara dalam hati yang mana bibirnya tersenyum geli.


"Cepat lepas? "teriak Vanesa membuat Bara kebingungan.

__ADS_1


"Astaga Nes sabar dkit napa jangan buru-buru, Aku tutup dulu pintu nya kan belum di kunci Nanti ada yang ngintip, "ucap Bara yang mana langsung melangkah menuju pintu akan tetapi belum ada satu langkah Vanesa sudah menahannya dengan menarik lengannya hingga mereka berdua berdiri dengan sangat dekat.


" Mau kemana ? ngak perlu cepat lepas? "


"Astaga Vanesa ngak sabar amat sih apa dia ngak tau jantung ku serasa mau lepas saja, cantik amat istri Rendra ini, " Gumam Vara dalam hati.


"Kamu itu jangan Bodoh kalau Bos kamu melihat kamu pakai kemeja nya dan duduk seenaknya di kursi nya kamu bisa kena pecat jadi cepat lah sebelum Boss galak kamu datang, " ucap Vanesa menjelaskan yang mana hampir membuat Bara terbatuk.


"Astaga Vanesa bukan mau melihat tubuh sixpack ku tapi dia khawatir kemeja yang kupakai itu milik si Boss dan Artinya Vanesa menganggap Aku pegawai disini, tapi tidak apa-apa lah mau dianggap Pegawai kek atau apakah yang penting bisa dekat dengan nya semua Aku siap.


Dengan perlahan Bara melepaskan kemeja yang dia kenakan.


"Nah sudah terus sekarang bagaimana? "


"Pakai bajumu sendiri, "


"Hah, tidak bisa Aku tidak punya. "


"Kok bisa lha baju yang kamu pakai tadi mana? "


"Robek tadi jadi Aku buang. "


"Ya sudah pakai bajuku ini," Vanesa memberikan jaket yang dia kenakan.


"Jangan Kamu Nanti kedinginan,"


"Tidak apa-apa cuma sebentar, ayo cepat kita pergi dari sini sebelum Boss galakmu datang dan melihat mu begitu, "


Vanesa menarik tangan Bara untuk keluar dari dalam Ruangan nya. Sementara Bara berpikir keras agar bisa tetap berada di Ruangan itu dengan Vanesa.


"Tidak bisa Nes, Boss sudah berpesan padaku untuk menjaga Ruangan ini kalau Aku pergi bisa marah Nanti. "


Mendengar perkataan Bara Vanesa menghentikan langkah kakinya.


"Terus bagaimana, "


"Ya, kita tunggu Boss datang dulu baru bisa pergi. "


"Oh, begitu, "


Bara menganggukkan kepala sambil tersenyum.


"Jadi kamu Nanti tidak di pecat kan? "


"Tenang saja tidak, Boss sama Aku baik kok orang nya, "


Vanesa manggut-manggut mendengar perkataan dari Bara.


"Aku datang mau tanya kenapa kamu telpon Aku ada apa? "


"Oh, itu, ah ya tadi Aku telpon balik lho kenapa kamu matikan, kamu marah ya, "


"Marah kenapa, batreku low, habis gara-gara buat main game nunggu kamu disana sampai kaki kesemutan. "


"Jadi kamu tadi nungguin Aku? " tanya Bara tak percaya.


"Iya, sampai habis ini batre, ada apa sih kamu telpon Aku? "


"Aku mau..


" Krucuk....


"Krucuk...


" Krucuk...


Dengan cepat Vanesa memegangi perutnya.


"Nesa kamu lapar tuh bunyi perutnya. "


"Iya, habis nya nungguin kamu lama cepat bilang telpon Aku ada apa? Aku sudah lapar Aku mau pergi makan,"


"Tunggu Aku pesankan makan, "


"Tidak usah, Aku sudah ada janji dengan Mas Rendra mau makan bareng. "


"Apa? Rendra ngajak kamu makan bareng. "


"Iya, cepatlah,"


Bara tersenyum miring.


"Tidak usah datang makan saja disini temanin Aku, "


"Tidak bisa begitu, dia itu suamiku masak Aku makan sama orang sedangkan Suaminya di abaikan, ngak lah kamu makan sendiri saja, lagipula ini sudah waktunya aku pergi "


"Apa, Suami? kenapa kamu masih begitu poloos dia itu bukan suamimu dia itu laki-laki bajinggan dan brengsek dia tidak pantas kau sebut Suami dia itu laki-laki munafik, brengsek dan baajinggan. "


"Plaaaakk...! dengan tiba-tiba Vanesa mendekati Bara dan mensmparnya dengan keras.


"Jaga ucapanmu Bara, jangan sembarangan kau menuduh dan merendahkan Suamiku, " Sinis Vanesa dengan wajah merah padam yang mana dengan cepat Vanesa melangkah pergi meninggalkan ruangan Bara.


"Tunggu..!Kau mau pergi menemui Suamimu kan, mau makan Bersama, pergi sana tapi lihat itu dan buka mata hatimu lebar lebar jangan mau kamu di perbuudak oleh cinta. "


"Apa itu? "


"Buka dan lihat sendiri, karena itulah yang Ingin kuberitau kepada mu, " seru Bara yang juga keras karena dia juga ikut terbawa emosi.


Perlahan-lahan Vanesa meraih benda pipih yang diulur kan kepada nya yang mana di dalam ponsel itu terdapat beberapa Video dan foto.


Meskipun sebenarnya malas untuk melihat akhirnya Vanesa membuka juga video dan foto yang ada di dalam ponsel Bara.

__ADS_1


__ADS_2