
Kekecewaan dan kekesalan yang ada di dalam diri Eva membuat Eva merasa dendam kepada kakaknya dia merasa sangat dipermalukan di depan Rendra meskipun Rendra kala itu hanya menatapnya dengan tersenyum.
keterkejutan yang dirasakan oleh Eva ketika Vanesa menyeret tubuhnya, Eva sempat memandang ke arah Rendra yang mana kala itu Rendra juga menatap ke arah dirinya dan Vanesa dan Rendra hanya tersenyum sungguh menyakitkan dan menyebalkan, dalam hati Eva berjanji akan membalas dendam kepada perlakuan sang kakak yang telah tega mempermalukan dirinya di hadapan sang suami.
tentu saja Eva merasakan harga dirinya jatuh diangka yang paling rendah, benar-benar menyebalkan dan Eva semakin membenci Vanesa dan semakin bertekad untuk secepatnya mengusir Vanesa dari kehidupan Rendra.
"lihat saja apa yang akan kulakukan padamu kau sudah menyalakan api dan api ini akan segera membakar dirimu aku tidak peduli lagi dengan perasaanmu dan aku tidak peduli lagi dengan permintaan Mas Rendra agar aku tetap diam enak saja aku harus diam enak saja aku harus mengalah aku juga istrinya aku juga punya hak kita tunggu Boom itu akan segera meledak di Rumah ini."
"Boooomm....! pasti akan sangat menyenangkan dan menarik melihat keterkejutanmu pasti Mbak Nesa tidak pernah menyangka jika aku juga istrinya Mas Rendra jadi aku punya hak di rumah ini punya hak melakukan apa saja jangankan pakai baju seperti ini, poolos tanpa baju juga boleh siapa yang melarang," sinis Eva dalam hati yang mana Dia segera pergi ke kamarnya untuk mengganti baju karena kali ini Eva memilih mengalah, diam dan menuruti apa yang diinginkan oleh Vanesa akan tetapi sebentar lagi Eva tidak akan membuat semuanya berubah.
setelah mengganti pakaiannya Eva segera keluar dari dalam kamarnya kemudian pergi ke ruang tamu duduk di depan Rendra yang kala itu masih membaca koran sedangkan Vanesa berada di dalam kamar untuk melakukan ritual mandi karena dia merasa gerah setelah pulang dari rumah sky.
Rendra yang melihat Eva tiba-tiba duduk di depannya mengeriyitkan dahinya kemudian tersenyum.
"Nah pakai pakaian seperti itu lebih bagus untuk kamu jadi lain kali kalau pakai bawa baju itu yang sopan saja biar kamu nggak dimarahi kakakmu," ucap Rendra pada Eva.
sementara Eva yang mendengar nasehat dari Rendra tersenyum sinis hatinya sangat sakit dan mendongkol bagaimanapun juga dia merasa malu dan dipermalukan di depan suami sendiri, karena mau bagaimanapun juga Rendra itu adalah suaminya dan hal itu sangat tidak ditolerani oleh Eva, diam-diam dalam hati Eva sudah merencanakan sesuatu yang Rendra tidak tahu.
Mungkin Rendra berpikir Eva masih seperti yang kemarin menurut dan tidak akan berbuat macam-macam apalagi Eva sudah berjanji padanya Jika dia tidak akan membocorkan rahasia hubungan mereka berdua sehingga hubungan mereka masih aman sentosa .
"Bilang saja jika Mas Rendra senang jika aku dimarahin Mbak Nesa,"sungut Eva kesal sementara Rendra hanya mengulum senyum kemudian melanjutkan membaca korannya sementara Eva yang melihat Rendra kembali membaca koran sedikit merasa kesal karena dirinya dicuekin Eva bangkit dari duduknya kemudian berjalan mendekati tempat duduk Rendra yang mana Rendra masih memegang koran melihat kedatangan Eva yang tiba-tiba duduk di sampingnya Rendra sedikit terkejut dan panik.
" Eva ngapain kau seperti ini Ayo cepat pindah Nanti kalau kakak mu melihat ini sangat berbahaya kembali ke tempat duduk mu." perintah Rendra pada Eva sementara Eva hanya tersenyum sinis.
"Aku tidak peduli dengan apa yang akan mbak Nesa pikirkan apa salahku Aku kan duduk di samping suamiku sendiri," ucap Eva yang mana mulai menyandarkan kepalanya pada lengan Rendra.
__ADS_1
"Tolong jangan macam-macam kakakmu bisa curiga,"
"Sudah kubilang Aku tidak peduli,"jawab Eva yang mana sangat membuat hati Rendra cemas.
Melihat sikap yang membahayakan dan sepertinya tidak baik Rendra meletakkan korannya di atas meja kemudian berniat hendak bangkit dari duduknya akan tapi tangan Eva sudah menariknya lebih dulu sehingga Rendra tanpa sengaja justru jatuh diatas tubuh Eva dengan wajah yang saling berdekatan.
Eva tersenyum senang sampai dia memejamkan mata memberikan kode sinyal agar Rendra mengecupnya.
"Va ini tidak benar,' jawab Rendra yang kemudian bangkit dari tubuh Eva yang tertimpa beban berat dari tubuhnya.
"Apanya yang tidak benar Mas?"sebuah suara milik Vsnesa yang baru saja keluar dari dalam kamar.
Rendra menekuk ludahnya dia tidak menyangka jika istrinya sudah keluar dari dalam kamar wajahnya mulai tegang dan terlihat panik sementara Eva Tersenyum dalam hati
"Semoga Mbak Nesa melihat semuanya biar tahu rasa dia" lirih Eva dalam hati.
"Kenapa diam Mas Apa yang terjadi?"
"Tidak ada apa-apa, Mbak Nesa baru selesai mandi ya, kelihatan nya segar sekali dan cantik.' ucap Eva memuji kakaknya walaupun dalam hati memuji males banget memuji saingannya akan tetapi demi mendapatkan pujian dan penilaian baik dari Rendra sebagai istri yang penurut Eva mau melakukan semuanya, berpura-pura suka dan memuji kakaknya.
Dengan mengulum senyum seraya bangkit mendekati Vanesa.
"Ayo mbak kita makan, Aku tadi beli beberapa makanan karena malas mau masak, kebetulan Aku berbelanja banyak mbak lihat ini di dapur ada durian juga kesuksesan Mbak Nesa Nanti Aku minta sama Mas Rendra untuk belah duren nya."
Vanesa memandang Eva dengan tatapan penuh selidik belanjaan Eva yang begitu banyak juga tumpukan baju yang begitu banyak yang terlihat belum sempat dipindahkan dari ruang tamu membuat Vanesa mengeryitkan dahinya, menatap wajah sang Adik dengan penuh selidik.
__ADS_1
"Va kamu belanja sebanyak ini dapat uang dari mana? ini pasti sangat banyak dan kamu pasti mengeluarkan uang lebih 10 juta. Baju-baju kamu juga sangat banyak rata-rata berharga dengan satu juta lebih dari mana kau dapat uang sebanyak ini?"
"Dari Mas Rendra lah Mbak emang mau dari siapa lagi,"jawab Eva tenang dan santai yang mana jawaban dari Eva membuat Rendra terbatuk karena dengan spontan Vanesa menatap ke arah Rendra yang kala itu terlihat seperti sedang kebingungan.
Rendra tidak bisa bicara apa-apa dia hanya menggelengkan kepalanya perasaan cemas takut dan khawatir sudah memenuhi otak kepalanya.
apa yang menyadari hal itu mengulum senyum dia bisa memahami dan mengerti perasaan dari Rendra ketakutan dari Rendra yang mana Dia sangat khawatir dan cemas apabila kakaknya sampai mencurigai dirinya.
Eva bergumam dalam hati sungguh sangat menyenangkan melihat wajah Mas Rendra yang begitu ketakutan dan cemas tapi kali ini belum saatnya bom yang akan Aku berikan meletus dan meledak di Rumah ini, untuk kali ini Aku akan membuatmu tersenyum dan lebih mempercayai Aku lagi, jika Aku benar-benar istri kedua yang penurut dan mendengarkan apa yang suami katakan.
"Mbak Nesa lupa ya Besok itu kan ulang tahunnya Mas Rendra dan bertanya sama Aku, Aku mau hadiah apa di ulang tahunnya karena dia ulang tahun mau memberikan hadiah Aku bilang berikan saja aku uang 13 juta waktu itu Aku cuma bercanda, waktu itu Aku tidak pernah serius Mbak karena aku Aku sadar diri lah Mbak aku hanya seorang adik dari Mbak Nesa, terus Mas Rendra bilang gini, boleh enggak apa-apa ini pakai atm-ku kamu boleh belanja apa saja, waktu itu aku sangat senang sekali Mbak ternyata mas Rendra itu orangnya sangat royal dan baik, Mbak Nesa beruntung punya suami seperti Mas Rendra, dia baik dan sangat dermawan."ucap Eva menjelaskan membuat Vanesa menarik napas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan.
"Begitu," tanya Vanesa yang tatapan matanya tak lepas dari menatap wajah suaminya dengan sangat intens membuat Rendra memalingkan wajahnya, rasanya tidak sanggup di tatap Begitu.
"Iya, .Mbak jadi Please Mbak Nesa jangan marahi Aku ya, Mbak Nesa boleh kok minta bajuku dua potong, Mbak boleh pilih yang mana yang Mbak Nesa suka." rayu Eva pada Kakaknya Vanesa sambil bergelayut manja.
Vanesa mengangguk kemudian melepaskan pelukan Eva.
"Baiklah, sekarang kau simpan saja semuanya, rapikan jangan ada di Ruang Tamu lagi,"ucap Vsnesa yang kemudian melangkah mendekati Suaminya.
"Mas, ikut Aku, kita bicara di kamar sekarang juga," ajak Vanesa pada suaminya dengan suara lirih akan tetapi bisa terdengar dengan jelas di telinga Rendra.
Rendra meneguk ludahnya kemudian mengagguk dan menggikuti langkah kaki dari Istrinya Vanesa.
Sementara Eva tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Dasar Mbak Nesa Bodoh, begitu aja langsung percaya, mana adalah seorang kakak ipar ngasih duit banyak kalo ngak pernah tidur dengan nya, huuuuf, bodohnya dan Aku pintar sekali tepuk dua lalat kena, Mas Rendra percaya padaku begitu juga Mbak Nesa yang bodoh itu,"gumam Eva dalam hati sambil tersenyum bahagia.