
Eva terus bermonolog sendiri mencibir dan memaki serta marah-marah karena ulah dari kakaknya yang tiba-tiba datang mengajaknya masuk ke dalam kamar kemudian merampas semua uang serta simpanan perhiasan yang dia punya, bahkan anting sama kalung yang dia pakai pun ikut raib semua diambil oleh Vanesa dengan cara paksa.
"Mbak Nesa itu benar-benar keterlaluan, Dia benar-benar tidak punya perasaan masa uangku diambil, perhiasanku diambil semuanya serba diambil memangnya dia nggak punya, sehingga harus merampas punyaku, ini tidak boleh dibiarkan Aku harus mengadukan semuanya kepada Mas Rendra dia harus tahu kelakuan istri pertamanya enak saja mengambil semua barang milikku, tapi mengapa Mbak Nesa melakukan hal ini ya? apa yang terjadi, apa jangan-jangan Mas Rendra sudah memarahinya, wah ini seru sekali Jika sampai Mbak Nesa dan Mas Rendra berantem ini sangat sangat seru dan hal ini yang Aku tunggu mungkin Mbak Nesa minta uang kepada Mas Rendra terus mas Rendra tidak ngasih Akhirnya Mbak Nesa mengambil semua milikku karena dia marah dan cemburu padaku karena akulah yang mendapatkan uang secara mudah dari Mas Rendra, itu artinya Mas Rendra lebih mencintai ku karena Mad Rendra tidak keberatan memberikan ATM nya langsung kepadaku, sehingga aku bisa berbelanja sesuka hatiku dan sangat banyak."
Eva menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan hatinya terasa lega dan bahagia karena dia berpikir Rendra lebih mencintai dirinya daripada mencintai Vanesa Kakaknya.
Dengan senyum tersungging di bibir Eva membuka pintu kamarnya dan mulai keluar berjalan menuju ruang tamu di mana ruang tamu terlihat sangat sepi tidak ada siapapun di sana mungkin Vanesa berada di dalam kamar bersama Rendra sehingga di ruang tamu tidak ada siapapun, Eva yang merasa jenuh akhirnya pergi ke ruang dapur untuk mengambil beberapa makanan cemilan sebelum menikmati makan malam yang mana Eva menunggu Rendra dan Vanesa untuk bergabung menikmati makan malam.
Malam semakin merangkak dengan udara dingin yang mulai menusuk ke dalam tulang sumsum yang mana anginnya yang bertiup dengan sangat kencang masuk melalui jendela yang hanya tertutup akan tetapi tidak terlalu rapat.
Vanessa yang sudah mengambil barang perhiasan milik Eva segera pergi masuk ke dalam kamar dan menaruhnya di atas meja Begitu juga dengan uang tunai sebesar 2 juta Vanesa langsung pergi menuju ke almari dan mengambil kotak perhiasan yang dia miliki beserta uang yang dia punya, setelah semuanya terambil dengan cepat Vanesa pergi ke ruang tamu dan menggabungkan semua uangnya dan uang Eva untuk dihitung.
Vanesa duduk dengan manis sambil mulai menghitung uang yang ada di atas meja.
Rendra yang kala itu juga baru masuk ke dalam kamar setelah beberapa waktu pergi ke kamar kerjanya untuk mengecek semua laporan dari Rumah sakit melalui leptop pribadinya kini mulai keluar dari dalam ruangan itu kemudian kembali menuju kamarnya.
Baru saja Indra membuka pintu kedua bola matanya membulat seketika ketika melihat Vanessa duduk dengan manis sambil menghitung uang yang ada di atas meja Rendra mengeryitkan dahinya seraya menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan perlahan.
__ADS_1
" Ada apa ini Apa yang dilakukan Vanesa mengapa dia seperti menghitung uang untuk apa itu, Vanesa menghitung uang apakah itu, mungkin uang itu untuk membayar semua yang aku katakan tadi sore," Rendra tersenyum miring,"kumpulkan saja uangmu berapa yang kamu punya tapi aku yakin tidak akan pernah cukup, kamu tidak akan memiliki sebanyak jumlah yang sudah dihabiskan adikmu kemarin sore dengan tersenyum Rendra mulai melangkah mendekati Vanesa, berdiri tepat di belakangnya.
"Wah ini sudah lumayan banyak ini uangnya," lirih Vanesa seraya menghitung jumlah uang tanpa menyadari kehadiran dari Rendra di belakang nya.
Vanesa yang tidak menyadari kedatangan Rendra yang sudah berdiri di belakang nya kemudian berpindah di sampingnya membuat Vanesa sedikit terkejut.
"Kau, kenapa sudah ada di sini,? tanya Vanesa
"Kalau aku di sini Kenapa apakah mengaggu pekerjaan mu, hmm banyak sekali uangmu Ada berapa tuh?"
Vanesa tersenyum miring entah mengapa hatinya terasa sangat kesal melihat Rendra, dengan sangat cepat Vanesa bangkit dari duduknya kemudian menyerahkan uang itu kepada Rendra.
"Enak saja tinggal ngasih seperti itu nggak bisa dong, lagi pula sepertinya itu masih kurang 13 juta loh Nes bukan cuma 4 atau 5 juta atau 6 juta itu10 aja juga masih kurang,"ucap Rendra pada Vanessa akan tetapi dengan menyungingkan sebuah senyuman Vanessa menatap tajam pada suaminya.
"Aku tidak peduli Mau cukup atau tidak terserah sudah kubilang ambil saja barangnya selesai kan untuk apa aku harus yang repot-repot membayarnya dan satu lagi sekarang jelaskan padaku mengapa lipstik yang ada di kemeja kamu sama dengan lipstiknya yang ada di meja rias Eva, lihat ini sama dengan lipstik yang menempel di kemeja kamu kan?"
"kamu curigaiku?"sinis Rendra yang kini mulai sedikit tersulut emosi yang mana sesungguhnya hatinya sedang gusar.
__ADS_1
"Jika aku jawab iya, Aku juga tidak punya buktinya, tapi perlakuan kamu, kelakuan kamu semuanya mengarah seperti itu Mas, Aku tuh memang bodoh tapi perlu kamu tahu Aku menjadi suster meninggalkan semua gelarku untukmu karena Aku mencintaimu karena Aku percaya padamu, Aku membiarkan karirku jatuh bahkan tidak berkembang sama sekali tapi bukan berarti aku tuh bodoh sekarang kamu pikir lah, mana ada seorang kakak ipar memberi uang sebanyak itu jika tidak memiliki sesuatu apapun, Aku hanya ingin diam karena aku tidak mau melakukan sesuatu tanpa bukti, Aku bukan orang yang suka menuduh tanpa bukti menuduh orang jika aku tidak memiliki buktinya dugaan bisa salah tapi bukti tidak akan pernah salah jadi Aku mau pastikan dugaanku salah dan Aku tidak bisa membuktikan kebenarannya,"ucap Vanesa dengan nada tinggi seolah-olah Dia sedang memendam suatu kemarahan yang sewaktu-waktu bisa meledak, dengan cepat Vanesa melangkah menghampiri pintu, akan tetapi Rendra yang sudah mencium adanya kecurigaan dari Istri nya tidak banyak bicara tapi tangannya dengan sangat cepat mengunci pintu kamar.
"Mas, apa-apaan kau ini buka pintunya Aku mau keluar."ucap Vanesa kesal.
"Tidak ada yang mengijinkan mu keluar dari dalam kamar ini,"
"Apa maksud mu?"
"Apa kamu ingin tau, ayo," seru Rendra yang langsung menarik tangan Vanesa dan mendorong nya jatuh ke atas Ranjang.
"Mas, kau mau apa?"tanya Vanesa panik ketika Rendra melempar kemeja baju atas yang dikenakannya.
"Kenapa mesti bertanya pasti kamu tau apa yang suamimu mau, ayolah,"
"Aku tidak mau, jangan sentuh Aku."
"Ssst, jangan berteriak Aku ini suamimu, jangan berlagak seperti wanita yang mau di perkoosa saja,"
__ADS_1
"Aku tidak peduli, Aku tidak mau , Aku tidak berseleera, Aku lagi malas."
"Aku juga tidak perduli semua itu yang Aku mau dan yang Ingin lakukan itu yang terjadi."seru Rendra yang mulai melakukan penyatuan dengan istrinya."Terserah kamu, berteriak sepuaasmu kamar ini kedap suara jadi percuma kau berteriak."ucap Rendra seraya terus berusaha mencummbu istrinya yang terus memberontak dan berusaha menghalang-halangi keinginan dari suaminya.