
Ketika fajar mulai menyingsing seperti hari-hari biasa Rendra selalu bangun lebih awal dari pada sang istri, Rendra memiliki sikap yang sangat disiplin dan tegas sehingga dia tidak pernah telat dalam melakukan hal apapun.
Ketika Rendra sedang asik melakukan Ritual mandinya, sedangkan Vanesa yang juga sudah bangun tidak mau menunggu ataupun mengaggu maka dengan perlahan-lahan Vanesa pergi ke kamar mandi yang lain, semua dia lakukan agar tidak telat sampai di Rumah sakit.
Kurang lebih dua puluh menit Rendra melakukan Ritual mandinya dan ketika keluar dari dalam kamar mandi Rendra memicingkan matanya.
"Kemana Vanesa mengapa dia tidak ada di dalam kamar,"lirih Rendra dalam hati, karena tidak mendapati Vanesa di atas Ranjang nya, ketika Rendra asik bermonolog sendiri tiba-tiba pintu kamar di buka dari luar, Rendra sontak saja memandang ke sumber suara dan terlihatlah jika Vanesa baru saja melakukan Ritual mandi dan hal itu terlihat dari basahnya Rambut Vanesa yang terurai, sekilas Rendra meneguk ludahnya bagaimana pun dia laki-laki Normal dan bagaimana pun pernikahan yang belum genap satu tahun itu masih bisa dibilang baru, yang mana masih suka gas poll dengan pasangan nya, tapi sikap Rendra berubah sejak memasuki bulan ketiga entah apa yang menjadi penyebab nya yang jelas Rendra sangat berbeda, meskipun terkadang ada juga tiba-tiba lembut dan perhatian.
"Kenapa mandi di luar?'tanya Rendra tidak suka meskipun hatinya mengakui wanita yang berdiri didepan nya sangat mengoda akan tetapi sikap dingin dan acuh lebih menguasai alam pikiran nya.
Melihat tatapan mata dingin suaminya Vanesa meneguk ludahnya, harus dia akui Suaminya Sangat Tampan akan tetapi sikap nya yang belakangan aneh membuat hatinya kesal.
"Aku tidak mau mengaggu Mas Rendra jadi Aku memilih mandi di kamar mandi luar.
"Beruntung di Rumah ini hanya ada kamu dan Aku tidak ada tukang kebun ataupun satpam Rumah, jika mereka ada dan kamu berani mandi di luar kamar kamu akan tau akibatnya, ingat ini yang terakhir kamu mandi di luar kamar sekarang cepat ganti bajumu dan siapkan sarapan pagi."
"Baik Mas,"dengan cepat Vanesa masuk kedalam ruang kecil dimana tempat itu khusus untuk ganti baju sebuah kamar yang luas, dengan tiga kamar, satu kamar mandi besar satu kamar kecil untuk ruang ganti dan satu Ranjang untuk mereka tidur.
Tidak menunggu lama Vanesa keluar dari dalam kamar dengan pakaian santai biasa Vanesa tidak pernah langsung mengunakan baju perawat dari Rumah untuk bekerja.
"Mas Aku hanya bisa kasih masak mie rebus dan telor, apa mas mau, jika tidak apa lebih baik kita makan di luar saja,"tanya Vanesa ragu-ragu pasalnya semalam Vanesa sudah membuat kan Suaminya mie dan pagi ini juga mie tentu akan bosan
"Apa kamu tidak bisa masak?"
"Mas,kan biasanya mbok Yem yang masak dan kita tinggal makan saja Aku tidak tau kemana mbok Yem kok tidak terlihat dari semalam."
"Mbok Yem sudah ku suruh pulang, seharusnya kamu yang masak bukan cuma buat mie rebus saja."
"Maaf, mas ngak sempat,"
"Bilang saja malas," Sungut Rendra kesal, uang banyak tapi di Rumah bagaikan orang miskin yang tidak punya yang ada cuma mie dan mie," sinis Rendra kesal.
"Kalau begitu kita makan di luar saja Mas,"jawab Vanesa dengan bibir tersenyum, bayangan nya, kali ini Vanesa akan bisa menikmati makan pagi dengan sang suami rasanya sudah lama Vanesa tidak makan diluar bersama pasti kali ini akan indah dan romantis.
__ADS_1
"Apa, tidak perlu biar Aku makan mie ini saja."
"Oh my good itu artinya Aku juga harus makan mie rebus juga, haiss ngak nyaman banget tuh, tapi ngak apa-apa lah toh Nanti malam mbok Yem pasti masak yang enak,"hibur Vanesa yang kini juga mulai ikut makan mie Rebus.
Di tengah tengah Acara makan Rendra menggeluarkan amplop dari dalam tas hitam nya.
"Ini bayaran kamu untuk dua bulan, Aku pergi dulu."ucap Rendra seraya bangkit dari duduknya setelah menghabiskan makan mie rebus nya.
Vanesa langsung membuka amplop coklat yang diberikan Suaminya, nilai uangnya cukup banyak bahkan lebih banyak dari gajinya meskipun itu untuk waktu dua bulan.
"Mas ini kebanyakan?"teriak Vanesa menghentikan langkah kaki Suaminya yang hendak pergi.
"Ambil saja, Nanti jangan pulang telat Aku masih ingin menggulang yang semalam gak enak kurang lama jadi persiapkan juga dirimu untuk Nanti malam, kamu boleh beli kosmetik atau baju apalah terserah kamu yang pasti pukul sembilan harus sudah ada di Rumah, apa kau mengerti?"
"Iya Mas Aku mengerti."
"Baiklah kalau begitu Aku pergi dulu,"
"Mas tunggu, apa tidak sebaiknya kita berangkat bareng?"
Baik Mas."Vanesa mencium tangan yang di ulurkan Rendra kepadanya.
Setelah kepergian Rendra Vanesa mendengus kesal.
"Benar benar aneh masak berangkat sama istri sangat Anti seperti mau pergi dengan pembantu saja sehingga dia tidak mau, tapi kalau urusan Ranjang mintanya lebih, gila apa sudah di servis dia kali masih kurang doyan banget tuh suami tapi mbok sedikit berhati kan kita satu arah satu tujuan berangkat bareng gitu, ini Aku disuruh berangkat sendiri, mana Aku harus Naik taksi karena Aku tidak bisa mengendarakan mobil, Araaaaaagggghhhh, benar-benar egois dan menyebalkan, cuma mau enaknya doang beruntung Aku cinta mati sama kamu kalau tidak sudah Aku tinggalkan kamu, tidak apa-apa lah kan Aku harus bisa menjadi istri yang berbakti, tidak apa-apa asal jangan sampai kau menghianatiku,"lirih Vanesa yang kini mulai keluar Rumah dan menelpon taksi untuk berangkat kerja.
di dalam mobil taksi Vanesa teringat akan amplop coklat pemberian Suaminya.
"Hari ini Aku sudah mendapatkan gajiku Aku harus telpon Eva, dia pasti senang jika Aku akan mengirimkan uang pada nya, Aku harus cepat sebelum Eva minta di kirimin uang Ayah." dengan cekatan Vanesa segera menelpon Eva tidak lama kemudian terdengar suara dari sebrang.
"Halo...!
"Assalamualaikum Eva?" tumben jawab telpon Mbak Nesa kok ngak pakai salam."
__ADS_1
"Ya, walaikumsalam mba, ada apa?" tanya Eva dengan suara malas.
"Cepat kirim no rekening kamu, mbak mau kirim kamu uang hari ini."jawab Vanesa berbinar dia sangat senang jika bisa membuat adiknya senang.
"Halah Mbak, ngak usah paling juga cuma lima juta, males banget ngasih kiriman segitu, ngak usahlah Mbak, ngak perlu ngasih uang Aku."jawab Eva dingin
"Hmmm, ngambek ya, maaf yang kemarin dulu itu, Mbak mau kamu bisa hemat, jadi mbak ngak ngasi kirim dan siapa bilang Aku cuma mau kasih lima juta, Aku itu mau kasih kamu 20 juta gimana?"tawar Vanesa dengan tersenyum.
"Apa? dua puluh juta, ah yang bener Mbak," tanya Eva dengan suara keras sangat terlihat sekali dari nada suaranya dia sangat senang.
"Benar Dong, masak Mbak mau bohong."
"Wah tumben Mbak Nesa mau kasih uang kiriman banyak."
"Tadi pagi Mas Rendra ngasi uang buat Mbak dan uangnya cukup banyak jadi Aku kasih kamu duapuluh juta biar kamu tidak perlu minta kiriman dari Ayah."
"Mas Rendra, ngasih banyak emangnya Mbak Nesa di kasih berapa dan apakah Mbak Nesa sedang ulang tahun, kok Mas Rendra ngasih banyak?"
Terdengar suara tawa dari Vanesa Mendengar pertanyaan sang adik yang kelihatan nya sangat penasaran.
"Ngak kok, Mbak Nesa ngak sedang ulang tahun dan Mbak Nesa di kasih seratus juta, entahlah kok di kasih banyak ."
"Apa? seratus juta pasti ada yang mbak Nesa lakukan kok Mas Rendra ngasih uang sebanyak itu."
"Ah, kamu masih kecil jangan tanya-tanya dah, suami ngasih istri banyak kan cuma minta servis yang bagus itu aja, tapi sudahlah kamu masih kecil jangan tanya-tanya lagi ya, sudah kamu kirimkan saja no rekening kamu Nanti Aku akan kirim uang secepatnya."
"Ngak perlu Mbak, uang Aku juga masih ada, sudah ya Aku sibuk Assalamualaikum," tutup Eva yang tanpa menunggu jawaban langsung menutup sambungan telpon nya membuat Vanesa melongo.
Vanesa sedikit heran dengan perubahan sikap bicara Eva tadi terlihat senang dan bahagia mau dikirim uang tapi sekarang tiba-tiba marah dan tidak mau, Vanesa mengusap kasar wajahnya.
"Apa Eva masih marah padaku dengan sikap ku beberapa Minggu lalu."keluh Vanesa sedih.
Sementara di tempat lain Eva yang kesal, dan merasa cemburu melampiaskan kekesalannya dengan membuang semua alat-alat kosmetik yang ada diatas meja riasnya hingga berhamburan di lantai.
__ADS_1
"Oh, jadi ini alasannya, menutup telpon dariku, dia semalaman bercinta dengan Mbak Nesa Sampai puas sehingga dia rela memberikan uang banyak pada Mbak Nesa, apa enaknya dia bukan kah masih Enak dengan ku, kan punya ku baru di jebol segel nya, ini pasti gara-gara Mas Rendra kurang saat menikmati Aku dan mungkin karena Aku tidak di dekatnya, makanya meminta Mbak Nesa untuk melayani dasar Suami doyan makan apem, masa baru di kasih yang lebih enak masih saja kurang, baiklah demi kamu Mas, demi memuaaskanmu Aku akan datang malam ini juga, lebih baik Aku berhenti dan tidak usah sekolah lagi toh suamiku juga kaya dan dengan begitu Aku juga bisa secepatnya mendepak pergi Mbak Nesa dari kehidupan Mas Rendra, tunggu Aku akan berikan kejutan padamu malam ini dan Aku mau secepatnya kau nikahi Aku secara sah, Akupun merindukan dirimu Pak Dokter yang hoot." gumam Eva dalam hati sambil mengulum senyum.