
Eva yang berbahagia karena telah berhasil dan sukses mengerjai keduanya di mana dia akan mendapatkan kepercayaan dari Rendra dan juga mendapatkan kepercayaan dari Vanesa sehingga dia bisa memanfaatkan keduanya, tersenyum miring sambil meneguk sebuah minuman kaleng yang baru saja di ambilnya dari dalam kulkas.
"Permainan baru akan kita mulai kakak tiri ku yang cantik, tidak-tidak kau bukan kakak tiri ku kau hanya seorang Anak yang di pungut Ayah ketiika itu jadi untuk apa Aku bersimpati dan kasian padamu, sudah bertahun-tahun kau merampas cinta Ayah dan Ibuku, semua menyayangimu bagaikan Anak nya sendiri bahkan Aku masih ingat betapa Aku mendapatkan marah ketika Aku membuat kesalahan yang tidak disengaja tapi kamu tidak disalahkan bahkan terlihat selalu dibela dan mulai saat itu Aku tidak sudih memgaggapmu sebagai Kakakku lagi, yang Aku inginkan hanya uangmu dan sekarang Aku tidak butuh lagi uangmu karena Aku bisa meminta sendiri dari Mas Rendra suamimu, Ah bukan Rendra juga Suamiku dan sebentar lagi Mas Rendra hanya akan menjadi milikku, bukan milik mu tunggu saja saat itu akan segera tiba," desis Eva dalam hati sambil tersenyum miring.
Merasa sangat bingung dan cemas Rendra yang menggikuti langkah kaki dari Istrinya Vanesa berkali-kali meneguk ludahnya dan berkali-kali mengusap kasar Wajahnya ketiika sampai di dalam kamar dan Vanesa menatapnya dengan tatapan mata yang begitu tajam seolah sedang mengimidasi.
"Apa yang ingin Mas Rendra jelaskan padaku, katakanlah,"tanya Vanesa dengan terus menatap wajah suaminya yang terlihat sangat gusar.
"Apa, Aku tidak tau harus menjelaskan bagaimana padamu, Aku hanya menilai dia Adikmu dan tidak masalah jika Aku memberikan uang padanya." jawab Rendra gugup berharap Vanesa mengerti Rendra sangat yakin atau lebih tepatnya berusaha untuk yakin agar istrinya Vanesa tidak berpikir yang negatif dan percaya sepenuhnya kepada nya seperti pada hari-hari biasanya, Vanesa sangat mudah percaya dengan semua perkataan nya.
"Mas Apa Mas Rendra sadar Mas Rendra itu keterlaluan masak sampai memberikan ATM pada Eva Mas kelakuan Mas Rendra ini bagaikan seorang suami yang ngasih uang jatah buat Istrinya tau gak."
"Uhuk... Uhuk," Rendra langsung terbatuk-batuk mendengar perkataan dari Vanesa."
"Kalau batuk itu minum tuh ada Air mineral tuh di meja,"tunjuk Vanesa pada Rendra.
" pokoknya lain kali Aku tidak mau Mas Rendra menggeluarkan uang banyak pada Eva dan satu lagi Mas Rendra nyaman ya duduk di dekat Eva juga ketika Eva memakai baju yang kurang bahan begitu."
"Sudahlah Nesa jangan membuat sesuatu yang membuat Aku jadi terpojok kamu tau Aku ini seorang Dokter dan Aku bisa menjaga diriku dengan baik asal kamu tau yang Aku lakukan pada Eva itu karena dia Adikmu dan kenapa sekarang kau mempermasalahkan semua nya bukan kah dulu sudah kubilang jika Aku tidak mau Adukmu tinggal disini jadi jika sekarang Aku baik itu semua salahmu."
"Lho, kok jadi Aku yang salah Mas."
"Tentu saja gara-gara Adikmu aku tidak tega sehingga Aku dengan berat hati memberikan ATM Aku, dan mana kutahu jika ternyata Adikmu doyan belanja gila-gilaan begitu dan seharusnya kamu yang ganti uang Aku." Sungut Rendra berpura-pura kesal menbuat Vanesa mendelik tidak percaya jika justru semua adalah kesalahan nya."Dengar Aku tidak mau tau uang 13 juta harus balik jika kamu mau lebih ringan juga boleh kamu tinggal serahkan tubuhmu untuk melayaniku dua malam Aku akan anggap lunas."ucap Rendra santai dengan menyunggikan sebuah senyuman penuh kemenangan.
Sementara Vanesa mendengus kesal dan tidak trima jika dirinya harus membayar semua yang Eva habis kan sedangkan dia tidak mengerti apapun.
"Mas, kamu sengaja memerasku kan, kamu sengaja membuat Aku terpojok kan, pokoknya Aku tidak mau tau itu kan urusan mu salah sendiri ngasih ATM segala ke orang sembarangan," Sungut Vanesa yang kemudian hendak melangkah keluar kamar akan tetapi sebelum kaki Vanesa melangkah keluar tangan kekar Rendra sudah menariknya dengan sedikit keras hingga membuat Vanesa jatuh dalam pelukan Rendra.
Dengan senyum tersungging di bibir Rendra membisikkan sesuatu di telinga Vanesa.
"Bukankah sudah kewajiban kamu melayaniku jadi tidak masalah dan bukan sesuatu yang sulit kan, lagi pula kamu juga sudah hafal dengan caraku tapi kali ini jika kamu menurut Aku berjanji akan melakukan nya dengan lembut."ucap Rendra lirih di telinga Vanesa, tapi entah mengapa ucapan rayuan Rendra kali ini membuat Vanesa merasa muak bahkan seolah olah jiijiik mendengarkan nya, bayangan ketika di dalam ruangan Rumah sakit ada bekas lipstik di kemeja baju suaminya bayangan ketika pulang mendapati sang Adik dengan baju yang begitu menantang di depannya dia tidak keberatan sekarang ditambah dengan tiba-tiba Adiknya mendapatkan ATM darinya sehingga dia bisa berbelanja dengan begitu banyak, bukankah bisa jadi Suaminya menyimpan sesuatu diantara mereka berdua, tapi dirinya belum cukup bukti untuk menuduh sedangkan tuduhannya bisa jadi semua salah fan tidak benar bukan kah Rendra seorang dokter ternama yang pastinya menjaga reputasi nya dia tidak mungkin macam-macam dan bertingkah macam-macam." Gumam Vanesa dalam hati.
"Mas, ini namanya pemaksaan Aku tidak melakukan kesalahan tapi Mas putar balikkan fakta agar Aku terlihat bersalah sehingga Mas bisa lakukan apa saja padaku, Aku tidak mau seperti itu, Mas pikir Aku tidak punya perasaan apa?'sinis Vsnesa kesal.
__ADS_1
Melihat wajah kesal sang Istri mrmbuat Rendra semakin gemas dan semakin berpikir bagaimana Vanesa bisa dia tundukkan malam ini.
"Tidak masalah jika tidak mau tapi....
Rendra tidak melanjutkan ucapannya dirinya justru tersenyum miring, membuat Vanesa mendorong tubuh kekar Rendra sehingga pelukan Rendra terlepas.
"Kenapa tidak dilanjutkan," Sungut Vanesa kesal.
"Hmmm, Ada cara lain yang bisa membuat mu tidak perlu melakukan itu padaku,"
"Apa itu?"
"Kamu kembalikan uangku yang di pakai Adikmu semua akan beres."
"Baiklah, besok Aku akan kembalikan semua uangmu,"
Rendra tertawa lepas mrndengar ucapan Venesa.
"Mas Rendra kau, itu namanya kau memerasku,"
"Tidak masalah kan lagi pula Aku ingin kita segera memiliki anak jadi kita bikinnya ngebut aja sayang,"
"Haiss, ngomong apaan si Mas, baiklah Aku akan berikan uang malam ini beri Aku waktu sampai pukul 12 malam.
"Kayak muncul nya Hantu saja Nes nunggu tengah malam,"
"Sudahlah tunggu saja pasti malam ini Aku bisa bayar uang yang di pakai Eva." seru Vanesa yakin yang mana dia langsung keluar kamar sementara Rendra mengulum senyum.
"Kamu tidak akan mendapatkan uang itu Aku yakin itu." desis Rendra dalam hati yang mana dirinya langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk melakukan ritual mandi.
Vanesa yang kesal dan baru saja keluar dari dalam kamar langsung mencari Eva yang ada di dapur untuk menyiapkan makan malam mereka bersama.
"Va, ikut Aku,"seru Vanesa yang langsung menarik tangan Eva agar menggikuti nya dan ternyata Vanesa menarik Eva masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
"Mbak kamu ini kenapa, mau apa menyuruhku masuk ke dalam kamar?"
Vanesa tidak menjawab pertanyaan Eva karena Vanesa sibuk membuka buka tas dan laci yang ada di dalam kamar Eva.
"Mbak ngapain Mbak membuka buka tasku, Mbak Nesa mencari apa?" tanya Eva bingung.
"Mbak lagi mencari duit dimana kamu simpan semua uangmu, kenapa ini cuma ada dua juta"
"Mbak Nesa mencari uangku buat apa, Aku tidak punya Mbak,"
"jangan bohong cepat berikan jika kamu tidak mau Aku usir dari tempat ini,"
"Mbak Nesa ini kenapa sih kayak orang lagi kesanbet saja sudah kubilang Aku tidak punya."
Vanesa tidak perduli teriakan Eva dia terus mencari hingga kedua bola matanya menatap sebuah kotak yang tergeletak di atas meja dengan cepat Vanesa segera menghampiri dan meraih kotak yang ada di atas meja dan ketika Vanesa mau membuka isi kotak itu tiba-tiba Eva berlari mendekati dan mencoba meraih kotak itu.
"Mbak, jangan mau kamu apakan kotak itu."
Vanesa tidak perduli dengan Teriakan Eva dia fokus mulai membuka kotak dan terlihatlah sebuah beberapa perhiasan berlian yang ada di dalam kotak itu.
"Ini boleh juga,"
"Mbak itu punya ku jangan diambil."
"Diam kau, dan ini juga harus kamu berikan padaku juga,"ucap Vanesa seraya melepaskan kalung dan anting yang saat itu digunakan Eva.
"Eh, eh, Mbak kamu jangan gilaa deh, kenapa kamu ambil semua,"
"Sudah Diam di situ," seru Vsnesa yang kemudian keluar dari dalam kamar Eva dengan membawa uang tunai dan beberapa perhiasan milik Eva.
Merasa di permainkan Eva bersungut-sungut kesal.
"Keterlaluan Aku akan adukan sama Mas Rendra, enak saja semua milikku di rampas Mbak Nesa," Sungut Eva kesal dan marah.
__ADS_1