
Rendra yang menggempas kan tubuhnya diatas Ranjang ingin tidur menjadi tidak bisa tenang, pikirannya kacau dia masih terngiang dengan pesan Eva yang meminta dirinya untuk datang.
pesan bukan sekedar pesan karena Eva juga menyertakan ancaman, Rendra mengusap kasar wajahnya, pikiran nya begitu kacau di satu sisi apa yang dia lakukan ingin membalas sakit hatinya pada sang istri tapi di sisi lain belum mampu dan tidak siap seandainya apa yang dia lakukan sampai di ketahui sang istri.
"Kenapa Eva harus ada disini dan bagaimana mungkin Aku bisa menemuinya dan alasan apa yang bisa ku katakan agar Vanesa tidak curiga, Araaaaaagggghhhh bikin pusing saja, apa sih maunya anak itu, apa mungkin dia benar-benar ingin menghancurkan hubungan ku dengan Nesa?" tidak tidak itu pasti tidak benar, mungkin kebetulan saja Eva datang kesini." hibur Rendra dalam hati.
Sementara di dalam kamar Eva tersenyum puas setelah mengirimkan satu pesan pada Rendra. bibirnya tersenyum miring.
"Kamu adalah miliku Dokter Rendra dan Aku tidak akan pernah melepaskan mu, ini baru awal mula hari ini kamu bisa menjadi milik saudara ku tapi sebentar lagi Aku akan buat kamu hanya akan menjadi milikku, tidak akan Aku biarkan saudara tiri ku itu mengambil kebahagiaan ku dia harus pergi dan melepaskan dirimu untukku."Lirih Eva bermonolog sendiri.
Vanesa yang ketika itu masuk ke dalam kamar Eva dan sedang mendapati sang adik tersenyum sendiri mengeryitkan dahinya mencoba mendekati sang Adik yang seperti nya sedang bahagia.
"Wah lagi senang rupanya, coba bagi cerita sama Mbak, Eva lagi bahagia karena apa?"
Eva yang kala itu sedang tersenyum sedikit terkejut mendengar suara kakaknya yang tiba-tiba sudah ada di dalam ruang kamarnya.
"Mbak Nesa, kenapa kesini lagi?"
"Aku mau membantumu, sekalian kita makan malam setelah ini, Mas Rendra bilang masakan kamu enak Va, Mas Rendra sangat suka."
Eva tersenyum smrik kedua bola matanya berbinar senang Ketika kakaknya mengatakan jika sang Suami sangat menyukai masakannya.
"Benarkah Mbak?"
Vanesa mengagguk, Eva yang mendengar pujian itu bibirnya tersenyum hatinya mulai bermonolog sendiri.
"Bagaimana caranya agar Mbak Nesa keluar dari Rumah dan Aku bisa melewati waktu bersama dengan Mas Rendra ya, Apa yang harus Aku lakukan agar Mbak Nesa pergi." keluh Eva bermonolog sendiri.
Melihat sang Adik tiba-tiba diam seolah lagi melamun Vanesa menjentikkan jari nya
"Hayo ngelamunin apa ,ayo kita makan malam Mbak sudah lapar nih,"ajak Vanesa pada sang adik setelah mereka berdua menyelesaikan menata semua barang bawaan yang di bawa Eva.
__ADS_1
Eva tersenyum kecut seraya mengagguk, kedua nya kini mulai berjalan ke arah meja makan, di mana masih ada banyak makanan yang belum di sentuh Rendra.
"Mbak...!'
"Hmmm,"
"Aku kan baru datang dan Aku tidak bisa tidur kalau tidak ada buku bacaan, apakah Aku bisa minta tolong di antar ke toko buku, sekalian Aku mau membeli beberapa cemilan."
"Mbak ngak bisa nyetir Va, bagaimana mungkin Mbak bisa mengantarmu?"Vanesa bicara dengan nada sedih, sebenarya dia ingin dan sangat ingin menggantar sang Adik akan tetapi dia sadar dirinya tidak bisa nyetir.
Sambil menyuapkan makanan ke dalam mulut Eva tersenyum.
"Kan Mbak bisa minta tolong sama Mas Rendra untuk menggantarku."jawab Eva dengan enteng seolah olah Eva yakin jika kakaknya akan menuruti semua yang di inginkan dirinnya.
"Tapi VA, kelihatan nya Mas Rendra hari ini capek, Mbak khawatir jika dia tidak mau."
"Alah Mbak Nesa jangan cari-cari alasan deh, bilang saja ngak ihklas jika Aku pergi sama Mas Rendra."sinis Eva dengan wajah kesal dia benar-benar tidak terima jika belum apa-apa kakaknya sudah mengatakan jika Rendra tidak mau.
"Eva...Nanti biar Mbak yang ngomong, tapi sebaiknya besok saja ya, tadi Mas Rendra kelihatan nya sangat capek."
"Mbak, kenapa sih Mbak Nesa ini sikap nya seolah olah menghalangi, sudahlah Mbak Nanti biar Aku sendiri yang bilang sama Mas Rendra lagi pula Aku ini baru di kota ini, tidak ada salahnya kan jika Aku di ajak jalan jalan melihat keindahan kota, pokoknya Aku mau hari ini dan Aku sendiri yang akan bilang sama Mas Rendra."ketus Eva sinis ucapannya begitu keras dan kasar. "Mbak tolong cuci piring Aku juga Aku mau ketemu Mas Rendra Aku mau melihat lihat indahnya kota ini, jadi Aku sendiri yang akan minta izin, Mbak bereskan saja semua nya,"ucap Eva yang mana dia langsung bangkit dan pergi setelah meminta Vanesa untuk mencuci piring bekas makannya, Vanesa sedikit terkejut dengan sikap kasar sang Adik, bahkan berani dengan seenaknya menyuruh untuk mencuci kan piring bekas makannya.
Sementara Vanesa meneguk ludahnya dengan kasar dan sedikit melongo kemudian menggelengkan kepalanya, Vanesa bangkit untuk membersihkan piring bekas mereka makan.
Di depan kamar Rendra, Eva menghentikan langkah kakinya dan tanpa mengetuk pintu Eva segera meraih handle pintu dan membukanya.
Melihat pintu tiba-tiba terbuka dan kala itu Rendra yang sedang kesal di atas Ranjang sedikit terkejut dan mendelik mana kala melihat orang yang masuk dan datang ke dalam kamarnya adalah Eva, lebih terkejut lagi ketika Eva langsung mengunci pintu dari dalam, sontak saja hal itu membuat Rendra langsung meloncat turun dari Ranjang.
"Eva, apa yang kau lakukan," tanya Rendra panik, sangat terlihat jelas jika dirinya sangat terkejut dan lebih terkejut lagi ketika tanpa basa-basi Eva langsung memeluknya."Hei, Va apa yang kamu lakukan,"tanya Rendra semakin panik, Rendra berusaha merenggangkan dan melepaskan pelukan Eva akan tetapi Eva semakin memeluk Rendra dengan erat.
"Aku sangat merindukanmu Mas,'ucap Eva dengan nada manja.
__ADS_1
"Astaga Va kamu jangan gila kita ini ada di Rumah dan ....
Belum juga Rendra selesai berbicara Eva sudah memotong nya.
"Aku tidak perduli, Aku mencintaimu dan Aku sangat merindukan suami ku Apa itu salah?'ucap Eva yang mana wajahnya tengadah menatap mata hitam, kini tangan Eva mulai melingkar di leher Rendra yang mana mau tidak mau Rendra harus menunduk menatap wajah cantik Eva, tanpa malu dan Ragu Eva sedikit menekankan tangannya sehingga wajah Rendra semakin menunduk kebawah dan jarak antara Eva dan Rendra kini hanya beberapa Mili saja.
Eva membuka bibirnya memberikan isyarat pada Rendra untuk melahapnya.
"Va, ini tidak benar," ucap Rendra seraya mencoba untuk menepis dan menjauh dari wajah cantik Eva, akan tetapi Eva yang sangat pandai dalam menaklukkan hati tanpa rasa malu maupun ragu merapatkan tubuhnya sehingga sangat terasa daging kenyal itu menyentuh dada bidang Rendra yang mana akhinya Rendra pun terbawa arus listrik yang mulai menyengat.
Perlahan-lahan Rendra mulai memberikan kecupan tipis pada bibir Eva yang menggoda tapi lama-kelamaan berubah menjadi sebuah tuntutan untuk menikmati lebih dalam.
Sedetik dua detik hingga lima menit Rendra terbawa Arus suasana keindahan sebuah cinta, hingga sebuah ketukan pintu menbuat Rendra tersadar dari perbuatannya.
"Mas kenapa pintu nya di kunci?"
"Nesa..! dengan gerakan Refleks Rendra mendorong tubuh Eva menjauh darinya." cepat kau sembunyi."
"Tapi Mas,"
"Sudah, Ayo," dengan cepat Rendra menarik Eva masuk ke dalam kamar mandi." diam di sini jangan keluar sebelum Aku perintahkan, apa kau mengerti?"
"Iya, mas."
Buru-buru Rendra menutup kamar mandi kemudian melangkah menuju pintu dan membukanya, Rendra memasang senyuman yang manis di bibirnya.
"Kenapa pintunya di kunci Mas,"
"Nng...itu, ya karena Aku tidak mau di ganggu Adikmu yang menyebalkan itu, makanya pintunya Aku kunci," jawab Rendra berbohong yang mana suara Rendra juga di dengar Eva yang berada di dalam kamar mandi.
"Kurang ajar, masak Aku di bilang menyebalkan awas saja kau Pak Dokter Rendra, Aku akan balas Nanti." geram Eva dalam hati.
__ADS_1