BERBAGI RANJANG DENGAN ADIKKU

BERBAGI RANJANG DENGAN ADIKKU
Bab.34 RASA SENANG


__ADS_3

Setelah menghabiskan waktu selama 4 jam akhirnya Vanesa selesai berbelanja dan membeli segala sesuatu yang dia butuhkan Bara yang sedari tadi setia menemani mulai mengajak Vanesa untuk makan karena dirinya merasa lapar.


Kali ini Vanesa tidak menolak bahkan meminta Bara untuk memilih tempat Restoran mana untuk makan mereka.


Sesuatu yang tidak pernah Bara sangka ternyata hati seorang gadis yang ada di depannya masih bisa mencair juga, hal itu membuat Bara semakin yakin jika suatu saat Vanesa akan bisa dia miliki, hanya menunggu satu kesalahan dan satu sebab yang akan dilakukan Rendra yang mana tidak akan pernah Vanesa maafkan, Bara berdoa dalam hati smoga Rendra Admaja teledor dan melakukan kesalahan fatal sehingga Vanesa tidak pernah mau memaafkan nya.


"Semoga saja Rendra Admaja melakukan kesalahan fatal dan Vanesa bisa kumiliki, Amin, bukankah banyak yang bilang doa akan cepat terkabul apabila kita berdoa disaat turun hujan, kebetulan sekarang ada rintik hujan," gumam Bara dalam hati sambil senyum senyum sendiri.


Vanesa yang melihat tingkah dan perilaku aneh dari pemuda yang ada di depannya hanya bisa menggelengkan kepalanya, awal bertemu Pemuda itu sangat kacau bagaikan Preman kala masuk Rumah sakit kasar dan Arogan sehingga beberapa dokter yang kala itu di buat pusing dengan sikap Arogan nya karena sang pasien bersikeras ingin minta pulang, akhir nya mereka membujuk agar pasien itu mau dirawat satu hari saja dan kebetulan tugas untuk menjaga dan mengawasi diberikan pada dirinya.


Aneh dan tidak mengerti tiba-tiba Pasien itu tidak lagi meminta pulang bahkan meskipun sudah terlihat sembuh dan baik-baik saja pemuda itu sering meringis dan mengeluh masih sakit sehingga tidak mau pulang lebih dulu, kesal kecewa dan geram karena Vanesa merasa apa yang dilakukan pemuda yang awalnya seperti preman itu terkesan berpura-pura, tapi pada saat itu suasana hati Vanesa lagi kacau dan sedih dimana sang Suami pergi ke Bali tidak menggajaknya dan yang menyakitkan dia bilang pada Dokter yang ada di Rumah sakit jika dirinya tidak ikut ke Bali karena tidak mau, sungguh satu alasan yang sangat menyakitkan karena yang benar Rendra tidak ingin dirinya ikut.


Vanesa menarik napas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan, menggingat itu rasaanya sakit akan tetapi semua bisa dia maklumi karena dia pergi bersama teman rekan kerja dan juga dalam urusan kerja.


"Mau makan apa, kali ini Aku yang terakhir."seru Vanesa dengan bibir tersenyum hatinya tidak lagi sedih karena sang Suami sudah mulai perhatian lagi dengan nya.


Lagi-lagi Bara meneguk ludahnya, Senyum Vanesa begitu mengoda membuat Bara sedikit terhipnotis hingga lupa tujuan nya.


"Apa saja boleh atau samai. saja seperti punya kamu,"


"Baiklah,akan Aku pesankan."Vanesa segera melambaikan tangan tak lama kemudian datang seorang pelayan setelah memesan beberapa makanan dan setelah makanan pesanan mereka datang mereka menikmati nya dengan lahap.


Di tengah-tengah kesibukan makan tiba-tiba Telpon Vanesa berdering. Vanesa segera mengangkatnya setelah mengetahui siapa yang sedang menelpon bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman.


Bara yang melihat Vanesa tersenyum mengeryitkan dahinya dan bertanya dengan bahasa isyarat mata. Dengan bahasa isyarat juga Vanesa menjawab meminta Bara untuk diam, Vanesa mengangkat satu telunjuk dan meletakkan di depan mulut sebagai tanda isyarat Bara harus diam.


Mengetahui itu Bara membuang muka.


"Pasti itu Rendra yang telpon, cih ngak tau malu sudah galak masih juga nelpon nelpon, paling juga mau minta Istrinya untuk cepat pulang.


Vanesa yang mengetahui suaminya yang telpon mulai bangkit dari duduknya, dia memilih sedikit menjauh dari Bara untuk menerima telpon dari suaminya, pasalnya Vanesa malu jika ternyata Rendra telpon untuk marah marah seperti yang sering dia lakukan.


"Halo Mas ada apa?

__ADS_1


"Tidak ada cuma mau tanya apa kamu sudah makan?"


"Ini lagi mau makan, Mas Rendra sendiri apa sudah Makan?'


"Belum, Aku makan di Rumah saja Nanti kamu masakin buat Aku ya, jangan mie rebus lagi."pinta Rendra menggingatkan.


Dengan tersenyum malu Vanesa mengagguk meskipun Rendra tidak akan tau.


"Iya, Mas."


"Ya sudah lanjutkan makannya kemudian cepat pulang masakin buat Aku ingat jangan mie rebus lagi, Aku tutup telpon nya, jaga diri baik-baik."pesan Rendra sebelum kemudian Rendra menutup telponnya.


"Baik Mas," Vanesa menjawab dengan bibir tersenyum hatinya berbunga-bunga baru kali ini Suaminya bicara lembut dan perhatian.


Bara yang memperlihatkan tingkah laku. Vanesa yang terlihat begitu ceria menarik napas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar.


"Siapa yang telpon apakah dia Suamimu?"tanya Bara ketiika Vanesa mendudukkan bokongnya di kursi depannya.


"Tentu saja, mau siapa lagi." jawab Vanesa santai, sementara Bara tersenyum kecut.


"Sudah diam, ngak usah kepo dengan urusan Rumah tangga orang cepat makan Aku juga harus cepat pulang, kalau kamu mau ada yang perhatian dengan kamu Aku sarankan agar kamu cepat menikah."


Mendengar perkataan dari Vanesa Bara tersenyum miring sangat terlihat jelas jika laki-laki yang ada di depannya tidak suka disinggung masalah pernikahan.


Vanesa mengelengkan kepalanya melihat sikap Bara yang aneh, dengan cepat segera menghabiskan makanan yang ada didepannya.


Bara yang melihat sikap Vanesa sedikit melongo.


"Makannya pelan-pelan saja kesedak kamu Nanti,"ucap Bara menggingat kan.


"Jangan khawatir semua aman, Aku harus cepat pulang karena Aku harus cepat masak untuk suamiku."


"Apa, masak? memangnya suamimu tidak menyewa pembantu, jadi selama itu kamu juga bertugas sebagai pembantu nya begitu, keterlaluan sekali." ucap Bara tak percaya hatinya terasa kesal membayangkan gadis yang dia cintai juga harus menjadi seorang pembantu baginya.

__ADS_1


Vanesa mengeryitkan dahinya menatap Aneh pada Laki-laki yang ada didepannya.


"Kamu itu kenapa, sudahlah jangan pikirkan yang aneh-aneh, Aku balik dulu ya, ini uang untuk bayar kita makan, ku rasa ini lebih dari cukup," ucap Vanesa yang kemudian bangkit dan melangkah pergi.


"Tunggu, Nes, biar Aku yang bayar kamu ambil uang kamu,'teriak Bara membuat Vanesa menghentikan langkah kakinya dan berbalik menoleh kepada Bara


Bibinya yang ranum menyungingkan sebuah senyuman.


"Tidak apa-apa lain kali saja kamu yang traktir Aku kali ini trima saja," ucap Vanesa seraya melangkah keluar kemudian menuju mobil dimana Pak Mamat sopir pribadi nya sudah menunggu.


Melihat Vanesa melangkah pergi, Buru-buru Bara menyudahi makannya dan menaruh beberapa lembar uang merah di atas meja, kemudian Bara berlari kecil membantu membawa kan belanjaan yang di bawa Vanesa Awalnya Vanesa terkejut ingin menolak akan tetapi dia memilih diam dan membiarkan apa yang dilakukan laki-laki yang kini berjalan di samping nya, Vanesa tidak mau ribut untuk itu memilih membiarkan saja dan Ketika sampai di dekat mobil Pak Mamat langsung mengambil barang bawaan Bara dan memasukkan kedalam bagasi.


Vanesa masuk kedalam mobil.


"Sudah kamu pulang juga sana dan trimakasih untuk bantuan nya." ucap Vanesa seraya menutup kaca mobilnya.


Bara tersenyum kecut Mendengar perkataan Vanesa. Di dalam mobil Vanesa yang merasa lelah mencoba memejamkan mata untuk beristirahat akan tetapi ponsel nya berdering mengaggu membuat Vanesa menggurungkan Niat nya untuk tidur sejenak.


"Halo..!"


"Halo, Mbak Aku sudah di Jakarta kirim alamat Rumah Mbak Nesa sekarang juga ya, Aku kangen sama Mbak Nesa jadi Aku datang."


"Eva..!" yang benar kamu benar-benar mau datang menjenguk kakakmu ini,"


"Iya, Mbak makanya cepat kasih Alamat Rumahnya."seru Eva pada Kakaknya.


Vanesa tersenyum bahagia, bahkan dengan bersemangat langsung mengirimkan Alamat Rumahnya.


"Eva Mbak lagi di jalan kamu boleh Minta kunci Rumah cadangan Mbak pada pak satpam di bawah ya, Mbak nitipin kunci padanya juga,"


"Ok, Mbak Siap." jawab Eva girang hatinya benar-benar bahagia karena sebentar lagi dia akan bertemu dengan Suaminya.


"Oh ya, Va Mbak ada di jalan ini kamu mau di belikan apa?"

__ADS_1


"Apa sajalah Mbak durian juga Boleh."


"Ok, tunggu ya,"jawab Vanesa senang karena sebentar lagi dia bisa ketemu dengan sang Adik yang sangat dia sayangi.


__ADS_2