
Eva yang merasa kesal karena dirinya dikunci di dalam kamar oleh Robi menggedor-gedor pintu sambil berteriak-teriak dengan sangat histeris Eva sangat kesal dan marah karena Eva merasa Robi orang asing yang baru saja dilihatnya dia sudah berlaku kurang ajaar dan tidak baik karena seenaknya mengatakan dirinya sebagai wanita jaalang, juga dengan seenaknya mengunci dirinya di dalam kamar.
ingin sekali rasanya Eva memukul dan mencabik cabik mulut laki-laki yang telah mengatakan dirinya sebagai wanita jaalanng di mana Eva merasa sangat kesal dan tidak terima dengan semua itu, akan tetapi karena pintu dikunci dari luar membuat Eva tidak bisa berbuat apa-apa selain berteriak dan marah-marah.
" Dasar laki-laki brengsek, kurang ajar, Awas saja kalau Aku bisa membuka pintu ini akan aku baabaat habis kamu, Kamu pikir aku wanita Apaan Kamu pikir aku ini siapa, mau terima begitu saja hinaan kamu, apa yang kamu katakan tidak bisa Aku maafkan, Aku akan buat kamu mengenal siapa diriku enak saja Muluutmu mengatakan aku sebagai wanita jalaang kurang ajaar sekali, ingin Aku robek-robek Mulutnya, Awas saja kalau pintu ini terbuka, Awas tidak akan Aku berikan Ampun kamu, dasar laki laki tidak tauu diri. "
Eva terus menggerutu dan marah-marah dengan semua kelakuan yang Robi lakukan kepadanya.
sementara di luar Robi yang mendorong tubuh Rendra hingga tubuhnya hampir menabrak Ujung meja yang mana bisa membuat perut Rendra terjaduk apabila Rendra tidak Sigap menahan ujung meja dengan kedua tangannya pastilah ujung perut Rendra Alan terjadug meja Dan pastinnya akan sakit Dan beruntung semua tidak sampai jatuh terluka.
meskipun suara benturan antara tubuh Rendra dan meja cukup keras yang mana membuat meja yang terbentur tubuh rendra dengan gerakan terdorong membuat meja itu bergerak maju dan menghantam dinding, hingga menimbulkan suara yang cukup keras di mana suara itu membuat bi Ijah yang kala itu masih mengawasi apa yang dilakukan Robi, karena Robi berlari ke dalam kamar Eva yang ingin mencari Rendra di mana Bi Ijah menahan Robi agar tidak ke kamar Rendra akan tetapi Robi abaikan.
Dengan perasaan was-was dan cemas bi ijah terus mengawasi Robi yang kala itu masuk ke dalam kamar dan ternyata benar dugaan Bi Ijah ketika Robi keluar dengan Rendra keduanya dalam keadaan tidak baik-baik saja, yang mana Robi terlihat sangat marah sehingga dia membawa Rendra keluar dengan cara mendorongnya dengan keras hingga tubuh Rendra hampir menabrak meja apabila kedua tangan Rendra tidak dengan sikap menahan sehingga tangan itu menjadi mendorong meja yang terkena tabrakan dari tubuhnya.
Bi Ijah yang merasa cemas tuannya didorong dengan cukup keras menabrak sebuah meja membuat bi Ijah berlari sambil berteriak.
" Hentikan Den Robi, apa yang kamu lakukan, Kamu bisa menyakiti Den Rendra Jika kamu bersikap seperti ini. " seru Bi Ijah yang kala itu dengan cepat membantu Rendra untuk bangun dari menabrak Ujung meja.
Rendra yang dibantu Bi Ijah untuk bangkit dan pergi menjauh dari tempat itu menahan tangan Bi Ijah.
" Terima kasih Bi, tidak usah aku baik-baik saja Kok Bibi Lebih Baik istirahat saja Pergilah tidur tidak masalah Robi hanya emosi ssedikit, bibi tidak perlu mengkhawatirkan saya.'
__ADS_1
" tapi Den, "
" Sudahlah Bi Tidak masalah Robi hanya emosi sedikit Bibi lebih baik tidur ini urusan aku dengan Robi, Bibi tidak perlu memikirkannya semua akan baik-baik saja Percayalah, Bibi Masuklah ke dalam kamar dan beristirahatlah, 'ucap Rendra meminta dan memerintahkan kepada Bibi ijah untuk segera pergi beristirahat masuk ke dalam kamarnya.
dengan perasaan terpaksa akhirnya bi ijah menuruti dan mengikuti apa yang diperintahkan Rendra kepadanya bergegas masuk ke dalam kamarnya Yang mana kamar Bi Ija tidak jauh dari kamar Eva yang juga berada di ruang tamu.
diam-diam tanpa sepengetahuan Rendra Bi Ijah mengintip setiap pergerakan yang dilakukan Robi dan dan Rendra dari balik ada kelambu jendela yang ada di dalam kamarnya di mana kelambu itu menghadap ke ruang tamu, "
Rendra meneguk ludahnya kemudian berdiri tepat di hadapan Robi yang kala itu wajah Robi masih terlihat tegang dan marah apa adanya.
Robi tersenyum sinis kemudian melangkah satu langkah lebih dekat kepada Rendra yang mana jarak diantara keduanya kini hanya tinggal setengah meter saja.
" sekarang Apa yang ingin kamu jelaskan kepadaku, "tanya Robi dengan tatapan mata yang tajam, Rendra menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan perlahan wajahnya yang berhadapan dengan Robi kini mulai melangkah mundur satu langkah kemudian berdiri membelakangi dengan menatap jendela yang kelambunnya belum tertutup hingga bisa melihat gemerlap indahnya lampu lampu yang menyala di pinggir jalan.
" Apa kamu bilang, Maaf.hanya itu?"tanya Robi dengan sangat sinis yang mana pertanyaan itu membuat Rendra menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan perlahan sebelum kemudian Rendra menganggukkan kepala.
Emosi Robi tidak lagi bisa dibendung dan ditahan lagi oleh Robi dengan sangat cepat dan dengan gerakan yang keras dan kasar Robi kembali memberikan tamparan kepada Rendra.
"Plaak..!"enak saja cuma bisa bilang Maaf, Apa kamu pikir dengan mengatakan maaf semua sudah bisa beres dan selesai, tidak semudah itu Rendra, Apa kamu tahu apa yang dikatakan Vanesa padaku dia akan mengirimkan surat cerai kepadamu dengan segera. "
"Deg...! serasa tiba tiba jantung Rendra berhenti berdetak, mendengar Perkataa Robi dan bagaikan mendengar suara petir di siang hari Rendra yang kalah itu terlihat tenang dan biasa saja wajahnya mulai berubah menjadi tegang dan Panik kedua bola matanya menatap tajam pada Robi.
__ADS_1
" Apa kamu bilang, kamu bertemu dengan Vanesa, "
" Apakah aku juga harus mengulang perkataanku Bukankah telingamu juga masih baik-baik saja, "sinis Robi yang benar-benar sudah sangat merasa emosi dan kesal.
Rendra meneguk ludahnya.
" Dimana kamu bertemu dengan Vanessa Katakan padaku Vanessa sekarang ada di mana ?"tanya Robi dengan sangat antusias kedua bola matanya berbinar senang ketika Robi mengatakan jika dirinya bertemu dengan Vanesa.
" untuk apa aku memberitahumu Bukankah kamu sudah bahagia Bukankah kamu sudah senang sekarang, Katakan padaku Benarkah wanita jalaanng yang ada di dalam kamar itu adalah istrimu, "
tanpa mampu bicara dan berkata-kata Rendra hanya menganggukkan kepalanya dengan lemah.
" Wah hebat sekali punya dua istri apakah kamu berniat melakukan poligami dengan melakukan pernikahan lagi? "
" Aku tidak bermaksud begitu aku hanya. .
Rendra belum selesai melanjutkan ucapannya tapi tangan Robi sudah terangkat ke atas memberikan tanda kepada Rendra agar diam dan tidak melanjutkan perkataannya.
" Aku tidak mau tahu apapun dan sekarang aku juga tidak mau tahu tentang urusan kamu dengan Vanesa, Urus sendiri dan selesaikan sendiri masalahmu karena ternyata kamu bukanlah laki-laki baik karena kamu Ternyata menduakan istrimu jadi aku tidak mau membelamu ataupun juga akan berpihak pada Vanesa urus saja rumah tangga kalian sendiri aku pergi. " ucap Robi yang mana kemudian dia langsung melangkah menuju ke pintu akan tetapi sebelum sampai menyentuh handle pintu Rendra sudah menahan tangan Robi.
" tunggu katakan dulu padaku di mana Vanessa berada, "
__ADS_1
Robi tersenyum miring kemudian menghempaskan tangan Rendra dengan sangat kasar.
" Cari sendiri jika kamu bisa, "sinis Robi yang mana dengan cepat membuka pintu Kemudian keluar, Rendra yang berusaha ingin menghalangi Robi tidak bisa dikarenakan mendengar suara jeritan dan teriakan histeris menangis di dalam kamar yang mana sudah bisa dipastikan itu adalah teriakan Eva yang membuat Rendra bingung Dan Panik khawatir terjadi sesuatu karena Eva berteriak seperti sedang ketakutan.