
Rendra Kembali masuk ke dalam kamar setelah mematikan ponsel hpnya. Karena Rendra tidak mau terganggu lagi dengan telpon yang sering mengganggu nya dengan cepat Rendra mematikan ponsel hpnya Rendra berharap malam ini bisa tidur dengan nyaman dan nyenyak tanpa gangguan telpon lagi.
Sementara di tempat lain Eva yang panggilan telpon nya di matikan secara sepihak merasa kesal dan tidak dihargai. Wajahnya yang cantik berubah masam dan uring-uringan hal itu berimbas pada teman satu kontrakan dengan nya yang kala itu melihat Eva marah-marah tidak jelas dan seorang diri.
"Va, kamu kenapa, mengapa marah-marah tidak jelas begitu," tanya temannya Eva penasaran.
"Tidak ada, jadi ngak usah tanya-tanya."sinis Eva dengan sangat dingin, dia sangat kesal dengan apa yang terjadi hingga pergi meninggalkan tempatnya langsung masuk kedalam kamar.
__ADS_1
Di dalam kamar Eva berusaha memejamkan mata akan. tetapi tidak bisa hatinya betul-betul sakit dan kecewa dengan sikap Rendra suami sirinya yang beberapa Minggu lalu sudah menikahinya.
Eva berpikir keras bagaimana caranya bisa mendapatkan perhatian lebih dan bisa dekat dengan sang Suami selalu, kini Pikiran Eva sudah tidak lagi fokus dengan pelajaran dan pendidikannya bahkan Eva tidak perduli akan mendapatkan nilai buruk sekalipun.
"Aku harus memberikan pelajaran buat Mas Rendra yang sudah berani mematikan telpon panggilan ku, enak saja dia mau bersikap habis manis sepah dibuang, baik kita lihat apa yang akan kamu lakukan Mas, jika tiba-tiba Aku datang ke Masion Rumah mu, pasti akan sangat menyenangkan, lagipula Aku juga tidak mau hanya sekedar menjadi istri sirih, Aku harus buat Mas Rendra secepatnya menceraikan mbak Nesa, pokoknya harus cuma Aku istrinya, lagian sudah saatnya kakak tiri ku yang entah anak siapa itu membalas Budi kebaikan Mama dan Papaku, Aku tidak tau apakah Papa sudah memberitahu Mbak Nesa jika sebenarnya dia itu cuma Anak pungut dan jika tidak maka Nanti Akulah yang akan memberitahunya, Apapun yang terjadi Mas Rendra harus menjadi milikku."ucap Eva bermonolog sendiri.
Sementara di tempat lain disebuah kamar berukuran besar tampak seorang pemuda sedang tersenyum menatap sebuah fato yang ada di layar hpnya.
__ADS_1
Bara tersenyum kecut menggingat semua yang terjadi antara dirinya dan Suster Vanesa, bahkan tanpa sepengetahuan Suster Vanesa Bara sering memotret nya diam-diam.
Malam semakin merangkak Naik, suasana mulai sunyi yang terdengar hanyalah suara jangkrik dan deru angin yang berhembus disertai dengan rintik hujan yang mulai turun membasahi bumi.
Bara mencoba memejamkan mata meskipun serasa susah dan berat, rasanya mata tidak mengantuk dan suku untuk terpejam.
"Dari pada Aku resah begini lebih baik besok Aku temui Suster Vanesa di Rumah sakit, tapi Aku harus mempersiapkan alasannya agar tidak ada yang curiga jika Aku datang hanya sekedar ingin melihat nya, baiklah Aku akan datang dan kita akan bertemu lagi Suster cantik." setelah sekian jam bermonolog sendiri Bara akhinya tertidur.
__ADS_1
Di dalam kamar yang Berbeda Rendra yang berusaha memejamkan mata juga merasa kesulitan, entah mengapa dekat dengan Istrinya rasanya tidak pernah puaas selalu ingin dan ingin bagaikan orang yang sedang kecanduan mungkin hal itu terjadi karena efek dari satu Minggu tak diberi karena mereka jauh, akan tetapi bukan kah dirinya juga sudah mendapatkan pelayanan dari Eva istri sirinya bahkan seharusnya lebih nikmat dan menyenangkan karena Rendra menikmati pembukaan segel pertama, tapi entah mengapa rasanya masih lebih menikmati jika bersama Vanesa istrinya. Sudah mendapatkan dua kali vitamin Rasanya Rendra ingin lagi, akan tetapi keinginan itu dia pendam menggingat sang istri pasti sedang lelah, entah mengapa kali ini Rendra memiliki rasa tidak tega sementara di waktu waktu lalu Rendra tidak perduli.
Perlahan-lahan Rendra menenggelamkan wajahnya pada punggung sang istri, sungguh semua yang terjadi sangat nenyiksa batinnya, di satu sisi dia sangat mencintai istrinya tapi di sisi lain Rendra sangat dendam dan sakit hati padanya, dua hal yang berbeda yang tak pernah Rendra bisa memilih salah satu diantara perasaan nya.