
Eva yang mendengar pembicaraan sang kakak dan Suami yang baru menikahinya seminggu yang lalu merasa sangat kesal dan jengkel hatinya bergemuruh, jika bukan karena untuk menuruti permintaan dari sang suami sudah pasti Eva akan keluar dan menghandrik kakak tirinya, seorang kakak yang tidak pernah Eva cintai dan sayangi dengan tulus, terlebih setelah mengetahui jika Vanesa bukanlah saudara kandung nya, Eva berpikir Kakaknya hanya seorang anak yang harus membalas Budi baik dari kedua orang tuanya, untuk itu sudah tugas Vanesa untuk menuruti semua kemauan keluarga nya termasuk dirinya, jadi Eva tidak segan dan merasa malu apalagi merasa bersalah jika dia merampas Rendra dari sang Kakak.
Senyum miring terbit dari bibir Eva sambil menatap wajahnya di depan cermin yang ada di atas wastafel kamar mandi.
"Mas Rendra pasti akan lebih senang bersamaku dan juga pasti akan memilih Aku karena Aku pasti akan lebih memuaskan dari pada Mbak Nesa yang menjengkelkan itu dan Aku hampir membuat Mas Rendra memintaku tapi sialnya Mbak Nesa yang tidak tau diri itu datang pakai gedor pintu segala lagi," Sungut Eva kesal.
Sementara di luar di dalam kamar Rendra dan Vanesa sedang berdiri berhadapan.
"Kenapa sih, Mas selalu berkata begitu, adikku itu baik dia tidak menjengkelkan atau jangan-jangan tadi dia kesini dan memaksa Mas Rendra untuk...
"Sudahlah Nes, jangan bahas itu lagi ayo kita kedapur buatkan Aku kopi manis, haus nih," ajak Rendra pada Vanesa seraya menarik lembut tangan sang istri agar keluar dari dalam kamar dan berjalan menuju ke dapur.
Meskipun serasa aneh dengan sikap Rendra yang tiba-tiba meminta dirinya untuk membuat kan kopi yang mana Rendra jarang sekali bahkan bisa di bilang tidak pernah meminta di buatkan kopi, sekarang tiba-tiba minta kopi sedikit membuat Vanesa curiga.
"Tumben Mas Rendra minta dibuatkan kopi malam-malam sebenarya ada apa ya?" Vanesa bergumam dalam hati sambil membuatkan kopi sesuai dengan permintaan suaminya.
"Nes Aku ke kamar dulu mau ambil Ponsel, Nanti kalau sudah selesai bawa ke ruang kerja saja Nanti Aku akan kesana."
tanpa curiga Vanesa mengangguk dan segera melakukan apa yang di minta suaminya. Di dalam kamar Rendra segera masuk dan langsung menuju ke dalam kamar mandi.
Ketika Rendra melangkah dengan terburu-buru, sebuah suara menghentikan nya.
"Mas mau ngapain ke kamar mandi?"sontak saja hal itu membuat Rendra terkejut dan segera menoleh ke sumber suara.
__ADS_1
"Eva, kenapa kamu belum pergi, ternyata dugaan ku benar kamu masih ada di dalam kamar, cepat pergi sana jangan disini, beruntung Aku sendiri yang langsung ke kamar dan mengecek keadaan kamu sudah keluar dari dalam kamar mandi atau belum, ternyata kamu keluar dari dalam kamar mandi tapi tidak langsung pergi dari dalam kamar justru duduk santai disini, sudah sekarang kamu cepat keluar, jika kakakmu melihat kamu berada di sini dia akan curiga dan Aku tidak mau dia tau hubungan kita sekarang, jadi mengertilah karena Aku sendiri Nanti yang akan memberitahu kapan waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya."
"Mas, kenapa sih harus takut, Aku ini istri mu kita bisa lakukan apapun itu urusan kita dan untuk Mbak Nesa kenapa harus peduli dan memikirkan nya, justru Aku berpikir Aku akan segera mengatakan segalanya agar Mbak Nesa tau jika Mas Rendra itu juga suamiku."
"Eva...!teriak Rendra sambil mencengkram erat dagunya." jangan sekali-kali kamu bicara apapun tanpa izin dariku karena jika kamu macam-macam Aku tidak segan-segan untuk menalak dan meninggalkan dirimu, apa kau mengerti itu," ucap Rendra geram dengan melepaskan cengkeramannya, sementara Eva justru tersenyum sinis mendengar ucapan dari suaminya.
"Oh, jadi Mas mau membuang ku setelah semua apa yang telah Mas lakukan padaku, begitu, wah-wah hebat sekali kau Mas, jangan mimpi kau Mas Aku bukan Mbak Nesa yang bisa dengan mudah kamu bodohi dan jangan berpikir Mas Rendra yang akan menjadi dalang nya dari permainan ini, karena Aku yang akan membuat Mas Rendra menjadi pemainku, ikuti semua permintaan ku jika Mas Rendra masih ingin rahasia ini terbungkus rapi, karena jika Mas Rendra berani menolak ku maka Aku tidak bisa jamin Mbak Nesa tidak tau hubungan kita, Aku tinggal klik dan kirim video permainan panas kita pasti akan langsung Bomm....Mbak Nesa akan pergi meninggalkan mu."
Rendra menatap tajam pada gadis yang ada di depannya geram dan kesal karena gadis yang ada didepannya berani mengancamnya, lagi-lagi Rendra mencengkram dagu Eva.
"jangan macam-macam kau, karena Aku tidak takut dengan ancaman mu, Aku yakin kamu tidak memiliki video itu kamu hanya mengertak ku dan Aku tidak takut dengan gertakan mu,"ucap Rendra dengan suara penuh penekanan.
Eva menepis tangan Rendra yang mencengkram dirinya, kemudian tersenyum sinis.
"Aku bukan wanita Bodoh Dokter Rendra, kamu pikir setelah kamu memiliki dan menikmati diriku lantas kamu bisa mudah lepas dariku, tidak, kamu tidak akan pernah bisa lepas dariku Aku sangat mencintai mu Dokter dan Aku akan pastikan kamu selalu dalam gengaman ku,"
"Ok, mau bukti rupanya, tanpa Aku kirim Video pun Aku bisa buat Mbak Nesa tau hari ini," setelah mengucapkan itu Eva segera merobek baju atasnya.
"Sreest...!" dengan gerakan cepat Eva merobek baju atasnya yang mana kelakuan Eva menbuat Rendra mendelik seketika karena terkejut.
"Hei, Apa yang akan kau lakukan Va, kenapa kau robek bajumu disini," tanya Rendra mulai panik, sementara Eva tersenyum penuh kemenangan, karena telah berhasil membuat Rendra panik.
"Mau menuruti apapun kemauanku atau Aku berteriak agar Mbak Nesa datang kemari."
__ADS_1
"Kau jangan gila pergilah dan jangan macam-macam."
"Berjanji dulu, Aku tidak mau kau permainkan Mas, Aku isttimu dan Aku berhak atas hak ku."
Rendra menelan kasar ludahnya kemudian menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar.
" Baik, apa maumu?"
Dengan senyum tersungging di bibir Eva mendekati Rendra, melingkar kan tangannya pada leher sang Suami tanpa ragu Eva mendaratkan sebuah kecupan lembut di bibir suaminya.
"Malam ini Aku mau diantar melihat-lihat kota ini, dan kita bisa bermalam di hotel karena Aku ingin tidur di samping suamiku."
"Jangan gila kau," seru Rendra seraya melepaskan pelukan Eva." bagaimana mungkin bisa bermalam di hotel, itu sama saja kau mau buat hancur hubunganku dengan Nesa, tidak, Aku tidak mau, apa Bedanya jika Aku tidak pulang apalagi bersamamu, ini bukan lagi tawaran baik untukku karena keduanya sama saja sama-sama merugikan Aku, karena sama-sama Nesa akan tau dan curiga, Aku tidak mau itu,"
Melihat mimiik wajah panik sang Suami Eva tertawa geli, hatinya sangat senang telah mampu membuat orang yang akan mempermainkan dirinya kini berganti menjadi patuh padanya.
Eva meneguk ludahnya dengan perlahan sambil mengulum senyum.
"Baiklah Suamiku, kalau begitu Aku mau kamu berbuat adil padaku Aku mau Mas Rendra tidur bersamaku juga, Aku tidak mau tau bagaimana caramu yang pasti Nanti malam Mas Rendra ada di kamarku untuk menemaniku,"ucap Eva menjelaskan.
Rendra menarik napas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan.
"Baiklah, Aku akan usahakan,"
__ADS_1
Mendengar perkataan Rendra Eva sangat bahagia dengan gerakan refleks kembali Eva memeluk Rendra suaminya dan pada saat yang bersamaan tiba-tiba kembali pintu kamar di buka dari luar.
"Ceklek...! suara pintu terbuka sontak saja hal itu membuat Rendra dan Eva terkejut yang mana kemudian Rendra melepaskan pelukan Eva dan kedua nya berdiri mematung Ketika mengetahui Vanesa telah masuk ke dalam kamarnya dan memergoki mereka berdua, mereka bertiga kini saling pandang, bahkan Vanesa yang sempat melihat baju atas sang Adik robek menatap tajam pada suaminya.