
Eva mencebik kesal melihat sikap Rendra yang begitu dingin dan Acuh padanya meskipun hatinya sangat kesal seolah tidak menerima akan tetapi Eva tidak bisa berbuat apa-apa karena saat ini posisi Rendra dalam keadaan yang kurang baik di mana Dirinya mudah marah dan tersinggung.
Melihat sikap Rendra yang begitu dingin Eva tidak habis akal dengan perlahan-lahan Eva juga merebahkan kepalanya di sandaran kursi yang berada di samping Rendra dan dengan gerakan refleks Eva berpura-pura sudah tertidur dengan Kepalanya jatuh melorot di atas bahu Rendra tentu saja hal itu membuat Rendra semakin kesal dan ingin melemparkan tubuh Eva akan tetapi melihat gadis yang ada di sampingnya sepertinya sudah tertidur sangat pulas Rendra menjadi tidak tega, sehingga dengan sangat perlahan Rendra mulai meletakkan kepala Eva di atas sofa sedang kan dirinya perlahan lahan mengeser tubuhnya dan Rendra beringsut duduk sedikit menepi agar kepala Eva tidak lagi menjadikan bahunya sebagai bantal.
Eva yang berpura-pura tidur mengumpat geram di dalam hati karena ternyata suaminya cukup cerdas juga sehingga dia tega meletakkan kepalanya dan membiarkan dirinya tidur di atas sofa karena bagi Eva meskipun keras jika tidur di bahu Rendra itu akan terlihat sangat empuk dan nyaman, beda dengan diatas Sofa yang empuuk tapi terasa sangat keras.
"Ciiih, pelit amat jadi suami cuma mau menompang tidur di bahunya saja tidak boleh huuuf, menjengkelkan, tapi kira-kira apa yang akan terjadi besok ya, Kira-kira Mbak Nesa akan berbuat apa, pasti sekarang hatinya lagi sakit dan menangis sukurin tuh siapa juga yang rela kamu hidup bahagia bukan kah kamu sudah merampas kasih sayang Ayah dan Ibuku, jadi tidak ada salahnya jika saat ini Aku juga akan merampas suamimu biar semua impas, enak saja selalu mendapatkan kebahagiaan kali ini aku tidak akan memberikan peluang untuk mu bahagia."
Rendra yang pikiran nya masih kalut terus berpikir bagaimana dia bisa masuk ke dalam kamar dan bagaimana caranya agar bisa membuat hati Vanesa luluh kepadanya.
Berkali-kali Rendra mengusap kasar wajahnya kemudian mengacak rambutnya yang tidak gatal karena semakin resah dan semakin pusing memikirkan kembali Rendra bangkit dari tidurnya di sofa kemudian berjalan mendekati pintu kamar Vanesa yang mana masih tertutup rapat.
"Nes, buka pintunya Aku mohon" seru Rendra dari balik pintu yang mana terus memanggil nama Vanesa agar mau membukakan pintu untuknya akan tetapi mungkin Vanesa memiliki hati seperti batu sehingga pintu itu tidak dibuka sama sekali hingga hampir dua jam Rendra duduk terpaku di depan pintu sementara Eva yang berpura-pura tidur akhirnya tertidur juga di sofa.
Di dalam kamar mandi Vanesa yang melakukan tes atas mual yang ia rasakan tubuhnya tiba-tiba bergetar dan berkeringat ketika mengetahui alat tes itu menunjukkan dua garis di mana itu adalah suatu pertanda Jika dia positif hamil.
Vanesa tersenyum kecut mendapati dirinya sedang hamil di mana seharusnya dia bisa merasakan hari-hari yang bahagia Bersama sang suami di saat-saat kehamilannya akan tetapi vanesha harus mendapatkan satu kenyataan pahit di mana suaminya justru berselingkuh dengan Adiknya sendiri yang mana Di dalam aturan agama dan keluarga tentulah tidak diperbolehkan Saudara sekandung dan sedarah menikahi satu pria yang sama.
Dengan langkah gontai Vanesa keluar dari dalam kamar mandi kemudian mendudukkan bokongnya di tepi ranjang sayup-sayup terdengar suara kedoran pintu juga suara panggilan yang berasal dari ponsel hp-nya yang tidak jauh dari tempatnya duduk perlahan-lahan Vanessa meraih ponsel HPnya dan membiarkan suara kedoran pintu dari luar yang dia yakini pasti itu suara dari kedoran pintu suaminya, Vanesa memilih duduk di tepi Ranjang meskipun dia tidak bicara karena bibirnya terasa kelu hatinya terasa sakit dan kepalanya tiba-tiba terasa pusing sehingga dia malas untuk berkata-kata Vanesa hanya diam saja sambil meraih dan mengangkat kembali ponsel hpnya.
" Nes Apa kamu tidak apa-apa? halo Nes angkat telpon nya jangan membuat Aku cemas dan bingung," tanya Bara khawatir ketika mendengar ada pergerakan dari Vanesa yang menggangkat ponsel hpnya.
Perlahan-lahan Vanesa mendekatkan ponsel hpnya yang dia geletakkan diatas Ranjang dengan telinganya.
"Bara, Aku pusing, Aku mau tidur dulu, "ucap Vanesa dengan Nada lemah.
"Tit..! tanpa menunggu jawaban dari Bara Vanesa sudah mematikan ponsel hpnya.
Bara yang belum sempat bicara apapun melongo mendengar perkataan dari Vanesa.
" Dia matikan telpon ku kenapa, ada apa dengan nya tadi Aku dengar dia mual kira-kira apa yang terjadi dengan Vanesa apakah dia lagi, _
"Tidak masak Nesa hamil kalau hamil hancur sudah harapan ku Vanesa tidak mungkin meminta cerai suaminya dan suaminya juga tidak akan melepaskan Nesa, lalu apa yang harus Aku lakukan bagaimana Nasib cinta ku yang belum kesampaian, Araaaagh, "kembali Bara mendengus kesal kemudian mencoba merebahkan dan memejamkan matanya akan tetapi bayangan Vanesa hamil dan Rendra tidak melepaskan membuat Bara resah hingga tidur dalam keadaan tidak tentang balik kanan balik kiri dengan mata yang sulit di pejamkan.
__ADS_1
Menjelang pagi Vanesa yang sudah bangun dan melakukan ritual pagi seperti biasa mulai membuka pintu kamarnya dan Alangkah terkejutnya ketika dia melihat di depan pintu, suaminya sudah tersenyum dengan manis membuat Vanesa muak dan kesal bayangan pengkhianatan dan perselingkuhan dengan adiknya kembali menari-nari di atas pelupuk matanya.
"Selamat pagi Nes, kamu sudah bangun? "
"Apa yang Mas lakukan disini? "
"Aku menunggu, Aku mau masuk tapi kamu tidak membukakan pintu untuk ku jadi Aku tunggu disini, "
Vanesa menarik napas panjang kemudian menghembuskan nya dengan kasar, pandangan matanya tiba-tiba tertuju pada sosok gadis yang sedang tertidur pulas di sofa.
Vanesa mendengus kesal hingga suaranya dapat didengar suaminya, hal itu membuat Rendra meneguk kasar ludahnya pandangan matanya mengikuti arah pandang dari Vanesa yang tertuju pada Eva yang tertidur pulas di sofa.
"Apa kalian mau pamer kemesraan di Ruang tamu hingga harus tidur di luar begini, "Vanesa bertanya dengan nada yang sinis.
"Nes, kalau bicara jangan ngaco mana ada aku pamer kemesraan Aku, _
Belum juga Rendra selesai bicara Vanesa sudah memotong pembicaraan.
"Haiiss, Eva bikin masalah saja tau begini Aku seret ke kamar dia, sekarang ada masalah baru lagi, " gumam Rendra frustasi yang mana kembali dia mengacak Rambut nya.
"Nes ini bukan begitu, Aku tidak tau dia mengikuti ku aku tidak tidur di sofa Aku tidur disini di depan pintu kamar kita, percayalah Aku tidak berbohong. "
"Oh, begitu ya! "sinis Vanesa yang mana kini melangkah mendekati Eva yang sedang tertidur pulas di sofa.
" Bagun..!seru Vanesa sambil menepuk nepuk tangan Eva yang mana langsung membuat Eva terkejut, dengan gerakan refleks Eva langsung duduk.
"Mbak Nesa! "
"Apa kamu tidak memiliki kamar sehingga tidur di luar? "
"Aku, _
" Sudahlah ikut Aku cepat, "
__ADS_1
"Kemana Mbak, "
"Ke kamarmu, "
"Mau apa Mbak, "
"Kita bicarakan masalah semalam. "
Ecs langsung mengganguk hatinya berbunga bunga senang.
"Pasti Mbak Nesa akan mengatakan kalau Aku boleh ambil Mas Rendra yang artinya pasti Mbak Nesa merelakan dan menyerahkan Mas Rendra untuk ku, " gumam Eva dalam hati yang mana kini melangkah dengan sangat bersemangat mengikuti langkah kaki dari kakaknya.
Sementara Rendra merasa was-was yang mana dirinya kini menjadi sangat takut jangan jangan Vanesa akan menyerahkan dirinya pada Eva.
Dengan perasaan was-was dan takut serta cemas Rendra juga mengikuti langkah kaki istri istrinya dari belakang.
Sampai di dalam kamar Vanesa langsung berdiri dengan bersilang dada. sedangkan Eva menatap kakaknya dengan bibir tersenyum menunggu kakaknya akan mengatakan mulai hari ini Rendra akan menjadi milik nya dan dirinya mundur dan secepatnya akan menceraikan Rendra.
Vanesa menarik napas panjang kemudian menghembuskan nya dengan kasar.
"Aku tidak tau mengapa kamu tega menikam aku dari belakang Va dan mulai hari ini, _
Vanesa menjeda sejenak ucapannya dia kembali menarik napas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan.
Sementara Eva menunggu perkataan dari kakaknya dengan tidak sabar, karena dia yakin Kakaknya akan menyerahkan suaminya padanya.
Vanesa kembali memulai percakapan.
"Mulai hari ini aku minta kamu kemasin barangmu dan pergi tinggalkan Rumah ini, jangan kamu mengganggu kehidupan kami lagi, "
"Duuaarrrr, " bagaikan petir yang menyambar di siang hari apa yang dia pikirkan ternyata salah dan tidak benar bahkan dengan tenang tanpa bicara apapun kakaknya justru mengusirnya.
Berbeda dengan Rendra yang menggintip pembicaraan dia justru kini tersenyum lega dan bahagia akhirnya Vanesa mengambil keputusan mempertahankan Rumah tangga nya, senyum kebahagiaan dan rasa haru terpancar dari raut wajah Rendra yang mana andai boleh ingin rasanya dia memeluk sangat istri dan meonggucapkan Terima kasih.
__ADS_1