
Untuk sesaat mereka bertiga saling pandang dengan pemikiran masing-masing, Rendra terlihat sangat pucat dia tidak menyangka jika istrinya tiba-tiba masuk ke dalam kamar.
Rendra mengumpat kesal dalam hati pada Eva yang telah membuat dirinya kini menjadi ketauan sang istri, Rendra sudah pasrah wajah tampannya berubah pucat, bahkan bibir nya terbuka tapi tak mampu berkata apa-apa.
Eva yang melihat perubahan wajah mengenaskan karena sedih dari sang Suami di dalam hatinya tidak tega juga sehingga dia memutar otaknya untuk bisa lolos dari situasi yang terlihat panas dalam diam dimana semuanya diam tanpa kata-kata akan tetapi hati mereka dan tatapan dari pancaran mata mereka memberikan pertanyaan yang menuntut sebuah jawaban semua hati sedang panas dan cemas mengelora.
Dengan bibir bergertar Vanesa menatap tajam Suaminya.
"Apa ini, apa maksud dari semua ini Ke- kenapa baju Eva Robek, apa yang kamu lakukan padanya Mas?" melihat Rendra hanya diam menunduk Vanesa semakin kesal, di goyangkan nya tubuh kekar suaminya." jawab Mas Apa yang kau lakukan padanya?" teriak Vanesa yang akhirnya tidak dapat membendung luapan amarahnya.
Dengan cepat Eva menarik tangan Vanesa.
"Mbak, Mas Rendra itu jahat padaku, Mbak Nesa harus menghukum nya, Aku tidak mau dikasari begini, Aku cuma minta di antar keliling kota malam ini, Mas Rendra marah-marah, Aku tidak trima itu Aku umpat dia dan hizk....hizk....baju mahalku dia tarik hingga Robek mungkin dia mau memukul ku tapi yang terkena bajuku, Padahal Aku cuma mau minta di antar tapi Mas Rendra galak sekali mbak hizk....hizk,"
"Oh, jadi cuma begitu" tanya Vanesa yang mulai mengerti jika robeknya baju Eva bukan karena hal-hal yang seperti dalam pikirannya di mana Rendra suaminya mau berbuat buruk pada sang Adik ternyata hanya tidak sengaja karena kesal dengan sikap Eva yang meminta dan merengek minta di antar.
"Iya, emang Mbak Nesa pikir apa, sudah pokoknya Aku mau Mbak Nesa bujuk Mad Rendra untuk tanggung jawab membelikan Aku baju baru dan jalan-jalan melihat kota ini, sudah Mbak Nesa urus semua Aku mau bersiap-siap pokonya Aku mau malam ini tetap pergi."seru Eva menegaskan yang kemudian melangkah menuju pintu tapi sebelum Eva benar-benar keluar dari dalam kamar Rendra Eva membalikkan badan dan mengedipkan sebelah matanya pada Rendra yang mana kebetulan Rendra kala itu juga sedang menatap kepergian nya.
Rendra cukup mengakui kehebatan acting dari istri mudanya, yang sesungguhnya tidak pernah Rendra bayangkan jika Eva memiliki ide cemerlang sehingga mampu membuat Vanesa tidak curiga kepadanya bahkan tidak lagi marah. Rendra meneguk ludahnya dengan kasar.
"Ternyata Eva bukanlah gadis lugu yang bisa dengan mudah di permainkan, terbukti dengan kepandaian nya berakting dan berbicara kepada Vanesa yang mencurigai dirinya, dengan mudah rasa curiga dari Vanessa bisa di hilang dan dihentikan, Eva benar-benar gadis yang tidak bisa dianggap remeh, bahkan bisa dibilang Eva adalah gadis yang cukup berbahaya, untuk itu Rendra berpikir mulai hari ini untuk berhati-hati dalam menghadapinya karena sekali saja Dia salah langkah, maka semua akan dengan mudah terbongkar.
melihat Rendra yang diam saja Vanessa mengeryitkan dahinya Aku tidak menyangka Jika Mas Rendra tega berbuat kasar pada adikku, dia kan cuma minta diantar untuk jalan-jalan sekalian dia itu ingin beli makanan ringan, tadi sudah bilang padaku dan Aku bilang Mas terlihat lelah dan Aku melarang nya Aku pikir Eva akan menurut tapi ternyata dia kesini dan meminta pada Mas sendiri tapi yang tidak Aku mengerti kenapa Mas tega kasar padanya hingga baju Eva Robek begitu, bagaimana pun Eva itu sudah gadis remaja dan aku khawatir Mas Rendra kan laki-laki normal bisa jadi terpesona dan menginginkan sesuatu yang yang tidak-tidak padanya."
"Kamu Jangan berpikir yang aneh-aneh dulu dong nggak mungkin lah aku seperti itu Aku kan sudah punya istri dan aku mencintai kamu Nes jadi Jangan berpikir yang aneh-aneh, Baiklah aku akan antar adikmu meskipun sebenarnya aku sangat tidak suka." ucap Rendra yang kemudian meninggalkan Vanessa berdiri di pinggir Ranjang seorang diri.
Sementara di dalam kamar yang lain Eva sedang tersenyum puas hatinya bahagia terlebih ketika melihat wajah pucat dan ketakutan dari Rendra ketika kebersamaan mereka diketahui oleh Vanesa, sambil mengganti baju yang telah robek Eva menyisir rambut di depan cermin sambil mengulum senyum hatinya benar-benar bahagia.
"Ternyata seru juga ya melihat wajah dokter tampan itu panik ini belum seberapa, tapi nanti aku tidak mau lagi berbagi dengan kakakku Mas Rendra hanya milikku bukan milik Mbak Nesa, Aku akan memberikan kesempatan pada mereka untuk bersama tapi hanya beberapa hari saja selebihnya Mas Rendra akan menjadi milikku seutuhnya, silakan dinikmati kesempatan kalian yang hanya tinggal beberapa hari karena Aku tidak akan memberikan waktu yang lama, Mas Rendra akan menjadi milikku seutuhnya hanya aku yang akan memilikinya."desis Eva yang sibuk bermonolog sendiri.
Merasa semuanya sudah siap dan cukup sempurna Eva segera keluar dari dalam kamar dan kembali mengetuk pintu kamar Rendra yang ternyata ketika itu Rendra pun hendak keluar dari dalam kamar sehingga mereka berdua berpapasan, untuk sesaat pandangan mata mereka berdua beradu Eva segera menyunggingkan sebuah senyuman sementara Rendra menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar kemudian memalingkan muka untuk menghindari tatapan dari Eva.
Tak lama kemudian muncullah Vanessa dari belakang Rendra bibirnya tersenyum senang ketika melihat sang adik sudah bersiap dan berada di depan kamarnya.
"Wah cantik sekali adik kakak rupanya sudah siap cepatlah kalian pergi sebelum hari smakin malam, Mas Rendra sudah mengatakan padaku bahwa dia akan menemanimu untuk jalan-jalan dan membeli apapun yang kamu mau," Vanessa menjelaskan.
"Terima kasih Mbak," ucap Eva seraya melangkah keluar pintu diikuti oleh Rendra dari belakang dan mereka berdua, segera menaiki mobil berwarna putih, di dalam mobil Eva sangat bahagia dengan manja dia merebahkan kepalanya di bahu Rendra yang kala itu hanya diam saja tidak berbicara apapun, Eva tidak perduli dengan sikap dingin suami yang baru menikahinya satu Minggu yang lalu di Bali.
"Mas kenapa diam saja sekarang kita bebas Mas bisa memelukku disini apa Mas Rendra tidak merindukan Aku,
Rendra menarik napas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan.
"Kau mau Aku antar kemana?"tanya Rendra yang tentu saja membuat Eva kesal pasalnya sang suami bukannya menjawab pertanyaan darinya tapi justru bertanya.
"Tentu saja Aku mau ke toko baju yang paling bagus di kota ini karena Aku ingin membeli semua baju-baju yang paling indah dan mewah, Mas Rendra tidak keberatan kan?"
Dengan lemah Rendra menggelengkan kepalanya, tiba di sebuah kota Z yang mana terdapat sebuah toko baju yang sangat terkenal dimana di dalam toko itu adalah tempat para Artis dan orang orang bergengsi yang selalu menjadi pengunjung utamanya, sengaja Rendra mengajak Eva untuk pergi ketempat yang paling terkenal mahal dan berkualitas bagus, hal itu dikarenakan Rendra merasa bersyukur dan berterima kasih karena Eva tidak membuka kedok hubungan mereka ataupun Eva berpura-pura akan di lecehkan oleh nya sehingga nama Rendra tidak buruk dan tercemar Dimata sang istri.
"Wah, bagus sekali tempat nya lihat itu Mas seperti nya gaun itu sangat indah apa boleh Aku melihat dan mengambil nya?"
"Boleh ambil berapa pun yang kamu mau Aku tunggu disini."
__ADS_1
mendengar perkataan Rendra Eva langsung memasang wajah cemberut di mana dia ingin Rendra menemani dirinya untuk memilih gaun dan baju yang dia suka.
"Masa aku harus memilih baju sendiri sih temani dong, kan nggak enak kalau mau beli baju sendiri." ucap Eva dengan wajah cemberutnya.
tidak mau membuat keributan dan sesuatu yang bisa mengundang perhatian orang tanpa bicara Rendra pun langsung melangkah mendekati sang istri berdiri di sampingnya.
"Sekarang pilihlah baju mana yang ingin kamu beli,"jawab Rendra menjelaskan tentu saja jawaban itu sangat membuat hati Eva sangat senang dengan gerakan refleks Eva langsung memeluk suaminya, Rendra yang menyadari hal itu sedikit terkejut atas perbuatan Eva yang berani memeluknya di tempat umum, dengan cepat Rendra segera menepis dan sedikit menjauh dari Eva.
"jaga sikapmu ini di tempat umum Aku tidak mau ada orang yang melihat kita."
"Kenapa mesti takut Bukankah aku adalah istrimu dan bukankah kita sudah sah juga, untuk Apa kita pikirkan orang lain toh Di sini juga tidak ada Mbak Nisa, seharusnya Mas Rendra tidak perlu takut lagi ucap Eva dengan bibir di kerucutkan.
Rendra menelan ludahnya dengan kasar, dia tak lagi bicara apapun karena dia khawatir akan mengundang orang curiga kepalanya, meskipun sedikit sedih dan kesal dengan sikap Rendra yang tiba-tiba melepaskan pelukannya Eva yang sudah sangat berambisi ingin memiliki gaun yang bagus segera memilih beberapa gaun yang menurutnya sangat cocok dan bagus.
Sementara diam-diam Rendra juga memilih beberapa baju yang sengaja dia beli untuk sang istri yang ada di Rumah, bibir Rendra tersenyum ketika melihat baju yang tidak terlalu glamour akan tetapi sangat santun dipakai karena Rendra tahu Vanesa tidak terlalu menyukai baju-baju dengan model yang terbuka seperti baju yang kekurangan bahan ataupun baju yang terlalu banyak memiliki manik-manik yang berlebihan. Vanesa lebih suka dengan baju yang sederhana untuk itu Rendra memilih beberapa baju yang sederhana akan tetapi memiliki nilai yang sangat mahal.
Akhirnya Eva memutuskan untuk membeli 4 gaun mahal yang sudah dipilihnya.
"Mas ayo, Aku sudah pilih empat baju ini?"
"Baiklah, Ayo kekasir kita bayar,"ajak Rendra yang kemudian melangkah lebih dulu.
"Mas, tunggu!"terpaksa Rendra menghentikan langkah kakinya.
"Ada apa?"
"Itu apa yang Mas Rendra bawa." tanya Eva dengan tatapan mata tajam.
"Ini baju untuk Nesa."jawab Rendra singkat dan terlihat acuh tanpa melihat kearah Eva yang kini terlihat sangat kesal, ada setitik kecemburuan ketiika melihat Rendra memilih dan membelikan Kakaknya baju.
Rendra Hanya menarik napas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan.
"Ambil lah sesuka mu, Aku tunggu di sini."
Bergegas Eva pergi kembali untuk memilih beberapa baju lagi, ketika semua dirasa cukup dengan buru-buru Eva menuju ke tempat kasir dimana sang Suami menunggu.
Karena terlalu terburu-buru tanpa sadar Eva menabrak orang yang ada di depannya.
"Brug...! bawaan orang yang ada didepannya terjatuh.
"Maaf Aku tidak sengaja," ucap Eva kemudian ikut membantu mengambilkan baju yang baru saja dia jatuhkan.
"Tidak apa-apa," ucap pemuda yang baru saja di tabrak Eva, Pemuda itu langsung menunduk juga ikut mengambil baju yang terjatuh, ketika Eva menyerahkan baju itu kepada sang pemuda yang baru saja di tabrak nya.
"Ini, bajunya,"ucap Eva sambil menggulurkan baju yang baru dipungut nya.
"Trimakasih," ucap pemuda itu seraya mengambil baju yang di ulurkan Eva kepadanya
"Kak, Bara!" apa benar ini kamu."Seru Eva dengan mata berbinar.
Sementara Pemuda itu mengeryitkan dahinya.
__ADS_1
"Kamu siapa ya seperti nya Aku juga pernah melihat mu tapi dimana Aku lupa, "
Eva tertawa renyah .
"Tentu saja Kak Bara tidak akan menggenalku Aku kan Adik kelas mu dan kita cuma bertemu dua kali, lagian Kak Bara banyak penggemar nya mana kenal dengan Aku." crocos Eva
Bara tersenyum
"Maaf ya, Aku benar-benar tidak tau, oh, ya apa kamu lagi sendiri,"
"Ah tidak Kak, Aku lagi bersama dengan suamiku tuh dia disana,"tunjuk Eva pada sang suami yang berdiri menunggu nya.
Bara menggikuti jari telunjuk Eva yang menunjukkan Suaminya dan ketika pandangan mata bara tertuju pada sosok pemuda yang juga tak kalah Tampan nya sedang berdiri di dekat kasir, membuat Bara membulat kan kedua bola matanya.
"Rendra..!"lirih Bara dalam hati yang mana kemudian dia menatap wajah gadis cantik yang ada di sampingnya.
"Apa benar itu suamimu?" tanya Bara ingin memastikan.
Eva langsung mengagguk.
"Iya kak dia suamiku, namanya....
Belum sempat Eva menyelesaikan ucapannya Bara sudah memotong pembicaraan Eva
"Dokter Rendra Admaja...!"mata Eva langsung berbinar senang.
"Wah Kak Bata kok tau nama lengkap suamiku,"
Bara tersenyum tipis
"Siapa yang tidak kenal dengan Dokter hebat seperti dia,"
"Iya, suamiku memang Dokter hebat Aku pergi dulu kak takut dia khawatir karena Aku sangat lama,"
Bara mengagguk kecil sambil tersenyum kecut, Ketika Eva sudah jauh, Bara mengepalkan kedua tangannya.
"Brengsek, kau benar-benar laki-laki bajingaan Rendra, bisa-bisa nya kau menikah lagi dibelakang istrimu, Vanesa harus tau ini, lihat saja apa yang akan kulakukan padamu dan kali ini tekadku semakin bulat Akan Aku rampas istrimu, dasar laki-laki tidak tau diri." sungut Bara dengan kilatan api kemarahan.
"Hei kau sini,"teriak Bara pada salah satu wanita penjaga toko yang bertugas melayani semua pembeli.
"Iya, Mas ada yang bisa saya Bantu,"
"Bawa ini, kembali kan ketempat nya."
"Lho, Mas tidak jadi beli,"
"Tidak berminat," teriak Bara dengan wajah penuh emosi yang mana langsung menyerahkan beberapa baju yang tadinya dia pilih, dengan hati kesal Bara keluar dari toko langsung menuju ke mobil nya.
"Jalan, cepat,"
"Iya, Boss! duh kenapa sih Boss kecil marah-marah, apa karena tidak ada baju yang cocok untuk nyonya besar atau barangkali Boss kecil baru bertengkar dengan pemilik toko,"
__ADS_1
"Mang Danang bisa tidak jalannya di percepat jangan ngelamun saja, Aku mau segera sampai di Rumah."teriak Bara dengan suara lantang.
"Iya Boss, Nah kan Aku juga ikut kena semprot, apa kira-kira Boss kecil habis ketemu dengan mantan yang mengkhianati nya, pasti begitu buktinya marah-marah terus padahal biasanya Boss kecil itu lembut dan ramah, kira-kira Boss kecil kesanbet apa ya?" keluh Mang Dadang sambil mempercepat laju kendaraan mobil nya.