
Meskipun hati Rendra penuh dengan tanda tanya akan tetapi Rendra tidak berani bertanya maupun mengajukan kalimat keberatan ketika Bibi Rum, membawa Rendra justru masuk ke dalam kamar gudang di mana banyak bekas-bekas mulai dari baju peralatan Dan lain sebagainnya.
"Masuk Den, "
dengan ragu-ragu Rendra mengikuti perintah dari Bibi Rum yang meminta dirinya untuk masuk ke dalam.
"Maaf, Bik. mengapa Bibi mengajakku ke sini. " akhirnya apa yang tersimpan dan menjadi tanda tanya di dalam hati Rendra akhirnya Rendra tanyakan juga.
"Ini Den bawa map buku ini disini banyak nama nama dari warga baru yang Ada didesa ini,"
"Maksud Bibi apa Aku benar benar tidak Paham. "
"Maksud dari Bibi Rum kamu datang ke rumah itu untuk melakukan pendataan bagi pendatang baru, " sahut seorang wanita yang cukup cantik wajahnya meskipun usiannya terlihat sedikit tua.
Rendra yang terkejut dengan suara wanita lain segera menoleh ke sumber suara dan ketika Rendra melihat siapa yang datang dengan cepat dan santun Rendra mengaggukkan kepala.
Karena suara itu ternyata saran dari IBu Bapak kepala desa.
"Tapi apa saya mampu, "
"Pasti mampu cuma minta data lengkap saja, "
"Baiklah, Bu saya coba, trimakasih atas sarannya. "
Rendra segera minta izin kepada Ibu Kepala Desa untuk pergi ke rumah warga yang baru saja pindah di rumah itu.
dengan menggunakan penyamaran topi tertutup masker serta dan kumis Rendra segera pergi ke rumah gimana Vanessa tinggal.
jarak antara rumah bapak kepala desa dengan rumah tempat tinggal Vanessa Tidaklah terlalu jauh di mana hanya menempuh perjalanan sekitar 10 menit Rendra sudah sampai di depan pintu rumah bercat biru.
di depan pintu Rendra tidak langsung membuka dan mengetuk pintu Rendra sedang sibuk mengatur ritme dari nafas yang tiba-tiba berdetak dengan sangat cepat dan jantung tiba-tiba ikut merasa berdebar-debar.
" Sial, kenapa aku segugup ini seperti mau ketemu pacar saja, Bukankah aku setiap hari juga bertemu dengan Nesa tapi kenapa pertemuan kali ini benar-benar membuat aku sangat gugup dan was-was, kira-kira apa yang akan Vanessa lakukan padaku bagaimana sikapnya padaku semakin berpikir Aku semakin pusing. "
Rendra yang masih berdiri terpaku di depan pintu sedikit terkejut ketika pintu rumah tiba-tiba terbuka dari dalam saking terkejutnya Rendra sampai mundur ke belakang,
Apa yang dirasakan Rendra Ternyata Sama juga dirasakan oleh seseorang yang membuka pintu Dia sangat terkejut hingga hampir membuatnya berteriak.
"Astaga, kamu siapa bikini kaget orang saja. "
"Aku....
Rendra tidak langsung menjawab pertanyaan dari gadis yang ada di depannya
" Aku mau Melakukan pendataan. "
"Oh, masuklah kalau begitu, ayo Aku temani, "
__ADS_1
Dengan tersenyum senang Rendra menggikuti Wanita yang hendak keluar masuk kembali ke dalam Rumah.
"Kenapa balik lagi Win, apa Ada yang tertinggal. "
Sebuah suara yang sangat familiar di telinga Rendra, hingga membuat jantung Rendra semakin berdebar-debar dengan sangat kencang.
"Ada tamu dari keluarga Pak kepala Desa dia mau Melakukan pendataan, " seru Wina dengan keras, membuat Wanita yang Ada di dalam Rumah segera keluar.
Rendra bisa melihat dengan jelas raut wajah cantik yang keluar dari dalam dengan sangat anggun mengenakan pakaian sederhana sebuah daster oblong yang sangat simpel Dan dengan Rambut di ikat menjadi Satu hingga menampilkan leher jenjangnya yang putih, Dimana disitulah favorite Rendra sula meninggalkan jejak kepemilikannya.
Tidak terasa Rendra meneguk ludahnya Dan tengkuknya naik turun.
"Sial, hanya melihat saja Sudah bisa membuat kelakianku bangkit bergaairaah, " buru buru Rendra memalingkan muka, mencoba mengatur napas yang mulai tidak beraturan.
"Kenapa Masih berdiri silahkan duduk."ajak Vanesa yang kala itu Sudah berada di depan Rendra.
"Iya trimakasih. "
Vanesa mengeryitkan dahinya melihat tamu yang Ada di depannya masih diam saja.
"Kenapa diam, Pak. mari silakan di mulai, "tawar Vanesa memberikan kesempatan pada tamu di depannya untuk segera memulai pendataan.
Rendra mengangguk kikuk.
"Sial kenapa, Aku segugup ini dan apa katanya dia memanggilku dengan sebutan Pak, apa Aku setua itu, "keluh Rendra dalam hati mencebik kesal.
"Saya yang harus mengisi sendiri pak? "
"Haisss, pak lagi.. kenapa tidak bisa memanggilku dengan sebutan yang manis , Aku Kan tidak setua itu," keluh Rendra dalam hati.
"Iya, tolong di isi yang lengkap. " jawab Rendra dengan nada yang hampir saja memperlihatkan kekesalannya.
Vanesa segera meraih bolpoin Dan mulai menuliskan data dirinya.
"Nes, Aku pulang ya? "
"Hmm, hati hati Win, besok kamu kesini lagi kan, "
"Besok Aku tidak bisa karena Ada acara ulang tahun sepupu, lusa Aku datang tidak apa apa kan, kamu berani kan, "
"Tidak apa apa tentu saja berani. "
"Baiklah Aku pergi dulu ini Sudah siang, maaf Pak saya tinggal dulu titip teman saya ya pak? "
"Ya.. ya cepat pergi, jangan mengaggu kami lagi, " ucap Rendra lirih.
"Maksud Bapak apa, mengaggu bagaimana? "
__ADS_1
Menyadari dirinya salah bicara cepat cepat Rendra meralatnya.
"Maksud saya jangan khawatir kami Akan menjaganya di sini. "
"Ooh, begitu, kirain apa, baiklah Pak titip teman saya, kalau begitu. "
"IYa jangan khawatir saya siap kok. "
Wina tertawa mendengar perkataan dari laki laki yang ada di depannya,
"Hahaha, Bapak bisa saja, Ya Sudah Nes Aku balik dulu, "
"Aku antar sampai depan, maaf Pak saya antar teman saya dulu, "
Tidak mampu berkata apa apa selain mengagguk, meskipun pandangan mata Rendra mengekor ke arah istrinya yang sedang berjalan menuju pintu.
ketika melihat Vanessa kembali dengan cepat Rendra buru-buru memutar tubuhnya berpura-pura melihat berkas-berkas data yang ada di atas meja.
"Maaf pak, tidak apa apa kan sedikit lama, "
" Oh iya, tidak apa apa, "
"Ini di isi bagaimana Pak, "
"Maaf apa tampang saya sangat tua sehingga dari tadi saya di panggil Pak, padahal saya merasa masih sangat muda. "
"Vanesa tertawa renyah, itu karena saya menghormati Bapak, ini pak sudah selesai.'
"Cepat sekali, "
"Cuma ngisi data tidak mungkin menghabiskan waktu berjam jam kan. "
Rendra tersenyum kecut mendengar perkataan dari Vanesa. kedua bola mata Rendra membulat seketika ketika membaca setiap data yang ada di depannya semua terisi dengan lengkap kecuali satu.
" kenapa yang ini tidak diisi Apakah Nona belum memiliki suami, " tanya Rendra menjebak Vanessa karena dia ingin tahu jawaban apa yang akan diberikan Vanessa kepadanya karena status dari pengisian data sudah bersuami atau belum sama sekali tidak diisi.
" oh yang ini maaf pak, ini tidak diisi karena saya sudah janda.
mendengar perkataan Vanessa yang di luar pemikirannya membuat Rendra merasa kesal dan marah wajahnya yang tadinya ceria kini berubah menjadi tegang tanpa sadar kedua tangan Rendra yang berada di bawah meja mengepal dengan sangat kuat.
"Apa.. Janda, Sejak kapan kamu menjadi janda, "
pertanyaan yang tadinya sangat lembut kini tiba-tiba menjadi sangat keras dan kasar hal itu membuat Vanessa mengernyitkan dahi dan merasa bingung terhadap tamu yang ada di depannya tidak ada hujan tidak ada angin tiba-tiba marah.
nada bicaranya juga sangat kasar dan dingin apa jangan-jangan laki-laki yang ada di depannya adalah sosok laki laki pembenci janda haiss, jadi bingung mikirnya.
"Maaf pak itu urusan pribadi saya dan setau saya pengisian data seperti ini sudah cukup dan sekarang silahkan Bapak pergi, pasti masih banyak yang belum Bapak data.
__ADS_1
" Haiss dia mengusirku, " geram Rendra dalam hati.