BERBAGI RANJANG DENGAN ADIKKU

BERBAGI RANJANG DENGAN ADIKKU
Bab. 110.PINGSAN


__ADS_3

Mendengar teriakan dari temannya yang berasal dari dalam mobil membuat kedua orang laki-laki yang mendapatkan giliran sebagai penjaga menoleh dengan cepat dan terlihatlah seorang gadis sedang berlari dengan baju robek di punggungnya.


"Itu dia, cepat Ayo kita kejar..! seru kedua orang itu secara bersamaan yang mana dengan cepat mereka segera berlari mengejar Vanessa yang berlari dengan sekuat tenaga meninggalkan tempat itu.


kekuatan seorang wanita dan seorang laki-laki memang sangatlah berbeda di mana hanya dengan berlari sebentar saja kedua orang laki-laki itu sudah berhasil Menghadang langkah dari Vanessa yang mana yang satu sudah berdiri tepat dihadapan Vanessa dan yang satu sudah berdiri tepat di belakangnya Vanessa merasa sangat ketakutan sehingga tidak bisa lagi untuk berlari kakinya melangkah mundur dan mundur di mana kedua orang laki-laki itu terlihat sangat menakutkan dengan bibir tersenyum menyeringai yang mana langkah kakinya semakin maju dan maju mendekati Vanessa hingga membuat Vanessa yang mundur ke belakang selangkah demi selangkah akhirnya tanpa sadar membuat kakinya jatuh.


terdengar suara tawa menyeringai dari kedua orang laki-laki itu ketika melihat Vanessa terjatuh.


"Bruuukk...! Vanessa jatuh terduduk.


kedua orang laki-laki itu tertawa dengan sangat lebar melihat Vanessa yang tak berdaya karena tidak bisa lagi lari hanya dengan beringsut mundur kedua orang laki-laki itu membungkukkan wajahnya.


" Hahahaha, Sudahlah cantik , menyerah saja kami tidak akan bermain dengan kasar ,kamu akan menikmatinya Bahkan kamu akan bisa ketagihan karenanya Kenapa mesti harus takut kami akan berikan kenikmatan kepadamu. "


"Hahaha... ayolah Cantik berikan kepuasan pada kami, "


"Diam kalian disitu, jangan berani mendekatiku, Aku akan bertriak agar orang orang kampung disini menangkapmu. "


"Hahaha, Hei Cantik dimana Ada kampung disini tidak Ada kampung kalau kamu may berteriak berteriaklah, karena tidak akan ada satu orang pun yang mendengar teriakanmu ini adalah jalanan sepi ini adalah kawasan hutan Apakah kamu sedang bermimpi ini bukan daerah Kampung Nona cantik. "


Vanessa terdiam dia merutuki kebodohannya karena mengikuti apa yang dikatakan oleh Eva adiknya bahkan menerima alamat yang diberikan kepada nya.


"Jadi Eva membohongiku, alamat yang dia kasih ternyata bohong, kenapa Aku bodoh, kenapa Aku tidak curiga jika sesungguhnya EVa hanya ingin mempermainkanku, sekarang Aku harus bagaimana, Aku harus bisa lepas dari mereka tapi bagaimana caranya. "


"Hahaha, sudahlsh Cantik kami sudah cukup bersabar, seret dia masuk kedalam mobil cepat, "


"Berhenti kalian jangan mendekat, jika kalian berani menyentuhku kalian akan tau akibatnya, kalian akan menyesal, " seru Vanessa dengan tubuh terus beringsut mundur dengan Mrnyeret tubuhnya posisi saat itu Vanessa sedang terjatuh dalam keadaan duduk.


kedua laki-laki itu terus berjalan maju Sambil tertawa terbahak-bahak.


" Sudah adik cepat tarik dia kita tidak perlu lagi bermain-main terlalu lama aku sudah tidak sabar untuk bisa menikmatinya.


"Baik, kakak."


laki-laki itu segera membungkuk dan hendak menarik tubuh Vanessa akan tetapi pada saat tangan laki-laki itu hendak menyentuh tubuh Vanessa dengan cepat Vanessa yang kedua tangannya menggenggam erat pasir yang bercampur dengan kerikil kecil dihamburkan ke depan tepat di hadapan laki-laki kedua laki-laki itu Vanessa melakukan berkali-kali hingga debu itu mengenai mata dari kedua penjahat yang ada di depannya memiliki kesempatan dengan cepat Vanessa bangkit dari duduknya kemudian berlari sekuat tenaga.


"Kurang ajar dia melempar kita dengan debu cepat kejar jangan biarkan gadis iTunes lepas. "


"Baik, kakak, "


meskipun dengan mata sedikit terasa sangat perih pedas laki-laki itu berlari dengan sangat kencang mengejar Vanessa yang berlari dengan sekuat tenaga.


"Itu dia, lebih cepat lagi, kita harus menangkapnya jangan biarkan dia lolos. "


Dengan nafas tersengal-sengal Vanessa terus berlari dan berlari tanpa melihat arah hingga pada suatu ketika kakinya melangkah pada sebuah tapak jalan raya yang mana di depannya melintas sebuah mobil yang sangat cepat dengan silau lampu yang menyilaukan membuat Vanessa tidak bisa berlari lagi.


"Aaaaaaaaaaa...!


" Ciiiiiiiiiitttttt....! "


bersama dengan teriakan Vanessa yang menutup wajahnya dengan Kedua telapak tangan bersamaan dengan itu pula sebuah mobil menghentikan lajunya dengan secara mendadak.


"Sial, apa gadis itu mau mencari mati beruntung Aku bisa menginjak Rem pada waktu yang tepat".


Dengan perasaan kesal sang pengemudi mobil pun membuka pintu mobil dan menutupnya dengan sangat kasar.


" Braaaakk!


"Nona apa kamu mau mati bunuh diri, hah ?"untung saja Aku bisa menginjak Rem tepat pada waktunya."Crocos laki laki itu marah marah


sedangkan Vanessa yang menggigil ketakutan dan masih syok dengan kejadian yang ada tidak bisa berkata apa-apa selain mengucapkan satu kata dengan kalimat yang terbata-batah.


"Tolong, Aku, " ucap Vanessa dengan terbata-bata yang mana dengan sangat cepat meluk dengan erat laki-laki yang ada di depannya dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang laki-laki itu membuat laki-laki itu sedikit kebingungan sehingga pelukan dari Gadis itu pun membuatnya berdiri terpaku.

__ADS_1


"Hei.. hei..Nona, jangan peluk peluk begini..!


Sementara kedua laki-laki yang mengejar Vanessa dengan lantang berteriak.


" Woi... lepaskan wanita itu dia milik kami? "


mendengar teriakan dari kedua laki-laki penjahat itu Vanessa semakin erat memeluk laki-laki yang ada di depannya.


"Oh, jadi mereka yang mengaggumu, tenang Nona, Aku akan bantu, " laki laki itu pun melepaskan pelukan Vanessa kemudian menyuruh Vanessa untuk masuk ke dalam mobilnya.


"Maju kalian..!


" Ayo kita bereskan Adik, "


"Iya kakak, ayoo...! Di jalan yang sepi dan di dekat sebuah hutan terjadilah pertarungan di antara mereka bertiga rupanya laki-laki yang membawa mobil dan menolong Vanessa adalah seorang pemuda yang pandai akan ilmu Bila Diri sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama kedua penjahat itu pun sudah mampu di lumpuhkan dan jatuh terkapar hanya menggunakan 4 jurus saja.


Merasa kalahdan tidak mampu melawan akhirnya mereka lari terbirit-birit menuju ke mobil mereka yang mana salah satu di antara mereka masih berada di tempat itu karena memegangi alat berharganya yang masih merasa kesakitan sehingga untuk berjalan pun serasa susah.


Melihat Lawannya pada lari tunggang langgang pemuda itu menyunggingkan sebuah senyuman kemudian menepukkan tangannya seperti kedua tangannya sedang penuh dengan debu, seolah menghilangkan debu yang menempel kemudian pemuda itu berjalan menuju ke dalam mobilnya dan membuka pintu, duduk di depan kemudi.


Pemuda itu sedikit heran karena melihat gadis yang ditolongnya masih menunduk dengan wajah tertutup oleh Kedua telapak tangannya sangat terlihat sekali Jika Gadis itu sedang Syok.


Pemuda itu menggelengkan kepalannya kemudian, berdehem kecil.


"Nona buka matamu, tidak perlu di tutupi lagi, para penjahat itu sudah pergi, sekarang katakan padaku, Nona Mau kemana biar Aku antar. "


"Benarkah mereka sudah pergi? "


"Iya, benar sekarang buka matamu, suaramu indah sekali Nona seperti Suara temanku,"Cletuk pemuda itu sambil seyum senyum seolah dia seeing teringat sesuatu." Maaf Nona Aku taxi tidak sengaja melihat punggungmu yg terbuka jadi maaf dengan lancang Aku menaruh jaketku disana Maafkan Aku Nona? "


"Tidak apa-apa trimakasih, Aku tidak tau bagaimana Nasibku jika Aku tidak bertemu denganmu mungkin mereka sudah....


" Hizk....


"Hizk..


"Sudah Nona jangan menangis lagi, ok kita jalan sambil Nona pikirkan Mau kemana, "


Vanessa mulai berhenti menangis.


"Apa, Ada Air? "


"Ada, Nona, sebentar, " Pemuda itu segera mengambil satu botol Air mineral yang tersedia di dalam mobil.


"Ini, Nona..


ketika pemuda itu mengulurkan air mineral yang ada di tangannya dan ketika Vanessa menyibak rambut yang menutupi wajahnya dan menerima uluran air mineral yang diberikan oleh pemuda yang ada di sampingnya membuat keduanya saling terkejut.


" Deg..! Nesaaa... ! seru Pemuda itu tak percaya hingga menatap Vanessa dengan tidak berkedip.


Tidak jauh berbeda dengan Vanessa yang juga terkejut, melihat siapa orang yang baru saja menolongnya.


" Kau...?


Dengan cepat Vanessa memalingkan wajahnya.


"Cepat, Jalan..Aku buru buru." ucapnya dengan sinis.


" Ihh, galaknya, tapi ngomong ngomong kenapa kamu sampai di tempat ini dan mana Suami tercintamu iTu, mengapa dia tidak bersamamu, "


"Sudahlah Bara diam cepat jalan, Aku Mau segera pergi dari sini, "


"Baik, "

__ADS_1


Dengan cepat Bara melajukan mobilnya akan tetapi secepat kilat mobil iTu berbalik arah kembali ketempat dimana Vanessa sedang di kejar kejar para penjahat.


"Bara, apa apaan kamu kenapa putar balik? "


"Mereka pasti masih disana Aku mau menghajarnya berani sekali mereka menyentuhmu, tidak akan Aku biarkan orang orang itu hidup. "


"Bara.. hentikan mobilnya cukup, jangan buat masalah, "


"Tapi Aku tidak trima, kamu di leceehkan begitu, "


"Jika kamu tidak mendengarkanku, Aku akan melonpat turun."


"Tapi, Nes Mereka...!


" Aku akan lompat sekarang...


"Jangan.. jangan baik kita putar balik lagi. "


"Kau lebih menyebalkan.... Aduuh.. Auuuuwh sakit..! tiba tiba Vanessa memegangi perutnya.


" Nesa... kamu kenapa? Bara bertanya dengan panik wajahnya menampakkan kecemasan.


"Perutku sakit...!


" Bertahan ya, kita ke Rumah sakit. "dengan tangan bergetar Bara memegang perut Vanessa." A-apa Aku boleh menyentuhnya Ya-yang mana yang sakit, "


Tidak Ada jawaban apapun dari Wanita yang afa disampingnya dan setelah Bara memberanikan diri menyetuh dan melihat Bara sangat terkejut dari paaha Vanessa mengeluarkan darah dan Vanessa pingsan.


"Nesa... Nes...! dia pingsan."


Dengan kecepatan tinggi Bara mencari Rumah sakit terdekat.


"Berikan pelayanan yang terbaik untuknya Dokter, "


"Bapak, tenang saja, kami Akan melakukan yang terbaik untuknya."


Wajah tampan Bara menegang tangannya mengepal dengan kuat, berkali kali Bara mengusap kasar wajahnya.


"Rendra, Brengsek kau... kali ini tidak akan Aku biarkan kau menyakiti Wanita yang Aku Cintai tidak akan.... Araaaaaggh... Duuuuuzzzz. "


Bara melampiaskan kemarahannya dengan meninjuukan tangannya ke dinding.


"Maaf, pak apakah Bpk suami dari pasien yang baru saja masuk. "


"Iya, Sus..! bagaimana keadaannya? "


"Selamat istri Bapak sangat kuat, sehingga keduanya selamat, jadi Bapak tidak perlu khawatir lagi, "


"Maksud Suster bagaimana keduanya apa? " tanya Bara yang tidak mengerti maksud dari ucapan Suster di sampingnya.


"Istri dan Anak yang Ada di dalam kandungan selamat, jadi selamat untuk Bapak. "


Bara melongo mendengar berita itu, tapi kemudian dia tersenyum.


"Vanessa hamil dan anaknya selamat gadis yang kuat, Aku akan jadi Papanya, dan Rendra tidak akan pernah Aku biarkan kamu bisa menyakiti Vanessa lagi dasar Brengsek Aku pastikan kau akan menyesal. " bara yang masih sedikit emosi segera melakukan panggilan telepon kepada anak buahnya.


Tidak menunggu lama panggilan telepon pun tersambung setelah Bara menunggu beberapa menit.


"Halo, Bos Ada apa? "


"Cari nomor telpon Doctor Rendra segera Aku mau dalam dua jam sudah ada, jika tidak Aku akan pecat kalian. "


"Baik, Boss. "

__ADS_1


Setelah panggilan telepon terputus barat tersenyum miring.


"Kali ini kau akan kehilangan Vanessa untuk selamanya Donter Bodoh, " geram Bara sambil tersenyum Miring.


__ADS_2